Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Hal tidak menyenangkan


__ADS_3

Permintaan Gayatri dan kepergian gadis itu dari hadapan Dion, membuat laki-laki itu gundah. Ia masih memandangi arah berlalunya Gayatri yang tergesa-gesa pergi dari tempat ini. Hanya dua butir dimsum yang di makan gadis itu sebelum kemudian memutuskan untuk pergi karena merasa kalau apa yang ia lakukan dengan Dion hanya sia-sia. Ia tidak bisa menahan dirinya, menahan emosinya. Dan hal itu yang membuat semua usahanya gagal.


Bayangan Gayatri sudah tidak terlihat lagi dari pandangan Dion. Laki-laki yang bertekuk lutut itu tersenyum kelu mendapati sikap Gayatri yang tidak pernah melunak padanya. Terlebih ia telah melakukan kesalahan besar, kesalahan yang entah harus seperti apa memperbaikinya. Bisakah diperbaiki dengan cara memenuhi keinginan Gayatri?


Lelaki itu beranjak dengan lemah dari tempatnya, tangan kekarnya menggapai alat perekam yang di tinggalkan sang gadis, lalu mencengkramnya dengan erat. Ia ikut beranjak dari tempat itu, tempat yang membuat hatinya patah untuk kedua kalinya.


Setelah tersadar, Dion segera menyusul Gayatri ke depan cafe, tetapi seorang Gayatri sudah tidak terlihat lagi. Entah ke mana perginya, yang jelas sangat cepat. “SIAL!” dengus Dion dengan kesal dan penuh sesal. Harusnya tadi ia langsung menahan tangan gadis itu dan melarangnya untuk pergi. Bukankah dua bulan diabaikan oleh Gayatri itu sangat menyiksa?


Satu tangan Dion merem4s rambutnya sendiri hingga terasa perih sambil menendang batu kerikil yang ada di dekat kakinya. Gadis itu tidak memberinya pilihan, ia sudah pandai menekan perasaan Dion.


Di tengah kegundahan hatinya, Dion memilih untuk pulang. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menjadikan jalanan umum itu sebagai area balapan. Beberapa kali ia hampir menyenggol kendaraan lain, tetapi ia masih berhasil menghindar meski di hadiahi makian dan bunyi klakson panjang dari pemilik kendaraan lain yang kesal dengan tingkah ugal-ugalannya.


“Lo yang minggir brengsek!!” seru Dion saat ia dihujani banyak bunyi klakson. Semakin dalam saja ia menginjak pedal gasnya, meninggalkan kendaraan lain yang berlomba dengannya.


“Sial!” dengus laki-laki itu, sesaat setelah ia tiba di halaman rumahnya. Ia segera turun dari mobilnya dan membanting pintu mobil dengan kasar.


"Pulang nak?" sapa Deby pada putranya. Jangankan menjawab, melirik pun tidak.


“Dari mana kamu?” tanya seorang laki-laki yang tidak lain adalah Arisman, sang ayah, saat melihat anak remajanya berjalan dengan tergesa-gesa sampai menabrak kursi yang sedari tadi ada di tempatnya.


Dion tidak menjawab, ia hanya mendelik lalu pergi menuju kamarnya.


“Heh, Dion! Saya sedang berbicara dengan kamu!” seru laki-laki itu. Bola matanya yang bulat, mengikuti pergerakan sang putra yang berjalan tegap menuju lantai dua.


Dion tetap tidak menimpali, ia segera masuk ke kamarnya dan membanting pintu kamar dengan kasar.


“AARRGHHH!!!” teriak remaja itu, hingga terdengar oleh Arisman yang sedang bersama istrinya.


“Kenapa anak kamu?” tanya Arisman pada sang istri yang sedang mengupaskan buah untuknya. Siang ini laki-laki bertubuh jangkung ini memang tidak kembali ke kantor setelah menerima tamu yang berkunjung ke rumahnya.


“Udah Mas, namanya juga anak lagi puber, kamu jangan terlalu keras.” Deby mencoba mengingatkan.


PRANK!


Suara benda pecah terdengar dari lantai atas dan asalnya dari kamar Dion. Arisman dan Deby kompak menoleh. “Yang kayak gitu yang kamu bilang harus di biarin?” tanya laki-laki itu seraya beranjak dari tempatnya.

__ADS_1


Ia melepas jasnya, melemparnya dengan kasar, lalu mengambil tongkat base ball yang berada di dekat tangga.


“Mass! Mau ke mana?!” seru Deby yang segera menyusul langkah cepat dan panjang milik suaminya. Wanita itu setengah berlari menyusul Arisman yang terlalu bersemangat untuk memberi pelajaran pada putranya.


“Mas, tunggu. Kamu mau apa?” Deby segera berdiri menghadang Arisman, merentangkan tangannya di depan laki-laki itu.


“Minggir kamu! Anak kamu semakin hari semakin menguji kesabaranku. Mingir!!” seru laki-laki itu dengan mata menyalak.


“Aku gak akan minggir Mas. Mas selalu mukul Dion setaip kali dia bertingkah tanpa pernah bertanya apa yang anak kita alami. Dia lagi masa puber mas, jangan memperlakukannya seperti anak kecil. Dia bisa melawan,” tanpa menurunkan tangannya yang terrentang, Deby bersikeras memberikan penjelasan.


“Minggir aku bilang, MINGGIR!!!” teriak laki-laki itu dengan suara yang keras.


Deby sampai mengkerut mendengar teriakan suaminya yang menggema di rumah besar dan mewah itu. Ia tidak bisa berkutik saat Arisman mendorong tubuhnya agar menyingkir dari jalan yang dihalanginya.


