Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Bunga lili


__ADS_3

Langkah Gayatri menuju kelas harus terhenti saat ia melihat seseorang sedang berjalan mondar-mandir di depan kelasnya. Laki-laki itu berdiri mematung saat melihat kedatangan Gayatri. Tatapannya cukup lekat pada sang gadis yang sedang berusaha mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan langkahnya. Siapa lagi orangnya kalau bukan Dion.


Laki-laki itu tersenyum kecil sambil menunjukkan sebucket bunga lili pada Gayatri.


“Pagi, Aya,” sapa Dion dengan senyum tipis yang tampak berbeda. Tidak ada seringai kejam di wajahnya seperti yang biasa ia perlihatkan sebelum-sebelumnya.


Tentu saja Gayatri tidak menimpalinya. Ia meneruskan langkahnya menuju kelas, sampai kemudian tiba-tiba tangan Dion terrentang, menghalangi pintu masuk menuju kelas.


“Gue seneng lo balik. Welcome,” ucap laki-laki itu seraya menyodorkan bucket bunga itu pada Gayatri. Ia tahu persis kalau bunga lili adalah bunga kesukaan Gayatri. Identitas gadis tomboy yang tidak orang lain ketahui.


“Lo tau, gue gak suka penolakan, jadi ambillah. Jangan bikin gue maksa,” imbuh Dion saat Gayatri hanya mematung saja, tanpa keinginan untuk menerima pemberiannya. Seringai mengerikan itu kembali terlihat di wajah Dion, lengkap dengan tatapannya yang tajam.


Terpaksa Gayatri menerima bunga dari Dion, ia tidak mau berurusan lebih panjang lagi dengan laki-laki itu. Senyum kemenangan jelas terlihat bersamaan dengan sikap jumawanya yang ia tunjukkan pada Shaka, yang berdiri dikejauhan sana.


“Semoga hari lo indah, Aya,” ucap laki-laki itu. Berbicara dengan jarak dekat pada Gayatri, tetapi tatapannya masih tertuju pada Shaka. Setelah menunjukkan keangkuhannya, barulah ia menoleh Gayatri yang membisu di tempatnya.


Gayatri mengabaikannya, ia menatap tangan Dion beberapa saat dan laki-laki itu pun menurunkannya, memberi jalan pada Gayatri untuk lewat.


Setelah Gayatri masuk, Shaka dan Dion berjalan saling mendekat dan bertemu di tengah-tengah. Mereka saling bertatapan dengan sorot mata yang mengancam untuk satu sama lain. Dari jendela kelasnya, Gayatri bisa melihat dua orang laki-laki itu sedang berdiri berhadapan, menunjukkan keberaniannya masing-masing.


Gayatri sedikit gelisah, khawatir terjadi perkelahian. Tidak, bukan hanya Gayatri, siswa lain pun ikut was-was. Mereka menatap waspada pada dua siswa yang berhadapan di koridor sekolah.


“Gue gak nyangka lo bisa balapan? Kirain lo cuma bisa gangguin cewek orang,” Dion berujar dengan sinis pada Shaka.


Shaka tersenyum kecil, mengguyar rambutnya, membuat penampilannya terlihat keren. “Bisa, dan gue gak pernah curang,” sahutan Shaka terdengar ringan, tetapi seperti tamparan bagi Dion.


Tidak suka dengan ucapan Shaka, Dion menambah langkahnya mendekat pada Shaka, mengikis jarak dan membuat jeda di antara mereka hanya setapak kaki Dion, beberapa senti saja.


“Lo menang karena sebuah keberuntungan. Lain kali, lo bakal ngerasain gimana nikmatnya nyium tanah beraspal sambil berdarah-darah,” ancam Dion dengan pelan dan penuh penekanan.


“Oh ya, kok gue gak ngeri ya?” Shaka mengentengkan ancaman Dion, membuat laki-laki itu mencengkram kerah baju Shaka dengan erat sementara satu tangannya melayang ke udara.


Shaka tampak tenang saja, ia malah tersenyum tipis pada tingkah arogan Dion. Mata Dion yang menyalak kesal padanya, malah membuat Shaka merasa lucu. Tekadnya semakin besar saja untuk mencari tahu siapa sebenarnya sosok Dion.

