Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Ayaaa... Pulaang....


__ADS_3

Dua orang itu berlari dengan cepat menuju tempat pendaftaran pasien saat mereka tiba di rumah sakit. Rasa khawatir sudah berkumpul di ubun-ubun dan menuntut jawaban pasti atas kondisi Galih yang dilarikan ke rumah sakit yang berbeda. Apa kondisinya sedemikian parah hingga tidak bisa di tangani di rumah sakit sebelumnya?


“Saya keluarga Galih Pradana. Boleh tau di mana kakak saya di rawat?” tanya Gayatri dengan tergesa-gesa. Raut muka gadis itu terlihat sangat tegang, titik-titik keringat jelas di dahinya, sisa berlari dengan kencang.


“Di tunggu sebentar, saya coba cek dulu,” ujar petugas yang berada di resepsionis.


Gayatri menunggu dengan gusar, tangannya mengetuk-ngetuk meja pendaftaran dengan gelisah. Menunggu beberapa menit rasanya seperti seabad.


“Lo tenang dulu, Galih gak akan kenapa-kenapa,” ujar Shaka berusaha menenangkan gadis itu. Hentakan jemarinya di meja resepsionis jelas mengintimidasi petugas hingga membuatnya gugup.


Gayatri tidak menimpali, gadis itu hanya menghembuskan napasnya kasar. Tidak beralih sedikit pun dari hadapan resepsionis itu.


“Terima kasih sudah menunggu, saat ini pasien sedang berada di ruang tindakan, Mba bisa menunggu di depan ruang UGD,” terang petugas tersebut.


“Baik, terima kasih.” Tanpa menunggu lama, Gayatri segera menuju ruang UGD, mengikuti papan penunjuk arah yang tergantung di hadapannya, dan segera berbelok ke sebelah kiri diikuti oleh Shaka.


Di depan UGD saat ini Gayatri berada. Ia berdiri di depan pintu yang tertutup rapat. Pikirannya tidak henti menduga-duga apa yang sedang petugas medis lakukan pada kakaknya. Tindakan apa yang sedang dijalani laki-laki itu? Apa Galih mencoba untuk bunuh diri lagi?


Akh sial! Pikiran negatif itu terus mengisi rongga kepala Gayatri hingga membuatnya getit sendiri. Kapan pintu itu akan terbuka? Kapan ia bisa melihat sang kakak dan memastikan sendiri kalau kondisinya baik-baik saja?


“Lo duduk dulu Aya, dokter pasti akan manggil kalau perlu ketemu sama keluarga,” Shaka mendorong sedikit bahu Gayatri dan membawanya duduk di kursi tunggu yang berada di samping pintu UGD. Ada keluarga pasien lain yang juga sedang menunggu dan menangis berangkulan dengan keluarganya yang lain.


Gayatri tidak banyak protes, tidak mungkin ia berdebat dengan Shaka di tengah kegetiran yang tidak hanya menjadi miliknya.


“Kalau tau bakal kayak gini, gak bakalan saya izinin dia berangkat sendiri pake motor. Mending naik bis atau angkot,” ucap salah seorang wanita yang menangis tersedu-sedu dalam pelukan seorang pria paruh baya.


Hati Gayatri ikut meringis, sepertinya ada kemalangan berupa kecelakaan yang menimpa keluarga pasien di sampingnya. Gayatri berusaha menenangkan dirinya, tangannya yang dingin dan saling menggenggam dengan erat untuk menguatkan dirinya masing-masing. Tidak mungkin kan seorang Galih yang sedang di rawat di rumah sakit jiwa juga mengalami kecelakaan?


“Keluarga Galih Pradana?” Suara seorang perawat membuat Gayatri terhenyak.


“Saya,” Gadis itu segera menyahuti dan berdiri dengan tegak.


“Silakan masuk, dokter akan menyampaikan beberapa hal.” Perawat itu membukakan pintu lebih lebar agar Gayatri bisa masuk.


Gayatri mengangguk sopan, ia menoleh Shaka dengan harapan laki-laki ini akan ikut masuk. Seolah paham, laki-laki itu pun mengangguk dan mengikuti Gayatri. Di hadapan seorang dokter saat ini Gayatri terduduk dengan gelisah. Dokter cantik berkerudung abu-abu itu tersenyum kecil pada Gayatri. Ia membuka buku rekam medis milik Galih.


“Perkenalkan, Saya Nisa, dokter yang menangani pasien atas nama Galih Pradana.” Wanita itu memperkenalkan dirinya, membuat Gayatri mengangguk pelan. “Kalau boleh tau, adek siapanya?” tanya dokter tersebut.


“Saya adiknya, Gayatri.” Gayatri balas memperkenalkan diri.


