
Suara tembakan terdengar jelas dari dalam gudang. Entah siapa yang ditembaki yang jelas Shaka dan teman-temannya segera turun dan bersiaga. Sang komandan membagi tim ke dalam dua kelompok dan pelan-pelan beranjak menuju gudang.
Mereka melangkah dengan berani dan waspada, membawa senjata masing-masing sesuai kemampuannya.
Tidak terdengar suara lenguhan kesakitan yang berarti tidak ada orang yang tertembak.
Shaka yang memimpin di depan, berjalan dengan cepat menuju teras Gudang yang diterangi lampu motor. Ia mengokang senjata di tangannya yang siap ia tembakkan kapan saja. David dan timnya berada di belakang, melindungi jika ada jebakan dari tim lawan.
"Kami sudah di lokasi," Shaka berbicara pada Farid melalui sambungan earphonenya.
"Siap Bang, kami sedang bersiap." Farid menyahuti dengan cepat dan panggilan pun terputus beberapa saat.
"Go go go!!! Cepat kalian!!!" seru Farid pada tim yang akan di kirimnya. Mereka berlarian masuk ke mobil dan segera tancap gas menuju lokasi yang dikirimkan Shaka. Berharap saja, semoga mereka tiba tepat waktu.
Shaka mengintip suasana di dalam yang tampak sepi. Ia memberi isyarat pada David untuk berpencar dan berjaga di sekitaran Gedung.
"Tetap waspada, kita gak tau jumlah mereka berapa orang," ucap Shaka melalui walkie talkie pada teman-temannya.
"Siap!" sahut mereka kompak. Mereka pun segera berpencar.
Di depan pintu saat ini Shaka berada. Ia menendang pintu itu lalu bersembunyi di balik tebokan beton. Tembakan mulai menghujani mereka untuk beberapa menit lamanya. Shaka balas menembaki sesuai yang terlihat, termasuk beberapa buah kaca jendela berwarna hitam, agar cahaya dari lampu motornya masuk ke dalam Gudang.
Tidak lama dari itu, tampak lah beberapa orang yang sedang bersembunyi di dalam Gudang dan berlarian untuk bersembunyi. Shaka menembaki para pengawal itu dan dua orang berhasil ia tembak.
Empat orang lainnya berlari keluar gudang lewat jendela, tim David yang sekarang memburunya. David menembak kaki lelaki yang berada paling belakang hingga ambruk.
Beberapa orang berhasil di kejar dan baku hantam pun tidak terelakan. Sementara Shaka terus berusaha masuk ke dalam Gudang. Bersembunyi di antara tiang-tiang kokoh penyangga bangunan ini.
“Rupanya orang paling menyebalkan di dunia ini sudah datang. Keluar!” titah sebuah suara yang Shaka yakini milik Arisman.
Shaka mengintip sedikit. "Sial!" dengus Shaka saat melihat sosok Arisman dan Oliver yang berhasil menyandera Gayatri.
Terpaksa Shaka keluar dari tempat persembunyiannya. Terlihat jelas Arisman yang terluka di tangannya sementara sosok Oliver sedang menodongkan senjata ke kepala Gayatri. Entah sejak kapan laki-laki itu tersadar, mungkin setelah mendengar suara tembakan.
__ADS_1
Beruntung Shaka memahami bahasa Oliver, sehingga memungkinan ia untuk berbicara dengan laki-laki itu.
“Apa kabar mayor?” tanya laki-laki itu seraya menyeringai. Giginya terlihat merah karena darah yang keluar dari hidungnya.
Karena kejadian ini pula, Oliver terpaksa mencari tahu siapa sosok Shaka sebenarnya. Siswa paling berandal dan pemicu kericuhan.
“Sepertinya saya tidak perlu repot-repot memperkenalkan diri,” ucap Shaka yang berjalan mendekat pada Oliver.
“Diam di tempat!” seru laki-laki itu, waspada.
“Okey,” Shaka menyahuti dengan cepat.
“Turunkan senjatamu,” lagi Oliver memberi perintah.
Kalau saja laki-laki itu tidak menyandera Gayatri, sudah pasti Shaka tidak akan menurutinya. Shaka menatap Gayatri yang tampak tidak bisa melakukan perlawanan lalu menaruh senjatanya di dekat kaki.
