Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Menemui ujung


__ADS_3

Waktu yang beranjak cepat, memberikan banyak perubahan berarti dalam hidup banyak orang. Kondisi Gayatri sudah semakin membaik, ia diperbolehkan pulang beberapa hari lalu dan disarankan untuk menjalani pengobatan rawat jalan. Kondisi lukanya pun baik, tidak ada darah atau nanah yang tertinggal.


Saat ini Barkah memboyong keluarganya untuk tinggal di sebuah rumah kontrakan. Meski jaraknya ke pusat kota lumayan jauh, tapi biaya sewa rumah itu tergolong cukup murah. Mira memulai kembali usahanya dengan berjualan soto. Hanya saja ia tidak melayani makan di tempat, melainkan hanya pesan antar saja.


Semenjak diiklankan kembali kalau dirinya mulai berjualan lagi, setiap harinya antrian ojek online berbaris rapi di depan rumahnya hingga mengular. Benar adanya, saat kita memiliki kualitas, dimana pun kita berada, orang-orang akan mengejarnya. Ini menjadi semangat baru untuk Mira dalam melayani pelanggannya dan membuatnya tak henti mengucap rasa syukur.


Kesuksesan serupa di rasakan oleh Shaka. Proses gelar perkara, olah TKP kasus Rasya sudah selesai di laksanakan. Besok akan menjadi waktu krusial untuknya, karena ia akan mendengarkan putusan hakim atas kasus kematian sang adik.


Di beberapa sidang sebelumnya, Oliver dan Arisman duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa. Sementara Dion terduduk di kursi rodanya sebagai saksi. Meskipun demikian, remaja ini tetap di ganjar hukuman sebagai salah satu pelaku yang melakukan persekongkolan. Peradilannya memang berbeda mengingat usianya masih di bawah umur. Meski pun demikian, kondisi kesehatannya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


Untuk Galih, laki-laki itu tidak di dakwa dengan hukuman apapun, posisinya hanya sebagai saksi. Kemunculannya pun cukup menarik perhatian banyak orang. Sosok atlit yang memiliki banyak penggemar ini ternyata cukup di nanti oleh fansnya.


Proses pembuktian keadilan bagi Rasya ini menyedot banyak perhatian masyarakat. Remaja itu dinilai sebagai pahlawan karena telah berhasil menemukan sindikat narkoba di sekolahnya. Pusara Rasya yang awalnya selalu sepi dan hanya dihiasi bunga lili kiriman Gayatri, belakangan ini dipenuhi banyak bunga. Entah itu bunga papan ucapan bela sungkawa, bunga tabur yang berwarna warni atapun bucket bunga yang berjejer mengelilingi makam Rasya.


Mencari makan Rasya sekarang sangatlah mudah. Hanya perlu mengikuti sumber wangi bunga-bungaan maka kalian akan dituntun ke sana.


Enam belas orang saat ini mengelilingi makam Rasya. Mereka adalah temen-teman Gayatri, Shaka, Gayatri, keluarga Gayatri dan tentu saja keluarga Shaka.


Shaka yang memimpin membacakan do'a untuk dikirimkan pada sang adik. Untaian do'a yang mendampa ketenangan Rasya di sisi pemilik yang sesungguhnya. Ikhlas, itu yang saat ini mereka rasakan. Perjuangan Rasya tidak sia-sia meski harus berkorban nyawa.


Air mata masih selalu menggenang di mata Gayatri, tetapi kali ini gadis tersebut disertai senyuman bangga. Sahabatnya memang seorang yang hebat dan meninggalkan kesan mendalam bagi semua orang yang pernah mengenalnya.


“Hay Sya, apa sekarang lo udah ngerasa tenang? Orang-orang udah gak mengabaikan lagi kepergian lo lagi. Semua orang tersenyum bangga sama lo. Lo pahlawan Sya,” ungkap Gayatri dalam hati. Sungguh ia sangat bangga pada sahabatnya.


Isak tangis keluarga Rasya pun terdengar, bersamaan dengan usapan halus Shaka di pusara sang adik. Sekitar setengah jam waktu yang mereka habiskan di tempat tersebut dan mengenang banyak peristiwa baik seorang Arrasya Haikal.


Seusai mengirim do'a untuk Rasya, masing-masing kembali ke rumah. Ada yang menggunakan motor, ada pula yang menggunakan mobil sewaan. Shaka ikut ke rumah tantenya untuk berkumpul bersama keluarga. moment yang cukup lama tidak mereka rasakan.


“Kita makan malam dulu ya,” ucap sang tante saat tiba di rumahnya.


“Iya, dong, pastinya. Jarang-jarang kita makan bareng sama ponakan,” timpal sang paman.

__ADS_1


Mereka pun segera menuju ke ruang makan. Duduk di kursi yang mengelilingi meja bulat tempat sang tante menyajikan makannya. Shaka tersenyum kecil melihat menu ayam kecap kesukaan sang adik. Ia selalu ingat kalau mereka pasti berrebut ayam kecap itu dan berakhir dengan Shaka yang mengalah.


“Makasih Om dan tante udah jaga Rasya selama aku gak ada. Maafin kalau Rasya ngerepotin dan ada nakal-nakalnya,” ungkap Shaka tiba-tiba.


