
Menghabiskan beberapa menit untuk berganti pakaian dengan baju olahraga, dilakukan Shaka sebelum menyusul kelapangan. Ia melepas kemeja seragamnya di depan loker dan terlihat barisan otot tebal di lengan, dada dan perutnya.
Sudah tidak ada siswa lain di ruang ganti ini selain Shaka seorang. Seragam olah raga berwarna putih itu segera ia kenakan, lantas menutup lokernya. Pria muda itu juga mengganti sepatu dengan sepatu olah raga sambil terduduk di atas bangku besi.
Awalnya biasa saja sampai kemudian Shaka menoleh ke sekelilingnya karena merasa ada yang memperhatikannya di belakang. Ia menoleh dengan cepat, tetapi tidak ada siapa pun di belakang sana.
“Siapa di sana?” tanya Shaka yang sengaja bertanya. Ia menegakkan tubuhnya sambil berkacak pinggang. Melihat ke sekeliling ruang ganti yang sepi. Hanya suara detakan jam yang terdengar.
“Jangan sembunyi, gue tau lo masih mantau gue,” Shaka melanjutkan kalimatnya. Kepekaannya yang tinggi membuat ia sangat yakin kalau seseorang sedang mengawasinya.
Tidak berselang lama terdengar derap kaki yang mendekat. Berasal dari belakang dan Shaka segera berbalik. Benar saja, seorang laki-laki berwajah indo eropa menghampirinya.
“Hebat juga lo, tau gue awasi,” ucap laki-laki itu yang tidak lain adalah Dion. Shaka cukup tercengang karena ternyata pria yang sedang ia cari tahu ini yang mengawasinya. Ia berjalan dengan santai menghampiri Shaka yang memandanginya penuh selidik.
“Wah, gue kira siapa? Lo ada jadwal olah raga juga?” tanya Shaka berbasa-basi, bersikap seramah mungkin.
Laki-laki itu tidak menjawab, hanya mencebik dan menatap sinis pada Shaka. Ia bersandar di salah satu tiang riang ganti.
“Sejak kapan lo masuk ke sekolah ini?” suara besar Dion kembali terdengar. Sorot matanya yang tajam, menyiratkan banyak pertanyaan.
“Hampir tiga minggu.” Shaka menjawab dengan santai. Ia memperhatikan sosok Dion secara keseluruhan dari atas hingga ke bawah. Like father like son, Dion hobby berpakaian mewah. Sepatunya juga sepatu mahal, apa produksi pabrik ayahnya sendiri?
“Gue dengar malam minggu kemaren lo ngundang anak-anak buat party,” Dion masih berujar dengan santai, walau menunjukkan jelas rasa tidak sukanya.
“Hem, kalau lo datang lebih awal, gue juga bakal ngundang lo. Gue menyambut dengan tangan terbuka kalau lo mau datang.” Shaka bersikap seramah mungkin pada laki-laki ini. Sepertinya sosok Dion perlu ia kenali lebih dekat.
“Basi!” dengus laki-laki itu. “Lo gak bisa berbaur sesuka lo di sekolah ini. Ada aturan yang berlaku dan banyak larangan yang gak boleh lo langar. Kalau gue udah datang, bisa aja pesta lo itu gagal."
"Gue bisa ngasih tau kepala sekolah kalau lo ngumpulin anak-anak, bikin mereka keluar rumah tanpa pengawasan orang tua. Lo tau kan itu di larang?” Dion berujar dengan penuh percaya diri.
“Waahh, rupanya gue sangat beruntung. Memang sebaiknya lo terlambat datang, hahahaha…” Shaka berujar dengan santai.
“Apa maksud lo?” Dion segera berreaksi. Ia menghampiri Shaka dan mencengkram kaus olah raga lelaki itu.
Shaka melihat kalau Dion orang yang sangat mudah terpancing. Sepertinya dia penguasa sekolah ini. Itu mengapa semua siswa seperti takut pada sosok laki-laki ini.
