
Cahaya matahari masuk melalui celah jendela sebuah kelas yang tampak hening dan sunyi. Hari ini adalah hari keempat ujian akhir semester. Para siswa menampakkan wajah tegangnya dengan dahi yang berkerut. Tidak ada suara yang terdengar selain detikan jam yang mulai dominan terdengar diseisi ruangan.
Ujian di sekolah ini tetap berjalan sebagaimana mestinya. Guru-guru pun hadir untuk mengawasi jalannya ujian. Sekolah bertaraf internasional ini sekarang di ambil alih sementara oleh pemerintah sampai masalah hukum yang terjadi di sekolah ini selesai di tangani.
Satu per satu jawaban telah Gayatri isi. Dari enam puluh soal, tersisa 33 nomor lagi yang harus ia kerjakan. Gadis itu berusaha mengerjakan secepat mungkin karena ia ingin menghadiri sidang putusan untuk kasus Rasya.
Kalau di lihat dari jadwal sidang, sidang sudah berjalan sekitar satu jam lalu. Mudah-mudahan masih ada kesempatan untuk Gayatri menghadirinya.
Di ruangan yang tertutup rapat itu, tengah di gelar sidang putusan atas kasus Rasya. Dua terdakwa di dampingi oleh pengacara masing-masing tampak serius menyimak tuntutan yang disampaikan jaksa penuntut umum. Banyak point tuntutan yang dibacakan. Sesekali mereka tampak berunding. Tuntutan yang diberikan memang sangat berat yaitu berupa vonis hukuman mati.
Vonis itu adalah vonis yang pertama. Belum lagi tuntutan atas kasus penculikan Gayatri, penyiksaan terhadap saksi dan kasus perdagangan narkoba yang menunjukkan mata rantai yang cukup panjang.
Petualangan kasus hukum Oliver sepertinya tidak akan selesai dalam waktu singkat. Satu per satu kasus tuntutan wajid diselesaikan hingga tuntas. Pengacara Oliver dan Arisman hanya bisa termenung, ia tidak bisa memberikan pembelaan lainnya pada klien mereka. Dua terdakwa ini berada dalam kondisi terpojok yang entah seperti apa harus menyelesaikannya.
“Silakan, kami menunggu pembacaan delik pembelaan dari terdakwa,” ucap hakim memberikan kesempatan.
Sebuah naskah sudah disiapkan oleh Arisman. Ia menatap naskah itu dengan bimbang. Salah satu pembelaan yang akan ia sampaikan adalah tentang posisinya sebagai seorang ayah dan suami dalam keluarga kecilnya. Ia sempatkan untuk menoleh pada anak dan istrinya yang duduk di belakang dan mereka hanya membisu. Tatapan penuh kekecewaan jelas terlihat dari mata keduanya.
Arisman akhirnya menggeleng. Baginya saat ini dirinya tidak ada arti lagi di mata dua orang itu. Untuk apa ia membacakan delik pembelaan?
Naskah itu akhirnya ia taruh di atas meja. Lantas duduk bersandar menunggu putusan hakim.
“Silakan di lanjutkan saja Pak hakim,” ucap Arisman dengan lemah.
“Anda yakin?” tanya hakim sekali lagi.
Arisman mengangguk yakin. “Ya, saya sangat yakin.” Laki-laki itu berujar dengan penuh kesungguhan.
Deby yang mendengar hal itu hanya bisa menghela napasnya dalam lalu membuangnya perlahan. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat menahan getir. Memang sudah tidak ada yang bisa suaminya bela. Kejahatannya tidak bisa dimaafkan.
Meskipun semua ia lakukan untuk sang putri, tetapi apa artinya jika putri kesayangannya itu kini telah tiada. Tidak pernah ada kejahatan yang sebanding terlebih itu sebuah pembunuhan.
Tuhan sangat adil. Di saat Arisman mengakui kesalahannya, di saat itu pula putrinya pergi untuk selamanya. Seolah kepergiannya menunggu pengakuan Arisman, sang ayah yang begitu ia cintai.
Saat itu juga, hakim membacakan putusannya. Oliver dan Arisman sama-sama dijatuhi hukuman seumur hidup. Dan proses sidang untuk kasus kematian Rasya pun menemui ujungnya, namun belum usai untuk tuntutan lainnya.
Seisi ruang sidang di buat riuh dengan keputusan hakim. Mereka cukup puas melihat akhir proses hukum ini. Shaka mendapat banyak ucapan selamat sekaligus belasungkawa dari banyak pihak dan ia bisa melenggang keluar ruangan sidang dengan perasaan lega.
