Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
jejak 2


__ADS_3

Shaka segera mengambil spesimen yang terserap permukaan kayu itu untuk ia periksa. Ia juga memperhatikan permukaan tanah di bawah kakinya untuk melihat apa ada jejak yang tertinggal. Tetapi tidak ada jejak apa pun di sana. Mungkin karena permukaan tanah di area tersebut tidak terlindungi oleh atap bangunan.


"Aya, pindah ke sini," ucap Shaka saat ia melihat sesuatu di dinding.


Gayatri segera berpindah, berdiri di belakang Shaka yang membungkuk untuk melihat sesuatu yang menyerupai lubang. Shaka mengetuk-ngetuk area itu dan ternyata itu merupakan sebuah lubang yang di tambal oleh triplek. Sepertinya belum lama terpasang karena pakunya pun belum berkarat.


Shaka memutuskan untuk menarik triplek itu dan melepasnya, terlihatlah lubang berbentuk persegi yang dijejali karung goni. Di karung goni itu juga ada noda kehitaman yang berbentuk telapak tangan. Shaka segera mengeluarkan cutter dari dalam tasnya dan memotong area tersebut. Cukup sulit karena karung goninya cukup tebal.


Setelah berhasil terpotong, Shaka segera memeriksa noda hitam itu, mengendusnya, tanpa menyentuhnya. "Ini darah," gumam laki-laki itu.


Dengan sekuat tenaga Shaka menarik karung itu keluar dan ternyata lubang itu cukup besar dan bisa di lewati. Shaka mencoba masuk melalui lubang itu dan ternyata muat.


“Shaka, lo ngapain?” tanya Gayatri sambil melongo ke dalam. Memperhatikan laki-laki yang mematung di antara karung goni berisi kulit singkong.


“Gue rasa Rasya kabur lewat lubang ini. Tapi seseorang udah menutup kembali lubang ini pake karung goni. Itu artinya, setelah Rasya keluar, “ Shaka keluar lagi melalui lubang itu, membuat Gayatri mundur beberapa langkah.


“Lalu seseorang nyerang dia di sini." Shaka menjatuhkan tubuhnya bersandar ke dinding seolah ia adalah Rasya yang diserang oleh pembunuh itu. "Orang itu adalah orang yang sama dengan yang Rasya lihat di jendela,” imbuh Shaka seraya memejamkan matanya. Membayangkan bagaimana orang itu menyerang Rasya.


"Apa noda di kayu ini juga darah Rasya saat dia bersandar ke dinding?" tanya Gayatri.


"Bisa jadi. Gue harus periksa ini," timpal Shaka seraya membuka kembali matanya.


Setelah memeriksa area tersebut, Shaka berjalan menyusuri jalan setapak yang terjal. Ia meyakini kalau Rasya lari setelah mendapat serangan. Itu mengapa Gayatri bilang Rasya berlari sambil tergopoh-gopoh. Saat di sebuah dataran yang lebih tinggi Shaka berhenti.

__ADS_1


"Lo di sebelah mana waktu liat ada yang lari?" tanya laki-laki itu pada Gayatri.


"Di deket pohon itu. Tunggu sebentar," Gayatri segera berlari menuju pohon besar tempat dulu ia bersembunyi. Bulu kuduknya langsung meremang saat ia mencoba mengingat kembali kejadian malam itu.


Jarak Gayatri dan Shaka lumayan jauh, tetapi ini posisi yang tepat dengan saat ia melihat bayangan Rasya. Gayatri mengingat benar saat itu Rasya berlari lalu berhenti di bawah lampu jalan. Jaraknya sekitar delapan sampai sembilan meter karena ia masih bisa melihat bayangan Rasya dengan jelas dari tempatnya.


"Lo lari ke sana, ke bawah lampu jalan!" seru Gayatri. Shaka menurut saja, ia berlari sesuai arahan Gayatri dan saat itu juga Gayatri seperti melihat Rasya yang berlari dari kejaran Galih.


"Akh sial!" dengus Gayatri saat ia melihat Shaka berada persis di bawah lampu jalan, posisi yang sama dengan Rasya saat laki-laki itu di cengkram kerah bajunya oleh Galih. Seketika, Gayatri seperti masuk kembali ke keadaan di malam itu. Suasana hening yang gelap juga mencekam. Gadis itu terhuyung lemas karena seperti sedang melihat lagi Rasya yang meninggal di depan matanya.