“Rileks, gue cuma bercanda. Berchyandhaaaa,…” Shaka malah mencandai Dion.
“Banci lo!” melepaskan cengkramannya karena jijik dengan candaan Shaka, sementara 'Kang rusuh' itu hanya tersenyum kecil.
__ADS_1
“Gue gak ada maksud apa-apa, gue cuma mau berbaur sama anak-anak di sekolah ini. Dua minggu di sekolah ini gue di scrosing karena kesalahan yang gue sendiri gak paham. Padahal itu usaha gue buat beradaptasi."
"Lo bisa bantu gue beradaptasi di sekolah ini? Supaya gue gak kena hukum lagi,” Shaka berusaha membujuk. Ia sudah memutuskan kalau ia harus mendekat pada Dion. Menempatkan musuhnya di jarak terdekat agar bisa ia awasi.
“Gak, lo musuh gue.” Dion langsung menimpali.
“Musuh? Emang gue pernah nantangin lo?” Shaka segera berreaksi.
“Ya. Lo duduk deket Aya,” Dion ternyata orang yang lugas.
“Dia cewek lo?” Shaka menambah pertanyaannya. Dion tidak menjawab, hanya tersenyum sinis. “Apa yang menarik dari cewek itu? Dingin, kaku, bahkan bisu. Gue liat lo keren, lo bisa dapet cewek yang lebih menarik dari dia.” Shaka mengusap bahu Dion dengan berani.
Laki-laki itu melirik tangan Shaka yang berada di bahunya.
“Oh sorry, gue cuma kagum aja sama bahu lo yang, eemmmhh keker!!” puji Shaka seraya menepuk bahu Dion.
“Jauhin Aya. Itu yang harus lo lakuin kalau lo mau aman di sekolah ini.” Dion langsung memberi ancaman. Menepis tangan Shaka yang ada di atas bahunya. Sekarang Shaka tahu kalau tujuan Dion menghampirinya adalah untuk memberinya peringatan.
“Ck! Gue juga maunya gitu. Tapi gimana dong, gue satu kelompok terus sama dia. Guru juga ngelarang gue pindah kelompok, padahal gue males banget.” Shaka beralasan sebaliknya.
Dion tidak menjawab, sepertinya untuk hal tersebut ia tidak bisa memaksa. “Lo bisa bantu gue? Jauhin gue dari cewek itu,” Shaka semakin mendesak.
“Itu urusan lo! Yang jelas, jangan cari perhatian sama si Aya. Dia punya gue,” hanya itu sahutan Dion.
“Okey, gue catet. Gue ke lapangan dulu, gue gak mau di hukum. Makasih udah mau nyamperin gue dan ngasih gue nasihat bijak.” Shaka memberikan hormat singkat pada Dion sementara laki-laki itu hanya menatapnya sinis.
Apa mungkin cerita teman-temannya yang mengatakan Shaka mendekati Gayatri itu bohong? Pikiran itu yang terlintas di benak Dion.
Di lapangan basket para siswa sudah di kumpulkan. Cerahnya matahari pagi memang sangat menyilaukan, cahayanya yang terik semakin membakar semangat para siswa untuk berolah raga. Keringat bercucuran di tubuh yang berada di bawah jemuran matahari.
“Pak itu Shaka, sekelompok sama saya ya Pak,” ucap David.
“Berapa orang kelompokmu?” tanya sang guru.
“Empat pak, kurang satu orang.” David beralasan.
“Ya, boleh,” sahut sang guru.
Dengan senang hati David melambaikan tangannya pada shaka. Gayatri yang sedang berlatih passing dengan David pun ikut menoleh. Benar saja, laki-laki itu sedang berjalan menghampirinya. Mereka tergabung dalam kelompok yang sama.
__ADS_1
“Lama amat bro, pake tabir surya dulu ya?” ledek David saat Shaka datang. Ia melempar bola baksetnya pada Shaka dan Shaka segera menangkapnya.
