
Dua orang itu saat ini sedang berada di ruang bawah tanah, ya, dia adalah Shaka dan Gayatri. Mereka kompak memandangi white board yang sudah penuh dengan tulisan berwarna warni sambil bersidekap. Shaka baru selesai mencatat semua temuan mereka hari ini.
“Bokapnya Dion hobby offroad, apa mungkin jejak mobil jeep di TKP punya dia?” Gayatri mulai bersuara di tengah keheningan mereka.
“Iya, itu yang saat ini gue pikirin. Kalau pun iya, kita belum bisa membuktikan dia pelakunya. Gak ada jejak roda mobil di sana, karena udah terlalu lama. Petunjuk kita cuma jam tangannya aja yang sama dengan yang di foto lo sama Rasya. Belum ada hal lain yang mengerucut.” Dahi Shaka masih mengernyit berusaha menarik benang merah yang masih kusut.
"Tapi gue ngerasa gak asing sama latar foto bokapnya Dion. Gue yakin itu di Bromo. Apa itu berarti pembunuh Rasya adalah salah satu orang yang ada di sana?" Pikiran Gayatri semakin mengerucut. Ia ingat persis kalau Rasya pun mengajaknya naik mobil offroad di sana. laki-laki itu bahkan berjanji akan belajar menyetir mobil setelah usianya genap 18 tahun. Ia sudah berjanji untuk menyetir sendiri mobil offroad bersama Gayatri.
Shaka segera menoleh pada Gayatri, ia baru terpikir akan hal itu. Laki-laki itu segera mendekat ke white board, untuk menuliskan nama orang-orang yang ada di sana. Hanya dua orang yang ia kenal yaitu Arisman dan wakil kepala sekolah mereka, Oliver. Sementara empat orang lainnya, tidak ia kenali.
Sekatika Shaka segera menolrh, dua orang itu saling bertatapan beberapa saat, "Apa lo mikir seperti apa yang gue pikirin sekarang?" tanya Shaka.
"Hem!" Gayatri menyahuti dengan semangat. Ia segera mengambil paperbag yang diberikan Deby siang tadi. Ia mengeluarkan isinya dan ternyata sesuai dugaan, alat perekam itu juga kembali ke tangannya.
“Kita belum coba dengerin ini,” ucap Gayatri yang segera duduk di depan meja dan menyalakan perekam di tangannya.
Shaka ikut terduduk di sampingnya, mendengar suara yang sayup-sayup mulai terdengar. Volume suara perekam itu ditambahkan oleh Gayatri, tetapi hanya suara berdesis yang dominan terdengar.
“Tunggu, kita pake earphone aja,” Shaka segera mengambil earphone di atas meja. Memasangkannya pada alat perekam itu lalu memasangkan benda kecil itu di telinga kiri Gayatri sementara satunya di telinga kanan miliknya.
Suara berisik itu mulai terdengar, sayup-sayup. “Aya….” Satu kata itu yang mereka dengar dan keduanya langsung menoleh satu sama lain. Suara itu milik Dion yang seperti sedang meringis kesakitan.
“Gue minta maaf, karena udah bikin Rasya meninggal. Gue gak tau kalau kejadiannya bakal berakhir tragis itu,” kalimat Dion berlanjut dengan terengah-engah. “Ahhh….” Sesekali laki-laki itu seperti mengerang menahan sakit. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada remaja itu? Yang jelas bulu kuduk Gayatri sampai meremang mendengarnya.
__ADS_1
“Gue memang ngehasut abang lo biar jauhin lo sama Rasya. Tapi gue gak pernah punya scenario buat bunuh Rasya. Malam itu, seseorang mengubungi gue dan nyuruh gue bawa Rasya dan Galih ke Gudang singkong. Gue sempet nolak, tapi dia ngancam kalau dia bakal bongkar kelakuan gue dan bilang sama temen-temen gue kalau gue pemakai.”