“Oh, sepertinya adik yaa, yang di panggil-panggil pasien dengan panggilan Aya?” tanya dokter tersebut.

__ADS_1


“Kakak saya mencari saya dok?” Gayatri kaget sendiri mendengar ujaran dokter tersebut.


“Iya, pasien terus menerus memanggil nama ade saat sedang menjalani tindakan. Pasien mengalami keracunan, beliau muntah-muntah hebat tanpa di ketahui penyebabnya, karena itu pasien di bawa ke rumah sakit ini untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kami mengira sepertinya ada zat makanan yang terkonsumsi karena lambungnya sampai mengalami perdarahan saat dilakukan USG. Saat ini kami sedang melakukan pemeriksaan pendukung lainnya dan sedang menunggu hasilnya.”


“Untuk pasien sendiri, kondisinya mulai membaik setelah dilakukan bilas lambung. Pasien sempat berontak dan memanggil-manggi nama ade, tapi sekarang sudah mulai tenang.” Dokter berusia pertengahan lima puluhan itu mengakiri kalimatnya dengan sebaris senyum.


Gayatri mengangguk paham, “Apa saya boleh menemuinya dok?” Rasa khawatir Gayatri tidak lantas hilang hanya karena mendengar sang kakak sudah baik-baik saja.


“Boleh, nanti di temani perawat ya....”


“Baik Dok, terima kasih,” Gayatri kembali mengangguk sopan. Sungguh ia bersyukur karena bisa bertemu sang kakak.


Tidak lama berselang, Gayatri di temani perawat untuk menemui Galih. Laki-laki itu terbaring lemah di salah satu ranjang ruang transit, dengan pakaian pasien yang membalut tubuhnya. Matanya terpejam, tetapi sepertinya bukan sedang tertidur, melainkan sedang merasakan sakitnya.


“Saya boleh mendekatinya, Sus?” izin Gayatri.


“Silakan,” perawat itu membiarkan Gayatri mendekat pada sang kakak.


Langkah Gayatri perlahan mendekat pada Galih. Ia terduduk di kursi lipat yang berada di sisi ranjang pasien.


“Bang, ini gue, Aya....” Suara Gayatri terdengar berbisik lirih.


Laki-laki itu membuka matanya dengan cepat, dahinya mengernyit melihat sosok Gayatri di bawah terangnya lampu ruangan. Matanya memincing mencoba mengenali gadis berwajah cemas yang menatapnya lekat.


“Abang....” Gayatri segera mendekat. "Ssttt... tenang... tenang..." suara Gayatri terdengar parau. Ia segera memeluk sang kakak dengan erat.


“Ayaaaa... pulang Ayaa, pulaaaaang!” lagi laki-laki itu berujar, kali ini sambil terisak, menangis dalam pelukan Gayatri layaknya anak kecil yang ketakutan. Tubuhnya sampai gemetaran.


“Iyaaa kita pulang. Tapi kasih tau gue apa yang sakit? Apa yang lo makan?” tanya Gayatri tanpa melepaskan pelukannya.


“Pulang Aya, pulang! Ayo pulang!” Galih tidak menjawab pertanyaan adiknya, hanya kalimat itu yang terus diucapkannya berulang kali hingga membuat perasaan Gayatri makin sedih. Sepertinya sang kakak begitu ingin pulang.


Gayatri tidak bergeming, ia hanya memeluk Galih dengan erat dan mengusap punggung laki-laki itu. “Abang yang tenang, gue akan bawa lo pulang kalau lo bisa tenang. Hem....” bujuk Gayatri dengan suaranya yang bergetar.


“Pulang Ayaa, pulaang,... ayo pulaang...” hanya gumaman itu yang terus Galih ucapkan. Gayatri sampai menengadahkan kepalanya, untuk menghalau air matanya agar urung menetes.


“Iyaaa, seperti yang gue bilang, gue akan ajak lo pulang kalau lo bisa tenang.” Gayatri menegaskan ucapannya.


Galih merajuk pelan, dengan tubuh yang tidak lagi berontak. Laki-laki itu terdiam dengan tangisnya yang lirih. Gayatri membaringkan lagi tubuh laki-laki itu dan mengusap kepalanya dengan sayang.


Dipandanginya wajah sang kakak yang menyiratkan banyak kegelisahan. Sesak sekali dadanya melihat laki-laki kebanggannya begitu lemah karena kejiwaannya yang terguncang.

__ADS_1


“Dek, dokter mau bicara sebentar,” ucap perawat yang menunggu di luar.


“Baik sus,” timpal Gayatri. Gadis itu tidak lantas beranjak, ia meraih tangan sang kakak yang terikat di samping bednya. “Bang, gue tinggal bentar ya. Nanti gue balik lagi,” pamitnya.