Sebuah deringan telepon terdengar jelas saat Shaka tiba di mulut pintu. Laki-laki itu pun segera menjawabnya. "Siap!" ucap Shaka.
“Sidangnya sudah selesai?” Pertanyaan itu disampaikan oleh Dwi melalui sambungan telepon.
“Siap, sudah.” Shaka menjawab dengan perasaan lega.
“Syukurlah. Saya ikut lega mendengarnya.”
“Siap, terima kasih Dan.”
“Sama-sama Shaka. Ada yang harus saya sampaikan, Shaka.”
“Siap, saya menyimak.” Shaka memang prajurit yang sangat patuh.
Terdengar helaan napas berat dari mulut Dwi, mau tidak mau ia harus menyampaikan hal ini. “Mahkamah konstitusi federal meminta agar pengedar itu di bawa ke Jerman, untuk penyelidikan lebih lanjut terkait sindikat narkoba internasionalnya. Kami sudah mengurus semua administrasi dan legalitasnya. Saya harap, kamu bisa membawanya kemari esok hari.” Begitu yang disampaikan Dwi.
Shaka terdiam sejenak. Hal ini memang sudah ia duga sebelumnya. Kejahatan Oliver adalah kejahatan internasional. Untuk mengungkap kasus lainnya, mereka harus mendapatkan keterangan mendetail dari Oliver. Dan di sana lah semua kejahatan Oliver harus di bedah tuntas.
“Siap, Dan!” Hanya itu sahutan Shaka. Karena ia memang tidak punya pilihan lain.
Tidak ada perbincangan berarti lainnya sampai kemudian panggilan itu di tutup.
“Ada masalah, Bang?” tanya David yang berada tidak jauh dari Shaka.
Shaka segera menoleh dan menggeleng pada dua rekannya. “Bersiaplah, besok kita pulang.” Jawaban Shaka terdengar tegas.
Dua orang itu terdiam tak bergeming. Hanya Alya yang kemudian menoleh Galih yang sedang berbicara dengan beberapa awak media yang bertanya kabarnya. Belakangan ini laki-laki itu sibuk meladeni para fansnya. Apa masih ada kesempatan untuk mereka berbincang?
__ADS_1
Seorang gadis berlari dengan cepat keluar dari kelasnya. Ia segera menuju tempat parkir karena berrencana akan segera pergi ke pengadilan.
Sayangnya, baru saja ia tiba di area parkir, langkahnya harus terhenti saat ternyata sosok Shaka sudah menunggunya di tempat parkir. Tempat biasa ia memarkirkan motornya.
Laki-laki itu segera berdiri saat melihat kedatangan Gayatri. Senyumnya mengembang menyambut sang gadis.
Langkah Gayatri berubah pelan. Tatapannya tidak lepas dari sosok Shaka yang terlihat gagah dengan kemeja rapinya. Rasanya mendebarkan, seperti laki-laki itu datang untuk mengucapkan selamat tinggal.
Kini Gayatri dan Shaka berdiri berhadapan. Mereka bertatapan beberapa saat, lantas Shaka berjongkok di hadapan Gayatri. Ia mengikatkan tali sepatu Gayatri yang terlepas karena terinjak kakinya sendiri saat ia berlari.
Ada perasaan sedih yang Gayatri rasakan saat melihat laki-laki itu mentalikan sepatunya dengan ketat agar tidak lagi terlepas.
“Ujiannya udah selesai?” tanya laki-laki itu seraya kembali berdiri di hadapan Gayatri.
Gayatri mengangguk pelan. “Sidangnya udah selesai juga ya?” Gadis itu balik bertanya.
Shaka balas mengangguk. Ia mengambil helm dan memakaikannya pada Gayatri. “Temenin gue makan mie ayam ya....” pintanya seusai memakaikan helm itu di kepala Gayatri.
Gayatri mengangguk setuju. Ia mengeluarkan jaketnya dari dalam bagasi motor dan segera memakainya.
“Pake motor gue aja,” Shaka menepuk boncengan di motornya.
Gayatri tidak banyak protes. Ia mengikuti Shaka untuk naik ke motor yang dikendarai oleh Shaka, duduk dengan nyaman lalu berpegangan pada sisi kiri dan kanan jaket Shaka.
“Berasa bonceng nenek-nenek dah,” ejek laki-laki itu. Sekali lalu ia menarik tangan Gayatri agar memeluknya dengan erat.
Gayatri hanya tersenyum kecil melihat tingkah Shaka, memang lebih nyaman memeluk Shaka seperti ini. Ia bisa bersandar pada punggung Shaka yang bidang dan lebar ini.