Memori ketika Rasya menyemburkan darah ke wajah Galih kembali muncul di benaknya dan itu membuat Gayatri lemas. Karena saat itulah ia terakhir kali melihat Rasya berdiri kokoh.


Gayatri jatuh bersandar pada batang pohon besar itu. Semuanya seperti berulang di rongga kepalanya dan tidak mau pergi. Bayangan Rasya jatuh bersimbah darah juga kembali tergambar membuat Gayatri pusing, kepalanya sakit. Tidak hanya itu, dadanya juga terasa sesak.


"Astaga! Dia kenapa?" Shaka segera menghampiri Gayatri yang melorot hingga jatuh terduduk di tanah. Gadis itu terduduk lesu di tanah sambil memegangi kepalanya.


Shaka mempercepat langkahnya untuk menghampirinya. "Hey! Lo gak apa-apa?" tanya Shaka seraya memgcengkram kedua bahu Gayatri. Sayangnya gadis itu tidak bergeming. Wajahnya begitu pucat dan ketakutan.


"Aya, gue ada di sini. Lo gak usah takut," ucap Shaka seraya menarik tubuh Gayatri ke pelukannya. Tubuh gadis itu gemetar ketakutan.


"Shaka, gue liat Rasya ambruk, gue liat dia kesakitan dan gue liat dia pergi dari hidup gue, tapi gue gak bisa berbuat apa-apa. Gue gak nolong dia di saat dia butuh gue. Gue," kalimat dengan suara bergetar milik Gayatri itu terhenti. Semua yang berulang di kepalanya seperti hukuman atas sikap pengecutnya.


Hanya air matanya yang menetes di sertai rasa sesak yang mengisi rongga dadanya. Jika saja malam itu ia berlari menghampiri Rasya dan Galih, apa semuanya akan berbeda?

__ADS_1


"Ssttt.... kendalikan diri lo Aya. Kita ngelakuin ini buat Rasya dan abang lo. Lo harus bertahan. Semua yang terjadi sama Rasya bukan gara-gara lo." Shaka berusaha menenangkan gadis itu. Ia mengeratkan pelukannya pada Gayatri.


"Gue gak ngebunuh Rasya, tapi karena gue dia terbunuh," tutur Gayatri dengan tangis tertahan.


"Heeyy.... bukan gara-gara lo." Shaka segera melepaskan pelukannya. Ia menangkup kedua sisi wajah Gayatri yang kemudian ia tatap matanya dengan lekat. "Kematian Rasya bukan salah lo. Ingat, bukan abang lo yang bunuh dia dan saat ini kita lagi nyari pembunuhnya. Okey," Shaka berusaha meyakinkan gadis berwajah pucat itu.


Gayatri terangguk meski ia masih merasa ketakutan.


"Sekarang lo ingat baik-baik, apa yang terjadi setelah itu?" tanya Shaka pada gadis tersebut.


Gayatri terdiam, ia berusaha menenangkan pikirannya. "Gak sampai dua menit, tubuh Rasya ambruk. Tangan Galih dipegangi erat sama Rasya sampai tubuhnya tergelatak di tanah. Gak lama dari situ, ada teriakan 'PEMBUNUHAN'" Gayatri menjeda kalimatnya.


"Lo inget siapa yang teriak?" tanya Shaka. "Ingat pelan-pelan Aya," bujuk Shaka sambil tetap menangkup wajah Gayatri.


Gayatri menoleh ke sebelah kanan, Ia ingat persis suara itu berasal dari sebelah kanan dirinya. "Suara itu berasal dari sebelah kanan. Tapi gue gak liat orangnya. Karena semuanya gelap Shaka," ungkap Gayatri.


Shaka melepaskan tangkupannya, ia melihat ke sekeliling tempat ini. Ada pohon berukuran sedang di tepian jalan. "Tungggu di sini," ucap Shaka dan berlari ke pohon itu lalu berdiri di depan pohon itu, tanpa terlihat oleh Gayatri.


"PEMBUNUHAN!" seru Shaka.


Gayatri langsung terhenyak, benar, asal suara itu dari sana. Persis dari tempat Shaka. Laki-laki iitu keluar dari tempat persembunyiannya, "Apa persis gitu Aya?" seru Shaka dari tempatnya.


Gayatri terangguk pelan. Perlahan ia melangkahkan kakinya dari tempatnya untuk menghamoiri Shaka.

__ADS_1


__ADS_2