Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Sehari penuh


__ADS_3

Seorang Gayatri akhirnya tertahan di rumah Shaka. Hingga sore hari, gadis itu masih membantu Shaka untuk membereskan rumah yang berantakan sisa berpesta. Setelah ruang tamu dan ruang keluarga rapi, Shaka dan Gayatri berpindah ke taman belakang. Di atas kolam renang ada banyak balon berwarna-warni yang harus mereka singkirkan.


Shaka dan Gayatri kompak berkacak pinggang menatap bingung pada kolam yang penuh dengan mainan itu. Menatanya seru dan menyenangkan, tetapi membereskannya sangat membuat malas.


"Lo duduk aja," titah Gayatri saat melihat Shaka ikut mendekat ke tepian kolam.


"Balonnya banyak Ya, gimana beresinnya coba. Kan harus di ambilin satu-satu, lo mau berenang?" Laki-laki itu menatap bingung pada balon-balon yang bergoyang-goyang di atas permukaan air. Riakan air membuat mereka seolah menari-nari, mengejek.


Bagi Shaka mungkin susah, tetapi bagi seorang Gayatri sangatlah mudah. Ia mengambil satu balon pelampung berbentuk bebek kemudian ia naiki. Ditangannya ia membawa obeng bekas melepas beberapa lampu tempel. Pelan-pelan ia mengayuh bebek itu mendekat pada balon-balon lalu menusukkan obengnya ke balon hingga berbunyi ledakan-ledakan yang cukup keras. Sisa balon yang pecah ia masukkan ke dalam plastik


"Hahahaha... Cerdas! Lo keren Ya!" Ide Gayatri sangat tidak terduga hingga Shaka mengacungkan kedua ibu jarinya pada Gayatri. Gadis itu hanya menolehnya sekali saja sambil mengangkat alisnya jumawa dan meneruskan usahanya untuk memecahkan balon-balon itu.


"Wuhuuu, pecahkan semua balonnya Ya!" seru Shaka yaang berteriak dari tepi kolam.


Gayatri begitu bersemangat memecahkan balon-balon itu. Lama-lama, ia menikmati usahanya untuk memecahkan balon. Seperti emosinya ikut terpecahkan dan perlahan bibirnya mengulum senyum. Sesekali wajahnya terciprat air dari dalam balon hingga membuatnya basah.


Shaka ikut menikmati pemandangan unik dari tingkah Gayatri, tingkah konyolnya menjadi hiburan tersendiri bagi Shaka. Rupanya ini sisi terang seorang Gayatri. Lihat senyum tipis yang manis itu, membuat Shaka anteng berjongkok di tepi kolam sambil menopang dagunya, memperhatikan Gayatri.


Tanpa terasa gadis itu sudah berenang jauh dari tepian kolam, meninggalkan Shaka yang mematung di tempatnya. Shaka menyusul gadis itu, berjalan mengitari kolam demi mendekat pada Gayatri dari sudut lain.


"AYA!!" panggil Shaka dari jarak terdekatnya dari Gayatri.


Gadis itu menoleh dan di waktu yang bersamaan Shaka mencipratkan air ke arah gadis itu. Gayatri segera memalingkan wajahnya, tetapi Shaka menyerangnya semakin ganas.

__ADS_1


"Shakaa, lo apa-apaan sih?" seru Gayatri dengan kesal.


"Menurut lo?" Shaka masih terus asyik menciprati Gayatri dengan air kolam hingga wajah dan tubuh gadis itu basah.


"Shakaa, lo brengsek ya! Mentang-mentang gue gak bisa balas lo! Sialan lo emang!!!" teriak Gayatri yang membelakangi Shaka agar tidak menciprati wajahnya, namun Shaka malah tertawa. Tertawa sangat lebar hingga lupa pada sendi-sendi di tubuhnya yang sedang sakit.


Mengerjai gadis yang berada di atas bebek karet itu ternyata memberinya banyak dopamin. Ia bisa tertawa sepuasnya dan perlahan Gayatri pun ikut tertawa kecil.


"Shakaaa!!!" teriak Gayatri yang kesal.


"Yaaa. Gue di sini, liat ke gue dong!!! hahahaha...." sahut laki-laki itu dengan tawa yang tidak bisa dihentikan. Ini terlalu mengasyiknya hingga tidak terasa selama lebih dari setengah jam ia mengerjai Gayatri. Laki-laki itu baru berhenti saat Gayatri menepi dan membawa sampah balon yang ia kumpulkan di dalam keresek.


"Brengsek lo!" seru Gayatri yang refleks memukul lengan Shaka.


"Hehehehehe...." Shaka malah terkekeh geli melihat rambut dan wajah Gayatri yang sudah basah kuyup. Ia mengambil handuk yang ada di atas kursi lalu menutupkannya ke wajah Gayatri. "Keringin badan lo, nanti lo sakit. Udah kelas 3 SMA, tapi kelakuan kayak bocah!" ledek Shaka.


