Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Menyusun Strategi 3


__ADS_3

Sesuai pesan Shaka, Gayatri harus berhati-hati saat bersama Dion. Saat ini gadis itu mulai menjalankan misinya untuk mendekati Dion. Lewat ajakan 'Ngafe bareng', Gayatri mulai membuka dirinya pada kehadiran sosok Dion. Saka benar, rasa ketertarikan Dion yang begitu besar terhadapnya, memberi Gayatri peluang besar untuk menyetir laki-laki itu.


Lihat saja ekspresi laki-laki itu yang terlihat begitu bahagia. Ia menyediakan kendaraan terbaik miliknya untuk mengajak Gayatri jalan-jalan. Mobil sport mewah yang ia pakai saat mengajak Gayatri pergi, agar gadis itu nyaman dan tidak kepanasan. Usahanya sangat terlihat jelas untuk memenangkan hati Gayatri.


"Bawain motor Aya pulang," pesannya pada Zaidan, seraya melempar kunci motor Gayatri pada remaja tanggung itu.


"Iyaa, nanti gue bawain. Sebagai gantinya, jangan lupa, bawa PS baru lo ke markas, gue tunggu," pinta Zaidan.


"Bawel lo!" hanya itu sahutan Dion yang segera membukakan pintu untuk Gayatri. "Yuk," ajaknya, seraya tersenyum pada gadis cantik itu.


Gayatri tidak banyak protes, ia langsung masuk ke dalam mobil, lalu duduk di kursi penumpang samping pengemudi.


"Gue cabut dulu, nanti gue kirim makanan ke markas," ucap Dion sebelum masuk ke dalam mobilnya.


"Iyaa... hati-hati lo, bawa anak perawan bang Barkah." Zaidan melambaikan tangannya pada Gayatri. Gadis itu tidak bergeming, ia lebih memilih memandangi langkah kaki teman-temannya yang berduyun-duyun keluar dari gerbang sekolah.


Sementara itu Dion hanya tersenyum, menoleh Gayatri dan melihat keberadaan gadis ini di sampingnya sudah cukup membuatnya senang. "Udah siap?" Dion mengecek seat belt Gayatri.


Tentu saja gadis itu tidak menimpali, ia membiarkan Dion melihatnya sendiri kalau seat belt itu sudah melingkar di tubuhnya. Di awali dengan bunyi klakson pertanda pamit pada teman-temannya, mobil Dion melaju dengan mulus di tanah beraspal untuk keluar dari gerbang sekolah.


Laki-laki itu juga bersiul-siul sambil mengatur laju kendaraannya, tidak terlalu cepat atau pun lambat. Ia ingin menikmati waktunya lebih lama bersama Gayatri.


"Masih berasa mimpi, bisa jalan lagi sama lo, Ya," ucap Dion tanpa ragu. Ia mengguyar rambutnya yang mulai gondrong. Keberadaan Gayatri di sampingnya membuat ia merasa menjadi laki-laki paling beruntung di dunia ini.


"Nyokap gue selalu nanyain lo, nanya kabar lo sekarang gimana. Katanya, main-main lah ke rumah, biar dia ada temen." Dion berusaha berbasa-basi. Meski Gayatri tidak menimpalinya, laki-laki itu tetap asyik berceloteh. Ia mulai menikmati kondisi ini, kondisi di mana ia bebas berbicara dan Gayatri tidak menimpalinya dengan sinis. Tidak juga hanya sibuk berbicara dengan Rasya.


"Boleh gue nyalain musik?" lagi Dion bertanya.


Kali ini Gayatri menoleh, menatap laki-laki itu beberapa saat, kemudian berpaling lagi.


"Thanks Aya," ucap laki-laki yang segera menyalakan music playernya. Ada lagu milik Andra and the back bone yang saat ini mengisi ruang hampa di kabin mobil itu. Dentingan gitar yang dimainkan dengan apik, terdengar begitu romantis di telinga Dion. Ia berharap gadis di sampingnya ikut terhanyut dalam suasana romantis ini.


"Lo suka?" penting sekali bagi Dion untuk tahu kesukaan Gayatri saat ini. Tidak, sejak dulu mengetahui apa yang Gayatri suka adalah salah satu usaha Dion.

__ADS_1


Gayatri hanya terdiam, menyilangkan tangannya di depan dada sambil bersandar pada head rest. Dion melihat itu sebagai tanda kalau seorang Gayatri mulai merasa nyaman ada di dekatnya. Ia tidak lagi berbicara, lebih menyenangkan menikmati waktu yang berjalan merambat ini dalam keheningan. Asalkan ada Gayatri, semua terasa cukup.