Dalam satu tarikan gas, motor itu melaju meninggalkan sekolah. Shaka sengaja melajukannya pelan saja agar bisa menikmati waktu lebih lama dengan Gayatri. Setiap detik terasa begitu bermakna dan sayang untuk dilewatkan. Semuanya tak akan bisa ia ulang karena itu, ia ingin menikmatinya sekarang.
“Kita mau makan mie ayam di mana?” tanya Gayatri yang kebingungan. Sudah banyak penjaja mie ayam yang mereka lewati, tetapi Shaka masih terus melajukan motornya.
“Nyari yang terjauh.” Begitu sahutan pria tersebut. Lewat kaca spion kanan, Gayatri melihat bibir Shaka yang tersenyum kecil.
“Gak masalah, kemana pun lo mau bawa gue pergi, kali ini gue gak akan protes.” Gayatri menyahuti dengan yakin. Ia semakin nyaman bersandar pada punggung Shaka.
Cukup jauh perjalanan yang mereka tempuh. Saat ini mereka sudah berada di perbatasan jakarta Bogor. Perubahan suhu udara pun jelas terasa berbeda. Laju motor Shaka semakin pelan dan akhirnya benar-benar menepi di sebuah warung mie ayam yang sederhana. Mereka turun dan masuk ke dalam kedai tersebut.
“Masih ada pak?” tanya Shaka kemudian.
“Ada, tapi sawinya dikit lagi. Gak apa-apa?” tanya pedagang tersebut.
“Gak apa-apa Pak,” sahut Shaka.
“Baik, saya buatkan dulu ya. Silakan tunggu di dalam,”
Laki-laki paruh baya itu mempersilakan Shaka dan Gayatri masuk, mengusap meja dan mengambil mangkuk bekas pembeli sebelumnya.
Shaka dan Gayatri duduk di tempat itu. Tempat yang berada di dataran tinggi dan bisa melihat perkebunan teh yang membentang di bawah sana.
“Lo tau dari mana tempat ini?” Gayatri sungguh penasaran, karena ia baru tahu kalau ada tempat senyaman ini meski sangat sederhana.
“Gue juga baru tau. Random aja milih tempatnya.” Aku laki-laki itu sambil tersenyum kecil.
“Ngaco lo.” Gayatri jadi gemas sendiri dengan tingkah Shaka.
“Katanya kalau yang direncanain itu suka gagal, tapi yang dadakan gak pernah gagal. Ini buktinya, kita nemu kedai mie ayam di kasih bonus view yang menarik. Iya kan?” Shaka memang pandai beralasan.
“Hem, bisa, bisa.” Gadis berlesung pipi itu mengangguk-angguk saja sambil menahan senyumnya. Membuat Shaka menatap gadis itu dengan seksama sambil menopang dagunya dengan tangan kanan.
“Kenapa?” Gayatri sadar kalau ia sedang dipandangi. Wajahnya merona kemerahan.
“View indah yang sebenarnya adalah lo,” ucap laki-laki itu dengan sungguh.
“Basi,” Gayatri mengusap wajah Shaka agar berhenti memandanginya, tetapi laki-laki itu malah menangkap tangan Gayatri untuk kemudian ia genggam dengan erat dan ia kecupi.
__ADS_1
“Gue serius,” tegas Shaka.
“Ck! Lo sarapan apa sih sampe aneh begini?” Gayatri berusaha melepaskan genggaman tangan Shaka, karena malu takut orang lain memperhatikan. Tapi laki-laki itu kukuh menggenggamnya.
“Sarapan kangen.” Asal saja laki-laki itu menjawab.
Gayatri sampai terkekeh di buatnya. “Lo belajar gombalan dari mana sih? Payah banget,” ejek gadis tersebut.
“Astaga, itu alami Aya. Gak pake tutor. Lo gak tersentuh gitu?” Shaka terlihat kecewa.
Gayatri hanya mengendikkan bahunya.
Tidak lama, pesanan mie ayam pun datang, membuat Gayatri melepaskan sejenak genggaman tangan Shaka. Pria tua itu menaruh dua mangkuk masing-masing di hadapan sang pembeli. Wangi mienya memang sangat menggoda, apalagi ada ceker ayam yang dijadikan bonus oleh sang penjual.
“Di makan dulu ya... semoga sukaaa....” ucap pria tersebut.
“Makasih pak.” Kompak Gayatri dan Shaka menyahuti.
Laki-laki itu mengangguk sambil tersenyum.
Shaka dan Gayatri mulai menikmati mie ayam di hadapannya. Di tambahkan sauce dan sambal agar terasa nikmat. Tampilannya yang menggoda membuat air liur mereka terasa sudah berkumpul di sudut bibirnya.
