Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Pembelaan


__ADS_3

"Tolong maafkan putri saya Pak. Beri kami kesempatan, jangan langsung dikeluarkan begini. Dia sudah kelas tiga SMA dan sebentar lagi ujian, tolong Pak. Tidak masalah kalau dia gak terima lagi beasiswa, walau pun berat, kami bisa menerima itu. Tapi tolong, jangan dikeluarkan." Mira berujar dengan sungguh-sungguh. Ia tidak mau masa depan putrinya hancur.


"Bu, setelah kejadian beberapa bulan lalu, kami sebenarnya masih memberikan kesempatan pada Gayatri. Dia anggota genk motor yang melakukan pembulyyan loh Bu. Kami masih memberi satu kesempatan dengan membiarkannya sekolah di sini."


"Tapi sekarang, kesalahannya sudah tidak bisa ditolelir, prilakunya sudah melewati batas. Ibu harusnya paham itu. Kalau terus dibiarkan dan tidak diarahkan oleh orang tuanya, putri ibu bisa semakin liar. Tidak menutup kemungkinan dia pun akan melakukan tindakan kriminal." Dengan mantap kepala sekolah menyudutkan Mira.


"Maksud Bapak apa, dengan menyebut anak saya melakukan tindakan kriminal, hah? Saya kan menitipkan anak saya di sini juga untuk di didik. Sekolah tidak membantu apa pun dalam perkembangan mental anak saya. Dia berjuang sendirian. Kenapa sekarang anak saya diperlakukan sebagai pelaku tindakan kriminal? Apa karena kakaknya di tuduh pembunuh?" Mira menyalak tidak terima.


"Ingat ya Pak, anak sulung saya sampai sekarang pun tidak terbukti bersalah. Tidak ada alat bukti. Sejak awal kalian terus menyuruh saya dan keluarga saya untuk diam, karena apa? Karena kalian sadar kalau kalian tidak bisa membuktikan anak saya bersalah. Iya kan?!" seru Mira yang mulai tersulut emosi.


"Bu! Kita di sini untuk membicarakan putri ibu, bukan hal lainnya!" Suara kepala sekolah mulai meninggi. Tidak terima masa lalunya diusik.


"Bukan yang lainnya gimana, jelas bapak membahas kalau anak saya berprilaku yang mengarah kriminal. Apa bapak lupa sama yang bapak katakan barusan? Hah?!" seru Mira dengan kesal.


Kepala sekolah mengusap wajahnya kasar, kalau saja yang dihadapinya bukan seorang wanita, mungkin ia sudah mengajaknya adu jotos.


"Sudah Bu, saya harap ibu tetap menjaga sikap sopan ibu terhadap kami," wakasek kesiswaan mencoba menengahi.


"Sopan apanya, lo semua juga gak sopan sama gue!" Mira benar-benar tidak bisa menahan dirinya, membuat wakasek kesiswaan menggelengkan kepalanya.


Tok tok tok!


Suara ketukan terdengar di daun pintu. Wakil kepala sekolah melihat keluar pintu dan ternyata ada Gayatri di sana. Laki-laki itu memberi isyarat pada kepala sekolah dengan lirikan matanya.


"Masuk!" seru kepala sekolah dengan kesal.

__ADS_1


Sosok Gayatri pun memberanikan diri untuk masuk. Ia tidak menunjukkan wajah ketakutan sama sekali, ekspresonya datar saja, cenderung berani menatap guru-gurunya.


"Ada apa kamu? Saya sedang berbicara dengan orang tua kamu," ucap kepala sekolah dengan ketus, membuat Mira menoleh pada putrinya yang masih terengah setelah berlari. "Kamu tau kan kalau kamu sudah melakukan pelanggaran?" imbuh laki-laki itu dengan tatapan tajam pada Gayatri.


"Tidak Pak, saya tidak merasa melakukan kesalahan," Gayatri menimpali dengan berani. Mereka cukup terhenyak mendengar Gayatri yang ternyata bisa berbicara. Sejak kapan? Bukankah siswinya yang satu ini bisu?


"Apa maksud kamu tidak merasa? Ini apa, hah?!" Laki-laki itu melempar dengan kasar, lembaran kertas yang telah ia cetak dan menampilkan bukti akun medsos milik Gayatri.


Gayatri  mengambil satu lembar kertas dan memandanginya. "Saya dikeluarkan karena ini?" tanya gadis itu.


"Ya! Kamu telah melanggar ketentuan yang sekolah ini buat. Tidak boleh ada siswa yang memiliki akun media sosial! Kamu paham itu?!" seru Kepala sekolah sambil berdiri dan berkacak pinggang. Telunjuknya yang lurus sempat menunjuk Gayatri.


"Kalau begitu, bapak keluarkan juga siswa yang lainnya," ucap Gayatri ringan.


"Apa maksud kamu?" tanya wakasek kesiswaan. Matanya menatap Gayatri dengan tajam.