Dua puluh menit berlalu, dua remaja itu sudah sampai di sebuah cafe. Cafe tempat Dion menyatakan perasaannya pada Gayatri setahun lalu. Ya, setahun lalu Dion di buat patah hati oleh penolakan Gayatri. Rasa sakitnya sampai sekarang. Ia masih mengingat persis ekspresi dan kalimat Gayatri kala itu, "Lo sama gue lebih cocok jadi temen."


Hah, rasanya menyesakkan, namun ia sudah mulai terbiasa. Tidak ada salahnya memulai dari awal asalkan semua usaha itu untuk Gayatri.


Di sebuah sudut ruangan Gayatri dan Dion berada saat ini. Hidangan favorit Gayatri tersaji di atas meja, yaitu dimsum bersama menu lain yang menenuhi meja. Dulu Gayatri sangat menyukai makanan itu. Seringkali Dion gemas sendiri melihat cara makan Gayatri yang menurutnya sangat lucu. Mulutnya menggembung berisi dimsum dengan wajah bahagia dan tubuh yang bergerak miring ke kiri dan kanan saat menikmati makanannya. Sayangnya Gayatri sekarang tidak seceria dulu.


"Gue harap gak salah milihin menu buat lo," ucap laki-laki itu.


Gayatri tidak menjawab, ia mengambil sumpit dan mencomot satu dimsum yang masih hangat. Ia cocolkan ke sause cabe lalu ia makan dengan lahap. Dion menghela napasnya lega karena gadis kesayangannya mau memakan makanan yang ia siapkan.


Berbeda dengan Gayatri yang begitu menikmati makanannya, Dion malah asyik memandangi gadis yang sedang makan. Bersandar pada kursinya sambil menopang dagunya tanpa melepaskan senyuman kecil di sudut bibirnya. "Kalau kurang, nanti gue pesenin lagi," ujar sang borjuis.


"Lo pikir gue serakus itu?" ucap Gayatri tiba-tiba.


Dion langsung terhenyak, ia segera menegakkan tubuhnya dan menatap tidak percaya pada Gayatri. "Aya, gue gak salah denger kan? Lo tadi ngomong kan?" Laki-laki itu sampai mencondongkan tubuhnya pada Gayatri agar tidak melewatkan suara yang ia rindukan selama lebih dari dua bulan.


"Lo pikir dimsum ini yang ngomong?" sinis Gayatri menyuapkan kembali dimsum itu ke mulutnya.


"Oh Sorry, gue sampe gak sadar saking senengnya," ucap laki-laki itu yang kembali ke tempatnya. Meski sangat bahagia karena Gayatri kembali berbicara, namun ia harus menahan keinginannya untuk memeluk gadis itu. Ia tidak mau melampaui batas hingga membuat sang gadis murka.


Bukan hanya Dion, tapi juga laki-laki muda yang terduduk di salah satu sudut dan sedang memperhatikan mereka. Ya tepat, laki-laki muda bertopi itu adalah Shaka. Niatnya adalah untuk melindungi Gayatri dari Dion, tapi sekarang malah hatinya yang harus ia lindungi. Tiba-tiba mencelos dan rasanya tidak nyaman. Ia sampai berulang kali menepuk-nepuk dadanya yang sesak di selingi air mineral yang ia teguk hingga tandas setengahnya.


Dengan penuh keyakinan, Gayatri memilih untuk berbicara dengan Dion. Bagaimana pun harus ada komunikasi dua arah antara ia dengan Dion, agar semuanya cepat terungkap.


"Lama banget gue gak denger suara lo, sejak,"


"Sejak lo nyuruh gue diem. Gue gak akan lupa itu Dion," ucap Gayatri yang mematahkan kalimat Dion.


Dion tersenyum kelu, wajahnya jelas menunjukkan rasa penyesalan. "Gue tau, Ya. Gue minta maaf atas kejadian itu Aya. Gue mau memperbaiki semuanya sama lo." Terlihat jelas kalau laki-laki itu begitu bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Memperbaiki?" Gayatri tersenyum sinis mendengar kata itu. Ia menaruh sumpitnya lantas menatap Dion dengan dingin. "Dengan cara apa? Apa yang sebenarnya mau lo perbaiki? Semuanya udah hancur Dion," Gayatri berujar dengan nada suaranya yang rendah dan gamang, menunjukkan dengan benar kalau wanita ini sudah putus asa.