Suasana hening beberapa saat, mereka begitu menikmati makanannya. Sesekali Shaka memperhatikan Gayatri yang tampak lahap, sama dengan dirinya. Pipinya yang menggembung membuat Shaka gemas sendiri dan sedikit mencubitnya.
“Eemmm... apaan sih?” keluh Gayatri yang merasa terusik. Shaka hanya tersenyum sekali lalu mengusap kepala Gayatri dengan sayang.
Porsi mie ayam masing-masing telah habis di lahap. Perut keduanya terasa begitu kenyang. Di tambah air teh tawar hangat, membuat tubuh mereka langsung berkeringat. Shaka mengambil selembar tisue lalu ia lap kan ke dahi Gayatri yang berkeringat.
“Thanks,” ujar gadis tersebut.
Shaka hanya tersenyum sambil memandangi wajah Gayatri yang tampak kemerahan karena merasakan pedas. Bibirnya yang sedikit memerah terlihat begitu menarik saat mengerucut untuk menghembuskan napasnya membuang rasa pedas.
“Gimana ujiannya hari ini?” tanya Shaka tiba-tiba.
“Lancaar. Gue pikir, gue akan selesai cepet jadi gue bisa menghadiri sidang. Tapi ternyata, susah juga soalnya. Bikin mumet. Sorry ya, tadi gue gak bisa nemenin lo,” ungkap Gayatri dengan penuh sesal.
“Gak masalah. Gue seneng karena lo tau prioritas lo. Good girl!” ungkap Shaka seraya mengusap kepala Gayatri.
Mereka bertatapan beberapa saat, saling melempar senyum satu sama lain dengan tatapan yang berubah dalam.
“Besok, gue berangkat. Naik pesawat khusus.” Kalimat itu diucapkan Shaka dengan penuh sesal.
“Hem, ok!” sahut Gayatri dengan wajahnya yang berusaha tersenyum meski ada rasa sesak di dada.
“Okey? Cuma okey aja?” Shaka sampai mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Gayatri.
Gadis itu mengangguk. “Apalagi yang bisa gue katakan, eemm hati-hati di jalan. Atau saat di sana jangan lupa makan. Atau... jaga diri lo baik-baik. Apa itu cukup?” Gayatri balas bertanya pada Shaka.
“Lo gak minta gue buat kembali gitu?” Shaka tidak habis pikir dengan cara perpisahan Gayatri. Apa harus seringan itu?
“Kalau gue minta, apa itu gak akan jadi beban buat lo? Apa lo gak akan kesulitan?” Gadis itu menyahuti namun membuat Shaka kesulitan untuk menjawab.
Ya, Shaka tidak lantas menjawab. Ia termenung beberapa saat sambil memandangi hijaunya perkebunan yang diterangi matahari sore.
“Kalau lo minta, pasti akan gue usahakan. Saat ini, gue gak punya tujuan apapun dan kemana pun selain nyelesein misi. Tapi, kalau inget lo, gue jadi ngerasa kalau tujuan hidup gue sekarang bukan cuma tentang misi. Tapi gue juga mimpi. Lo ada di dalamnya.” Shaka berujar dengan sesungguhnya. Tatapannya begitu lekat pada Gayatri, sejuta harapan tertuju agar gadis itu paham akan maksudnya.
Gayatri terdiam mendengar ucapan Shaka yang menusuk sampai ke ulu hatinya. Laki-laki itu meraih tangan Gayatri yang tergeletak di atas meja lalu ia kecup dengan lembut.
“Gue serius Aya, lo mimpi dan harapan baru di hidup gue. Alasan terbesar gue untuk bertahan dan pulang dengan selamat. Karena itu, gue pasti akan pulang. Lo bisa nunggu kan?”
Pertanyaan Shaka sungguh membuat jantung Gayatri berloncatan. Ia baru sadar, kalau Shaka tidak main-main dengan perkataannya.
“Gue akan nunggu. Pastiin lo selamat dalam misi apa pun dan gue bisa liat lo baik-baik aja. Itu yang gue minta sekarang,” ucap Gayatri pada akhirnya.
“Promise,” timpal Shaka dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
Keduanya sama-sama menghembuskan napasnya lega. Di tengah perasaannya yang bergejolak, ada sepasang tangan yang masih saling menggenggam erat. Mereka sama-sama meneguk air teh tawar yang mulai dingin, namun tetap terasa hangat hingga ke jantung hati keduanya.
Senja itu, mereka menatapnya bersamaan sebelum kemudian esok harus berpisah.