Om dan tantenya saling menoleh satu sama lain. “Mana ada Rasya nakal. Kerjaannya cuma belajar dan belajar. Diem terus di kamar. Selain itu dia juga patuh. Kalau hari libur, dia rajin bantuin om kamu merawat kebun hidroponik di belakang. Iya kan Mas?” sahut sang tante yang diangguki om nya. Wanita itu duduk di samping Shaka dan menyendokkan nasi ke piring Shaka.


“Iyaa, Rasya tuh anak yang berbakti. Gak ngerepotin sama sekali. Om bangga sama dia, dia pernah bikin om dan tante berdiri di podium sekolah saat menerima penghargaan sebagai juara olimpiade juga langganan juara kelas. Pokoknya, om bangga sama dia.” Begitu ungkapan hati sang om dengan mata berkaca-kaca.


Shaka mengangguk paham. Ia mulai menyuap makanan dan menikmati ayam kecap itu dengan lahap. Sudah tidak ada rasa mengganjal lagi di tenggorokannya, makanan itu bisa Shaka telan dengan sempurna.


“Rencana kamu gimana setelah sidang besok? Kamu akan kembali ke Jerman apa tinggal di sini?” pertanyaan sang tante mengusik pikiran Shaka.


Laki-laki itu terdiam sesaat dan tampak berpikir. “Aku harus kembali Tan. Ada banyak hal yang menungguku.” Shaka menjawab pertanyaan itu dengan berat hati.


“Ya gak apa-apa kalau mau kembali ke Jerman. Kamu kan bisa pulang juga ke sini. Walau pun udah gak ada Rasya di rumah ini, tante harap, kamu gak lupa sama kami."


Shaka terangguk pelan. Tentu ia tidak akan lupa.


Berdiri pria itu di hadapan sebuah foto yang terpajang di dinding. Foto dirinya bersama Rasya dan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Shaka mengusap wajah sang adik dengan lembut. Laki-laki itu tersenyum pada sosok orang-orang yang ia kasihi.


"Kamu sekarang udah berkumpul sama ayah dan ibu kita. Bahagia di sana. Yang tenang ya...." ucap Shaka dengan sungguh.


Tiga wajah itu Shaka kecup bergantian, lalu ia berjalan mundur dan mendudukkan tubuhnya di atas ranjang. Ia masih bisa melihat senyum manis tiga orang tersebut.


Terlintas dalam pikirannya untuk menghubungi seseorang. Shaka mengeluarkan benda pipih di sakunya dan mencari nomor seseorang. 'Gayatri' kontak yang ia cari. Ia kirimkan pesan terlebih dahulu.


"Udah di rumah?" tulis Shaka yang ia kirim pada Gayatri.


"Udah. Kenapa?" cepat juga gadis itu membalasnya.


"Boleh VC?" ini pesan berikutnya dari Shaka.

__ADS_1


"Tumben," gumam Gayatri yang segera bercermin untuk mengecek penampilannya. Lumayan rapi, hanya bibirnya saja yang sedikit kering. Gayatri menjilatnya sekali, kemudian aman.


Belum sempat Gayatri membalas, nomor Shaka sudah lebih dulu memanggilnya. Gayatri begitu terburu-buru mengambil ballpoint, mungkin agar apa yang ia lakukan terlihat alami.


Setelah siap, Gayatri pun menjawabnya. Tampaklah wajah tampan Shaka di layar ponselnya. "Apa?" tanya Gadis itu dengan wajah merona.


Shaka tersenyum kecil melihat wajah Gayatri yang bersemu kemerahan. "Lagi ngapain?" pria itu mencoba berbasa-basi.


"Seperti yang lo liat, gue lagi belajar." Gayatri mantap menjawab.


"Wah kalau gitu gue ganggu dong," Shaka merebahkan tubuhnya dan bersandar di bantal.


"Biasa aja. Ada apa lo tumben video call gue?" Gayatri terlihat salah tingkah.


"Kangen," satu kata saja jawaban Shaka berhasil membuat Gayatri mengulum senyum dengan wajah merona. "Besok ujian apa? Mau gue bantuin gak belajarnya?"


"Besok Pkn. Gimana bantuinnya?" gadis itu mengernyitkan dahinya tak paham.


"Bentar," Shaka sedikit beranjak dari tempatnya untuk mengambil buku Rasya kemudian menunjukkannya pada Gayatri. "Halaman berapa?" tanya laki-laki itu.


"Oh, 138."


Shaka segera membuka halaman tersebut ternyata soal UTS. Gayatri belajar dari sana. "Okey, gue soalnya lo jawabnya yang lengkap. Jangan cuma pilihan jawaban ABC doang ya,"


"Okey," sahut Gayatri.


Shaka mulai membacakan soal dan Gayatri menjawabnya dengan lengkap. Laki-laki itu memberi nilai pada jawaban Gayatri sesuai kelengkapan jawaban gadis tersebut.


Tidak ada hal lain yang merela bicarakan selain benar-benar belajar bersama. Shaka ingin membuat banyak kenangan karena kelak hal ini tidak akan bisa ia lakukan.


"Lo ngasih gue banyak kenangan yang bakalan sulit gue lupain, karena lo gak mau gue lupa kan Shaka?" batin Gayatri seraya menatap wajah laki-laki yang sedang membacakan soal berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2