Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Mempertahankan previlage


__ADS_3

Tubuh Gayatri menegang seketika saat seorang remaja laki-laki duduk di sampingnya dengan bagian sandaran kursi yang di buat membelakangi Gayatri. Laki-laki itu menopangkan tangannya di atas sandaran kursi dan menatap Gayatri dengan seksama.


Gadis berkulit putih itu tidak bergeming sedikit pun. Wajahnya pias. Jangankan menoleh, melirik pun ia tidak berani. Yang terbayang dalam pikirannya saat ini adalah ruang gelap yang ia tempati bersama pria ini yang membuatnya merasa sesak dan ketakutan. Tangannya langsung basah, bulir keringat dingin merambat berjatuhan di punggungnya.


“Lama ya kita gak ketemu, lo apa kabar?” Laki-laki bermata tajam itu menambah pertanyaan yang membuat Gayatri semakin terintimidasi.


Shaka memperhatikan benar laki-laki yang mengenakan jam tangan bermerk terkenal dan limited edition. Di bawah jam tangan itu ada tato berbentuk tengkorak kecil dengan bekas luka yang terlihat jelas. Shaka pernah mendapatkan jam tangan serupa dari atasannya saat ia berhasil menyelesaikan misinya yang pertama, tiga tahun lalu.


“Sorry, Aya kayaknya gak bisa ngomong sama lo,” Shaka berusaha menengahi. Laki-laki yang katanya bernama Dion itu melirik Shaka dengan sudut matanya yang tajam sambil tersenyum sinis.


“Lo anak baru ya?” Remaja pelontos bernama Dion itu beranjak dari tempatnya dan berdiri berhadapan dengan Shaka. Dadanya membusung dengan tangan yang mengepal.


“Ya, gue Shaka,” Shaka mengulurkan tangannya dengan ramah. Berusaha mengakrabkan diri dengan remaja yang baru di temuinya. Sekilas ia berpikir, sepertinya motor hitam mewah tadi adalah milik remaja ini. Dan melihat ekspresi Gayatri yang membisu dengan tubuh tegang dan wajah pias, ia mulai ingat kalau motor itu adalah milik laki-laki yang tempo hari menguntit Gayatri dan sempat beradu jotos dengannya di sebuah ruko tua.


Jadi, namanya Dion. Lalu kenapa Gayatri begitu ketakutan pada laki-laki ini?


Remaja bernama Dion itu hanya menyeringai sinis. Ia memandangi tangan Shaka yang terulur dan tidak ada niatan untuk menyambutnya.


“Gue gak peduli lo siapa, mundur, urusan gue sama Aya.” Dion berujar dengan tegas, melirik sinis pada Shaka. Dengan sorot matanya yang tajam, mencoba mengusir keberadaan Shaka dari hadapannya.


Merasa tidak ditanggapi, Shaka mengusapkan tangannya yang kadung terulur itu, ke kepala. Ia tersenyum tipis, “Gue gak bisa ke mana-mana, kursi gue di sini.” Shaka yang keras kepala memilih duduk di kursinya. ia tidak peduli sama sekali pada tatapan tajam Dion yang menunjukkan rasa tidak sukanya.


Dion mengusap dagunya kasar, tangannya sudah mengepal dan rasanya ia ingin menonjok laki-laki di hadapannya. Rahangnya bahkan sudah mengeras, melihat wajah laki-laki yang beberapa waktu lalu menghalanginya untuk berbicara dengan Gayatri.


“Aya, bisa ngomong sebentar sama gue?” Lagi, laki-laki itu kembali memfokuskan dirinya pada Gayatri. Tidak peduli sekali dengan keberadaan Shaka.


Shaka menyimak baik-baik respon gadis yang duduk di belakangnya. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, lantas memejamkan matanya. Suasana kelas yang hening lagi tegang, membuat Shaka bisa mendengar hembusan napas Gayatri yang menderu dan kasar. Sudah pasti detakan jantung berloncatan tidak menentu.


