
Empat belas motor sudah berbaris rapi dengan mesin yang menyalakan. Sorot lampu dari masing-masing kuda besi itu, ikut terlihat agresif seperti sang penunggangnya. Mereka berderet di belakang garis start dengan suara raungan mesin yang saling bersahutan. Setiap pembalap sudah fokus dengan trick yang akan mereka mainkan saat menjalankan misi demi menjadi satu-satunya juara malam ini.
Balapan ini bukan hanya tentang mendapatkan uang hadiah, melainkan memberi makan ego para pesertanya. Siapa pun yang menang, mereka akan di puja dan di anggap sebagai penakluk genk motor lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana kuatnya euphoria kemenangan memanggil mereka.
Seorang wanita bertubuh kurus dengan pakaian yang cenderung terbuka, berdiri di hadapan para petarung. Lekukan tubuhnyaa yang terlihat jelas, jemari lentiknya memegangi sehelai syal merah yang siap ia kibaskan saat pertandingan di mulai. Wanita itu yang akan menjadi penentu kapan para pembalap liar ini harus mulai berlari.
“Kalian siap?!” teriak wanita itu dengan penuh percaya diri.
Para pembalap menyahutinya dengan suara dengungan mesin yang saling menimpali satu sama lain. Suara penonton tidak kalah antusias memberikan dukungan. Shaka dan Dion saling menoleh, mereka sudah bersiap untuk bersaing menjadi pemenang.
Syal merah itu sudah di angkat ke udara, lima detik kemudian dikibaskan. Motor-motor itu mulai berlarian, saling berrebut lintasan. Persaingan di mulai, bukan hanya persaingan kecepatan dan adu strategi, melainkan adu kelicikan untuk mengalahkan lawannya masing-masing.
Seperti motor yang berada di depan Shaka, ia sengaja menyalip dan menggunting lawan di depannya, membuat motor lawannya oleng. Meski tidak sampai jatuh, hal itu memberi peluang untuknya menambah laju motornya. Laki-laki itu mengacungkan jari tengahnya pada lawannya yang membuat mental lawannya itu jatuh. Mendengus kesal dan tertinggal selama beberapa detik lamanya.
“Oh, jadi gini cara mainnya,” gumam Shaka. Lelaki berpostur jangkung itu menambah kecepatannya. Di belokan pertama sengaja ia mengambil sisi kiri, bermanuver dengan mulus, melewati jalanan yang meliuk dan melandai.
Dion yang melihat usaha Shaka hingga membuatnya tertinggal, jelas tidak mau kalah. Ia menambah kecepatan motornya, untuk menyusul Shaka yang berada di posisi tiga terdepan. Deru mesinnya semakin terdengar nyaring, ia sengaja menyenggolkan motornya pada lawannya yang lain hingga ada salah satu motor oleng hingga jatuh tergelincir. Terseret dan bergesekan dengan aspal hingga menimbulkan percikan api.
Tidak ada yang membantunya, pembalap itu harus bangkit sendiri sebelum terlindas kendaraan lain di belakangnya.
“Hahahahha….” Dion tertawa dengan puas di dalam helmnya. Ia menambah kecepatan laju motornya untuk mengejar Shaka.
Satu putaran sudah mereka lewati dan Shaka berada di posisi dua. Tidak jauh berbeda dengan Dion yang berada di posisi tiga. Dion semakin arogan memacu kuda besinya. Kecepatannya ia tambah dan tambah lagi. Merasa tersaingi, laki-laki ini mulai mengeluarkan trick liciknya.
__ADS_1
Ia sengaja berpindah ke lajur kanan, milik posisi pertama. Di tikungan berikutnya ia sudah bersiap untuk menyalip dari kanan. Saat akan berbelok, ia menendang lawannya hingga motornya oleng dan terjatuh. Lagi, dion tertawa puas sambil mengangkat tangannya ke udara, menunjukan arogansi atas kesuksesannya. Saingannya saat ini hanya Shaka yang berada di lajur tengah, sementara pembalap lainnya tertinggal jauh di belakang mereka.
Sakhha sudah melihat bagaimana liciknya permainan Dion. Ia tidak sungkan untuk membuat lawannya celaka. Shaka sengaja mengambil jalur yang sedikit jauh dari Dion. Ia menghidari serangan licik Dion berikutnya.
Dua motor ini sekarang sejajar. Kecepatan dan RPM mereka berada di angka yang sama. Skill mereka pun tidak berbeda jauh. Dion mulai melakukan siasatnya, memepet Shaka ke arah kanan. Shaka bertahan di lajurnya, namun Dion semakin mendekat.
Di tikungan berikutnya Dion sudah bersiap dengan serangannya. Ia menendang-nendangkan kakinya ke arah Shaka. Shaka bisa melihat kalau sepatu laki-laki itu memiliki pisau tajam di sisinya. Jika mengenai ban motor Shaka otomatis akan pecah.
