
Ada hal baru di pagi hari milik Shaka dan ia begitu menikmatinya, yaitu melihat Gayatri. Seperti tadi pagi, setelah terbangun, yang pertama ia cari adalah Gayatri yang ternyata sedang menyiapkan sarapan di dapur. Entah mengapa ia takut sendiri kalau gadis itu sudah pergi dari rumahnya tanpa pamit. Lebih dari itu, ia mulai takut jika terjadi hal buruk pada gadis unik ini.
Perjalanan menuju sekolah pun terasa berbeda karena Shaka tidak berangkat sendirian. Ada Gayatri yang ia ikuti dari jarak yang cukup dekat dan sesekali ia perhatikan dari spionnya. Gadis itu memang piawai mengendalikan kendaraannya. Meski hoby balapan, tetapi saat berada di jalanan umum, gadis itu tetap mengutamakan keselamatan.
Di depan sebuah zebra cross Gayatri menghentikan laju motornya sejenak, Ia memberi kesempatan anak-anak SD untuk menyebrang lebih dulu. Seorang wanita paruh baya pun ikut menyebrang dengan banyak bawaan di tangannya.
Tidak di duga, gadis itu memilih menepikan dulu motornya lalu turun dan membantu wanita itu menyebrang.
“Wih, nih bocah. Gue kira dia gak se care ini sama orang lain,” gumam Shaka dengan rasa kagum yang mengisi hatinya. Satu sisi terang dari gadis ini kembali ia lihat dan ini merupakan sebuah kejutan.
Setelah membantu wanita itu menyebrang, Gayatri segera kembali ke motornya dan melajukan kembali kendaraan roda dua yang setia mengantarnya ke mana pun. Tidak sampai sepuluh menit mereka sudah berbelok masuk ke gerbang sekolah yang sudah hampir di tutup.
Keterlambatan mereka membuat tempat parkir Shaka dan Gayatri sudah terisi motor lain. Mereka kompak parkir di area lain. Keduanya bergegas turun dan melepas helm sebelum kemudian berlarian menuju kelas bersama siswa lain karena bell sudah berbunyi.
“Rambut lo berantakan,” ucap Shaka seraya merapikan rambut Gayatri yang tergerai. Ia mengusap rambut panjang itu dan Gayatri segera menepisnya.
“Gue bisa rapihin sendiri,” ujarnya dengan cekatan.
“Wuf, okey.” Shaka segera menurunkan kembali tangannya. Sejak kejadian semalam, Gayatri mulai menjaga jarak dengannya. Entah apa alasan gadis ini yang jelas Shaka tidak menyerah untuk mendekat.
Tiba di pintu masuk kelasnya, seorang siswa sudah berdiri di depan kelas dan menuliskan materi tugas titipan dari guru. Katanya hari ini ada rapat guru sehingga jam pelajaran pertama dan kedua mereka di minta belajar sendiri.
Gayatri segera duduk ke tempatnya, mengabaikan tatapan sinis Indah dan teman-temannya. “Mereka datengnya juga barengan. Lo gak curiga?” tanya Rima pada Indah.
“Sialan emang tuh cewek. Liat aja, gue bakalan bikin dia cepet-cepet hancur.” Dengan perasaan kesal, Indah mencoret-coret bukunya tanpa melepaskan tatapan sinisnya dari Gayatri. Ia juga melihat Shaka yang menengadahkan kepalanya dan berbicara dengan gadis itu.
Jelas Indah melihat saat gadis berlesung pipi itu tersenyum kecil dan membuat lesung pipinya terlihat nyata.
“Aya, mau ke perpus?” tanya Rosi yang segera menghampiri Gayatri di bangkunya.
“Ini kan bukan tugas kelompok, emang ngerjainnya harus barengan?” Shaka yang menyahuti lebih dulu.
“Emang kalau bukan tugas kelompok, gak boleh apa belajar bareng?” Rosi mulai pandai protes.
“Ya gak apa-apa sih, cuma mungkin aja Aya lagi mau belajar sendiri,” sahut Shaka seraya melirik Gayatri.
Yang dilirik tidak memperdulikan itu. Ia beranjak dari tempatnya dengan membawa buku-bukunya, berjalan santai keluar kelas. Rosi segera menyusulnya, setelah menjulurkan lidah sebagai bentuk ejekan pada Shaka.
“Yaah, di tinggal lagi,” gumam laki-laki itu dengan malas. Ia ikut beranjak dari tempatnya dan hanya membawa satu buku tulis saja dengan ballpoint yang ia selipkan di saku kemeja seragamnya.
