Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Pagi yang baru


__ADS_3

Semalaman penuh waktu Shaka dihabiskan di kantor intelegent. Ia tengah membahas mengenai penangkapan Oliver dan antek-anteknya. Semua temuan Shaka mengarah pada sebuah sindikat rantai perdagangan narkoba internasional untuk mendanai aksi t3r0r1sme di beberapa negara.


Shaka mendapat apresiasi baik atas semua kerja kerasnya. Saat ini intelegent tengah melakukan pendalaman penyelidikan lebih lanjut terkait masalah ini. Beragam cara mereka lakukan untuk mengidentifikasi semua pelaku yang masuk ke dalam jaringan ini.


Mereka mulai mengatur siasat untuk menangkap para pelaku. Pelaku tergolong lihai, mereka masuk ke organisasi-organisasi tertentu dan menjadikannya markas untuk bersembunyi dan mengatur distribusi dari sana.


Seperti halnya sekolah berstandar internasional yang dimasuki Shaka. Sekolah itu ternyata mulai di susupi anggota sindikat sekitar empat bulan lalu. Kepala sekolah yang semula hanya pemakai, mulai kecanduan.


Usahanya untuk memenuhi keinginan mengkonsumsi obat-obatan terlarang itu, membuat ia memutuskan menerima tawaran Arisman untuk menjadikan sekolah ini sebagai markas tersembunyi yang mengatur distribusi.


Berkedok pemesanan buku untuk para siswanya, kepala sekolah menggunakan mekanisme tersebut sebagai proses distribusi obat-obatan. Dari laptop kepala sekolah yang digeledah Shaka, ditemukan banyak rencana distribusi yang ia buat.


Buku-buku itu di lubangi di bagian tengah dengan sampul yang dibuat utuh tertutup rapat lalu mereka bungkus kembali dengan plastik.


Badan intelegent juga segera mengutus orang untuk memeriksa beberapa pelabuhan. Ada kontainer yang siap mendistribusikan buku tersebut ke beberapa daerah.


"Jaringan mereka sangat rapi. Sebuah kebetulan yang tidak terduga ketika korban yang terbunuh bisa mengetahui adanya transaksi di sekolah tersebut." Begitu yang dikatakan kepala Badan Intelegent yang memimpin rapat malam ini.


"Korban adalah adik saya, Dan. Saya meminta izin untuk membuka kembali kasus pembunuhan ini. Saya ingin memperjuangkan keadilan untuk adik saya dan orang-orang yang telah di jadikan kambing hitam dalam kasus ini."


Shaka menimpali dengan penuh keyakinan. Ia bertekad untuk menyelesaikan kasus kematian Rasya.


"Saya persilakan. Kami akan bantu jika ada yang diperlukan."


"Siap, terima kasih." Shaka bisa menghembuskan napasnya lega. Akhirnya keadilan untuk Rasya sudah di depan mata. Banyak bukti yang sudah ia siapkan, salah satunya adalah keterangan dari Dion.


Pagi itu, Shaka segera mendatangi kantor polisi untuk mengajukan penyelidikan ulang atas kematian Rasya. Kepala kepolisian di buat terkejut saat ternyata korban adalah adik dari seorang agent internasional.


Saat itu juga kasus Rasya segera di buka kembali. Berkasnya sudah ada di atas meja kepala kepolisian dan siap di periksa ulang hari ini.


Setelah selesai dengan semua pekerjaan itu, mengendarai sepeda motor milik Gayatri, Shaka kembali ke rumah sakit. Rasa lelah di tubuhnya tidak lagi ia hiraukan. Dalam perjalanan menuju rumah sakit ia sempatkan untuk membeli bunga untuk seseorang yang dikabarkan sudah siuman. Sungguh, kabar baik ini menjadi obat untuk rasa lelah Shaka.

__ADS_1


Sebucket bunga lili yang saat ini ada di tangan Shaka. Shaka hirup wangi bunga itu dengan lembut sambil membayangkan wajah sang gadis yang akan menerimanya. Tidak lama waktu yang Shaka habiskan di tempat ini, ia bergegas berangkat ke rumah sakit.


Di ruang perawatannya, Gayatri sedang dilakukan pemeriksaan. Dokter yang semalam mengoperasinya kini sedang memeriksa progres kondisinya.


Sebuah stetoscope di tempelkan di dada kiri dan kanan Gayatri secara bergantian. Gadis itu di minta untuk menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya dokter tersebut. Ini pemeriksaan pertama yang dilakukan dokter setelah gadis ini kembali ke ruangan.