“Dia juga ngancam kalau dia bakal berhenti ngasih gue obat. Gue takut Aya, gue terpaksa ngelakuin itu semua.” Kali ini suara Dion seperti sedang menggigil kedinginan. Gayatri menoleh Shaka dan laki-laki itu berpikiran hal yang sama, Dion sedang sakau.
“Nomor yang ngehubungin gue, udah gue tulis di buku itu. Mulai dari halaman tujuh sampai enam belas. Gue gak bisa nulis langsung nomor itu karena gue takut orang lain tau.”
Gayatri segera membuka buku yang ada di hadapannya, ada beberapa angka di buku ekonomi itu yang dilingkari Dion. Ada satu halaman yang menunjukkan adanya noda kehitaman berbentuk bulat. Shaka segera mengambil alih buku itu dan menciumnya, seperti bau amis darah. Sementara Gayatri segera mengambil ponselnya hendak mengetikkan nomor itu. tapi saat akan menghubunginya, Shaka segera menahan tangannya.
Laki-laki itu menggeleng, “Jangan sekarang, jangan dari hp lo. mungkin aja orang itu udah tau nomor lo,” Shaka memperingatkan, membuat Gayatri terpaksa berhenti. Bisa saja perkiraan Shaka benar.
“Tolong selamatin nyokap Gue Ya. Dia di siksa setiap hari sama bokap gue. Bawa dia keluar dari rumah, gue mohon.” Itu kalimat terakhir Dion sebelum kemudian suara menghilang dan berganti dengan suara pukulan.
“Akh!” dengus Dion hingga kemudian suaranya tidak terdengar lagi.
Shaka menggeleng, ia mengulang suara pukulan itu, matanya terpejam mencoba mendengarkan dengan seksama bentuk suara yang didengarnya.
“Dia di pukul pake balok atau kayu,” ucap Shaka kemudian.
“Terus kita harus gimana? Dion sama nyokapnya butuh bantuan kita Shaka,” Gayatri terlihat panik.
“Tunggu Aya, kita harus cari cara. Kita gak bisa gegabah.” Shaka mencoba menenangkan Gayatri.
“Akh sial!” Gayatri hanya bisa mendenguskan napasnya kasar, hatinya benar-benar gelisah.
__ADS_1
Di tengah kegelisahan itu, Shaka mencoba menghubungi David. “Kamu di mana?” tanya shaka dengan cepat.
“Di jalan bang, habis beli makanan buat makan malam. Si Alya kurang sehat, jadi aku beli makanan lembek.” David menerangkan dengan jelas. Makanan lembek itu maksudnya bubur.
“Okey. Kamu masih mengintai Dion?” Shaka bertanya dengan penasaran. Matanya tajam menatap White board di hadapannya.
“Masih Bang. Tapi sampai siang tadi, aku gak liat dia keluar rumah. Apa ada masalah?”
“Sepertinya di sedang dianiaya.” Shaka berujar dengan yakin.
“Iya kah?” David sampai terlonjak kaget.
“Iya! Kita harus memikirkan cara untuk masuk ke rumah itu dan mencari Dion. Ibunya bahkan memberi isyarat meminta pertolongan padaku dan Aya. Tapi aku gak bisa nolong, sepertinya bokapnya Dion selalu ada dirumah.”
“Kalau gitu kita harus buat dia keluar rumah bukan?” David mulai bersiasat.
“Ya, kamu benar. Apa mungkin kita ikuti saran Alya kemarin?”
“Kita coba Bang. Nanti aku sama Alya ke sana, abang tunggu dulu ya.” Laki-laki itu bergitu tergesa-gesa.
“Iya, aku tunggu,” timpal Shaka.
Panggilan pun berakhir dan Shaka masih menggenggam ponselnya dengan erat. Ia sedang membuat strategi untuk membuat Arisman keluar dari rumahnya.
__ADS_1
****