Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Pagi penuh kecurigaan


__ADS_3

“Ayaaa… bangun….” Sebuah suara nyaring di telinga Gayatri membuat mata bulat gadis itu terbuka dengan sempurna.


Netra beningnya masih sedikit kemerahan dengan wajah berkeringat dingin dan sedikit meringis saat ia tersadar dari mimpi malam yang melelahkannya. Beberapa saat lalu ia mimpi terjatuh dari sebuah tebing yang sangat tinggi saat berjalan-jalan bersama Rasya. Entah tangan siapa yang mendorong tubuhnya sekuat tenaga hingga membuat jantung Gayatri seperti copot dari tempatnya. Hingga saat ini masih berdebar kencang itu masih terasa..


“Itu mimpi, Aya,” gumam Gayatri seraya menangkup wajahnya dan mengusapnya dengan kasar. Ia perlu waktu beberapa saat untuk benar-benar tersadar dan berusaha bangkit. Ya, ia berusaha bangkit karena sekujur tubuhnya terasa begitu sakit dan ngilu. Terutama di bagian punggung dan kaki yang terbungkus perban. Ia berupaya untuk duduk beberapa saat di tepian tempat tidur merasakan sisa nyeri yang ia harapkan segera hilang.


“Yaaa… lo bisa kesiangan. Buruan bangun….” Lagi, suara nyaring Mira terdengar semakin jelas.


“Iyaaa, udah bangun Nyak.” Suara serak Gayatri akhirnya menimpali. Ia beranjak dari tempatnya dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Langkahnya sedikit tertatih-tatih dan sesekali berpegangan pada dinding untuk mengurangi rasa nyeri pada sendi yang membengkak.


Di luar kamarnya, Mira masih menyiapkan sarapan untuk putrinya. Ia memberikan sekaleng susu pada suaminya untuk membantu menyeduhkan.


“Mimpinya tuh berasa nyata banget loh. Gue sangat yakin kalau itu suara motor si Galih, tapi mau buka mata rasanya beraaaattt banget. Yang ada gue malah mewek, inget sama tuh bocah,” kalimat itu di ungkapkan Mira saat sedang membuat telur dadar di depan kompor. Pikirannya masih berusaha mencerna apa benar yang semalam ia alami adalah sebuah mimpi atau kenyataan.


“Makanya gue bilang ayo lo ikut. Kangen kali lo,” timpalan Barkah berujung pada ajakan yang sama seperti beberapa hari ini.


“Gak ada orang tua yang gak kangen sama anaknya. Yang ngalangin cuma rasa gak siap gue aja.” Mira mempertegas perasaannya pada Barkah.


Barkah hanya menangguk paham, setiap orang memang memerlukan kesiapan dan keberanian untuk menghadapi kesedihan yang dialaminya.


“Lo mau telur dadar apa ceplok?” Mira menjeda sejenak perbincangan seriusnya. Wajan dihadapannya sudah mengepulkan asap tipis, ia masih tetap menunggu jawaban Barkah.


“Telur dadar aja,” sahut Barkah yang masih mengaduk susu untuk putrinya.


“Bawang daunnya habis, ceplok aja ya?” timpal Mira.

__ADS_1


“Ngapain lo nanyaaaa, kalau ujung-ujungnya lo mau bikinin gue telor ceplok? Ah elah, bikin kesel aja lo!” Barkah mendengus kesal dan Mira hanya terkekeh. Sesekali membuat Barkah marah justru membuat hatinya bahagia.


Suara deritan pintu terdengar jelas. Seorang gadis baru keluar dari kamarnya membawa wangi yang segar. “Beuh anak gue, cakep bener dah!” Barkah langsung menyambutnya dengan pujian dan senyum yang lebar. Ia menarikkan kursi untuk putrinya yang berjalan tertatih-tatih.


“Makasih Beh,” ucap gadis berambut panjang yang kemudian terduduk di tempatnya.


“Sama-sama. Tunggu bentar ya, enyak lo masih goreng telornya. Telor dadar yang mendadak berubah jadi telor ceplok!” ledek Barkah sambil terkekeh. Gayatri ikut tersenyum kecil, sekali lalu meneguk air mineral di tangannya untuk melepaskan dahaga.


“Gak usah ngeledek lo! Buat anak gue mah tetep telor dadar. Nih, ayo makan. Udah siang tuh,” Mira menaruh sepiring telur dadar di hadapan Gayatri.


Barkah hanya terkekeh, senang membuat istrinya bernyanyi pagi-pagi.


“Makasih Nyak,” ucap Gayatri yang segera mengambil alih piring dan menambahkan merica di atas telur dadarnya. Tidak ia tambahkan nasi, karena menurutnya dua butir telur dadar sudah cukup di tambah susu.


