
“Gue udah diizinin masuk kelompok kalian.” Sebaris pesan itu yang dikirim Shaka di dalam grupnya.
Rosi yang sedang mempotret materi di grup sebelah pun segera membaca pesan itu. “Hah, kok bisa?” ketik Rosi, setengah tidak percaya. “Terus yang keluar dari grupku siapa?” ia menambahkan kalimat tanya itu.
“Gue kok pindah kelompok ya?” cetus Alya tiba-tiba.
Rosi yang sedang menunggu balasan Shaka pun segera menoleh. Ternyata gadis di hadapannya yang pindah grup ke grup Indah. Gayatri pun ikut menoleh pada Alya.
“Lo tau dari mana?” David yang ikut terkejut pun segera bertanya.
“Nih, di invite ke grup cantika manual, eh apa sih? Oh Chan-ti-xa Mhan-Thu-Li-Thi.” Alya sampai mengeja persuku kata nama grupnya. “Astaga, susah banget namanya,” keluh Chantika. Eh maksudnya Alya. Duh Otor jadi eror.
“Sama siapa?” David ikut mengintip.
“Nih,” Alya menujukkan layar ponselnya pada David. Sebenarnya menyenangkan untuk Alya, karena di grup barunya ia tidak harus binggung masalah komunikasi. Ketiga temannya normal, malah lebih dari normal, mereka sangat berisik dan aktif.
“Wiihh, katanya itu genk pick me kelas kita. Yang duduknya di pojokan sama suka pake bando. Ketua genknya penyuka warna pink. Hebat kamu, masuk genk mereka,” David bertepuk tangan dengan senyumnya yang kaku.
“Emang harus bangga ya?" Alya tersenyum kecut. Feelingnya malah tidak bagus pindah ke kelompok itu.
"Haruslah, lo bakal ikut populer," David menepuk bahu Alya dengan bangga.
Alya menghembuskan napasnya kasar, karena sepertinya tidak punya pilihan lain. "Gue pindah dulu ya… izin leave temen-temen… permisi….” Pamit Alya seraya memudurkan kursinya dengan kakinya lalu berdiri dan mengangguk sopan pada Rosi dan Gayatri lantas pergi begitu saja.
“Dadah Alya….” David melambaikan tangannya pada Alya yang pergi dengan semangat. Tidak masalah sebenarnya, yang penting ia tetap satu kelompok dengan Gayatri. “Jadi, satu lagi siapa?” tanya David kemudian.
Rosi menoleh Gayatri yang tampak biasa saja, air mukanya tidak berubah sedikit pun. Lalu kembali menatap David. “Nanti juga lo tau,” ujarnya dengan senyum kecil.
David hanya mengangguk saja, “Okey lah,” ucapnya dan kembali membaca buku.
“Keren kan gue?” tanya Shaka di dalam grup.
“Hebat Shakaa!! Gimana caranya bisa pindah kelompok dengan mudah? Bu Ima galak loh… kok kamu bisa bujuk dia?” Rosi bertanya dengan penasaran.
“Pengen banget Aya yang nanya,” balas Shaka dengan emoticon berbinar-binar.
__ADS_1
Rosi menoleh Gayatri dan gadis tidak terusik sama sekali, masih berdiri mematung di depan rak buku, asyik dengan buku bacaannya.
“Aya gak pegang hape. Hapenya di saku.” Begitu bunyi balasan Rosi.
“Okey, kalau gitu nunggu Aya pegang hape aja,” balas Shaka tanpa kompromi. Ia tidak peduli sekali pada rasa penasaran Rosi.
"Aku bubarin grup yang tadi aku bikin ya, nanti aku invite kamu ke satunya," ucap Rosi pada David.
"SHIAP!!!" David melakukan hormat singkat pada gadis dihadapannya. Rosi hanya melempar senyum, kalau diperhatikan, David sering memandangi Gayatri dengan tatapan kagum, tetapi gadis itu hanya terdiam.
