Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Pancingan


__ADS_3

Di sekolah yang mulai ramai, Gayatri baru tiba di tempat parkir. Ia melihat motor Shaka sudah terparkir di tempatnya. Rupanya walau pun sakit, laki-laki itu tetap memutuskan untuk datang ke sekolah. Ia sama keras kepalanya dengan Gayatri yang tetap masuk sekolah meski orang tuanya menyuruhnya beristirahat agar kakinya segera sembuh. Alasannya hanya satu, berdiam diri di rumah hanya membuat Gayatri merasa semakin sakit, karena itu ia memutuskan untuk tetap bersekolah.


Di sepanjang lorong menuju kelas, suara-suara sumbang tentang drama romansa Shaka dan Indah masih menjadi trending topic yang di bahas di setiap sudut sekolah. Sambil berjalan, Gayatri memeriksa grup chat kelasnya yang jarang ia lihat. Ada sekitar 4000 chat, entah apa yang mereka perbincangkan.


Malas rasanya untuk mencari tahu, Gayatri lebih memilih mempercepat langkahnya agar segera tiba di kelas. Di kejauhan ia melihat Dion yang sedang menunggunya. Tubuhnya yang semula bersandar pada tiang, segera ia tegakkan dan tersenyum saat melihat kedatangan Gayatri. Walau malas, Gayatri tetap harus meneruskan langkahnya.


“Pagi Aya,” sapa laki-laki itu saat Gayatri sudah ada di hadapannya. Gayatri hanya terdiam seperti biasanya. “Buat lo,” Dion menyodorkan sebuah paperbag berwarna hijau botol dengan permukaan yang mengkilat.


Gayatri hanya memandangi paper bag itu, tidak ada niatan untuk menerimanya.


“Ini decker sendi dari china. Serat kainnya ngandung bahas herbal buat mengempesin bengkak dan ngelancari peredaran darah di pergelakangn kaki lo. Gue pake in ya?” laki-laki itu menjelaskan tanpa di minta.


"Gue janji, gue cuma mau makein ini aja, gak ada yang lain," Dion setengah memaksa walau tidak sekasar biasanya.


Melihat Gayatri yang tidak melakukan penolakan, Dion pun tersenyum senang. Gadis pujaannya mau menerima bantuannya.


"Lo duduk di sini," dengan sigap laki-laki itu mendudukan Gayatri di bangku yang ada di depan kelas. Mengeluarkan isi paper bag itu dan menaruhnya di samping Gayatri. Laki-laki itu berjongkok di hadapan Gayatri, tampak menikmati perannya saat membuka satu per satu tali sepatu yang saling terjalin hingga melepas sepatu yang membungkus kaki Gayatri.


Setelah sepatu dan kaus kakinya tertanggalkan, Dion menaruh kaki Gayatri di atas pangkal pahanya. "Masih ada bengkak dikit ya Aya. Tapi lo tenang aja, setelah pake ini bengkak lo bakalan hilang. Gak akan sakit lagi," celoteh laki-laki itu. Ia sedikit mendongakkan kepalanya untuk menatap Gayatri lantas tersenyum, namun Gayatri memilih memandangi kakinya di banding membalas tatapan Dion.


Dion mulai memasangkan decker itu di kaki Gayatri, dengan pelan-pelan dan lembut. Satu sisi sikap Dion yang satu ini, baru di tunjukkan sekarang. Zaidan dan teman-temannya yang tidak sengaja melintas pun, memilih untuk tidak lewat di depan dua orang tersebut. Mereka memperhatikan dari kejauhan apa yang Dion lakukan pada Gayatri.


"Itu beneran di Dion?" tanya Dewa pada Zaidan.


"Gue juga gak nyangka. Gue kira tangannya cuma bisa di pake buat berantem sama balapan doang, ternyata bisa ngobatin luka juga. Mimpi apa dia semalam? Dapet wangsit kali ya?" celoteh Zaidan dengan penuh rasa heran.

__ADS_1


Decker sudah terpasang di kaki kanan Gayatri. Dengan hati-hati Dion memasangkan kembali sepatu Gayatri dan mentalikannya.


"Gimana, udah nyaman?" tanya Dion seraya memandangi kaki kanan Gayatri yang menapak di lantai. Gayatri tidak menimpali, ia memilih untuk bangkit berdiri dan benar saja, kakinya tidak terlalu sakit. Seperti ada sanggaan yang menahan sendi kakinya agar tidak bergeser.