“Mau belajar bareng?” tawar David yang menghampiri Shaka sambil melingkarkan tangannya di bahu Shaka.
__ADS_1
Laki-laki itu hanya mengendikkan bahunya, memang tidak ada pilihan lain.
Di perpustakaan saat ini Gayatri berada. Ia sedang memilih buku yang akan ia pelajari. Mengambil salah satu lalu ia baca sejenak.
“Aya,” panggil seseorang yang tiba-tiba berdiri di samping Gayatri. Gayatri meliriknya sebentar dan ternyata dia adalah Alya. “Waktu gue gak banyak, tapi lo harus tau ini,” bisik Alya seraya menyerahkan ponselnya pada Gayatri.
Gayatri mengernyitkan dahinya saat ternyata ponsel Alya menampilkan sebuah rekaman suara. Gadis itu juga memberinya earphone agar Gayatri mendengarkannya langsung. Tidak ada protesan, Gayatri segera mendengarkan rekaman itu, sementara Alya memperhatikan lingkungan sekelilingnya takut ada yang memperhatikan.
Suara di ponsel Alya, Gayatri dengarkan dengan seksama. Wajahnya tampak serius menyimak suara empat orang wanita di rekaman itu. Selesai mendengarkan rekaman itu, Gayatri tersenyum kecil dalam hati. Ia mengetik nomornya di ponsel Alya, “Kirim rekamannya ke gue,” hanya itu pesan Gayatri yang membuat Alya terhenyak karena ternyata gadis itu berbicara dengannya.
“Akan gue kirim. Cuma lo perlu tau satu hal." Gadis itu berbicara dengan tegas, membuat Gayatri menolehnya. "Gue ngelakuin ini bukan karena gue peduli sama lo, tapi gue berharap, dengan gue ngelakuin ini, lo gak akan ngerepotin Shaka lagi dengan semua masalah lo.” Kalimat peringatan itu yang ternyata diucapkan Alya sebelum pergi, direbutnya ponsel dari tangan Gayatri, tanpa peduli kesediaan Gayatri.
Gayatri tersenyum kelu mendengar ucapan gadis itu. Sepertinya gadis itu tidak rela ia dekat dengan Shaka. Apa jadinya kalau tahu bahwa Gayatri tinggal di rumah lelaki itu?
Tring!
Bunyi pesan terdengar dan pengirimnya nomor yang tidak di kenal. Gayatri segera memeriksanya dan ternyata isi pesan itu rekaman yang tadi didengarnya.
“Jangan libatin gue dalam masalah lo, terlebih Shaka. Udah cukup lo bikin dia pusing sama semua masalah lo. Inget, Shaka deket sama lo cuma karena mau mencari keadilan atas kematian adiknya. Ingat baik-baik kata-kata gue ini dan lakukan ini sebagai bentuk ucapan terima kasih.” Pesan itu juga di kirimkan Alya bersama dengan pesan rekaman itu.
Gayatri tidak membalasnya, ia merasa tidak perlu berjanji apa pun pada gadis ini. Toh Gayatri memang tidak berniat menyulitkan Shaka lagi.
Gayatri iseng membukanya, penasaran juga apa yang dibicarakan teman-temannya. “Nih pengumuman resminya. Hadiahnya 150 juta buat juara pertama. Yakin gak mau pada ikut?” pesan itu dari Dewa. Gayatri segera memeriksa pesan di atasnya dan ternyata ada balapan malam ini dengan hadiah yang cukup besar.
Entah mengapa gadis ini jadi memikirkan balapan itu. Terutama karena hadiah yang ditawarkan itu cukup besar. Bukankah uang itu bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan Galih? Paling tidak Gayatri bisa membayar biaya konsultasi dengan psikiater tanpa harus terus menerus meminta bantuan Shaka.
Lalu, tentang ancaman Indah?
“Lo jual, gue beli Indah,” ucap Gayatri dengan tekadnya yang bulat.
Yakin dengan keputusannya, Gayatri memilih keluar dari perpustakaan, ia perlu waktu untuk berpikir sendirian. Merancang rencana agar usahanya tidak gagal.
Di sebuah bangku yang berada di indoor pool saat ini Gayatri terduduk. Ia mulai mencoret-coret bukunya, membuat rencana untuk malam ini. Bagaimana cara agar ia lolos keluar dari rumahnya dengan membawa motor sang kakak?
“Tapi motor abang remnya bermasalah. Gue gak bisa make motor itu,” gumam Gayatri yang berpikir serius. Ia mencari alternatif lain agar bisa ikut balapan. “Apa gue datangin dia aja?” lanjut gadis itu, seraya mengingat seseorang.