Tangan kekar laki-laki itu segera membuka pintu kamar Dion. Matanya melotot saat ternyata pecahan kaca sudah berserakan karena di tonjok oleh Dion.


“Sialan kamu! Apa yang kamu lakukan hah? Apa?!” teriak Arisman seraya mendorong tubuh putranya dengan cukup keras hingga tubuh Don terdorong cukup jauh dan membentur dinding.


“Bukan urusan Papah!” seru Dion yang balas menyalak. Remaja itu sedikit meringis saat punggungnya merasakan sakit akibat membentur dinding.


BUK!!


Satu pukulan di layangkan laki-laki itu ke bahu Dion, membuat tubuh Dion sempoyongan dan berpegangan ke dinding.


“Pah, jangan!!!” teriak Deby yang berusaha melerai. Ia memegangi tangan suaminya yang sudah mengangkat tangannya ke udara hendak memukul Dion untuk kedua kalinya.


“Hah! Jangan ikut campur kamu!” Arisman mendorong tubuh Deby dengan kuat hingga wanita itu terjerebab dan menubruk pintu kamar Dion. Kepalanya membentur handle pintu dan membuatnya jatuh terhuyung merasakan pusing dan sakit yang datang bersamaan. Dahinya sampai memar dan ia pegangi dengan tangan yang gemetar.


“Lo berani mukul nyokap gue hah?!” teriak Dion yang tidak terima. Remaja itu melayangkan bogem mentahnya pada Arisman, tetapi dengan cepat Arisman menangkisnya.


Baku hantam itu tidak lagi terelakkan. Arisman seperti kerasukan, lupa siapa diri sebenarnya. Dengan tongkat base ball di tangannya, ia memukuli Dion tanpa ampun. Membiarkan putranya berlumuran darah dari hidung, menendang tubuhnya sampai jatuh meringkuk di lantai. Laki-laki itu baru berhenti setelah rasa marahnya terlampiaskan.


Di tempat berbeda, Gayatri masih berada di boncengan Shaka. Gadis itu tidak banyak bicara sejak keluar dari café. Shaka perhatikan dari spion kanannya, gadis itu juga tampak lesu dengan wajah yang sedih. Beberapa kali ia mengusap air matanya yang tidak sengaja menetes.


Sekali waktu, Shaka menarik tangan Gayatri dan melingkarkannya ke perutnya. Tubuh gadis itu tertarik begitu saja hingga tanpa sengaja memeluk Shaka. Ia berusaha melepaskan tangan Shaka, tetapi Shaka menahannya.

__ADS_1


“Paling nggak ngumpet dikit nangisnya, ada punggung gue buat lo ngumpet,” ujar laki-laki itu dengan suaranya yang cukup jelas, bersahutan dengan angin.


Gayatri tidak menimpali, tetapi juga tidak menolak. Ia memilih menuruti saran Shaka untuk menyandarkan tubuhnya ke punggung rata laki-laki yang ada di depannya. Ia memang butuh sandaran.


Shaka tersenyum kecil saat merasakan Gayatri yang bersandar di punggungnya. Wanita itu juga masih sedia memeluknya dari belakang, meski tangan Shaka sudah tidak memaksanya. “Pegangan aja, biar lo gak jatuh. Mumpung masih gratis,” goda laki-laki itu pada sang gadis.


Hanya pukulan pelan yang kemudian Shaka rasakan sebagai ungkapan kekesalan Gayatri. Laki-laki itu masih melajukan motornya membelah jalanan yang ramai lagi terik. Sesekali lurus ke depan dan berbelok ke kiri atau kanan, mengikuti lekukan jalan ibu kota. Entah ke mana arah tuju mereka yang jelas katanya Gayatri belum mau pulang.


Sebuah deringan ponsel terdengar samar dan mengusik rongga telinga Gayatri. Gadis itu merogoh saku seragamnya dan mendapati ponselnya yang memang bergetar. Ia segera memeriksanya dan panggilan itu berasal dari nomor tidak di kenal. Bukan nomor ponsel melainkan nomor telepon rumah atau kantor.


Gayatri menepuk bahu Shaka agar laki-laki itu menepi. Pria bertubuh kekar itu menurut saja dan menepikan motornya di depan sebuah toko yang sedang tutup.


Gadis itu segera melepas helmnya, “Halo,” Gayatri menjawab dengan cepat.


“Halo selamat siang, dengan keluarga Galih Pradana?” tanya suara di sebrang sana.


“Iya benar, saya adiknya. Ini siapa ya?” pertanyaan Gayatri membuat Shaka menoleh. Gadis itu mengendikkan bahunya saat isyarat mulut Shaka bertanya ‘siapa?’


“Saya perawat dari Galih Pradana, bisa tolong ke rumah sakit X sekarang juga?” pinta perempuan itu.


“Oh, ada apa ya?" Gayatri mulai khawatir, karena nama rumah sait yang di sebutkan bukan tempat Galih di rawat.


"Nanti akan kami jelaskan di sini," Petugas medis itu enggan menjelaskan lebih detail.


"Baik, saya segera ke sana,” sahut Gayatri dengan cepat.


“Ada apa?” tanya Shaka setelah panggilan Gayatri berakhir.


“Kita ke rumah sakit X sekarang, perawat Galih nyuruh gue ke sana.” Gayatri begitu tergesa-gesa.


“Pegangan!” Tanpa menunggu lama, Shaka segera melajukan kembali motornya dengan kecepatan tinggi. Hentakan kuat dari kuda besi itu membuat Gayatri memeluk Shaka dengan erat.


Ada apa ini? Apa Galih baik-baik saja?


****

__ADS_1


__ADS_2