Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Dikegelapan


__ADS_3

Lebih dari dua minggu sudah Galih tinggal di rumah Shaka. Tempat yang awal mula terasa asing perlahan mulai memberinya banyak ketenangan. Laki-laki ini tidak lagi merasa ketakutan dan dikejutan oleh kedatangan orang-orang yang tiba-tiba menghampirinya.


Selama di rawat di rumah sakit, ia selalu merasa banyak orang yang tengah mengawasinya. Entah itu sesama pasien jiwa yang tiba-tiba menyerangnya atau orang tidak di kenal yang tiba-tiba mendorongnya hingga mengajaknya bertengkar. Setiap harinya ada saja orang-orang yang berusaha mengusiknya.


Karena itu, selama ini Galih memilih menghindar dari orng-orang yang menghampirinya tanpa alasan yang jelas. Termasuk saat beberapa orang mengajaknyaa berbicara dengan nada suara yang berisi ancaman. Ada pula seseorang yang berpakaian perawat laki-laki datang menghampirinya untuk memberinya menu makan siang. Laki-laki itu memaksa Galih untuk menghabiskan makananya. Ia bahkan menunggui Galih hingga makanannya habis.


Ada rasa menggajal saat Galih melihat menu makanannya yang dibedakan dari pasien lain. Galih di beri semangkuk sayur sup, sementara pasien lain menu makanannya kering dan sayurnya hanya berupa tumisan saja. Saat itu, meskipun agak janggal, namun Galih tetap memakannya, sampai akhirnya ia mengalami mual muntah hingga harus di larikan ke rumah sakit lain. Itu pengalaman yang menakutkan bagi Galih hingga ia memaksa Gayatri untuk mengajaknya pulang.


Tinggal di rumah ini, memberi banyak perubahan pada kestabilan emosinya. Ia mulai merasa nyaman dengan semua ketenangan yang ia dapatkan. Di malam hari, tanpa sepengetahuan Gayatri dan orang rumah lainnya, laki-laki ini sering keluar dari kamarnya secara diam-diam. Duduk termenung sendirian di ruang keluarga, sambil memandangi nyala lampu kekuningan di taman belakang rumah.


Tempat ia berada saat ini hanya terpisah oleh jendela kaca yang tebal dan lebar dari taman tersebut. Dari tempatnya ia masih bisa melihat dedaunan yang bergoyang tertiup angin, serangga yang beterbangan mengelilingi lampu taman yang bulat dan menyala, juga riak air kolam renang yang terlihat berkilauan di bawah langit malam.


Laki-laki itu beranjak untuk membuka jendela kaca dan menuju tempat tersebut. Tanpa alas kaki, menginjak rerumputan hijau yang tidak terlalu terlihat di malam yang gelap itu. Ia termenung beberapa saat ketika angin malam yaang dingin menyapanya. Di bibir kolam ia mematung, tertunduk menatap pantulan wajahnya di atas permukaan air. Wajahnya sudah banyak berubah, setiap sudut wajahnya tajam karena terlalu tirus. Rambut gondrongnya juga terlihat dominan, membuat penampilannya garang mirip raja hutan.


Galih mengguyar rambutnya, entah kapan terakhir kali ia mencukur rambut, juga kumis dan jambangnya yang lebat. Seperti sudah ratusan purnama dengan perasaan tersiksa dan terkurung. Ingin rasanya ia membebaskan dirinya dari semua bayangan gelap atas semua kejadian yang menimpanya.


Puas memandangi wajahnya sendiri, Galih memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Tanpa sengaja ia melihat sekelebat bayangan yang menghilang di balik dinding. Laki-laki itu terhenyak dan tubuhnya mulai gemetar. Matanya yang bulat dan tajam mulai waspada, dengan rasa penasaran yaang menjadi.


Entah keberanian dari mana yang membuaat laki-laki itu memutuskan untuk mengikuti arah berlalunya bayangan tersebut. Keluar menuju basement lalu menuruni anak tangga yang tertutup oleh pintu yang rata dengan lantai. Beberapa saat lalu baru tertutup.


"Tempat apa yang ada di bawah sana?" Galih bergumam dalam hatinya.


Ia memutuskan untuk masuk ke dalam sana. Saat pintu kecil itu ia buka, ada nyala lampu yang menyambutnya dan seolah menuntun Galih untuk melanjutkan langkahnya. Ia menuruni anak tangga tersebut hingga kemudian tiba di depan sebuah pintu. Pintu itu tidak tertutup rapat, Galih penasaran untuk mendorong daun pintu itu. Namun saat ia mendorongnyaa perlahan, tiba-tiba sebuah tangan membekap mulut dan menarik tubuhnya menjauh dari pintu.