“Hem….” Wanita itu ikut duduk di kursi makan, menatap Gayatri dengan lekat. “Gue denger dari babeh lo, semalem lo jatuh dari tempat tidur. Lo kenapa, mimpi buruk lagi?” tanya Mira dengan tatapan yang penuh perhatian.


“Gak apa-apa kok Nyak,” sahut Gayatri yang melanjutkan sarapannya.


“Gak apa-apa, apanya, jatuh dari ranjang kan sakit. Makanya kalau lo mau tidur, baca do’a dulu biar gak mimpi begituan lagi,” saran sang ibu dengan ekspresi ngeri.


“Iya,” Gayatri menyahuti ringan. Ia hanya menunduk saat sang ibu menatapnya dengan penuh atensi.


“Lo mau gue anter ke sekolah?” tawar Barkah tiba-tiba. Ia melirik kaki Gayatri yang di perban, ada luka terbuka dan sedikit memar di bagian pergelangan kakinya.


“Gak usah. Hari ini pelajarannya santai, jam pertama paling di suruh ngerjain tugas. Jadi Aya bisa buat istirahat. Babeh bantuin Enyak aja di kedai.” Gayatri menyahuti dengan tenang.

__ADS_1


Barkah hanya mengangguk-angguk, “Kabarin gue kalau lo perlu gue jemput,” diusapnya kepala Gayatri dengan sayang dan gadis itu hanya mengangguk. Memandangi kakinya yang masih berdenyut nyeri.


Di lapangan parkir sekolah, sudah menunggu seorang laki-laki muda yang terduduk di undakan anak tangga. Ia menunggu dengan tidak sabar kedatangan gadis yang membuatnya tidak bisa tidur. Sesekali ia berdiri, berjalan mondar-mandir seperti guru BK yang bersiap memberi hukuman pada siswanya yang terlambat datang.


Ini hampir jam setengah delapan dan kedatangan Gayatri juga masih belum terlihat. Dalam pikirannya ia mulai menerka-nerka, apa mungkin penyelamatnya yang semalam benar-benar gadis itu? Cara mengendarai motornya sama, postur tubuhnya juga mirip meski mengenakan helm full face dan jaket kulit. Ia juga datang ke tempat Shaka berada setelah Shaka mengirimkan PAP nya. Bukan suatu kebetulan kan?


Yang berbeda adalah cara gadis itu memacu kecepatan kuda besinya di jalanan dan nyalinya yang terlalu besar saat tiba-tiba berdiri di atas motornya yang melaju kencang hanya untuk menendang magnet yang ditujukan untuk merubuhkan motor Shaka. Ia sangat penasaran, terlebih orang-orang memanggilnya 'Henka Kaizen'. Yang ia tidak yakin apa benar motor itu yang ada di rumah Gayatri?


Suara skuter matik yang sangat di kenali Shaka membuat laki-laki itu menoleh. Bersamaan dengan itu ia melihat sosok Gayatri yang datang dengan penampilannya yang tidak terlalu segar. Gadis itu memarkir motornya di tempat biasa dan Shaka segera menghampiri.


“Pagi, pawang!” sapa Shaka sambil memperhatikan Gayatri dari atas hingga ke bawah.


“Gue bukan pawang,” sahut Gayatri dengan sinis. Ia berusaha melepas helmnya, tetapi sepertinya agak kesulitan. Tangan kanannya tidak terangkat sempurna, seperti sedang menahan sakit.


Sakha segera menghampiri dan membantu Gayatri tanpa permisi. Gayatri yang kaget hanya membatu, menatap kosong pada usaha Shaka untuk membantunya secara tiba-tiba. “Tidur lo nyenyak?” tanya laki-laki itu seraya tersenyum tipis saat kedua matanya menatap mata sayu milik Gayatri.


“Kenapa harus gak nyenyak?” Gayatri segera menepis tangan Shaka. Ia berusaha menegakkan tubuhnya dan bertumpu di kedua kakinya yang salah satunya masih berdenyut nyeri. Gayatri merasa Shaka sedang menyelidiknya.


“Syukurlah. Ya udah, yuk kita masuk. Jam pelajaran pertama materi geograpi, musuhnya David,” ejek Shaka berbasa-basi.


“Emang ada pelajaran yang jadi bestienya David?” Gayatri balik bertanya.


“Hahaha… kebiasaan lo jawab kalimat gue pake pertanyaan.” Shaka yang gemas mengusap kepala Gayatri dan sedikit mengacak rambutnya.


“Ish, lo apaan sih!” dengus Gayatri yang segera menepis tangan Shaka.

__ADS_1


Ia berjalan lebih dulu dan Shaka masih terdiam sambil memperhatikan cara jalan Gayatri. Gadis itu berjalan dengan biasa saja, membuat Shaka mengernyitkan dahinya heran. Kalau dugaannya benar, bukankah harusnya Gayatri berjalan dengan terpincang-pincang?


****


__ADS_2