
Shaka segera mencari ke sekeliling rumahnya. "Bang Galih! Baangg...." Shaka berteriak mencari laki-laki gondrong itu di setiap sudut rumahnya.
Ke kamar Gayatri, dapur, taman belakang dan kamar mandi belakang. Tetapi sosok Galih tidak terlihat. "Astaga, kenapa harus ngilang di saat begini sih?" Shaka mengguyar rambutnya dengan frustasi lalu mengusap wajahnya kasar. Ia berhenti sejenak, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia mencoba memperkirakan, ke mana perginya Galih.
Tidak putus asa, Shaka melanjutkan pencarian ke basement. "Bang Galiihh...." panggil Shaka.
Tetap tidak ada sahutan dari Galih. Laki-laki itu terus mencari, matanya yang tajam melihat ke sekeliling basement, termasuk ke taman samping. Tetapi yang ada hanya pepohonan yang bergoyang tertiup angin yang berjejer rapi di tepian taman di selingi beberapa lampu taman yang menyala terang.
Langkah kaki Shaka yang hendak kembali ke dalam rumah, harus terhenti saat ia melihat pintu menuju pintu bawah tampak terbuka. Shaka segera menuju ke tempat tersebut, membuka pintu itu dan benar saja, lampu di bawah sana menyala terang.
Dengan cepat Shaka turun di ruang bawah tanah. Ia semakin terkejut saat mendapati pintu markasnya terbuka. Ada seorang laki-laki yang sedang berdiri di depan white board dan mengetuk-ngetukkan spidol di permukaan white board. Tepatnya di atas foto Dion. Galih lah yang ada di hadapannya.
Bagaimana laki-laki itu bisa masuk, Shaka perkirakan dengan seksama. Ia melihat ada sebuah selotip dan bubuk tepung yang terserak di atas meja besar milik Shaka. Benar yang Gayatri katakan, kalau kakaknya suka menonton serial detective. Mungkin karena itu Galih mampu memecahkan kode kombinasi enam angka dari pintunya. Lelaki ini memang cerdas, seperti yang pernah diceritakan Gayatri.
Di tempatnya, saat ini Galih sedang mengingat kembali kejadian malam itu. Malam sebelum kejadian naas yang menimpa remaja yang fotonya ia pandangi dengan lekat.
"Bang lo harus nolongin gue. Gue mohon," ucap Dion saat laki-laki itu datang ke base camp.
Galih yang saat itu sedang menikmati sebatang rokok, langsung menghentikan hisapannya, mematikan rokok itu di atas asbak saat sosok Dion tiba-tiba bertekuk lutut di kakinya. Dihembuskannya karbon monoksida dari mulutnya.
"Apa lagi? Masih soal anak cowok yang deketin si Aya? Udah, gue udah kagak percaya. Lo kalau suka sama si Aya, lo berjuang lah. Jangan jatuhin saingan lo dengan cara licik kayak kemaren. Gue gak akan larang si Aya deket sama siapa pun selama dia suka dan gak ngerusak dia. Lagian, anak-anak udah bilang, kalau chat lo itu bualan. Si Rasya gak pernah tuh bersikap mesum sama si Aya!" ucap Galih dengan kesal.
Ia masih mengingat bagaimana hasutan Dion membuat dadanya panas seperti terbakar saat mendengar Rasya melecehkan adiknya. Anak muda yang terlihat polos itu katanya adalah seorang ketua OSIS dan terkenal pandai. Maka tidak mungkin ia melecehkan adiknya.
__ADS_1
"Iyaa, gue minta maaf soal itu. Gue salah ngelakuin hal kayak gitu. Tapi kali ini, gue bener-bener butuh bantuan lo Bang." Dion menatap penuh harap. Remaja itu juga memegangi kaki Galih yang terjuntai di lantai.
"Apa lagi?! Bisa gak lo duduknya jangan begitu? Lo memohon pu kalau gue gak bisa bantu, gue gak akan bantu!" timpal Galih dengan kesal. Risih dengan tingkah Dion.
"I-Iya Bang," Dion segera beranjak dari tempatnya. Remaja itu duduk dengan takut-takut di samping Galih. Tubuhnya juga membungkuk.
"Jadi apa mau lo sekarang?" Galih menatap remaja itu dengan sinis. Sekilas ia melihat ada luka sayatan yang Dion sembunyikan di balik Jaketnya. "Jangan bilang lo masih make," Galih menatap remaja itu penuh selidik.
