Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Kerinduan


__ADS_3

“Keluarga Galih Pradana?” panggil seorang wanita berpakaian serba putih yang muncul dari pintu ruang jenguk.


“Ya, saya,” Gayatri segera berdiri. Ia menghampiri perawat yang bertugas mendampingi Galih. “Apa saya bisa bertemu dengan kakak saya, Sus?” tanya Gayatri dengan penuh harap.


“Silakan. Hanya saja, bantu kami untuk tidak menimbulkan hal yang membuat pasien gelisah. Karena baru dua hari ini kondisinya stabil,” pesan perawat.


“Baik, saya akan berusaha,” timpal Gayatri dengan tekad yang bulat.


Jantungnya sudah berdebar sangat kencang, membayangkan seperti apa sosok Galih saat ini. Beberapa kali ia datang untuk menjenguknya, tetapi Gayatri tidak pernah bisa bertemu langsung. Terkadang hanya bisa memandangi dari balik jendela dengan tralis besi saja karena laki-laki itu lebih betah berbaring di atas ranjangnya. Depresi dan halusinasi, dua diagnosa itu yang menjadi pemberat Skizofrenia yang dialami Galih.


“Silakan, sebelah sini.” Perawat itu menunjukkan jalan untuk Gayatri dan Shaka. Dua orang itu pun masuk ke dalam ruangan tersebut.


Dari kejauhan, Gayatri melihat sosok Galih dengan rambutnya yang gondrong dan tubuhnya yang kurus, duduk terbungkuk di sebuah bangku panjang. Laki-laki itu termenung saja, dengan isi pikiran yang tidak pernah bisa di tebak.


Gayatri menghela napasnya dalam sebelum menemui Galih. Ia harus menahan perasaannya yang bergejolak. Dada sudah lebih dulu sesak menahan sedih dan rindu yang bercampur menjadi satu. Shaka membiarkan Gayatri berjalan lebih dulu di depannya, sementara ia masih memperhatikan dari kejauhan, membaca kondisi jika mungkin Galih tidak bisa menerima kedatangan Gayatri dan dirinya.


“Abang,” panggil Gayatri yang duduk berhadapan dengan sosok Galih. Mereka hanya terhalang sebuah meja kayu berwarna putih.


Laki-laki itu tidak merespon, masih tertunduk menyembunyikan wajahnya di balik rambut gondrongnya yang tidak terikat. Entah ia tidak mendengar atau pikirannya memang tidak di sini.


“Gue Aya, adek lo. Lo inget kan?” lanjut Gayatri dengan suaranya yang sedikit parau. Ada tangis yang coba ia tahan di hadapan Galih. Setelah kejadian itu, baru kali ini Gayatri berbicara dengan Galih.


Sosok Galih masih terdiam. Laki-laki itu anteng mencabuti serat gips di tangannya. Rupanya gips itu masih terpasang, karena tangan Galih belum sembuh benar. Warna putih dari gips itu sudah berubah kuning dan sedikit kotor. Tentu saja, laki-laki ini tidak akan bisa menjaganya dengan baik. Rasa sakit di tangannya mungkin tidak seberapa di banding luka batin dan mental yang dialaminya.

__ADS_1


“Gimana kabar lo?” lagi Gayatri bertanya, menatap lekat sang kakak yang begitu ia rindukan. Galih masih terdiam, tetapi pelan-pelan perhatiannya tertuju pada Gayatri.


Di balik rambut gondrong yang menutupi wajahnya, mata hitam Galih menatap waspada pada sosok gayatri. Saat mereka nyaris bertatapan mata, laki-laki itu kembali menunduk. Meski diam-diam ia mencoba mengenali gadis yang ada dihadapannya.


“Aya,” ucap suara besar yang serak itu.


Deg! Jantung Gayatri seoerti di tonjok mendengar suara Galih yang begitu dirindukannya.


“Iya, ini gue,” suara Gayatri pecah, bersamaan dengan air matanya yang ikut menetes. Ternyata begitu sulit menahan air mata yang sudah dua bulan ini ia tahan.


“Gue kangen sama lo. Gue boleh peluk lo?” suara Gayatri tersendat-sendat karena tangisnya yang pecah.


Galih tidak mengiyakan atau pun menolaknya. Ia hanya memandangi diam-diam Gayatri dari tempatnya. Kewaspadaannya menurun, sepertinya ia bisa mengenali gadis itu.