Di kamarnya Shaka malah membaringkan tubuhnya sambil memandangi layar ponsel di tangannya. Ia masih senang sendiri karena berhasil membujuk guru Geography-nya yang terkenal killer. Ia baca ulang pesan yang ia kirim ke gurunya.
“Selamat pagi Bu, perkenalkan saya Shaka Praditya, murid ibu di kelas XII IPS 1,” tulis Shaka di lengkapi dengan PAP (foto) dirinya yang tersenyum sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
“Mohon maaf ya Bu, karena kekhilafan saya, saya melewatkan kelas yang sangat penting. Padahal saya sangat menyukai materi Geography. Terutama materi tentang ‘pola keruangan kota, termasuk ciri-ciri & strukturnya.' Sebagai permintaan maaf, ada sedikit hadiah dari saya untuk ibu. Mohon di terima dengan tulus ya Bu,” ini kalimat manis Shaka berikutnya.
“Siang Shaka. Ini dari kamu ya?” Bu Ima membalas dengan menyertakan foto bucket bunga yang di kirimkan Shaka. Ia memesannya dari toko bunga terdekat dengan sekolahnya.
“Wah rupanya sudah sampai. Mohon maaf, hanya itu yang bisa saya kasih ya bu….” balas Shaka.
“Ibu sangat baik, sederhana dan bersahaja. Wanita jaman sekarang biasanya matre, Sukanya bunga bank. Respect, ibu yang terbaik.” Begitu kalimat balasan Shaka.
“Hehehehe… kamu bisa aja.” wajah Bu Ima langsung merona di sebrang sana. Baru sekarang lagi ia di puji oleh seorang laki-laki dan anak ingusan.
“Makasih ya Shaka, kamu sebenarnya anak yang baik. Cuma ya keputusan kepala sekolah memang gak bisa di ganggu gugat. Semoga di jadwal pelajaran berikutnya, kamu bisa join kelas saya ya… ngomong-ngomong, gimana, bisa kamu ngerjain tugasnya?” Bu Ima mulai memberikan perhatian karena merasa tersentuh dengan sikap siswanya yang manis.
“Saya agak kesulitan Bu. Saya sepertinya tidak bisa berbaur dengan teman yang lebih suka membahas masalah kosmetik di banding masalah konsep kota yang artistic. Jika berkenan, saya ingin dimasukkan ke grup yang memiliki siswa berprestasi, supaya saya bisa terbawa vibes positif mereka. Semisal grupnya Gayatri, salah satu siswi terbaik.” Panjang lebar Shaka membujuk gurunya.
“Ya ampun, niatan kamu sangat bagus. Okey, nanti kamu ibu masukkan ke grup Gayatri ya. Bertukar dengan siswa lain. Inget, belajar yang rajin ya….”
Saat itu juga Shaka langsung terlonjak girang. “YES!!! YES!! YES!!!” serunya berulang kali. Seperti anak kecil ia melompat-lompat di atas kasurnya. Karena itulah ia segera memberitahu kelompoknya.
Namun hingga saat ini, Shaka masih harus menunggu. Sepertinya Gayatri masih belajar, belum ada tanda-tanda gadis itu memainkan ponselnya dan mengecek pesan di grup. Online terakhirnya saja saat ia bilang akan mengkick Shaka. Memang gadis itu sangat abai pada segala macam bentuk komunikasi dan medianya.
"Seneng dikit ke Ya, gue masuk ke grup lo lagi," batin Shaka.
__ADS_1
HATCHU!!!
Tau dong, siapa yang bersin.
*****
Hingga sabtu pagi, Gayatri masih belum bertanya apa pun di grupnya. Di grup itu cukup ramai setelah kedatangan anggota baru yang tidak lain adalah David. Hingga saat ini, Shaka belum tahu kalau David yang paling berisik itu adalah juniornya. Tidak merasa tertarik, Shaka pun akhirnya mengabaikan ponselnya begitu saja. Sepertinya Gayatri baru akan menggunakan ponselnya di hari sekolah berikutnya.