Dion tidak lantas menjawab. Remaja itu tertunduk lesu di hadapan Galih. "Gue sakaw Bang. Gue udah coba segala cara supaya bisa berhenti, tapi gue tetep ketagihan," aku remaja itu.
"Astagaaa... lo begok apa gimana sih, hah?!" Galih berujar dengan kesal. Suaranya pelan namun penuh penekanan. Ia juga menjewer telinga Dion lumayan keras.
"Gue udah coba Bang! Tapi susah! Tiap gue tahan, gue berasa mau mati." Laki-laki itu menatap Galih dengan penuh rasa takut. Matanya kemerahan dan berair.
"Terus ngapain lo ke sini? Lo mau minta sama gue? Gak punya gue! Gue juga gak bisa beliin. Minta sana sama bokap lo!" seru Galih dengan kesal.
"Si Rasya lagi? Apa hubungannya?" Galih semakin bingung.
"Dia, dia liat gue lagi transaksi sama seseorang. Gue takut dia ngadu Bang. Gue juga takut dia bilang sama Aya. Gue mohon Bang, bantu gue buat bilangin si Rasya supaya gak ngadu sama siapa pun. Kalau bokap gue sampe tau, gue bisa mati. Gue mohon Bang," Dion sampai menangis tersedu-sedu sambil menangkupkan tangannya di depan dada.
"Akh lo emang nyusahin ya! Makanya gue bilang berhenti ya berhenti!!!" teriak Galih di telinga Dion. Kesabarannya sudah benar-benar habis.
Remaja itu hanya menangis terisak-isak. Terdengar hembusan napas kasar dari mulut Galih, melihat kondisi remaja ini. Ia kesal pada Dion, tetapi ia juga tidak tega kalau melihat Dion sampai dipukuli seperti tempo hari. Terlebih yang melakukan hal itu adalah orang tuanya sendiri.
__ADS_1
"Ya udah, nanti gue coba ngomong baik-baik sama si Rasya. Tapi gue gak bisa maksa anak itu ya. Berandal kayak lo emang harusnya di laporin. Dan inget, ini terakhir kali gue bantuin lo. Awas kalau lo masih make. Gue habisin lo!" ancam Galih seraya mentoyor kepala Dion dengan kesal.
"Makasih Bang, gue janji ini yang terakhir. Tapi tolong jangan temuin dia di sekolah Bang. Gue udah nyiapin tempat buat Abang nemuin dia. Jauh dari keramaian, supaya gak ada yang denger. Kita temuin dia malam ini. Plis Bang, gue mohon. Gue takut si Rasya keburu lapor ke guru," Lagi Dion memohon.
"Akh nyusahin lo!" dengus Galih yang benar-benar kesal.
"Bang," panggil Shaka dari belakang. Suara laki-laki itu membuyarkan lamunan Galih akan kejadian yang coba ia lupakan, tetapi malah tetap kembali terkenang, terutama rasa traumanya.
"Gue gak bunuh Rasya. Gue cuma bilang, supaya dia jangan laporin Dion ke gurunya," pengakuan itu diucapkan Galih dengan lancar.
"Gue percaya," Shaka langsung menimpali.
Seketika, Galih pun menoleh. Ia menatap Shaka dengan lekat. "Yakin lo percaya sama gue? Lo gak lagi ngejebak gue kan?" Laki-laki itu menatap Shaka dengan penuh kecurigaan.
Shaka menggeleng. "Kita ada di pihak yang sama Bang. Kematian Rasya, bukan karena Abang. Tapi, Abang dijadikan kambing hitam oleh seseorang yang mau melenyapkan Rasya," Shaka tegas memberitahukan hal itu.
"Siapa?!" seru Galih dengan mata membulat.
"Gue bisa ngasih tau lo, tapi gue berharap lo harus kuat dan bertahan. Belajar ngendaliin diri lo dalam kondisi apa pun. Aya, Babeh dan Enyak butuh lo saat ini. Kita hadapi orang itu sama-sama. Lo bisa?" Shaka mengulurkan tangannya pada Galih.
Laki-laki itu menatap tangan Shaka yang terulur padanya. Sepertinya ia bisa mempercayai laki-laki yang selalu menjaga Gayatri ini. Dia juga berusaha keras untuk menemukan pembunuh Rasya.
"Akan gue usahakan," ucap Galih dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Good! Kita cari pembunuhnya sampai dapat dan balaskan dendam kita." Shaka berujar dengan ambisius. Mereka kompak menyeringai dengan tatapan tajam satu sama lain.
*****