Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Saling menjaga


__ADS_3

Suasana di sekolah benar-benar sudah tidak kondusif. Para siswa sebagian besar sudah pulang, mereka tidak betah berlama-lama di sekolah yang sedang kisruh oleh banyak persoalan. Gosip tentang sekolah yang memperlakukan siswa dengan tidak baik pun terus menyebar, tak ubahnya seperti banjir bandang yang tidak bisa di bendung. Para guru panik, waktu yang seharusnya di gunakan untuk belajar pun, terpaksa harus di akhiri karena para guru tidak siap untuk bertemu dengan muridnya.


Di dalam kelasnya, Shaka dan Gayatri sedang membereskan buku mereka. Memasukkannya ke dalam tas dan rencananya akan pulang saja. Sementara teman-temannya sudah lebih dulu pulang, hanya ada pesan tugas yang ditulis di papan tulis berwarna hijau tersebut.


"Shaka! Aya!" panggil sebuah suara di pintu masuk.


"Ya!" Shaka dan Gayatri kompak menoleh. Ternyata ada Dewa dan teman-temannya di sana. Mereka adalah orang-orang yang menjalankan misi siang tadi.


"Ngumpul bentar di indoor pool yuk. Ada yang mesti kita bahas," ajak Dewa dengan wajahnya yang serius.


"Okey!" Shaka langsung mengiyakan. Rasanya ia paham rencana penting apa yang akan dibicarakan oleh teman-temannya.


Laki-laki itu segera memakai tas ranselnya dan bersama dengan Gayatri menghampiri teman-temannya.


Di indoor pool saat ini mereka berada. Anton yang menjadi orang terakhir yang mengunci pintu indoor pool dan segera berlari menghampiri teman-temannya yang lebih dulu duduk d kursi penonton.


"Kita rapat darurat di sini ya, mumpung di Zaidan udah matiin CCTV ruangan ini," ujar Dewa yang memulai pembicaraan.


"Okey, apa aja yang mau kita bahas?" tanya Shaka kemudian. Mereka duduk di empat baris bangku, dua baris kanan dan dua baris kiri.


"Lo jelasin tentang kejadian tadi deh, anak-anak penasaran sama apa yang terjadi di ruang kepsek," Dewa meminta itu pada Shaka.


Shaka terdiam beberapa saat, otaknya sedang memilah info apa yang harus disampaikaan pada teman-temannya. Ia tidak mau berspekulasi yang hanya akan menambah kisruh pikiran teman-temannya.


"Gue rasa, kondisi di sekolah ini mulai kurang baik. Tapi, gue harap, setelah lo semua tau apa yang terjadi dengan sekolah ini, rahasia itu lo bawa sampe mati. Kecuali, gue yang nyuruh lo semua ngomong," Shaka memberikan syarat lebih dahulu.


"Okey!" mereka kompak menyahuti. Tatapan tajam dan serius mereka, menggambarkan kalau mereka siap berpegang teguh pada janji mereka.


Shaka menatap Gayatri beberapa saat dan gadis itu hanya terdiam, tidak protes sama sekali. Ia memutuskan untuk mempercayakan penyampaian ini semua pada Shaka. Setelah yakin, Shaka pun mulai berujar.


"Gue rasa. kita harus berhati-hati sama pihak sekolah terutama kuartet sekolah ini. Kepsek, wakasek kesiswaan, wakasek umum dan bokapnya Dion. Mereka yang utama, tapi kita juga harus waspada sama guru BK. Gue takut dia jadi spionnya kuartet." Itu penjelasan pertama Shaka yang diangguki teman-temannya.

__ADS_1


Mereka saling merunduk, membuat jarak mereka cukup dekat satu sama lain, untuk mengikis ruang agar tidak ada yang mencuri dengar obrolan mereka.


"Gue rasa, sekolah ini gak baik-baik aja, dalam artian orangnya. Tapi gue gak bisa menjelaskan detail, karena itu harus dibuktikan dulu. Gue cuma berpesan, kita semua harus hati-hati. Saling menjaga satu sama lain dan jangan lengah." Pesan penting itu yang Shaka tekankan.


"Sorry nih gue motong. Gue sebenernya udah feeling kalau ada yang gak beres sama sekolah ini. Di mulai dari waktu Rasya meninggal, pihak sekolah kayak gak mau ambil pusing. Ya walau pun bukan meninggal karena kesalahan sekolah, harusnya kan mereka lebih empati gitu. Masa Om sama tantenya si Rasya di suruh diem dan gak usah memperpanjang masalah karena pelakunya sulit di temukan? Menurut gue terlalu aneh. Karena harusnya mereka menjadi jembatan buat keluarganya Rasya. Secara, Rasya siswa di sekolah ini kan?" Anton yang berbicara tegas dan membuat dada Shaka terasa bergejolak. Teman lainnya hanya mengangguk saja menyetujui ucapan Anton.


David, Alya dan Gayatri, menyimak saja, mereka ingin tahu, seterbuka apa para siswa ini.