__ADS_1


Laki-laki itu di sudutkan ke sebuah sudut dinding dan saat akan berontak, sebuah lengan kokoh menguncinya di leher. Mata Galih membulat kaget, menatap wajah asing yang baru pertama kali di lihatnya. Wajah itu milik  seorang wanita, dengan kulit kecokelatan dan sorot matanya yang tajam.


“Kamu siapa?!” tanya gadis itu dengan suara yang tegas penuh penekanan.


Galih tidak menjawab, ia berusaha berontak. Kaki kanannya ia masukan ke celah kaki wanita itu lalu ia tekuk hingga tubuh wanita itu oleng. Galih menggunakan kesempatan itu untuk membalik posisi daan membuat gadis itu yang sekarang tersudut di dinding terkunci oleh lengannya yang kokoh.


Sadar wanita ini bukan bagian dari penghuni rumah, mata tajam Galih menatap wajah wanita itu dengan seksama. Sangat lekat, hingga seketika, ia seperti kembali pada dirinya yang dulu. Kesadarannya mendadak penuh meski tidak seutuhnya.


“Kamu siapa?” Galih balik bertanya tanpa melepaskan bekapan tangannya di mulut wanita itu.


“Abang!” seru Gayatri yang baru keluar dari ruangan itu.


Galih dan sang gadis sama-sama terkejut. Mereka kompak menoleh Gayatri yang segera menghampiri Galih dan memegangi tangannya. “Lepasin,” pinta gadis itu saat melihat wajah Alya yang terkejut dengan napasnya yang terengah-engah. “Dia temen Aya,” imbuh Gayatri dengan bersungguh-sungguh.


Galih menatap gadis asing itu beberapa saat sebelum kemudian ia melepaskan bekapan tangannya.


Laki-laki itu mulai tenang, tidak lagi memandangi Alya dengan waspada.


“Kamu gak apa-apa?” tanya Gayatri pada Alya.


Alya tidak menimpali, cenderung terlihat kesal. Gadis itu memilih masuk ke ruang kerja Shaka dan melewati David yang menunggunya di pintu masuk.


“Kamu gak apa-apa?” David bertanya hal yang sama pada Alya.

__ADS_1


“Gak,” sahut gadis itu ketus. Ia tidak menyangka kalau laki-laki itu adalah kakak Gayatri yang kata Shaka tinggal di rumah ini.


“Ada apa?” tanya Shaka yang segera menoleh. Konsentrasi laki-laki itu baru terusik saat melihat kedatangan Alya yang langsung duduk dengan kesal di atas meja.


“Abang gak bilang kalau laki-laki itu semacam maahluk nocturnal,” keluh Alya dengan sinis.


“Siapa?” Shaka mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


Alya menjawabnya dengan gerakan kepala dan sudut mata yang tertuju pada tiga orang yang baru masuk. Shaka pun segera menoleh.


“Abang gue,” tunjuk Gayatri dengan ibu jarinya pada laki-laki yang berjalan di belakangnya. Shaka mengangguk paham, ia menoleh Alya, seperti memintaa penjelasan.


“Dia liat aku pas ngambil minum,” hanya itu penjelasan Alya. Padahal Ia sudah berjalan cepat dan diam-diam, tetapi Galih tetap menyadari keberadannya, hingga menyusulnya sampai ke markas Shaka.


Laki-laki yang baru dilihat Alya untuk pertama kali itu, tiba-tiba merasa tertarik dengan seisi ruangan yang ia masuki. Ia berjalan pelan menghampiri meja bundar di tengah-tengah ruangan yang memajang jejeran barang bukti. Banyak koomputer yang menyala dan menampilkan banyak wajah.


“Jangan di pegang, Bang,” ucap Gayatri mengingatkan. Laki-laki itu segera mengangkat tangannya tinggi-tinggi membuaat Shaka cukup kaget dengan sikap Galih kali ini. Laki-laki ini terlihat tertarik pada apa yang diselidiki Shaka. Apa laki-laki ini sudah membaik? Apa Shaka bisa memanfaatkannya?


“Abang mau liat yang lainnya?” tawar Shaka kemudian. Ia tidak mau melewatkan kesempatan ini.


Galih tidak menjawab, ia tetap berjalan di sekitaran ruangan ini dan memperhatikan semuanya. Shaka menatap Gayatri yang ikut heran dan terkejut dengan tingkah sang kakak, Gayatri menggelang tidak paham. Entah apa yang membuat Galih penasaran. Mereka biarkan saja Galih untuk berkeliling beberapa saat sampai kemudian laki-laki itu berdiri di depan white board dan memandangi papan putih itu dengan matanya yang tajam.


“Pembunuhan,” ucap laki-laki itu.

__ADS_1


Orang-orang diruangan ini tampak terkejut, saling bertatapan penuh harap. Apa mungkin Galih bisa membantu mengungkap semuanya?


****


__ADS_2