Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Pasukan elite?


__ADS_3

“Dari mana lo berdua? Jam segini baru balik,” kalimat itu dilontarkan Mira saat melihat kedatangan putrinya bersama Shaka, di pintu kedai.


“Malem Nyak, baru selesai kerja kelompok nih. Maaf yaa, nganterin Aya pulang malem-malem,” Shaka segera menyalimi wanita itu, membuat Mira menatap kaget pada pria muda yang ternyata sopan.


Gayatri melirik laki-laki itu, bohong, kerja kelompok apa yang mereka kerjakan? Apa maksudnya memecahkan kasus Galih juga kerja kelompok?


“Kirain habis pada ngayap seharian. Udah pada makan belum lo?” meski sinis, Mira tetap perhatian.


“Belom Nyak. Sengaja datang ke sini pengen makan soto bikinan Enyak.” Shaka memang pandai mengambil hati Mira, membuat wanita itu mengulum senyum.


“Di introgasi mulu lo kayak polisi. Udah pada duduk sana, tar Babeh siapin makanannya. Kasian bener anak gue kelaperan,” ucap Barkah sambil berlalu menuju dapur kedainya.


“Deuh sok tau banget mau ngambilin soto, mana suka asin lagi. Bentar ya, Enyak ambilin dulu makanannya.” Mira segera menyusul Barkah yang duluan pergi ke dapur.


“Iya Nyak, makasih banyak,” Shaka menyahuti dengan senang hati. “Yuk akh duduk, gak usah sungkan,” dengan tengilnya laki-laki itu menarik tangan Gayatri untuk duduk di sampingnya, membuat gadis itu terduduk dengan terpaksa. Untungnya sudah tidak ada pelanggan, karena sudah cukup larut.


“Lo ngapain bohong ke enyak gue bilang habis kerja kelompok segala?” Gayatri berbisik pelan di telinga Shaka.


“Ya masa gue bilang habis pacaran?” Shaka menjawab dengan santai.


“Dih, siapa yang pacaran? Pacar lo kan pick me girl, yang fansnya sampe jutaan.” Gayatri berujar dengan kesal.


“Hahahhaa… sensi banget lo sama cewek gue. Tenang, mau gue putusin kok.”


“Putusin? Perasaan baru beberapa hari doang dah, pacarannya.” Gayatri mengernyitkan dahinya dengan tidak mengerti.


“Ya mau gimana lagi, gue sama dia gak ada kecocokan sama sekali,” keluh Shaka.


Gayatri menatap tidak percaya pada laki-laki ini, padahal beberapa hari ini sejoli baru ini terlihat sangat mesra.

__ADS_1


“Apaan main bisik-bisikan?” Suara Barkah tiba-tiba terdengar di belakang sana, membuat Gayatri dan Shaka kompak menoleh.


“Hehehhe… enggak Beh. Gak ada apa-apa,” Shaka yang segera menjawab, sementara Gayatri memilih memalingkan wajahnya. Bingung harus menjawab apa.


“Udaahh daripada bisik-bisikan, nih makan dulu. Lo berdua pucet banget kebanyakan belajar,” ungkap laki-laki itu seraya menaruh dua mangkuk soto di hadapan Gayatri dan Shaka, juga dua piring nasi di tambah telur asin.


“Waahhh, makan enak nih saya Beh. Babeh udah makan?” Shaka bertanya dengan semangat. Air liurnya seperti akan menetes begitu saja.


“Gue seharian ada di kedai ini, bau soto udah bikin kenyang,” keluh Barkah seraya terduduk di hadapan Gayatri.


“Ya itu biasanya yang bikin pemilik kedai malah gak memperhatikan pola makannya. Yuk lah, Babeh juga makan sama Enyak. Pasti capek juga kan seharian kerja?” ada senyum manis yang ditunjukkan Shaka di ujung kalimatnya.


“Baik bener sih lo. Tau aja gue belum makan. Kerja rodi gue di sini,” Barkah memelankan sebagian suaranya.


“Jangan ngarang! Lo gue gaji, kagak ada judulnya kerja rodi,” rupanya Mira mendengar perbincangan mereka, membuat wanita itu mendekat sambil membawakan makanan lainnya di atas baki.


“Hahahaha… dia denger.” Barkah tertawa lebar mendengar sahutan istrinya. Wanita itu hanya mengerlingkan matanya pada sang suami. “Wiiihh makan bareng kita?” imbuh Barkah dengan semangat.


“Hahahaha… cocor bebek lo yaa, kalau ngomong, suka pengen gue cocot,” timpal Barkah yang gemas sendiri dengan tingkah istrinya.


