
“Ini markas Dion dan teman-temannya,” ucap David seraya memberikan selembar kertas pada Shaka.
Saat ini dua pria muda itu sedang berada di toilet pria, berdiri bersisian seusai menyelesaikan urusannya dengan toilet di hadapan mereka.
Shaka segera meresletingkan celananya dan mengambil alih kertas di tangan David, membaca alamat tersebut yang berlokasi tdak terlalu jauh dari sekolah.
“Genk mereka awalnya berjumlah 32 orang dengan ketua genk bernama Galih Pradana seorang altit taekwondo. Genk motor ini sebenarnya gak suka berbuat ulah, mereka cuma ikut balapan, convoi atau kumpul-kumpul di markas mereka."
"Di antara para anggotanya, cuma Dion aja yang agak laen, tingkahnya paling dominan di banding anggota genk motor yang lain.” Beberapa kalimat penjelasan itu yang Shaka dapatkan dari Dion.
“Lalu apa alasan dibubarinnya genk motor itu?” Shaka semakin penasaran.
David mengeluarkan sebuah foto yang ia tunjukkan pada Shaka. Foto saat Dion menyiksa seorang pelajar. “Bullying. Kemungkinan pembulyyan yang sama seperti yang dialami Rasya,”
Shaka memperhatikan foto yang diberikan David. Seorang pelajar dengan pakaiannya yang kotor dan wajahnya tertutupi lumpur. Remaja laki-laki itu di paksa bertekuk lutut di hadapan Dion, sementara Dion duduk dengan nyaman di atas bangku sambil menopangkan kaki kanannya ke atas bahu siswa itu hingga sang siswa merunduk. Ekspresi wajahnya sangat jumawa, tidak berbelas kasihan.
Shaka perhatikan lekat-lekat wajah remaja itu dan sepertinya ini bukan Rasya. Tetapi ia yakini kalau cara Dion menyiksa adiknya pun seperti ini.
“Apa kamu ada info tentang keberadaan ketua genk nya?” Hal ini yang membuat Shaka tidak kalah penasaran. Sosok laki-laki itu seperti hilang di telan bumi.
“Nihil Bang. Mereka gak ada yang tau keberadaan ketua genknya. Katanya ngilang gitu aja setelah Dion dan ketua genk itu di bawa ke kantor polisi. Abang akan terkejut kalau tau siapa ketua genk motor itu,” David sengaja menjeda kalimatnya untuk membuat Shaka menoleh padanya.
“Galih Pradana, kakaknya Gayatri Sekar Ayu,” ucap Shaka seraya menatap David.
“Hah, Abang tau?” David yang lebih dulu terkejut mendengar ujaran Shaka.
“Hem, aku tau. Aku rasa saat ini cuma Aya yang bisa bantu aku ungkap semuanya. Dia tau banyak hal, tapi memilih diam. Entah karena trauma atau karena merasa terintimidasi. Yang jelas dia selalu terlihat ketakutan setiap kali berhadapan dengan Dion,” ungkap Shaka yang tampak berpikir dengan keras.
“Aku rasa salah satunya adalah karena merasa terintimidasi. Beberapa waktu lalu, aku coba memata-matai kedai soto milik keluarga Gayatri, ibunya terlihat kaget saat di pintu kedainya ada coretan cat berwarna merah serta bangkai tikus dalam jumlah yang gak sedikit.”
“Gak tau siapa yang mengirimi mereka, yang jelas pelakunya mencoba mengintimidasi Aya dan keluarganya. Aku sangat yakin ada pesan ancaman di kertas yang di pegang Aya dan bikin dia gak bisa berbuat apa-apa.” David menjelaskan dengan sejujurnya.
__ADS_1
“Kapan kejadiannya?” Shaka ikut penasaran.
“Beberapa hari lalu. Sebelum Abang balapan.”
Shaka termenung mendengar jawaban David, ia mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi hari itu. Hampir seharian Shaka bersama Gayatri, itu berarti bisa saja orang itu tahu keberadaan Shaka di rumah Gayatri daan sengaja melakukan hal itu agar Gayatri dan orang tuanya tidak berbicara apa pun pada orang lain, termasuk Shaka.
“Lo udah baikan sama si Aya? Romantis banget tadi,” sebuah suara terdengar di luar kamar toilet. Shaka dan David cepat-cepat menyembunyikan bukti yang mereka punya dengan memasukkannya ke dalam saku.
“Iyah, baru kali ini si Aya gak protes sama gue. Dia gak ngomong apa pun sama gue, tapi dia gak nolak waktu gue pasangin decker.” Suara itu milik Dion. Terdengar bahagia karena di ucapkan sambil tersenyum.
"Waah, selamat," timpal remaja lainnya.
Dua orang itu masuk ke dalam toilet dan terlihat kaget saat mendapati Shaka dan David ada di toilet yang sama. Mereka saling bertatapan beberapa saat. Hanya dalam beberapa detik saja hingga kemudian Dion melempar senyum sinis pada Shaka.
“Malam minggu ini gue mau ngajak Aya jalan, udah lama gue gak nonton sama dia.” Dion sengaja mengatakan hal itu di depan Shaka. Dua laki-laki itu sama-sama mencuci tangan di wastafel dan saling bertatapan lewat kaca yang ada dihadapan mereka.
