Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Bertukar


__ADS_3

Di tarik ke salah satu sudut sekolah yang sepi, membuat Rosi kaget bukan kepalang. Siapa lagi pelakukanya kalau bukan Shaka yang saat ini menatapnya dengan tajam.


“Ada apa Shaka? Kenapa kamu narik-narik segala?” Rosi menatap kaget pada 'Kang rusuh' seraya mengusap pergelangan tangannya yang tadi di tarik Shaka. Sampe merah, karena cengkraman tangan Shaka sangat kuat.


Shaka tidak lantas menjawab, ia melihat ke sekelilingnya untuk memastikan tidak ada orang yang melihat atau mendengar perbincangannya dengan Rosi.


“Kasih tau gue, siapa Dion? Kenapa Aya sangat ketakutan?” pertanyaan itu terdengar di antara bisikan Shaka yang tergesa-gesa. Mata bulat laki-laki itu menatap tajam penuh rasa penasaran.


Rosi tampak kaget dengan pertanyaan Shaka. Tidak di duga, laki-laki ini menarik tangannya hanya untuk bertanya hal itu.


“Aku gak tau,” timpal Rosi yang berusaha untuk kabur. Terlihat sekali kalau gadis ini ketakutan.


“Rosi, tolong,” Shaka merentangkan tangannya dan menahan bahu gadis itu agar tidak pergi. "Jawab dulu pertanyaan gue, karena ini penting," imbuh laki-laki tersebut.


“Aaakkk….” Cengkraman Shaka yang cukup kuat di bahu gadis itu, membuat Rosi mengaduh.


“Gue bakal lepasin lo kalau lo mau jawab,” terpaksa Shaka memaksa gadis itu. Hanya Rosi yang bisa ia tanyai saat ini.


“Tolong jangan paksa aku Shaka. Aku gak mau di keluarin dari sekolah ini.” Rosi memohon dengan sungguh, matanya menatap Shaka dengan penuh ketakutan.


“Kenapa harus sampe takut di keluarin? Gue cuma mau tau siapa Dion dan apa hubungannya sama Aya. Lo gak usah takut, gak usah khawatir. Gak ada yang liat dan gak ada yang denger.” Shaka masih berusaha meyakinkan Rosi.


“Aku tau!” Rosi mengibaskan tangan Shaka dari bahunya. “Tapi aku tetep gak bisa jawab. Di sekolah ini dilarang membicarakan apa pun tentang Aya dan Dion.” Rosi berujar dengan sungguh, membuat Shaka semakin penasaran.


“Kenapa?” Lagi ia bertanya.


Rosi menghembuskan napasya kasar, jujur ia kasihan dengan rasa penasaran Shaka. Tetapi itu hanya rasa penasaran, tidak sebanding dengan rasa takutnya dikeluarkan dari sekolah ini.


“Tanya sama yang lain. Aku gak bisa bantu,” ucap Rosi dengan tegas.


“Akh sial!” dengus Shaka seraya melepaskan cengkramannya dari Rosi. Sepertinya ia tidak bisa memaksa Rosi untuk menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


Melihat Shaka yang hanya terdiam, gadis itu bergegas pergi. Langkahnya begitu tergesa-gesa, seperti sangat ketakutan. Ia celingukan melihat ke sekelilingnya, untuk memastikan tidak ada yang melihat dan mendengar kejadian tadi.


Ditinggalkan oleh Rosi, membuat Shaka hanya bisa menyandarkan tubuhnya pada dinding. Memegangi kepalanya yang terasa pusing saat di paksan untuk berpikir keras mencari tahu siapa Dion dan mengapa begitu ditakuti. Otaknya terus berpikir apa yang harus ia lakukan untuk mencari tahu laki-laki itu.


“Kayaknya lo penasaran banget,” sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang.


Shaka segera menoleh, ternyata suara itu milik Indah yang berjalan menghampirinya dengan langkah santai dan tangan yang bersidekap di depan dada. Senyum tipis tersungging dari bibirnya yang merah jambu.


“Apa mau lo?” Shaka tidak lagi berbasa basi. Rasanya ia paham keinginan wanita yang mendatanginya.


Indah tidak lantas menjawab. Ia berdiri di samping Shaka dan ikut menyandarkan tubuhnya. “Gue bisa bantu jawab semua rasa penasaran lo, mari kita bertukar.” Gadis itu berujar dengan santai.


Shaka menoleh gadis di sampingnya yang sedang mengulum senyum penuh rasa percaya diri. Seminggu lalu gadis ini tampak pucat saat Shaka bertanya tentang Gayatri, tetapi sekarang ia menawarkan sendiri informasi yang dia punya dengan judul bertukar. “Maksud dengan bertukar?” Sepasang alis tebal itu saling bertautan.


Gadis itu tidak lantas menjawab, ia malah memandangi jari tangannya yang baru dirapikan dan berganti warna kutek menjadi transparan. Hanya gliternya saja yang didominasi warna pink pada ujung kukunya yang runcing.


“Gue bakal jawab satu pertanyaan lo dan lo harus menukarnya dengan memenuhi satu permintaan gue. Gimana?” Gadis itu menoleh dan menatap dengan penuh rasa menantang.