“Mau ke mana?” tanya Mira saat melihat Gayatri membawa keranjang besar. Ia memperhatikan Gayatri yang sedari pagi tidak diam. Ia sibuk membereskan kamarnya, lalu ruang tamu yang tidak terlalu luas itu hingga mengambil keranjang untuk cucian.
“Udah, lo kecapekan nanti. Istirahat dulu aja.” Mira mengambil alih kerajang dari tangan Gayatri. Sudah cukup ia melihat Gayatri membereskan semuanya, seperti bola bekel yang tidak bisa diam. Tubuhnya berkeringat, bajunya juga lusuh di tambah dengan rambut yang berantakan. Ia khawatir maniak Gayatri kambuh, gila kerja sebagai efek samping dari meminum obat anti depresannya.
Seperti biasa, Gayatri tidak menimpali. Gadis itu masuk ke kamar dan melanjutkan untuk menyapu kolong ranjangnya. Mira sadar benar, kalau putrinya sedang kesulitan mengendalikan dirinya.
“Terserah kalau lo masih mau beres-beres. Asal jangan pergi ke mana-mana ya, di rumah aja. Siapa tau lo bisa ngubah keramik buluk ini jadi marmer,” ucap Mira pada akhirnya.
Tidak ada tanggapan dari Gayatri, ia masih sibuk menyapu kamarnya. Ponselnya yang terus berdering memberi notifikasi pesan masuk pun tidak ia tanggapi. Mira hanya menghembuskan napasnya kasar, setelah memastikan Gayatri hanya asyik bekerja dan tidak berkeliaran, ia memutuskan untuk kembali ke kedai sotonya.
Para pelanggan sudah menunggunya, untuk memesan soto sebagai lauk sarapan pagi. Di hari libur kedainya memang buka lebih pagi. Itu mengapa wanita ini cukup kerepotan.
“Jangan lupa makan, ada goreng ayam kesukaan lo.” kalimat itu menjadi kalimat terakhir yang Mira ucapkan sebelum kembali ke kedainya.
Gayatri masih setia dengan sapu di tangannya. Bagian kamar sudah ia sapu dengan bersih dan rapi. Luas kamar yang hanya berukuran 3x3 meter ini cukup memeras keringat Gayatri saat dibersihkan. Mira benar, ini efek obat yang Gayatri minum. Gadis ini tidak bisa berhenti bekerja karena hal ini dirasa sebagai cara yang tepat untuk mengungkapkan euphoria dalam dirinya.
Selesai dengan kamar, Gayatri berpindah ke ruang tamu. Semuanya ia sapu lalu ia pel. Lima lebas menit waktu yang Gayatri gunakan untuk membersihkan ruang tamu hingga mengkilap. Lanjut ke ruang makan serta dapur yang memerlukan waktu yang lebih lama. Jam 10 pagi, Gayatri berpindah ke beranda belakang. Kali ini ia menyapu dengan pelan. Tidak semua area, ia menghindari area tempat teronggoknya sebuah sepeda motor sport yang sudah satu bulan ini ada di sana.
“Ngapain lo Ya?” tanya Barkah yang melihat anak gadisnya termenung sambil memandangi motor tersebut.
Gayatri tidak menjawab, hanya matanya saja yang menatap sendu sepeda motor itu. Barkah yang menyadari ekspresi Gayatri pun segera mengambil alih sapu di tangan putrinya.
“Lo masuk gih, badan lo udah basah sama keringet. Mandi dulu biar seger,” ucap laki-laki itu. ia memegangi kedua bahu Gayatri dan mendorong gadis itu hingga sampai di kamarnya. Ia tidak mau Gayatri memandangi motor itu terlalu lama dan lekat. Khawatir hati gadis itu kembali sedih.
“Mandi yah, nanti temenin bapak ke pasar. Ada bahan yang habis,” imbuh Barkah.
Gayatri tidak menyahuti, gadis itu mengambil handuknya dan segera masuk ke kamar mandi. Ia memang perlu waktu untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya.
__ADS_1
****