“Lo di sini?” sebuah suara mengagetkan Gayatri. Ia segera menoleh ke arah pintu dan suara itu milik Shaka. “Katanya mau belajar sungguh-sungguh, kenapa malah menyendiri di sini? Mau belajar jadi duyung juga?” laki-laki itu mendekat pada Gayatri yang pura-pura membaca buku di tangannya.
“Bukan urusan lo,” sahut Gayatri dengan ketus. Ia jadi teringat kembali pesan Alya beberapa saat lalu.
Laki-laki itu hanya tersenyum, lalu duduk di samping Gayatri. Ia sengaja mendekat pada Gayatri untuk mengintip materi yang sedang di baca Gayatri.
__ADS_1
“Itu kan materi bulan lalu, masih aja lo baca,” ejek laki-laki itu yang tersenyum kecil.
“Lo apaan sih? Bisa gak sih lo berhenti ganggu gue?” Gayatri mendorong bahu Shaka agar menjauh.
“Gak bisa!” Shaka menjawab dengan cepat. Gayatri sampai terganga mendengar jawaban Shaka yang begitu cepat. “Lo harus tanggung jawab dan gak bisa nyuruh gue pergi,” imbuh laki-laki itu dengan tegas. Ugal-ugalan juga laki-laki ini.
“Tanggung jawab apaan? Emang gue ngapain lo?” Gayatri mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
Tidak di duga, tiba-tiba Shaka malah menyingkirkan tangan Gayatri lalu membaringkan tubuhnya di bangku penonton dengan kedua paha Gayatri sebagai bantalnya. Mata elangnya menatap Gayatri dari bawah. Lihat wajah gadis yang Shock dengan tingkah Shaka.
“Pijitin kepala gue, gue pusing gara-gara muka lo muter-muter mulu di dalem sini.” Shaka menunjuk kepalanya sendiri lalu bersidekap. “Lo juga bikin gue kepanasan semaleman, sampe gak bisa tidur, padahal gue gak lagi demam,” imbuh laki-laki itu dengan serius.
“Hah? Lo gak salah ngomong?” Gayatri bertanya dengan tidak mengerti.
“Jangan menyulitkan gue Aya, bantu gue dikit aja.” Shaka meraih tangan kanan Gayatri dan menaruhnya di atas dahinya. Sementara matanya terpejam menunggu gadis itu memijat kepalanya.
“Ck! Kenapa lo minta gue yang mijitin? Mending si Alya. Kayaknya di bakalan sukarela tuh,” hanya gumaman kecil yang keluar dari mulut Gayatri, tetapi Shaka mendengarnya.
“Si Alya? Apa hubungannya?”
“Mana gue tau. Yang harusnya tau kan kalian berdua.” Jemari Gayatri mendadak memijat kepala Shaka, dengan lumayan keras. Seperti ada kekesalan dalam hatinya.
“Iyaa, enak kayak gitu. Cukup segitu Ya, jangan di lepas. Gue mau tidur bentar aja.” Laki-laki itu malah menikmatinya.
Kesal sekali rasanya hati Gayatri, ia memberikan pijatan lebih keras di kepala Shaka tetapi laki-laki itu malah tersenyum tanpa membuka matanya.
“Seperti yang gue bilang semalam, gue suka hidup sendirian, tanpa melibatkan orang lain dan cuma lo yang jadi pengecualian. Apa cukup dipahami?” tanya laki-laki itu dengan penuh kesungguhan.
Gayatri tidak menimpali, hanya helaan napasnya saja yang terdengar dalam dan membuat Shaka membuka matanya sejenak untuk menatap netra bening sang gadis yang ia rindukan.
“Lo tetep terlihat menarik walau pun gue liat dari bawah,” gumam laki-laki itu dengan tatapannya yang hangat.
Jantung Gayatri seperti di sengat listrik jutaan volt yang membuatnya berdetak sangat kencang hanya karena tingkah random Shaka. Cepat-cepat gadis itu menutup wajahnya dengan buku agar Shaka tidak memandanginya.
Andai Shaka tahu, wajah Gayatri memerah seperti tomat matang. Berulang kali gadis itu menghembuskan napasnya pelan-pelan, untuk menetralisir perasaannya sendiri. Laki-laki ini benar-benar menjadi ujian terberatnya.
"Plis deh Shaka, anak orang jangan dibaperin kalau gak di pacarin,"
Gais, ada yang mau ikut aku ke mars?
***
__ADS_1