Shaka sedikit mengernyitkan dahinya, penawaran gadis ini cukup berani. “Lo gak takut?” Shaka jadi penasaran.


“Bokap gue kerja di media, dia yang meredam semua gossip di sekolah ini. Dia juga yang bantu pihak sekolah buat menutup semua skandal di sekolah ini. Dan otak gue,” Indah menunjuk pelipisnya dengan telunjuknya yang lentik dan berkuku tajam.


“Cukup bisa mengingat apa aja yang terjadi di sekolah ini. Gimana, lo mau bertukar?” Baru kali ini Indah terlihat begitu berani, padahal sebelumnya gadis ini sama ketakutannya seperti Rosi. Mungkin karena ada tujuan yang dia inginkan.


“Okey, gue setuju.” Shaka akhirnya mengiyakan. Tidak ada salahnya mengikuti permainan gadis ini selama ia bisa mendapatkan semua yang ia butuhkan.


“Good. Jadi apa pertukaran pertama kita?” Gadis itu benar-benar menantang Shaka.


Shaka sudah menyiapkan banyak pertanyaan di benaknya. “Siapa Dion? Kenapa Aya terlihat ketakutan ketemu dia.” Itu pertanyaan Shaka untuk pertama kalinya.


“Hhahaahha… Itu dua pertanyaan Shaka. Gue bilang satu dulu. Satu lagi besok,” Gadis itu dengan sengaja mempermainkan Shaka dengan bertukar satu pertanyaan saja. Ia ingin lebih lama dan lebih sering berbicara dengan Shaka.

__ADS_1


“Ya okey, siapa Dion?” Shaka benar-benar penasaran. Karena ia cari di media sosial, sosok Dion tidak ada. Ia juga tidak merasa menemukan berkas kesiswaan atas nama Dion di dalam Gudang arsip.


“Temenin gue makan siang di kantin, baru gue jawab.” Indah langsung menantangnya.


Shaka tersenyum kecut, rupanya ini tujuan Indah dengan maksud bertukar. “Ya,” Shaka menjawab dengan cepat. Kita ikuti saja dulu permainan gadis ini.


Gadis itu tersenyum senang, sepertinya akan menyenangkan bermain-main seperti ini dengan Shaka.


“Okey, Dion itu adalah anak IPS 3. Seangkatan sama kita. Dia juga anak dari ketua komite sekolah. Dion Chandra Santoso, anak pengusaha sukses Arisman Santoso. Dan yang terpenting, dia anggota genk motor yang bulan lalu terkena masalah.” Indah menjawab dengan tegas. Sengaja menggantung kalimatnya, agar Shaka penasaran.


"Genk motor yang terkena masalah?" Shaka terpancing, ia penasaran pada kalimat menggantung Indah.


Indah hanya tersenyum, lantas menaruh telunjuknya di bibir Shaka agar tidak lagi bicara. “Jangan lupa makan siang di kantin sama gue, pertanyaan berikutnya gue tunggu besok.” Indah menambahkan kalimat itu sebelum berlalu pergi dari hadapan Shaka yang tampak berpikir. Laki-laki muda itu membiarkan Indah pergi begitu saja. Masih ada yang harus ia pikirkan.


Paling tidak, ada informasi penting yang sudah Shaka dapatkan. Sekarang ia tahu identitas laki-laki itu. Tidak menunggu lama sampai kemudian Shaka membuka ponsel dari dalam saku, lalu melakukan pencarian pada profil company seorang Arisman Santoso. Banyak pria bernama Arisman Santoso. Tetapi hanya satu orang yang berprofesi sebagai pengusaha. Dia adalah pemilik sebuah pabrik sepatu besar yang mengimport barang hasil produksinya ke luar negeri. Dia juga,


Tunggu, sebuah panggilan menjeda pencarian Shaka. Panggilan itu dari David. “Akh sial,” Shaka terpaksa menjawabnya.


“Sorry Bang, di tunggu di lapangan. Abang di mana?” tanya laki-laki itu berbisik-bisik. Dari kegaduhan di belakangnya sepertinya David sedang berada di ruang ganti.


“Oh ya, aku akan ke sana.” Shaka baru ingat kalau sekarang pelajaran olah raga.


“Iyaa, di tunggu ya bang. Main basket kita.” David begitu bersemangat, karena ini olah raga favoritnya.


“Hem,” sahut Shaka sebelum mengakhiri panggilannya. Terpaksa ia harus menghentikan sejenak rasa penasarannya. Ia baru saja diperingatkan secara halus oleh kepala sekolahnya, maka ia tidak boleh membuat masalah.


Berlari kecil menuju kelasnya dan tanpa sengaja ia menabrak seorang laki-laki bertubuh jangkung yang sedang bertelepon. Laki-laki itu menurunkan sejenak ponselnya dan menatap Shaka dengan tajam.


“Oh, maaf pak, saya tidak sengaja,” Shaka membungkuk sopan pada laki-laki itu.


Laki-laki itu pun balas mengangguk. Pakaiannya yang rapi dan bermerek mencerminkan kalau dia bukan orang biasa. Ia tidak menjawab ujaran Shaka, melainkan melanjutkan panggilannya dan pergi dari hadapan Shaka.

__ADS_1


“Orang aneh,” ucap Shaka yang meneruskan langkahnya menuju kelas.


****


__ADS_2