"Sembilan puluh persen siswa di sekolah ini memiliki akun media sosial dengan nama yang disamarkan. Bapak bisa mengeceknya, wajah mereka terlihat jelas di postingan video yang mereka buat." Gayatri berujar dengan tenang.


Ketiga laki-laki itu segera berkumpul, membaca setiap lembaran kertas yang Gayatri tulisi. Ada sekitar enam lembar kertas yang ditulisi gadis ini, dengan bentuk tulisan yang tetap rapi dari awal sampai akhir.


"Beberapa akun media sosial, dijadikan sumber penghidupan oleh beberapa siswa. Mereka mendapatkan uang dari bayarannya menjadi konten creator. Dengan ketentuan pihak sekolah yang melarang siswanya memiliki akun media sosial, membuat beberapa siswa harus mengulang dari nol usaha mereka. Dan saya sendiri, sebenarnya bukan pemilik akun media sosial yang mencatut nama lengkap saya," terang gadis itu dengan begitu meyakinkan.


"Apa maksud kamu, ini jelas nama kamu!" Laki-laki itu mulai meradang karena merasa tersudut oleh serangan balik Gayatri.


Gayatri tidak tinggal diam, ia mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah rekaman suara yang berisi percakapan Indah dengan teman-temannya. "Kita bikin aja akun medsos atas nama dia, Gayatri Sekar Ayu, terus kita posting video dia lagi balapan. Gimana?" Itu penggalan perbincangan Indah dan teman-temannya yang dikirimkan Alya padanya.

__ADS_1


Ketiga laki-laki itu menatap Gayatri dengan kaget, sementara sang gadis hanya tersenyum kecil. Tidak hanya Gayatri, melainkan Shaka dan Zaidan di luar sana. Pukulan bukti yang Gayatri sodorkan cukup untuk membungkam guru-gurunya.


"Dengan bukti ini, bukankah saya bisa menuntut pelaku, berikut sekolah yang telah menekan saya dan orang tua saya dengan tanpa melakukan penyelidikan terlebih dahulu untuk mencari tau kebenaran dari masalah ini?" Pertanyaan Gayatro terdengar sederhana namun memekakkan telinga. Mereka tidak bisa menjawab.


"Sepertinya, hanya saya dan 10 persen siswa lainnya yang akan lulus dari sekolah ini," tandas Gayatri dengan senyum tersungging.


Ketiga laki-laki itu tidak bisa berkata apa pun. Mereka kehabisan kata-kata atas apa yang dilakukan Gayatri. Tidak mereka sangka, kalau ternyata mereka telah dikelabui oleh sekelompok siswa yang melaporkan gadis itu.


"Boleh saya dan ibu saya keluar Pak? Masalah ini sudah selesai bukan? Sepertinya bapak perlu waktu untuk memutuskan rencana bapak kedepannya." Ujaran Gayatri benar-benar telak, membuat kepala sekolah jatuh terduduk di atas kursinya tanpa berkata apa pun. Gadis itu memang sudah muak dengan pihak sekolah yang selalu menekan keluarganya, termasuk saat mereka memaksa Galih untuk mengakui perbuatannya agar nama sekolah tidak tercemar dengan adanya isu pembulyan.


Hanya wakasek kesiswaan yang mengibas-ibaskan tangannya mempersilakan Gayatri keluar. Ia harus menenangkan bosnya bersama sang wakil kepala sekolah yang hanya menatap tajam pada Gayatri lantas tersenyum kecil.


Tidak menunggu lama sampai kemudian Gayatri melenggang keluar dari ruang kepala sekolah sambil berpegangan tangan dengan Mira. Wanita itu memukul lengan putrinya dengan kesal, lalu merangkulnya. "Lo anak Enyak. Anak kebanggan Enyak," ucap wanita itu seraya menepuk-nepuk punggung Gayatri dengan penuh rasa bangga.


Gayatri hanya tersenyum kecil. Senyumnya semakin lebar saat ia disambut tepuk tangan oleh Zaidan dan ajak tos dari dua laki-laki yang menunggunya.


"Lo Keren, lo kereeeennn!!!" seru Zaidan seraya melingkarkan tangannya di bahu Gayatri.


"Apaan lo rangkul-rangkul anak gue! Minggir lo!" usir Mira, sekali lalu memukul lengan Zaidan. Tidak rela putrinya di rangkul begitu saja oleh anak laki-laki.


"Ah elah Enyak gitu doang gak boleh...." Zaidan akhirnya melepaskan rangkulannya.


"Gitu doang lo bilang? Kagak sopan sama anak perempuaan begitu!" Mira mencubit lengan remaja pria yang membuatnya kesal, membuat remaja itu meringis kesakitan.


Sementara Gayatri dan Shaka hanya saling tatap dan tersenyum kecil satu sama lain.

__ADS_1


"Gadis gue," gumam Shaka dalam hatinya.


*****


__ADS_2