“Yaa, gue habis beli minum dulu.” Shaka menunjuk dua botol minum yang ia taruh di tepi lapangan.
“Satunya buat gue bukan?” David berujar penuh harap. Matanya berkilauan membayangkan segarnya air mineral dingin itu.
“Menurut lo?” Shaka tersenyum kecil, bukan pada David, melainkan pada gadis manis yang sudah berkeringat. Lihat, dia mengikat rambutnya ekor kuda. Wajahnya jadi tampak tirus dengan lehernya yang jenjang dan di penuhi keringat, terlihat berkilauan, sedap di pandang mata. Gadis itu melirik sebal, lanjut mendrible bola lalu berlari menuju keranjang yang berjarak satu meter dari tempatnya.
“Hah, ya sudahlah, kita main!” David akhirnya menyerah.
"Siapa takut!" seru Shaka. Mereka segera berlari mengikuti Gayatri.
Gadis itu melempar bola ke keranjang, Shaka menunggu di bawah dan saat bola jatuh, Shaka segera merebutnya. Mendrible bola itu mengelilingi Gayatri yang membungkukkan badannya, waspada untuk merebut kembali bola. Mereka saling bertatapan, memperebutkan peluang untuk menguasai bola.
"Lo gak ada niat rebut bola ini dari gue?" tanya Shaka, menantang Gayatri.
Tidak ada timpalan, Gayatri malah bergerak dengan cepat hendak merebut bola itu. Melangkahkan kakinya, menghapiri Shaka namun Shaka mengalihkan bolanya ke belakang tubuh, membuat Gayatri terpaksa memeluk laki-laki itu.
"Agresif bener neng," ledek Shaka yang tersenyum tipis, seraya menatap sepasang mata yang indah itu.
"Saat ini lo lawan gue," suara serak Gayatri terdengar menyapa telinga Shaka. Menyenggol lengan kanan laki-laki itu hingga kemudian Shaka mengangkat bola itu tinggi-tinggi di atas kepalanya.
"Shaka, oper gue!" seru David, menunggu bola di oper padanya.
Shaka hendak mempassingnya, namun Gayatri melompat dengan tinggi dan ujung jarinya berhasil menyentuh bola. Memegangi bola itu dengan kedua tangannya, lalu berlari meninggalkan Shaka sambil mendrible bola.
"Akh sial!" dengus David. Sementara Shaka hanya tersenyum, permainan gadis ini memang luar biasa. Gayatri terus membawa bola itu mendekati keranjang, lalu melompat tinggi hendak memasukkan bola ke dalam keranjang.
"Wuhuuu!!" seru Rosi saat ternyata bola itu berhasil di sarangkan Gayatri di keranjang.
"Akh, sial!" David mengeluh kesal sementara Shaka hanya terkekeh melihat keberhasilan gadis itu.
Bola itu Gayatri ambil kembali dan mempassingnya ke arah Shaka. Setelah itu ia memilih menepi untuk mengambil minum.
"Ayaaa, lo keren bangeett sih!" puji Rosi seraya menghampiri Gayatri. Gadis itu tidak menimpali, ia memilih duduk di bangku tepi lapangan basket. Mengambil handuk kecil miliknya dan mengusapkannya ke wajah dan leher. Setelah itu meneguk minuman di botolnya yang berwarna hitam.
"Dua cowok lo kalahin, hebat!!" Rosi juga mengacungkan jempolnya dan duduk di samping Gayatri. Memandangi gadis yang sedang minum itu. "Lain kali ajarin gue ya," pintanya.
Gayatri hanya tersenyum tipis. Samar namun terlihat.
__ADS_1
"Aakk makasih Aya!!!" Rosi berseru senang. Sama senangnya dengan Shaka yang melanjutkan permainannya dengan David. Saling berebut bola lalu melemparnya ke keranjang. Sesekali laki-laki itu menoleh ke arah Gayatri yang memandanginya. Bagaimana pun gadis itu memberinya semangat.
****