“Cuma lima menit, gue mohon.” Ini kalimat kedua Dion.


Gayatri tetap tidak bergeming. “Aya,” panggil Dion lagi dan Gayatri tetap membisu, membuat Shaka yakin kalau laki-laki ini membuat gayatri tidak nyaman.


“Dion,” sebuah panggilan terdengar di pintu kelas XII IPS 1. Adalah Dewa yang datang bersama teman-temannya, termasuk Zaidan.

__ADS_1


Dia berdecik sebal, ada saja gangguan saat ia ingin berbicara empat mata dengan Gayatri. “Kita ke kelas,” ucap remaja itu. Ia juga melihat wajah Gayatri yang pias dan tidak berbicara sedikit pun. Sudah pasti gadis itu sedang tidak baik-baik saja.


“Hah! Sial!” Dion mendengus kesal, entah pada siapa. Ia menatap Gayatri beberapa saat sebelum kemudian Dewa melingkarkan tangannya di bahu bidang itu.


“Ayo,” Dewa berusaha menarik Dion, tetapi laki-laki itu mengibaskan tangan Dewa. Mengembalikan kursi dengan kasar, bertubrkkan dengan meja hingga gaduh, membuat para siswa terhenyak kaget. Beberapa saat ia memandangi Gayatri yang tidak melirik sedikit pun dengan perasaan kecewa, kemudian berlalu pergi meninggalkan Gayatri dengan persaan yang kesal.


“Lo gak apa-apa?” tanya Zaidan sesaat setelah Dion yang berlalu pergi dengan diikuti Dewa dan teman-temannya. Dion sempatkan untuk menonjok pintu kelas, membuat beberapa siswa terhenyak kaget namun tidak berani protes.


Seperti biasa, Gayatri tidak menjawab. Namun Shaka bisa tersenyum lega karena ia mendengar hembusan napas lega dari mulut Gayatri.


“Gue titip dia,” ucap Zaidan seraya menepuk bahu Shaka.


Shaka mengangguk pelan, Zaidan pun pergi tanpa mengatakan apa pun.


“Lo gak apa-apa?” ketik Shaka di pesan yang ia kirim pada Gayatri.


Gadis itu tidak membalas, karena ponselnya tertinggal di rumah. Hanya saja ia terlihat lebih tenang setelah remaja bernama Dion itu pergi.


“Selamat pagi anak-anak.” Suara seorang guru laki-laki kemudian terdengar jelas. “Silakan kalian berkumpul di aula ya, karena ada pengarahan dari bapak kepala sekolah kita. Silakan berkumpul dalam waktu sepuluh menit,” lanjut suara tersebut.


“Yaahh… males banget sih…” keluh Rima yang diikuti suara-suara sumbang lainnya yang mengeluhkan hal serupa. Sejak Shaka masuk ke sekolah ini, baru kali ini ia di minta berkumpul di aula. Entah kegiatan ini memang hal rutin, atau entah karena ada hal lain yang perlu disampaikan kepala sekolah. Dengan malas para siswa itu beranjak dari tempatnya, berduyun-duyun keluar kelas menuju aula yang berada di lantai tiga.


“Lo gak ke aula?” tanya Shaka pada Gayatri, saat para siswa sudah keluar kelas. Ia memandangi sang gadis yang mulai bisa menenangkan dirinya.


Gadis itu tidak menjawab, ia mengambil botol minumnya dan menegukkan beberapa saat untuk menenangkan jantungnya yang masih berdebar kencang. Setelah merasa lebih baik, ia beranjak dari tempatnya dan berjalan lamban menuju aula. Shaka segera menyusulnya, berjalan di samping Gayatri untuk menemani gadis itu.


“Rasa takut itu perlu diungkapkan Aya. Dan gue bersedia dengerin itu,” ujar Shaka dengan tenang.