“Iya, gue do’ain lo bisa baikan sama si Aya.” Dewa ikut berbicara dan memandaangi David yang seperti sedang menyelidiknya.
David hanya tersenyum kecil, berdiri di antara Shaka dan Dion lalu cuci tangan. “Kami teman satu kelas, mana mungkin gak deket. Sama lo aja gue deket, iya kan?” timpal David seraya melingkarkan tangannya di bahu Dion.
Dion melirik tidak suka pada tangan David yang melingkar di bahunya. Tatapannya terlihat tajam dan sinis. “Oh, rupanya kita gak sedeket itu ya,” ucap David lagi sekali lalu melepaskan rangkulannya. Dewa hanya terkekeh, sama dengan Shaka yang tersenyum kecil.
“Kelas bahasa inggrisnya udah mau mulai, yuk!” ucap Shaka sekali lalu menepuk bahu David agar segera pergi.
Ia berjalan keluar toilet, tanpa melirik Dion sedikit pun.
“Iya, lo bener. Guru bahasa inggris kita killer kan ya?” David segera menyusul Shaka, merasa sahabatnya ini telah menyelamatkannya.
“Lo udah punya cewek, jangan deketin Aya lagi. Dia punya gue,” ucap Dion sebelum Shaka benar-benar pergi dari hadapannya.
Shaka tidak menimpali, ia memilih pergi dari hadapan siswa tersebut tanpa memperdulikan ucapannya.
__ADS_1
****
Bell istirahat berbunyi, Indah dan Shaka yang lebih dulu keluar kelas sambil berpegangan tangan. Para siswi menatapnya iri, termasuk Rima dan Wanda yang beberapa kali menyorakinya. Sejoli itu keluar dari kelas dengan langkahnya yang santai. Indah bergelayut manja di lengan Shaka dan sesekali menyandarkan kepalanya di lengan kokoh Shaka. Shaka tampak tidak keberatan sama sekali.
“Mereka mesra banget ya Aya,” bisik Rosi yang tiba-tiba ada di samping Gayatri.
Tentu saja Gayatri tidak menimpali, ia bahkan enggan menoleh pada pasangan baru itu. Ia lebih memilih beranjak dengan membawa bukunya.
“Lo gak ke kantin?” tanya Rosi yang menatap Gayatri dengan heran.
Tidak ada sahutan, gadis itu langsung pergi begitu saja dengan arah yang berlainan dengan Shaka. Shaka dan Indah ke kiri, sementara Gayatri ke kanan, menuju perpustakaan.
Di pertengahan jalan ia berpapasan dengan wakil kepala sekolah, laki-laki berkebangsaan Eropa yang meliriknya dengan tatapan tajam. Gayatri segera menepi dan menunduk tanpa berani menatap wajah laki-laki itu. Setelah sang wakil kepala sekolah pergi, barulah Gayatri melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan.
Beberapa buku di ambil Gayatri dari rak yang cukup tinggi. Ia sedikit menjinjitkan kakinya, kesulitan menggapai tampat itu.
“Biar saya bantu,” ucap seorang laki-laki yang Gayatri kenali suaranya. Gadis itu tidak berani menoleh, malah membisu tanpa bergerak sedikit pun.
“Kamu mau belajar ilmu hukum?” lanjut laki-laki yang tidak lain adalah guru BKnya. Ia memberikan buku tentang pengenalan hukum dasar pada Gayatri.
“Buku ini cukup bagus, tapi harus dengan pemahaman yang tepat,” ucap laki-laki itu seraya memberikan buku tersebut pada Gayatri.
Gayatri menerimanya dengan senang hati, lalu bergegas pergi dari kungkungan laki-laki tersebut.
Guru BK itu tidak lagi banyak bicara, ia pun meninggalkan Gayatri setelah memastikan gadis itu duduk anteng di salah satu bangku sambil membaca buku. Suasana perpustakaan yang hening, membuat Gayatri betah berlama-lama di sini. ia membaca buku tentang pengenalan dasar hukum berdasarkan jenisnya.
Untuk mengganjal perutnya yang keroncongan, Gayatri mengeluarkan susu kotak yang ia bawa dalam saku seragamnya. Menusukkan sedotan ke tempatnya lalu menyedotnya hingga rasa manis dan gurih itu terkumpul di mulutnya dan siap di telan.
Matanya terlihat anteng membaca setiap barisan kalimat penjelasan yang mulai terrekam di otaknya. Baru satu bulan ini Gayatri bisa mencerna pelajarannya dengan baik. Tidak terlalu banyak kerumitan yang saling bertubrukan di kepalanya. Apa alasannya, Gayatri pun tidak paham. Yang jelas, perasaannya sekarang lebih tenang.
“Gue udah mulai menata masa depan gue lagi, Sya,” batin Gayatri seolah berbicara dengan sosok Rasya yang hadir di hadapannya. Remaja laki-laki itu menemani Gayatri mempelajari banyak hal. Sepertinya keputusannya sudah bulat untuk belajar tentang hukum dan hubungan internasional
__ADS_1
****