__ADS_1


"Apa pun. Apa pun akan gue perbaiki buat lo." Dion sampai meraih tangan Gayatri dan menggenggamnya dengan erat.


"Lo bisa minta maaf sama Rasya?" tanya Gayatri dengan tatapan tajam.


"Bisa! Gue akan datang ke makamnya dan meminta maaf sama dia. Gue tau gue salah karena pernah ngebuly dia." Dion berujar dengan penuh keyakinan, membuat Gayatri mengulum senyumnya kelu. "Gue mohon Aya, kasih gue kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Lagi ia menghiba.


"Lo bisa bersaksi buat abang gue? Bersaksi kalau dia gak nusuk Rasya?" lagi Gayatri bertanya, kali ini lebih tegas.


Kali ini Dion tidak lantas menjawab, ia juga melepaskan genggaman tangannya dari Gayatri. Permintaan gadis ini sunguh sulit.


"Udah gue duga, gue gak bisa berharap banyak sama seorang pengecut. Seseorang yang selalu berlindung di bawah ketiak bokapnya dan pura-pura gak ngeliat apa pun. Padahal karena lo diem, dua jiwa hilang dari hidup gue." Gayatri tersenyum dengan sinis, matanya menatap Dion dengan tajam.


"Aya," Dion mulai terlihat putus asa. Ucapan Gayatri seperti menamparnya. "Gue bukan gak mau bela abang lo, tapi gue memang gak liat persis kejadian itu. Dan kepergian gue ke luar negeri bukan karena gue mau menghindar, tapi karena gue gak ada pilihan lain."


"LO BOHONG!" seru Gayatri mematahkan kalimat Dion. Suaranya yang lumayan keras, berhasil memancing perhatian beberapa orang disekitarnya termasuk Shaka. Namun Gayatri tidak memperdulikannya. Tangannya masih mengepal kuat dan sorot mata penuh kekecewaan itu jelas terlihat di wajahnya.


"Lo bohong kalau lo bilang gak tau apa-apa. Lo pergi bukan hanya karena atas perintah bokap lo, tapi karena lo gak punya perasaan Dion. Lo juga mengabaikan perasaan orang lain, TERMASUK GUE!" Gayatri sampai menggebrak meja.


Usahanya untuk menahan diri dan mendekat perlahan pada Dion, ternyata gagal total. Pertahanannya rubuh saat ingatan kejadian menyeramkan itu kembali mengisi pikirannya.


"Aya, please!" Dion segera bersimpuh di kaki Gayatri. Ia menggenggam tangan Gayatri dengan erat dan matanya menatap lekat penuh sesal pada gadis itu. "Tolong maafin gue. Gue udah bilang kalau gue akan memperbaiki semuanya. Tolong kasih gue kesempatan Aya, please...." Dion sampai memohon dengan suaranya yang rendah. Matanya sampai berkaca-kaca, tetapi bagi Gayatri itu sangat memuakkan.


"Kalau ada kesempatan kasus abang lo di buka lagi, gue bersedia ngasih keterangan Aya. Gue bersedia," ucap Dion sambil tertunduk lesu dihadapan Gayatri.


"Mana mungkin di buka lagi, udah jelas kalau abang gue sekarang sakit," timpal Gayatri sambil menahan sesak di dadanya. ia juga menyeka dengan kasar air matanya yang menetes sia-sia.


"Lantas apa yang bisa gue lakuin buat lo, supaya lo dan keluarga lo mau maafin gue? Hem...." Laki-laki itu memberanikan dirinya untuk menatap kembali sepasang mata merah dan basah itu dengan penuh sesal. "Apa pun yang lo minta, akan gue lakuin, asal lo mau maafin gue." Kalimat Dion terdengar begitu menghiba, bersikukuh meminta Gayatri untuk memberinya pengampunan.


Gayatri tidak lantas menjawab, ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya kemudian menaruhnya di atas meja. "Ceritakan semua yang lo tau dan lo liat malam itu. Kasih tau gue saat lo udah siap ngembaliin benda ini sama gue," tegas Gayatri seraya menepuk alat perekam yang ia taruh di atas meja.


Dion tidak lantas menjawab, ia memandangi dengan nanar alat perekam itu dan hatinya bimbang.


"Hemh, pengecut!" dengus Gayatri yang tersenyum sinis, seraya beranjak dari tempatnya dan memilih pergi meninggalkan Dion.

__ADS_1


*****


__ADS_2