Tanpa persiapan, tendangan Gayatri membuat tubuh Shaka oleng dan terjatuh di atas kursi taman. Di waktu yang bersamaan ia menarik tangan Gayatri dan membuat gadis itu terjerembab di atas pangkuan Shaka. Mereka bertatapan untuk beberapa saat, kaget bukan kepalang sampai kemudian Gayatri sadar dan menginjak jari kelingking kaki Shaka lalu beranjak dari pangkuan laki-laki itu.


"Aaaa... anjir sakit Aya!" Shaka meringis sambil memegangi kelingking kakinya.


"Derita lo!" sahut Gayatri seraya mengacungkan jari tengahnya pada Shaka. Ia menghanduki wajah dan rambutnya yang basah.


Hanya beberapa saat saja ia meringis, sebelum kemudian Shaka tersenyum kecil saat melihat Gayatri yang berlalu pergi ke toilet untuk mengeringkan tubuhnya. "Dasar bocil kematian," ejek laki-laki itu dengan gemas. Ia pergi ke kamarnya untuk mengambil kaus oblong yang akan ia pinjamkan pada Gayatri. Kaus berwarna putih yang ia ambil dari dalam lemarinya.

__ADS_1


"Kayaknya ini cukup," Shaka melebarkan bajunya untuk melihat ukurannya. Di rasa cukup untuk tubuh Gayatri yang tidak terlalu berisi.


Tiba di depan toilet, Shaka mengetuk pintu, "Gue bawa baju ganti, ganti dulu baju lo!" seru pria itu dari luar.


Tidak lama Gayatri membuka pintu toilet dan matanya menatap penuh dendam. "Gara-gara lo anjir!" seru gadis itu seraya merebut kaus dari tangan Shaka. Shaka hanya terkekeh, sedikit terhenyak saat Gayatri membanting pintu kamar mandi di depan wajahnya.


"Itu gak gratis ya Aya, ada biaya sewanya. Gopek per jam, gopek dolar." Goda Shaka dari luar. Ia beranjak menuju kitchen set, membuka lemari paling atas, mengambil bahan dalam kemasan untuk membuat minuman hangat.


"Gue bayar pake ginjal gue!" timpal Gayatri dengan kesal. Setelah berganti pakaian ia segera keluar dan tampaklah punggung Shaka yang membelakanginya. "Bikin apa lo?" Gayatri yang penasaran pun mendekat. Tanpa terasa mulai banyak perbincangan di antara dua orang muda ini.


"Nih," Shaka memberikan segelas minuman rempah hangat pada Gayatri. "Bayaran karena lo udah bersihin kolam renang gue," timpal laki-laki itu seraya tersenyum.


"Mana cukup?" ledek Gayatri.


"Okey, kalau gitu bayar pake apa lagi?" Shaka sengaja mendekatkan dirinya pada Gayatri membuat gadis itu terhenyak kaget dan memundurkan tubuhnya hingga bersandar pada dinding.


"Lo pikir lah. Otak lo kan gak kena kuman, bisa kali di pake mikir. Cerdas dikit," timpal Gayatri seraya menunjuk pelipisnya sendiri lalu mengambil alih minuman hangat itu dari tangan Shaka sebelum kemudian bergegas pergi dari hadapan laki-laki tersebut.


"Cerdas dikit," Shaka mengulang dua kata milik Gayatri seraya tersenyum kecil. Ia juga meneguk minuman hangatnya dan menyusul Gayatri yang duduk di sofa ruang keluarga. Menggemaskan sekali tingkah bocah itu.


Di ruang keluarga, Gayatri tampak sedang menikmati minuman hangatnya. Bibirnya sedikit mengerucut saat menyeruput minumannya yang masih setengah hangat. Shaka memperhatikan kaus yang ia pinjamkan, sedikit kebesaran, tetapi malah terlihat lucu. Ia duduk di samping gadis itu, memandangi seisi ruangan yang sudah rapi.


"Malam ini gue pasti bisa tidur nyenyak tanpa mikirin gimana kalau ada balon yang meledak pas gue tidur," tutur Shaka. Dua mata bulatnya menatap ke sekeliling rumah yang rapi.

__ADS_1


Harus ia akui kalau suara ledakan balon yang tidak terduga, seperti sebuah trauma atas kejadian saat sebuah bom meledakkan kediamannya dan membunuh keenam temannya. Tetapi saat melihat Gayatri begitu menikmati meledakkan satu per satu balon, membuat rasa ketir dalam hatinya berkurang secara perlahan-lahan. Terlebih saat gadis ini tersenyum di antara suara ledakan itu. Gadis itu seperti menari di sela rasa takutnya.


"Lain kali pikirin juga konsekuensi kalau lo mau bikin rumah lo berantakan," Gayatri menimpali dengan sinis. Suara itu yang membuyarkan lamunan Shaka dan membuatnya menoleh pada gadis yang tampak acuh itu. Mata tajamnya melirik tipis, karena sadar sedang diperhatikan oleh Shaka.


__ADS_2