"Sudah lebih baik. Hanya bekas lukanya saja yang mulai terasa nyeri," aku Gayatri dengan sesungguhnya.


"Baik, itu hal yang wajar karena efek anastesinya sudah hilang. Nanti akan diberikan obat pereda nyeri lewat infusan, dosisnya akan diturunkan bertahap dan nanti bisa di ganti dengan obat anti nyeri oral. Saya izin periksa lukanya ya,"


"Silakan dok,"


Dokter mulai memeriksa luka jahitan Gayatri, hanya dari permukaan saja karena luka belum boleh di buka. Menekan-nekan area dadanya perlahan dan sesekali Gayatri tampak meringis.


"Lukanya bagus, tidak ada darah yang merembes. Mulai besok pagi, luka akan mulai dibersihkan secara teratur, di bantu oleh perawat. Ibu boleh belajar, jadi nanti saat di rumah, bisa mengurus lukanya sendiri." Dokter juga berbicara pada Mira.


"Bising ususnya sudah normal, boleh makan bertahap yaaa... Belajar duduk juga supaya ada gerakan."


"Baik, Dok." Gayatri menyanggupi.


Pemeriksaan dokter telah selesai. Dokter telah keluar dari ruangan, hanya tersisa Gayatri dan kedua orang tuanya serta Galih.


"Anak Enyak mah hebat. Sembuhnya cepet. Mau makan sekarang Neng?" tawar Mira seraya duduk di samping ranjang Gayatri.


"Aya mau duduk Nyak," pinta Gayatri.


"Biar Babeh bantu." Barkah begitu sigap.


"Pegangan sama gue," Galih tidak kalah sigap. Dua laki-laki itu mengulurkan tangannya pada Gayatri di sisi kiri dan kanan, membuat gadis itu menatap kedua tangan dengan bingung.

__ADS_1


"Okey," Gayatri akhirnya berpegangan pada dua tangan itu dan perlahan bangun untuk sedikit duduk sambil meringis. Ia menghembuskan napasnya perlahan setelah tadi ia tahan beberapa saat.


"Mau minum?" tawar Galih. Laki-laki itu sudah mengambil botol minum untuk Gayatri.


"Boleh," sahut sang adik. Ia menatap wajah Galih yang terlihat merasa bersalah. Di ambilnya botol minum itu dari Galih lalu ia minum menggunakan sedotan sambil tetap memandangi Galih.


Air minum itu habis seperlimanya. Dirasa cukup untuk membasahi tenggorokannya. "Lo gak pengen meluk gue gitu? Gue udah sadar loh, dan gue baik-baik aja."


Tanpa menjawab, Galih segera memeluk Gayatri. Hati-hati sekali takut sang adik kesakitan. Susah payah ia menahan air matanya, mengingat ketakutannya membayangkan mungkin Gayatri akan pergi.


"Hah, lo masih cengeng aja. Padahal semalem lo keren banget." Gayatri menggoda sang kakak dan Galih hanya tersenyum. Ia melepaskan pelukannya dan menatap Gayatri dengan lekat.


"Gue seneng lo baik-baik aja. Gue bener-bener takut semalam," ungkap laki-laki itu.


"Udah tau gue baik-baik aja, masih aja lo mewek." Tangan Gayatri terulur untuk mengusap air mata sang kakak.


"Itu karena abang lo seneng banget. Iya kan tong?" Barkah menepuk bahu putranya dan Galih hanya mengangguk sambil menekan kedua sudut matanya agar air matanya berakhir. Ia tersenyum saat Gayatri menatapnya.


"Udah, adek lo udah baik-baik aja. Pergi cari sarapan gih, kalian kan gak makan dari semalem," ucap Mira.


"Iya bener juga. Ayo kita isi perut, biar gak ada yang sakit. Sehat itu salah satu modal kita sekarang. hem?" ucap Barkah seraya menepuk bahu Galih. galih hanya mengangguk setuju.


"Gue ke depan dulu," pamit Galih seraya mengusap kepala Gayatri.


"Hem. Gue nitip permen kaki," canda Gayatri.


"Gak ada permen kaki-kakian. lo makan yang ada di sini aja," timpal Galih seraya menyentil dahi Gayatri.


Gadis itu hanya terkekeh kemudian meringis karena lukanya terasa sakit.


"Makanya diem dulu, ah elah...." Mira akhirnya kesal, kesabaran wanita itu memang hanya setipis tisue di bagi 4. Tapi kebahagiaannya sebesar dunia di kali empat. Bahagia karena bisa berkumpul lagi dengan keluarganya.

__ADS_1


****


__ADS_2