Shaka hanya terkekeh melihat tingkah kedua orang tua Gayatri yang ternyata lucu. Gadis di sampingnya ini masih sangat beruntung karena memiliki dua orang tua yang lengkap dengan keunikannya sendiri, sementara dirinya hanya tinggal sebatang kara.


Tanpa Shaka sadari, Gayatri pun sedang memperhatikannya. Terlihat raut sedih dan tatapan kosong di balik senyum Shaka yang terlihat lebar. Lihat saja sudut matanya yang tampak berkaca-kaca. Sepertinya laki-laki ini terrenyuh oleh pemandangan di depan matanya.


Empat orang itu kini mengelilingi meja yang sama. Masing-masing dengan piring di hadapannya. Sebelum memulai sesi makannya, Barkah mengambil dua butir telur asin. Mengupasnya dengan cepat lalu menaruhnya di atas piring Shaka dan Gayatri.


“Soto gak lengkap kalau gak pake telor asin. Gih, makan yang banyak. Kalau masih mau, nanti babeh kupasin,” ucap laki-laki itu.


Shaka jadi memandangi telur asin yang ada di piringnya, baik sekali laki-laki ini.

__ADS_1


“Gak usah terharu begitu muka lo, gue udah biasa ngupasin telor asin buat dua anak gue. Terutama si Aya. Dia kagak bisa ngupas telor asin, cangkangnya pasti aja masuk ke sela kuku. Kalau gak Babeh kupasin, ya gak makan dia. Padahal telor asin kan enak banget,” terang Barkah tanpa di minta.


Shaka mengangguk paham, ia melirik Gayatri yang tersenyum kecil mendengar ujaran ayahnya. “Makasih Beh,” ucap gadis itu seraya tersenyum kecil.


“Sama-sama. Udah lo pada makan,” timpal Barkah, tanpa berani menatap wajah putrinya. Ia selalu menyesal setiap kali memberi Gayatri telur untuk lauk makan.


Awal dua bulan lalu, hanya lauk ini yang bisa ia berikan pada putrinya, karena uangnya yang habis setelah membayar banyak pengacara untuk membela anak sulungnya. Sayangnya semua usahanya sia-sia. Padahal sebelumnya Gayatri terbiasa makan enak di rumahnya yang megah lagi mewah.


Benar adanya kalau roda kehidupan itu berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Dan saat ini keluarga Barkah sedag berada di bawah, beruntung masih ada usaha yang bisa mereka lakukan demi menyambung hidup yang semakin sulit ini.


“Babeh sama Enyak, dua orang tua hebat. Shaka kagum sama usaha Babeh dan Enyak,” kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Shaka membuat ketiga orang di hadapannya menghentikan kunyahannya beberapa saat.


“Ah, lo ngomong apaan sih. Mana ada gue sama bini gue orang tua yang hebat. Kalau hebat, gak akan bikin anaknya sengsara.” Barkah menimpali tanpa berani menatap Shaka terlebih Gayatri.


“Punya anak kaya Aya, itu udah menunjukkan kalau Babeh sama Enyak orang tua yang hebat.” Shaka menimpali dengan sesungguhnya, membuat Barkah dan Mira memandangi putrinya dengan perasaan sedih dan haru.


“Lo bisa aja. Orang tua lo juga pasti orang-orang hebat karena punya anak manis banget kayak lo,” timpal Mira yang mengulum senyum haru seraya mengusap lengan Shaka. Sangat lembut layaknya seorang ibu pada anaknya.


“Orang tua saya, udah meninggal sejak saya kecil Nyak. Mereka mengalami kecelakaan tragis di jalan tol,” aku Shaka tiba-tiba.


Suasana pun mendadak hening setelah mendengar pengakuan Shaka. Mira dan Barkah saling menoleh, kaget sendiri mendengar ucapan polos Shaka. Begitu pun dengan Gayatri, tanpa ia duga ternyata Shaka juga begitu menderita. Pantas kalau laki-laki ini begitu putus asa dan frustasi saat ternyata penyelidikannya selama ini gagal.


“Ya dulu berarti orang tua lo hebat. Buktinya anaknya bisa tumbuh dengan baik walau tanpa mereka. Dah, jangan bahas itu. Semua orang pada dasarnya hebat, kita semua hebat. Semangaat!!!” seru Barkah tiba-tiba.


“Semangaaatt!!!” Shaka menyahuti tidak kalah semangat.


“Astagaaa, lo semangat banget. Sampe kaget gue. Udah kayak pasukan elite kalau latihan di lapangan aja,” tutur Barkah sambil terkekeh.


Shaka dan Mira pun ikut terkekeh, hanya Gayatri yang kini memandangi Shaka dari samping.

__ADS_1


“Pasukan elite? Apa itu profesi Shaka yang sebenarnya?” batin Gayatri.


****


__ADS_2