Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Dikerdilkan


__ADS_3

Mata pelajaran olah raga menjadi favorit Gayatri, karena dengan berkeringat membuat tubuhnya terasa segar. Sepak takraw, materi olah raga yang saat ini sedang di mainkan Gayatri dan teman-temannya. Gadis itu bergabung dalam tim yang sama dengan Shaka dan David. Bertanding dengan tim lainnya dan hanya terpisah oleh net tipis di tengah-tengah lapangan.


Gadis tomboy ini terlihat aktif dalam permainannya. Bola dilambungkan oleh David, di tendang lurus ke arah lawan, tubuh David seperti melayang di udara saat memberi tendangan yang menukik. Bola berpindah beberapa kali antar pemain hingga kemudian menghampiri Gayatri yang sudah bersiap dengan kuda-kuda kokohnya.


Bola melesat dan Gayatri segera melakukan melompat, memutar tubuhnya di udara seperti sedang melakukan gerakan salto tidak jauh dari saat bola melewati net.


DUB!!


Gayatri menendang dengan keras bola berbahan rotan tersebut. Tendangan Gayatri telak mengenai tangan salah satu pemain lawan dan sang lawan tidak bisa mengembalikannya, hingga akhirnya wasit meniup pluit sebagai  tanda skor didapatkan oleh tim Gayatri.


“Wuhu!!” seru ketiga pemain yang berkumpul di tengah lapangan dan melakukan tos. Mereka tersenyum cerah karena berhasil mengungguli tim lawan. Penonton di pinggir lapangan pun ikut bersorak, menyemangati para pemain.


Babak berikutnya siap di mulai, Gayatri sudah bersiap-siap dengan posisinya yang sedikit membungkuk. Matanya fokus memperhatikan peluang untuk mengarahkan bola ke area yang menjadi kelemahan lawannya.


“AYA!” seru sebuah suara yang tiba-tiba terdengar dari luar lapangan.


Gayatri segera menoleh dan tampak seorang laki-laki berlari dengan cepat menuju ke arahnya. Laki-laki itu adalah Zaidan. Sang gadis mengangkat tangannya tinggi-tinggi sebagai bentuk intrupsi. Lalu berlari keluar lapangan untuk menemui sahabatnya.


“Kenapa?” tanya Gayatri dengan napasnya yang terengah, wajahnya berpeluh dan kemerahan karena lelah berolahraga. Rambutnya pun sedikit basah oleh keringat.

__ADS_1


Zaidan masih membungkuk, berusaha mengatur napasnya yang memburu. Ia memegangi perut dengan tangannya karena kelelahan setelah berlari cepat.


Setelah bisa menenangkan diri, laki-laki itu pun mulai berbicara, “Enyak lo ada di ruang kesiswaan. Lagi ngehadap kepala sekolah dan beberapa guru lainnya,” ucap Zaidan dengan terengah-engah seraya menunjuk ke arah ruang kesiswaan.


Gadis yang mendengar kabar itu, segera tersadar. Meski sedang sakit, rupanya sang ibu tetap datang ke sekolahnya untuk menyelesaikan masalah yang ia buat. Tanpa menunggu lama, Gayatri segera berlari menuju ruang kesiswaan yang berada di lantai dua. Zaidan mengikuti dari belakang.


Shaka yang melihat Gayatri tiba-tiba pergi pun segera menyusul. Ia sangat yakin kalau ada hal penting yang terjadi dan membuat Gayatri pergi dengan tergesa-gesa.


“Lo kenapa sih pake posting video lo di medsos? Lo mau ngomong apa sama kepala sekolah? Dia megang akun medsos lo Ya,” ucap Zaidan sambil berlari di samping Gayatri. Suara Zaidan masih terdengar jelas di antara suara angin yang menderu karena keduanya berlari.


Gayatri tidak menimpali, ia masih memikirkan apa yang akan ia lakukan kemudian. Ruang kesiswaan masih cukup jauh. Sebelum menuju ruangan tersebut, Gayatri menghentikan langkahnya di depan kelasnya.