"Keanehan kedua, si Dion ada di tempat kejadian, tapi dia lolos dari hukum. Gue yakin ini ada campur tangan pihak sekolah terlebih bokap Dion adalah ketua komite. Karena itu juga keberadaan Dion di tempat itu kagak di bahas sama sekali dan gue yakin itu alasan pihak sekolah angkat tangan. Kalau sampai di bahas, kena ah di Dion!" Shaka menyimak ucapan Anton semakin serius. Rupanya siswa yang satu ini juga memiliki kepekaan pada masalah yang terjadi di sekelilingnya.


"Yang ketiga, gue denger kabar, sebulan lalu waktu Dion ngilang itu, bukan skorsing, tapi dia masuk panti rehab. Rehab buat ketergantungan sama drug. Kayaknya itu juga buat ngamanin Dion biar gak diintrogasi. Itu kenapa setahun terakhir si Dion jarang nginep di base camp karena dia sering ngobat di malam hari. Gue yakin, Bokap Dion juga tau makanya dia di rehab." Anton menggenapkan kalimatnya.


Dewa menoleh Shaka, ia semakin yakin saja kalau keberadaan narkoba di ruangan kepala sekolah bukan tanpa alasan.


"Terus sekarang kita mesti gimana? Gue yakin lambat laun bokapnya pasti tau kalau si Dion udah kita pindahin. Pengawalnya pasti tau kalau kita yang lakuin itu walau pun kita ngehapus CCTV nya kan?" Zaidan mulai panik.


Tidak ada yang menjawab, semuanya hening. Mereka semua berpikir keras mencari jalan keluar terbaik.


"Gue yakin, kalau bokap Dion gak akan lapor polisi, karena itu sama aja dengan dia buka aibnya sendiri." Shaka yang mulai bersuara dan menarik perhatian temannya. "Tapi, gak menutup kemungkinan kalau dia bakal ngelakuin cara kotor terhadap kita. Kita yang sekarang harus berhati-hati dan saling ngelindungin. Gue akan coba nyari perlindungan buat kita," Hal itu yang Shaka ingatkan.


"Apaan ini?" Dewa penasaran dengan ukurannya yang cukup besar.


"Ini alat pelacak sekaligus perekam. Ada memory card sama baterainya. Ini barang pernah gue review di medsos gue tapi di take down. Daripada gue buang, mending kita pake. Sambungin di hape masing-masing. Jadi kalau ada apa-apa, teken SOS dan siapapun yang liat duluan, harus ngabarin sama Shaka. Kita pilih dia jadi komandan kita. Pokoknya kita harus saling jaga. Setuju?"  tanya Zaidan dengan penuh kesungguhan. Ia mengulurkan tangannya di tengah-tengah mereka dan tidak lama, tangan teman-temannya ikut bertumpukan di sana.


"SETUJU!!!" seru mereka bersamaan. Mereka terlihat begitu bersemangat.


Alat pelacak pun mulai di pasang di ponsel masing-masing. Semua ponsel sudah terpasang dan hanya tersisa satu alat pelacak.


"Ada bonus nih, mau buat siapa?" tanya Zaidan.


"Boleh gue minta?" tanya Gayatri.

__ADS_1


"Boleh, buat siapa?" Zaidan menatap dengan penasaran.


"Abang gue," sahut gadis itu dengan yakin.


"HAH?" Mereka berreaksi kompak pada jawaban Gayatri.


"Gak usah hah hoh, hah hoh! Nanti gue ceritain di grup. Sekarang mending kita balik dulu. Udah cukup sore, bahaya kalau pulang malem," ajak Gayatri seraya memasukkan sisa pelacak itu ke sakunya. Ia merasa kakaknya pun harus memegang benda ini.


"Okey, ayo kita balik bareng-bareng." Dewa yang lebih dulu beranjak dan disusul oleh teman-temannya. "Inget, lo punya utang buat ngasih penjelasan soal abang lo," laki-laki itu pun mengingatkan.


"Hem," hanya itu sahutan Gayatri yang beranjak dari tempatnya.


Saat keluar dari indoor pool, suasana sudah sangat sepi. Tidak ada lagi siswa yang berkeliaran di sekitar sekolah. Mereka keluar dari sana dengan tenang dan langsung menuju tempat parkir.


"Sial!" dengus Shaka saat melihat motornya.


"Kenapa?" Gayatri segera mendekat.


Shaka menunjuk ban motornya, "Ban gue ada yang nyobek," dengus Shaka.


"Akh sial! Terornya malah duluan nyerang komandan kita," ucap Dewa seraya mencengkram rambutnya sendiri dengan kesal. Ia sudah membayangkan kalau di sekitar mereka saat ini pasti masih ada yang mengawasi.


"Lo tinggal motornya di sini, pake motor gue aja. Yang lain periksa dulu motor kalian sebelum di pake, khawatir ada yang jail juga," terang Gayatri yang mengatur teman-temannya.


"Cieee, balik boncengan...." ledek Anton.


"Malah cia cieee, periksa motor lo!" dengus Zaidan seraya melingkarkan tangannya di leher Anton lalu ia tarik agar segera menghampiri motornya.


Sementara itu, Shaka dan Gayatri hanya saling menoleh. Lalu tersenyum kecil satu sama lain.


"Udaahh, ayo cek motor kita!" seru David sambil menepuk bahu Alya yang mematung memperhatikan dua orang tersebut.

__ADS_1


"Hem," hanya itu jawaban Alya dengan penuh rasa kecewa.


*****


__ADS_2