Laki-laki itu tidak menjawab, tidak juga berupaya menahan tangan Gayatri. Ia memilih memalingkan wajahnya sambil terus bergumam minta pulang. Bisa Gayatri terka kalau sepertinya Galih kecewa karena Gayatri tidak bisa memenuhi keinginannya. Dengan berat hati Gayatri meninggalkan Galih, ia harus menemui dokter beberapa saat.


“Duduklah,” ucap dokter itu saat Gayatri menghampirinya.


Gayatri segera terduduk di hadapan wanita yang tengah membaca hasil lab yang baru diterimanya. “Hasil labnya sudah keluar dan hasilnya tidak terlalu baik,” ucap dokter itu dengan segaris senyum empati.


“Maksud dokter seperti apa?” Suara Gayatri terdengar lemah. Entah ujian apa lagi yang akan ia terima.


“Dari hasil lab yang dilakukan, ada infeksi di tubuh pasien. Sepertinya hal ini terjadi karena adanya perlukaan di lambungnya selama beberapa hari. Kami sedang berusaha mengobati perlukaannya agar tidak semakin parah," terang dokter dengan bahasa yang bisa dimengerti, tetapi membikin ngeri


“Kalau boleh tau, lukanya karena apa dok? Apa kakak saya salah makan?” Gayatri masih tidak habis pikir.


“Kalau dari salah makan, sepertinya tidak. Pasien mengkonsumsi makanan yang disediakan oleh rumah sakit. Tapi dari hasil pemeriksaan pada cairan muntahannya, sepertinya pasien mengkonsumsi zat yang bersifat asam tinggi. Sehingga menyebabkan lambung dan ususnya meradang.”


“Bagaimana bisa dok? Kakak saya kan makanan dan minumannya disediakan oleh rumah sakit, gimana bisa dia mengkonsumsi zat semacam itu?”


Kalimat Gayatri terhenti. Mulut yang sudah terbuka hendak berujar itu mendadak bungkam saat ia menduga apa mungkin ada yang memberikan zat itu pada kakaknya?


“Baik, biar saya jelaskan ya.” Dokter itu berujar dengan tenang, membuat Gayatri mengangguk pelan. “Mengenai obat yang dikonsumsi oleh pasien, kami sedang melakukan pemeriksaan terlebih dahulu, karena selama ini pasien pun diberikan obat sesuai dengan resep. Kemungkinan akan ada pemeriksaan khusus untuk masalah ini.”


“Untuk sementara, pasien akan di rawat di rumah sakit ini dan ditempatkan di ruang isolasi. Mohon kesediaan keluarga untuk memberikan persetujuan."


Gayatri termenung beberapa saat, ia masih memikirkan apa yang menimpa kakaknya. Pikiran itu masih belum menemukan ujungnya. Hingga saat ini Gayatri belum membuat keputusan. Ia memilih keluar sejenak dari ruangan itu dengan perasaan yang bimbang.


"Ada apa?" tanya Shaka, saat melihat Gayatri yang tiba-tiba terduduk di sampingnya. Gadis itu tampak kebingungan, pikirannya seperti sangat berat.


"Gue rasa, sekarang adalah Galih yang menjadi sasaran orang itu," ucap Gayatri dengan penuh keyakinan. Ia masih menatap jauh ke depan, memikirkan ujaran dokter tentang zat yang dikonsumsi Galih.


"Maksud lo?" Shaka menatap Gayatri dengan tidak paham. Keningnya mengernyit mencoba menangkap maksud pembicaraan Gayatri.


"Abang gue keracunan zat asam sampai lambung dan ususnya luka. Gue rasa, itu bukan suatu kelalaian pihak rumah sakit, tapi karena ada yang sengaja mau nyelakain abang gue." Baru kali ini Gayatri menoleh Shaka dan menatap laki-laki itu dengan serius.


"Lo yakin?" sedikit banyak Shaka ikut memikirkan hal itu.


"Ya, gue yakin. Entah apa modus orang itu, yang jelas dia juga mau nyelakain Galih. Entah mau memperingatkan gue atau menghilangkan jejak, satu per satu. Galih juga meminta pulang terus menerus, sangat ketakutan. Gue khawatir dia ngeliat ancaman seperti yang dialami Rasya." Entah paranoid atau bukan, yang jelas Gayatri meyakini hal tersebut.


Shaka ikut berpikir dan sepertinya perkiraan Gayatri masuk akal. "Terus rencana lo apa?"

__ADS_1


"Gue mau bawa dia pulang. Gimana menurut lo?"


****


__ADS_2