Shaka fokus pada kemudi motornya agar tetap melaju mulus di jalanan meski Dion yang terus mengganggu. Laki-laki itu juga mengeluarkan ssesuatu dari dalam saku jaketnya. Shaka melihatnya seperti sebuah batu besar. Tunggu, bukan batu, itu magnet. Dion pasti akan melemparnya ke arah Shaka, tepat di geer motornya agar macet dan membuat Shaka terjatuh,
“Akh sial! Anak ini benar-benar licik!” dengus Shaka. Sementara Dion hanya menyeringai. Ia memanfaatkan semua hal yang bisa ia lakukan untuk menjatuhkan lawannya terutama Shaka.
Dion sudah membidik Shaka, ia bersiap untuk melempar magnet itu pada Shaka. Namun di satu belokan terakhir, sebuah sepeda motor tiba-tiba masuk ke area balapan.
“Itu Henka Kaizen!” seru seorang penonton balapan yang mengenali motor putih bergaris biru dan merah.
“Dia beneran ke sini?” tanya Dewa pada Zaidan.
“Lah itu apa yang lo liat, dia masuk dari belokan ke enam.” Zaidan menatap bingung pada pengendara motor itu. Harusnya orang itu tidak di sini dan tidak mungkin datang ke sini. Tetapi mengapa dia ada dan menempati ruang kosong antara Shaka dan Dion.
Dion yang melihat keberadaan motor itu tampak terhenyak. Ia semakin sulit untuk melempar magnetnya dengan tepat. Shaka yang sadar dirinya sedang di lindungi pun menoleh motor di sampingnya. Entah sejak kapan motor itu berada di antara ia dan Dion.
Dion tidak kehabisan akal, di belokan berikutnya ia melempar magnet itu mengarah ke mesin motor Shaka. Peluangnya sangat besar. Tetapi di waktu yang bersamaan, pengendara motor di tengahnya sengaja memalangkan motornya dan menendang magnet itu dengan kakinya.
__ADS_1
Tendangannya tepat, hingga membuat magnet itu terlempar dan menempel lekat di tiang penerangan jalan. Gerakan yang tiba-tiba itu membuat pengendara motor itu jatuh tergelincir. Motornya berputar di jalanan beraspal yang hitam lagi tebal. Penonton berteriak histeris melihat kejadian mengerikan itu. Pengendara motor itu melepaskan genggaman tangannya pada stang membuat ia terlempar cukup jauh.
"ÄKH BRENGSEK!!! SIAL! SIAL! SIAL!!" teriak Dion saat sadar kalau ia telah gagal. Motor Shaka tetap melaju jauh menuju garis finish.
“Astaga!! Bantuin dia!” teriak Edric. Ia tidak mau ada korban jiwa di balapan kali ini. Laki-laki itu memegangi kepalanya yang mendadak pusing melihat kelicikan Dion dan aksi heroik pengendara motor tadi. Pilihan orang itu memang tepat dengan menghindarkan motor Shaka dari lemparan magnet, tetapi akibatnya ia yang terjatuh dan cedera.
Shaka melihat dari spionnya kalau pengendara motor itu tergeletak di aspal dan tidak bergerak. Ia memacu motornya semakin cepat agar bisa segera menyelesaikan balapannya. Dalam jarak beberapa meter ia segera menyelesaikan balapannya.
“Wohoo!!!!” seru para penonton saat akhirnya Shaka menjadi pemenangnya.
“BLACK RIDER! BLACK RIDER! BLACK RIDER!!” para penonton mengelu-elukan namanya. Memang nama itu yang mereka tahu dari seorang Shaka.
Shaka mengabaikan sorakan itu beberapa saat. Ia segera memutar motornya dan melaju dengan cepat untuk menghampiri orang yang telah menolongnya. Ia harus memastikan kalau orang itu baik-naik saja.
Saat tiba di lokasi kejadian, pengendara itu sudah tidak ada di tempatnya. Beberapa saat lalu ia pergi dengan motornya. Menyisakan teman-teman satu genknya yang menatap ke arah barat, tempat berlalunya pengendara itu.
Shaka tidak tinggal diam, ia langsung melakukan pengejaran. Berlarian dengan motornya yang besar di jalanan yang sepi. Ia menambah laju motornya untuk mengejar pengendara itu. Dalam jarak serratus meter ia melihat pengendara itu berbelok ke kanan. Menerobos lampu merah dan nyaris menabrak container yang baru keluar dari sebuah Gudang.
Beruntung pengendara itu lincah dan bisa menghindar. Motornya melaju dengan cepat dan membuat Shaka tertinggal jauh. Pengejaran itu terpaksa berhenti saat sebuah truk kontainer melintas di depan Shaka dan menghalangi jalannya.
"SIAL!!" Shaka mengumpat kesal. Entah ke mana arah berlalunya pemotor tadi. Yang jelas sosoknya sudah tidak lagi terlihat. Di perempatan lampu merah itu Shaka terdiam. Ia mencoba mengingat kembali bentuk dan warna motor yang tadi menolongnya. Ia ingat pelan-pelan rupa motor yang dipakainya. Rasanya tidak asing, terutama plat nomornya.
“Nggak, gak mungkin!” seru shaka saat teringat separuh plat nomor yang pernah ia lihat di suatu tempat. Ya benar, plat nomor di rumah Gayatri.
__ADS_1
“Apa itu abangnya Gayatri? Apa dia benar-benar datang? Kenapa dia menyelamatkanku?” Shaka bertanya dalam hatinya.
****