"Kayaknya lo udah lebih baik. Masuk kelas gih," Dion masih berujar dengan lembut. Kelembutan yang membuat Gayatri waspada. Tidak mungkin tidak ada niat terselubung di dalam hatinya.


Tidak betah berlama-lama dengan Dion, Gayatri melajutkan langkahnya menuju kelas. Terlihat Dion yang masih memandanginya sampai kemudian Gayatri tiba di bangkunya. Gadis itu tidak lantas duduk karena ada seorang gadis yang menempati kursinya.


“Oh, lo udah dateng?” tanya gadis itu, yang tidak lain adalah Indah. Ia melirik sinis kaki Gayatri yang terlihat pincang.


Gayatri tidak menimpali, hanya dengan tatapan matanya yang dingin, sudah mengisyatarkan perintah agar Indah pergi. Indah pun beranjak dari tempatnya, berdiri di samping meja Shaka, membiarkan sang pemilik kursi untuk duduk.


Shaka hanya tersenyum melihat cara Gayatri menyingkirkan lawannya. Sekarang ia paham mengapa Gayatri tidak mengalami pembulyan walau pun ia terlihat lemah. Alasannya tentu saja karena gadis ini seorang anggota genk motor. Tidak akan ada yang berani membangunkan singa tidur kan?


“Es krim?” Shaka tampak berpikir.


“Iya, kalau gue suka yang rasa strawberry kalau lo?” tanpa di minta pun Indah segera memberitahukannya.


“Eemm, gue justru gak suak es krim strawberry,” sahut Shaka.


“Kenapa? Itu enak lo...” kali ini bukan hanya Indah yang menunggu jawaban Shaka, melainkan juga Gayatri. Seseorang yang ia kenal juga tidak suka strawberry.


“Bikin alergi,” hanya itu jawaban Shaka dan entah mengapa laki-laki itu harus menoleh Gayatri yang diam-diam menyimak.


“Oh, lo alergi strawberry?” Indah langsung menyimpulkan.

__ADS_1


“Bukan gue, tapi orang terdekat gue. Jadi daripada gue makan es krim sendirian, ya mending gak usah kan?” Shaka menjelaskan dengan menggantung, membuat Gayatri menatap penuh tanya pada laki-laki itu.


“Harusnya sih cuma kira berdua yang tau apa kesukaan kita masing-masing. Kalau ada yang nguping gini, mendingan nanti aja deh ngobrolnya,” Indah mendelik tidak suka pada Gayatri.


Gayatri tidak berreaksi sedikit pun. Lagi pula ia tidak peduli pada Indah.


“Okey, bentar lagi jam pel di mulai. Biar lo gak di hukum, mending lo balik ke kursi lo,” saran Shaka.


“Heemm, okey lah. Sampe ketemu istirahat nanti. Kita makan bakso bareng di kantin, okey?” Indah sempatkan untuk mengedipkan mata genitnya pada Shaka dan Shaka hanya tersenyum simpul.


Indah melambaikan tangannya pada Shaka, sambil berjalan mundur. Rasanya masih enggan berjauhan dengan Shaka. Shaka membalas lambaian tangan itu membuat wajah Indah merona kemerahan.


"Cieeee...." seru teman-temannya saat Indah kembali ke mejanya. Gadis itu menyembunyikan wajah merahnya di belakang kipas merah muda kesayangannya.


Sementara itu Shaka memundurkan kursinya hingga beradu dengan meja Gayatri. Jarak mereka cukup dekat.


"Makasih udah nampung gue," ucap lirih laki-laki itu seraya tersenyum kecil.


"Nyokap gue ngelakuin hal kayak gitu gak cuma ke lo doang. Jadi gak usah ngerasa spesial," timpal Gayatri dengan sinis.


"Oh, rupanya gue yang berpikir terlalu jauh. Okey," ucap Shaka yang tersenyum kecil.


Entah mengapa ada rasa kesal pada hati Gayatri melihat Shaka yang sesekali menoleh ke arah pacar barunya. Apa lagi saat dia membalas senyum Indah. Akh, rasanya ia ingin pergi saja.


****

__ADS_1


__ADS_2