__ADS_1


“Udah kalah balapan, paling nggak jaga sikap deh biar gak di hukum dan bikin lo makin berada di bawah gue.” Shaka berujar dengan sinis, menampar mental Dion hingga membuat laki-laki itu menyeringai dan rahangnya mengeras menahan geram.


Terpaksa ia melepaskan cengkramannya, karena ia sadar setiap pasang mata kini tertuju padanya dan Shaka. Di dorongnya tubuh Shaka dengan kesal lantas ia berlalu pergi. Shaka tidak bergeming sedikit pun termasuk saat Dion mengacungkan jari tengahnya tepat di depan muka Shaka.


Laki-laki muda itu memilih tidak meladeni Dion. Ia berjalan dengan santai menuju kelasnya dan langsung menemui Indah.


“Cantik, siang ini jalan yuk,” ajak Shaka.


“Hah, serius?” Indah terlonjak Girang. Wajahnya langsung memerah, kipas helo kity pun setia mengipasi wajahnya yang menghangat.


“Cieeeee… ehm! Ehm!” seru Wanda dan Rima bersamaan. Sementara Alya hanya terdiam, memandangi Shaka dengan tidak mengerti. Apa yang akan dilakukan laki-laki ini sebenarnya?


“Serius lah! Text gue lo mau pergi ke mana,” tantang Shaka. Baginya ini saatnya untuk bertukar sesuatu dengan Indah dan mencari info lainnya.


“Okey, nanti gue text.” Indah menyahuti dengan semangat. Ia memekikan teriakannya dengan mulut terbungkam tangan, saking senangnya.


Shaka hanya mengacungkan jempolnya dan kembali ke tempatnya. Ia duduk dengan santai di depan Gayatri. Menoleh sebentar hanya untuk berujar, “Cantik,” di tambah segaris senyum. Entah pada bunga lili, entah pada Gayatri. Gadis itu tidak mau ambil pusing.


Pelajaran di mulai dan semua siswa mulai fokus papa Pelajaran yang di jelaskan. Guru geograpi yang saat ini mengisi. Ia menggambar sebuah cekungan lalu membuat garis lurus di sisi kiri. Memberi beberapa garis tersusun  dari bawah ke atas dan menempatkan beberapa angka dalam bentuk puluhan hingga ratusan.


“Kalian pernah rasain air laut?” tanya guru itu. Matanya berkeliling memperhatikan setiapwajah siswanya. Ada yang sudah menguap padahal pelajaran baru di mulai. Beberapa orang siswa tetap lebih fokus pada penampilannya dan sesekali bercermin. Siswa yang mengernyitkan dahinya pun tidak sedikit, namun masih cukup banyak siswa yang menyimak penjelasannya.


“Pernah Pak!” sahut siswa bersamaan.


“Okey, gimana rasanya?” Laki-laki itu berjalan di sela baris kursi tengah, sampai baris ke tiga lalu berbalik, ikut memandangi gambar yang dibuatnya di papan tulis.


“Asin kayak ketek!” sahut Rima sambil terkekeh.


“Hahahaha… ketek lo asin? Dih, gue sih kagak.” Wanda langsung menimpali. Sekaligus meledek kawannya.


“Itu istilah anjir. Ketek gue aman lah, gak asin sama sekali.” Rima langsung menimpali, mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke arah Wanda. Raut mukanya terlihat kesal.


“Okey cukup yaaa bahas keteknya, nanti malah baper.” Guru itu mencoba menengahi sambil mengetuk-ngetukkan spidol di atas meja, agar siswanya tenang. Wanda mengerucutkan bibirnya kesal pada Rima dan saling mendelik satu sama lain.

__ADS_1


“Sesuai gambar yang saya buat, bahwa kedalam air laut yang berbeda-beda, membuat rasa asinnya berbeda. Air laut umumnya memiliki salinitas 35% atau 35 ppt. Artinya 1 kg air laut mengandung 35 gram garam. Namun tingkat keasinan laut yang ada di dunia ini berbeda-beda.”