Tidak ada lagi sosok Galih yang tampan dan gagah. Tidak ada juga sosok Galih yang selalu wangi dan tersenyum. Semuanya berubah, waktu dua bulan ini telah mengubah banyak hal, termasuk sang kakak.


Beberapa saat saja Gayatri memeluk lelaki berusia dua puluh tiga tahun ini. Laki-laki itu memang tidak membalas pelukan Gayatri, tetapi tidak juga menghindar. Sebuah pencapaian yang bagus tentang kondisi Galih saat ini.


“Lo udah makan?” tanya Gayatri seraya memandangi sang kakak.


Tentu saja Galih tidak menjawab, ia masih mencabuti serat gips yang ada di tangannya. “Lo ganteng banget kalau mukanya keliatan. Gue iket rambutnya ya….” bujuk Gayatri. Ia melepas karet rambutnya, membiarkan rambutnya jatuh tergerai sementara karet rambutnya ia ikatkan di rambut Galih.


Galih sempat meringis dan menghindar saat Gayatri akan menyentuh kepalanya, sepertinya laki-laki ini paranoid pada serangan di kepalanya.

__ADS_1


“Gue cuma mau iket rammbut lo. Rambut lo udah panjang, ganteng kayak actor cina. Tapi lebih ganteng kalau rambutnya gue iket rapi.” Sambil mengikat rambut Galih, Gayatri masih berceloteh.


Shaka tersenyum kecil mendengar celotehan Gayatri. Sepertinya, untuk saat ini ia tidak perlu mendekat. Kakak beradik itu perlu waktu untuk dihabiskan berdua dan tidak boleh ia ganggu. Karena itu, Shaka memilih memperhatikan saja dari tempatnya. Paling tidak, ia mulai tahu seperti apa sosok Galih saat ini.


Sekitar lima belas menit saja waktu jenguk yang diberikan untuk Gayatri dan semua berlalu dalam keheningan. Mereka duduk berdampingan dengan isi pikiran masing-masing. Begini saja sudah cukup, Gayatri menggenggam tangan Galih dengan erat sambil sesekali berucap, "Gue sayang lo, Bang."


Tentu saja laki-laki itu tidak menjawabnya. Sampai kemudian Galih di bawa masuk lagi ke ruang perawatan karena untuk menjaga kestabilan emosinya. Galih belum terbiasa bertemu orang luar dan hal itu harus dilakukan secara bertahap. Gayatri memahami hal itu sepenuhnya.


Dari tempatnya, Gayatri memandangi punggung Galih yang membungkuk. Air matanya kembali menetes membayangkan bagaimana penderitaan sang kakak selama ini. Laki-laki yang selalu over protective terhadapanya, laki-laki yang mengajarinya melindungi diri sendiri, laki-laki yang melatihnya menantang adrenalin dengan balapan serta laki-laki yang selalu menjadi figur kebanggannya di dunia nyata, selama ini terpuruk, bagaimana bisa hatinya tak ikut hancur?


"Gue kangen lo yang dulu bang. Kangeenn banget," batin Gayatri. Rasanya tidak tega melihat Galih yang seperti itu.


Melihat Gayatri termenung sendirian, Shaka memutuskan untuk mendekat. Ia berdiri di samping Gayatri dan saat itu juga Gayatri segera mengusap air matanya. Shaka mendengar helaan napas dalam dari mulut gadis itu, seolah menegaskan kalau ia begitu kehilangan sang kakak.


“Lo gak apa-apa?” tanya Shaka tanpa mengalihkan pandangannya dari Galih yang beberapa saat lalu berbelok masuk ke ruang perawatannya.


Gayatri tidak menjawab, ia hanya tertunduk dengan air mata yang masih menetes. Gadis itu menangis sesegukan tanpa suara. shaka segera meraih bahu gadis itu dan membawanya kepelukannya. Ia mendekapnya, memberi rasa tenang pada gadis yang ketakutan dan sedih itu.


Tanpa penolakan, Gayatri membenamkan wajahnya di dada Shaka. Gadis itu masih terisak untuk mengeluarkan semua kesedihan yang selama ini di tahannya.


Dengan sabar Shaka menemani Gayatri hingga gadis ini selesai menangis. Di tepuk-tepuknya lengan Gayatri lalu ia usap dengan lembut.


"Lo gak sendiri Aya, kita selesein masalah ini sama-sama," tegas Shaka dengan tekad penuh dalam hatinya.

__ADS_1


****


__ADS_2