Gayatri hanya melirik laki-laki jangkung di sampingnya. Kedatangan Dion memang selalu membuat tubuhnya gemetar dan menegang hingga tidak bisa bergerak. Napasnya tercekat dan detak jantungnya sangat cepat. Ia pikir setelah bisa berbicara dengan Shaka, ia telah membaik. Tetapi nyatanya, menghadapi Dion masih tetap membuat hatinya ketar-ketir.


****


Di aula saat ini para siswa dikumpulkan. Ruangan luas ini seperti sarang lebah yang mendengungkan suara-suara sumbang para muridnya. Tiga orang laki-laki berdiri di depan sana. Shaka tidak mengenal benar-benar siapa para laki-laki itu selain sang kepala sekolah yang berdiri di tengah.

__ADS_1


“Mereka siapa aja, Ya?” tanya Shaka yang penasaran. Ia sedikit memiringkan kepalanya pada Gayatri yang duduk di sampingnya.


“Kepala sekolah, wakasek kesiswaan sama ketua komite sekolah,” sahut Gayatri dengan suara rendah. Gadis yang bersidekap itu menatap tiga orang dihadapannya dengan tatapan yang aneh. Tajam dan seperti penuh kemarahan.


“Wakasek kesiswaannya import?” Shaka iseng bertanya, mengingat sosok wakasek kesiswaan yang memiliki karakter wajah mirip orang berkebangsaan Eropa.


“Hem, baru menjabat dua bulan lalu.” Gayatri menyahuti dengan malas.


Shaka hanya mengangguk saja. Karena duduk di belakang, wajah tiga orang itu tidak terlalu jelas, tetapi jika bertemu berhadapan langsung, sepertinya Shaka bisa mengenalinya.


“Selamat pagi anak-anak,” sapa kepala sekolah dengan suaranya yang menggema melalui microphone.


“Selamat pagi Pak,” sahut para siswa.


“Baik anak-anak sekalian, saya mengumpulkan kalian di sini, untuk mengingatkan beberapa hal. Tidak lama lagi, kalian akan menempuh ujian tengah semester. Saya harapkan, kalian dapat fokus dengan Pelajaran. Jangan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan peraturan sekolah karena kami tidak segan untuk mengeluarkan kalian. Kalian tentu tahu, satu pelanggaran berat yang kalian lakukan, akan berakibat pada terputusnya masa depan kalian.”


“Tindak dan tanduk kalian tidak hanya mencerminkan identitas pribadi kalian, melainkan juga identitas sekolah. Seperti yang sudah-sudah, siswa yang dikeluarkan dari sekolah ini, akan kesulitan menemukan sekolah yang baru. Karena kalian akan di cap sebagai anak yang nakal dan tidak beretika.”


“Bersekolah di sini, memberi previlage yang baik untuk kalian, jadi gunakan hak istimewa itu dengan benar. Jangan memutus masa depan kalian sendiri. Ingat itu baik-baik,” tegas kepala sekolah di ujung kalimatnya.


Barisan kalimat itu lebih terdengar sebagai ancaman di banding motivasi itu, tidak membuat para siswa berreaksi. Pembicaraan satu arah dari kepala sekolah, tidak ubahnya sebagai maklumat yang harus di patuhi para siswanya.


Hingga para siswa berduyun-duyun keluar kelas, tidak ada gerutu sumbang yang terdengar. Apa itu artinya para siswa menerima begitu saja titah kepala sekolah?


Entahlah.


Setelah keluar dari aula, Shaka membiarkan Gayatri ke kelas bersama David. "Tolong temani dia," pintanya.


"Iya bang," bisik tegas David. Ia berjalan di samping gadis itu dan sesekali tampak berbicara. Entah apa yang dikatakan laki-laki itu, Shaka tidak terlalu mendengarnya. Yang pria itu lakukan saat ini adalah menarik tangan Rosi ke salah satu sudut ruangan.


“Ada apa Shaka?” gadis itu tampak kaget dan ketakutan. Ia menatap Shaka dengan waspada.


****

__ADS_1


__ADS_2