Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Saling mengenali


__ADS_3

“Abang gue gak ngebunuh Rasya, gue sangat yakin itu. Rasya meninggal karena luka tusukan, sementara abang gue gak megang pisau,” ucap seorang gadis pemilik sepasang mata bola yang  menatap penuh keterkejutan pada dua buah white board yang penuh dengan tulisan.


Satu white board bahkan di isi banyak foto dan nama, salah satunya identitas dirinya, Gayatri Sekar Ayu. Shaka menyingkatnya menjadi GSA. Nama itu berada di urutan atas yang menjadi target Shaka dalam mengungkap kematian sang adik. Tepat di bawah sebuah tanda seru besar yang masih Shaka cari.


Nama berikutnya bertambah, yaitu GP. Inisial untuk nama Galih Pradana, seorang ketua genk motor sekaligus atlet taekwondo yang di anggap hilang setelah kematian Rasya.


"Apa yang bikin lo yakin?" Shaka tidak lantas percaya. Bisa saja Gayatri mengada-ada untuk melindungi kakaknya.


"Abang gue ngalamin cedera di tangan kanannya setelah turnamen. Tangannya di gips. Itu kenapa dia mencengkram kerah baju Rasya dengan tangan kiri. Gue sangat yakin itu." Gayatri mengingat persis apa yang terjadi malam itu. Ya, sangat ingat karena semuanya begitu membekas hingga seringkali menghantuinya siang dan malam.


"Apa motornya juga jatuh?" Shaka semakin penasaran. Mengingat ia menemukan cat yang mengelupas dari body motor Galih.


Gayatri tidak lantas menjawab, ia memejamkan matanya beberapa saat, mencoba mengingat kejadian malam itu. Dahinya sampai berkeringat dingin dengan tangan yang mengepal saat ingatannya memutar kembali kejadian menakutkan itu.


"Gue gak tau persis. Yang jelas tangan kanannya gak bisa berfungsi dengan baik. Sejak gue datang, gue gak liat motor Dion atau pun abang gue. Semuanya gelap, yang terlihat cuma Rasya dan abang gue aja di bawah lampu jalan." Gadis itu sampai terengah-engah saat mengingat semua memory menakutkan itu.


“Kalau gitu, kasih tau gue di mana dia sekarang?” pertanyaan itu yang membuat sepasang mata itu terbuka kaget. Gayatri masih tidak menyangka kalau Rasya memiliki seorang kakak dan laki-laki itu yang saat ini berdiri di hadapan Gayatri, menghalangi satu white board yang sedang gadis itu perhatikan.


Dia bersidekap, sorot matanya menyiratkan penuh rasa penasaran dan menuntut jawaban.


“Dia gak pernah cerita kalau dia punya kakak,” Gayatri bergumam lirih, yang gadis itu maksud adalah Rasya.


Shaka tersenyum miring mendengar ucapan Gayatri. Ia menghampiri gadis itu dan menatap sepasang mata cokelat dari jarak yang cukup dekat. “Gak cerita bukan berarti gak punya,” timpal laki-laki itu dengan santai. "Ada hal yang harus di tutupi demi sebuah kebaikan," lmbuhnya.


“Lalu lo semacam apa, sampe bisa masuk ke sekolah dan nyamar sebagai seorang siswa? Gue liat di buku hariannya dia sayang dan bangga banget sama lo, harusnya dia juga bangga dong bercerita tentang lo?” Gayatri lebih penasaran lagi dengan sosok Shaka yang membuat jantungnya seperti pecah. Berganti gadis itu yang kini memandangi wajah laki-laki itu dengan seksama.


“Menurut lo?” Shaka tidak lantas menjawab.


“Emm… kalau di film-film, orang yang suka melakukan hal itu adalah seorang superhero yang memberantas kejahatan. Lo superhero yang mana? Batman, spiderman, Thor atau apa?” Gayatri masih dengan imajinasi dan realitanya yang bercampur membuat Shaka akhirnya terkekeh.


Di tengah ketegangan, bisa-bisanya gadis ini membuatnya ingin tertawa.


“Shakaman. Apa cukup bagus?” Shaka malah meledeknya. Laki-laki itu masih terkekeh di ujung kalimatnya.

__ADS_1


“Gue gak lagi becanda Shaka,” Gayatri tidak terima, delikan matanya membuat laki-laki di hadapannya mengulum senyum dan mengatupkan bibirnya.


Lihat muka serius yang membuat Shaka malah ingin tertawa terpingkal-pingkal.


“Gue juga gak lagi becanda Aya. Gue Shaka dan gue laki-laki, Shakaman. Gak salah kan?” sikap tengil dan menyebalkannya sepertinya bukan sebuah kamuflase, orang ini memang aslinya seperti ini.


“Ck! Asli lo ngeselin." Gayatri semakin kesal saja. "Gue gak mau cerita kalau lo gak jujur. Gue gak bisa terbuka sama orang yang menyembunyikan dirinya. Gue juga gak mau ngasih tau lo, kalau lo gak mau ngasih tau apa-apa sama gue.” Gayatri berujar dengan tegas, ia bahkan berniat untuk pergi.


“Hey,” Shaka segera menahan tangan gadis itu agar tidak pergi. Ia mencengkram tangan Gayatri dengan erat, membuat sang pemilik tangan itu meliriknya.


“Apa? Gue gak mau ngomong kalau lo gak ngomong.” Gayatri tetap bersikukuh.


“Astaga….” Shaka melepaskan genggaman tangannya, berganti menggaruk dahinya yang sebenarnya tidak gatal. Gadis di hadapannya benar-benar keras kepala.