“Laut yang paling tawar berlokasi di timur Teluk Finlandia dan di utara Teluk Bothnia, keduanya bagian dari Laut Baltik.”


Dua paragraph panjang dari sang guru membuat siswa mengernyitkan dahinya, terutama David. Siswa alumni teknis ini benar-benar tidak mengerti.


“Bentar deh pak, saya mau nanya,” laki-laki itu segera mengangkat tangannya, membuat Alya dan Shaka kompak menoleh pada laki-laki itu. Entah pertanyaan apa yang akan disampaikan oleh anak teknik itu.


“Ya, silakan,” sang guru langsung mempersilakan.


“Begini pak, tadi kan kata bapak laut itu beda kedalaman beda rasa asinnya. Nah yang mau saya tanyakan, laut itu kan ibarat mangkuk ya pak, kayak gambar bapak itu. Dan air laut itu ibarat kuahnya. Kalau saya makan bakso, saya kasih garam, asinnya itu semuanya. Gak ada yag beda-beda tuh. Nah ini laut, kenapa asinnya bisa beda padahal di mangkuk yang sama? Cuma beda kedalaman aja kan pak,” tanya David dengan dahi berkerut.


Gurunya tersenyum kecil mendengar pertanyaan David. “Pertanyaan yang bagus. Dalam satu mangkuk, hanya karena beda kedalaman, rasa asinnya jadi beda, gitu ya?” Guru tu balik bertanya.


“Nah iya, itu Pak! Kalau laut itu mangkuknya kayak di rumah makan padang gitu, di susun beda ketinggian dan tidak saling menyatu, ya oke lah. Tapi ini kan di mangkuk yang sama,” David begitu semangat menyahuti.


“Okey, terima kasih atas pertanyaannya. Pertanyaan ini sebenarnya yang akan kita bahas. Karena sudah ada yang bertanya, maka saya akan menjadikan ini tugas. Saya akan memberikan beberapa tempat yang harus kalian cari tahu tingkat keasinan air lautnya seperti apa dan apa alasannya."


"Dikerjakan secara berkelompok, kelompok kecil saja, lalu nanti kelas ini membuat simpulan, faktor apa saja yang membuat rasa asin di tiap tempat berbeda. Kumpulkan tugasnya paling lambat minggu depan. Okey, selamat pagi….” ucap guru itu sekaligus pamit.


“Hah, ujung-ujungnya nugas. Nyesel aku tadi nanya,” gerutu David dengan kesal sambil mengacak rambutnya yang mendadak gatal.


“Huuh!! Elu sih, pake nanya segala. Jadi ada tugas kan!” dengus Wanda dengan kesal.


“Jangan marah nona, saya juga sama kesalnya dengan Anda,” timpal David yang membuat teman-temannya menyorakinya.


Sementara satu orang kini tersenyum senang. Ia menengadahkan kepalanya ke atas meja Gayatri, menatap wajah gadis itu dari bawah. “Sekelompok kan kita? Mau ngerjain tugas di mana?” tanya Shaka degan wajah bahagia.


Gayatri tidak menimpali, ia memilih beranjak dari tempatnya sambil membawa buku di pelukannya. “Bukannya lo mau jalan sama gebetan lo?” batin Gayatri seraya berlalu pergi  dan di susul oleh Rosi. Siswa lain pun bubar jalan, berpindah ke perpustakaan untuk mencari materi.


Shaka hanya tersenyum kecil, melihat gadis itu yang sepertinya marah. Ia membiarkan Gayatri pergi sementara perhatiannya tertuju pada bunga lili di bangku Gayatri. Matanya sedikit memincing melihat tulisan di atas kertas kecil, sepertinya dari Dion. Rasa penasaran membawanya beranjak untuk melihat secara langsung.


“Maafin Gue Ya. Kaki lo baik-baik aja kan?” begitu isi tulisan tangan Dion.

__ADS_1


Shaka terhenyak, sepertinya dugaannya benar, kalau penyelamatnya semalam adalah Gayatri. Tidak hanya itu, tulisan tangan Dion pun terasa familiar. Di mana ia pernah melihatnya?


****


__ADS_2