"Tendang kemari jagoan," ejek Arisman. Shaka pun menurutinya. Arisman segera mengambil senjata itu dan menodongkannya pada Shaka.
“Putra? Bukannya dia cuma samsak pelampiasan?” ejek Shaka yang tersenyum tipiw.
“Sialan!” seru Arisman. Laki-laki itu hendak menarik pelatuk senjatanya, tetapi tiba-tiba sesosok bayangan datang dari belakang Arisman.
BUK!
Seorang laki-laki memukul kepala Arisman dengan sebilah balok. Siapa lagi pelakunya kalau Galih. Arisman pun ambruk kesakitan sambil memegangi lehernya. Kepalanya pusing berputar dan sulit untuk bangkit.
Oliver yang terkejut rekannya tiba-tiba tumbang, mengalihkan arah tembaknya pada Galih. Tapi dengan gerakan tangannya yang secepat kilat Galih merebut senjata itu hingga balas ia arahkan pada Oliver.
“PEMBUNUHAN!!!” teriak Galih dengan suara lantang. Ia mengingat benar kalau kata itu diteriakkan oleh laki-laki yang berdiri dihadapannya hingga mengundang orang-orang untuk datang. Laki-laki ini pula yang dilihat Rasya hingga membuatnya lari terbirit-birit.
Galih masih mengingat, saat terakhir kali ia melihat Rasya yang sekarat, mata remaja itu tertuju pada sosok bayangan yang bersembunyi di kegelapan. Remaja itu mencengkram tangannya dengan erat dan berusaha berbicara dengan tersengal-sengal, untuk memberitahunya bahwa pembunuh itu ada di belakang Galih.
Licik memang laki-laki berwajah eropa ini.
__ADS_1
“Lepaskan dia, atau aku akan membunuhmu,” ancam Galih dengan penuh kekesalan.
Laki-laki itu menyeingai dan tentu saja melepaskan cengkramannya pada Gayatri. Ia mendorong tubuh Gayatri cukup kuat ke arah Shaka dan di waktu yang bersamaan ia mengeluarkan pistolnya yang lain.
“Merunduk!!!!” teriak Shaka, pada Gayatri yang berada jalur lurusnya dengan Oliver. Ia ingin menembak Oliver tetapi ada Gayatri yang di dorong ke arahnya.
Gayatri segera berbalik dan waktu terasa lambat berputar. Belum tegap tubuhnya berdiri lalu merunduk, sebutir peluru sudah lebih dulu di tembakan ke arah Gayatri. Shaka segera berlari menghampiri Gayatri sementara Galih menembak tangan Oliver yang menggenggam senjata.
DOR!!!!
Tembakan itu terdengar bersamaan. Diikuti sahutan peluru dari Galih yang menembaki kedua kaki dan tangan Oliver hingga pelurunya habis. Heningnya malam itu pecah oleh suara tembakan.
Suasana hening seketika, semuanya bisu termasuk suara teriakan Galih yang memanggil nama sang adik. Tubuh Gayatri nyaris ambruk, beruntung Shaka segera menahan tubuhnya. Gadis itu memandangi dada kirinya yang menunjukkan rembesan darah yang menembus kaos polos berwarna putih yang dikenakannya.
“AYA!!!” teriak Galih yang menggema di ruangan itu.
Tidak hanya terdengar oleh empat orang itu, melainkan juga oleh David dan teman-temannya yang baru selesai melakukan pemburuan pada lima pengawal yang baru berhasil mereka lumpuhkan.
“Aya ke tembak?” tanya Zaidan dengan wajah cemasnya.
Tidak ada yang menjawab. Dalam satu waktu mereka bergerak bersamaan, lari tunggang langgang menuju Gudang. Mata remaja itu melotot melihat darah yang merembes jelas di kaos putih Gayatri.
“Aya! Bertahan Aya!” seru Shaka yang berhasil menahan tubuh Gayatri agar tidak ambruk.
Sayangnya Gayatri tidak merespon. Gadis itu hanya menatap wajah Shaka dengan lekat sebelum kemudian matanya tertutup.
“AYAA!!!!” teriak teman-teman Gayatri yang kemudian berlarian menghampiri gadis itu.
Apa dia pergi?
"Aaarrrggghhhhhh!!!!" teriak Galih dengan penuh kemarahan.
****
__ADS_1