Winda asyik dengan make up nya, Rima dengan ponselnya dan Alya hanya menyimak saja sambil menulis di buku catatannya. Entah apa yang ia tuliskan, mungkin mencatat celotehan Indah yang begitu ceria dan disahuti tawa oleh teman-temannya.


“Kalau gue sih ogah ikut begituan. Cari tuh cowok yang udah pasti, jangan pake aplikasi dating. Pikat laki-laki dengan obrolan yang menarik, kecuali lo gak bisa ngobrol kayak si ehm! Jadi muka doang yang dipamerin!” tepat sekali kalimat itu di ucapkan Indah saat Gayatri melintas di hadapannya. Gadis itu mendelik pada sosok Gayatri yang berjalan lurus menuju mejanya untuk mengambil sesuatu yang kemudian ia masukkan ke dalam sakunya.


Dengan isyarat matanya, Rima menunjuk Gayatri, teman-temannya pun langsung melirik dan tersenyum sinis.


"Kabarnya, ada yang bakal dikeluarin nih dari sekolah? Gara-gara apa sih?" celetuk Rima sambil tersenyum mengejek saat Gayatri lewat di depan mereka.

__ADS_1


"Duuhh, kurang tau juga yaaa... cuma yaaa gak tau diri aja, udah sekolah gretong pake jalur beasiswa, bertingkah lagi sok keren. Eh ups! Hahahaha....." Indah tertawa renyah sambil menuntup mulutnya dengan elegan.


Teman-temannya ikut menyahuti, namun hal itu tidak membuat Gayatri peduli. Gadis itu hanya melirik dengan senyum sinis yang terukir di bibirnya yang manis. Ia tidak mau buang-buang waktu dengan meladeni mereka. Toh pada akhirnya ia yang akan menang.


"Eh pergi, selamat menikmati hari terakhir di sekolah... Babay Ayaaa, sorry ya kalau ada salah-salah...." Indah sengaja bersuara lantang sambil menangkupkan tangan sebagai bentuk ejekan telak pada Gyatri.


Gayatri tetap tidak memperdulikannya. Ia memilih segera berlari menuju ruang kesiswaan bersama Zaidan yang menunggunya. Tidak lama Shaka juga melintas di depan mereka, tanpa berhenti sedikit pun.


"Lah, kok Shaka ikutan lari? Dia dikeluarin juga?" tanya Winda yang kebingungan.


Indah tidak menimpali, ia hanya memandangi arah berlalunya Shaka. Tidak hanya Indah, melainkan juga Alya.


"Apaan lo ikutn ngeliatin Shaka gue?" decik Indah pada Alya. Alya tidak menimpali, langsung tertunduk dan pura-pura sibuk melanjutkan coretannya.


Di ruang kesiswaan saat ini Mira berada. Ia terduduk di salah satu sudut kursi, berhadapan dengan kepala sekolah dan wakilnya, juga guru wakil kepala sekolah urusan kesiswaan serta wali kelas Gayatri. Satu wanita menghadapi tiga orang laki-laki yang menatapnya dengan kerdil, mengecilkan posisi wanita yang berpenampilan rapi namun apa adanya. Tidak ada kesan mewah layaknya orang tua siswa lain pada umumnya.


Sedari tadi Mira hanya tertunduk mendengar kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh wakasek kesiswaan yang melaporkan report nilai-nilai Gayatri. "Prestasi putri ibu juga menurun. Kami paham secara mental dan kejiwaan putri ibu mungkin masih terguncang. Tapi kami tidak bisa memaksakan untuk putri ibu terus menerima beasiswa, apalagi setelah tindakan indisipliner ini."


Laki-laki tersebut menunjukkan beberapa foto akun media sosial yang ia screen shoot dan cetak untuk ia perlihatkan pada Mira.

__ADS_1


Mira tertunduk lesu, ia tidak bisa memberikan pembelaan pada putrinya yang memang memiliki akun media sosial dengan nama lengkapnya yang tertulis jelas, berikut video balapan yang dianggap meresahkan. Ia hanya bisa berharap agar pihak sekolah masih memberikan kesempatan kedua untuk putrinya. Bagaimana nasih Gayatri jika kemudian ia dikeluarkan?


__ADS_2