Gayatri masih memandangi laki-laki itu dan menunggu Shaka menjawab pertanyaannya. “Ayolah Aya, pekerjaan gue mengharuskan gue bersembunyi,”


“Lo sejenis James Bond?” Gayatri langsung menebak. Ia berbalik menatap Shaka yang tampak kebingungan mencari kata-kata yang tepat untuk menggambarkan dirinya.


“Gue gak akan nanya hal detail lainnya. Gue gak peduli sama nama asli lo, tanggal ulang tahun lo, nama bokap dan nyokap lo, hobby lo, atau hal lainnya. Jawab satu pertanyaan itu aja,” Gayatri menunjukkan satu jemari lentiknya pada Shaka sambil menatap laki-laki itu dengan sungguh.


“Okey, gue udah tau jawabannya,” ucap Gayatri seraya menarik tangannya yang nyaris di gigit oleh Shaka.


“Jawaban apa?” Shaka balik bertanya.


“Lo sejenis pemeran Loid Forger di annime Spy x Family. Gue gak tau pekerjaan asli lo apa, yang jelas lo sejenis mata-mata yang nyamar buat mengungkap kasus kematian adek lo. Makanya Rasya gak pernah cerita tentang lo. Iya kan?” Gayatri menjawab dengan mantap.


Shaka cukup kaget mendengar ujaran gadis di hadapannya. Tidak di sangka dalam waktu beberapa saat saja ia bisa menarik benang merah tentang dirinya.


“Lo kebanyakan nonton film kartun!” Shaka tidak mengiyakan, ia hanya menepuk lengan Gayatri beberapa kali lalu beranjak untuk mengambilkan minuman. Satu untuk dirinya dan satu untuk Gayatri.


“Film kayak gitu favorit gue sejak kecil. Tapi tunggu, apa mungkin lo punya kekuatan super yang lo sembunyiin?” Bukannya menerima botol soda dari tangan Shaka, gadis itu malah menyelidik Shaka, berjalan pelan mengitari laki-laki itu dan memperhatikan sekujur tubuh Shaka tanpa ada yang terlewat.


“Hahhaha… ayolah Aya. Kita ada di dunia nyata. Mana mungkin ada kekuatan semacam itu.” Shaka memutuskan menaruh botol minumannya di atas meja. Lalu menyandarkan tubuhnya ke meja itu sambil bersidekap. Sepasang matanya balas memperhatikan Gayatri.

__ADS_1


“Gue yakin, suatu hari gue bakal liat kekuatan super lo,” Gayatri masih bersihkukuh. Lihat cara dia memandangi Shaka. Satu tangannyaa bersidekap, sementara tangan lainnya mengusap dagunya, gaya detective yang sedang menyelidik.


“Ya tungguin aja, sampe semut bertanduk dan menang lawan banteng mungkin lo baru akan liat.” Shaka hanya menggeleng, menyerah dengan penyelidikan Gayatri. “Lo sekarang udah tau gue, jawab pertanyaan gue yang tadi,” Shaka membuka satu botol soda dan memberikannya pada Gayatri.


Gadis itu menerimanya, mencium aromanya beberapa saat.


“Gak gue kasih racun Ayaaa….” Shaka langsung paham dengan maksud Gayatri mengendus minumannya.


“Oh ya?” Gadis itu masih paranoid, orang-orang disekitarnya selalu membuat ia curiga, terlebih seorang Shaka yang jelas menyembunyikan identitasnya.


Shaka tidak menimpali, ia malah merebut botol minuman dari tangan Gayatri lalu meneguknya sedikit. “Lo liat, gue masih hidup,” ucap laki-laki itu seraya merentangkan tangannya. Ia mengembalikan botol minuman itu pada Gayatri dan Gayatri menerimanya sambil bergidik.


“Bekas mulut lo,” ucapnya.


“Astagaaa….” Shaka benar-benar frustasi dengan tingkah Gayatri. Pantas saja Rasya bilang kalau Gayatri mengajarkannya rasa sabar. Ya, ia memang harus banyak sabar menghadapi tingkah gadis ini.


“Tukeran,” tutur gadis yag menyodorkan botol minumannya.


“Ya, okey, tukeran.” Shaka mengambil alih botol minum di tangan Gayatri lalu membukakan satu botol lagi yang ia berikan pada Gayatri. Barulah gadis itu mau menerimanya dan meneguknya sedikit dengan tatapan waspada pada Shaka.


“Abisin, biar sianidanya ketelen semua,” goda laki-laki itu.


“Uhuk!” Gayatri langsung terbatuk mendengar ucapan Shaka barusan. “Uhuk uhuk uhuk!”


“Eh astaga, gue cuma becanda.” Shaka segera menepuk-nepuk punggung Gayatri pelan, merasa bersalah karena membuat gadis ini tersedak. Wajahnya sampai merah karena terbatuk lumayan lama.


“Brengsek lo!” dengus gadis itu seraya menyikut Shaka yang mengusapi punggungnya.


“Hahhaaha… sorry… lagian lo ngeselin.” Shaka hanya terkekeh melihat Gayatri yang menatapnya geram. Ia mengambilkan selembar tissue untuk Gayatri dan Gayatri segera merebutnya. Mengusapkan ke sudut bibirnya.


“Kita udah bisa fokus?” Shaka masih menunggu penjelasan Gayatri.


Gadis itu menghembuskan napasnya kasar, menatap kembali white board yang penuh tulisan itu. “Lo bisa percaya sama gue?” Gayatri baik bertanya.

__ADS_1


“Hem,” Shaka beranjak dari tempatnya dan berdiri di samping Gayatri menatap white board di hadapan mereka. “Gak ada pilihan lain selain gue percaya sama lo,” imbuh laki-laki itu seraya menatap nanar pada tanda tanya besar yang berada di puncak.


****


__ADS_2