
Seorang Gayatri tengah terdiam sendirian di ruang perawatannya. Gadis itu sedang memandangi layar televisinya yang menampakkan berita tentang penangkapan gembong narkoba internasional. Beritanya menjadi sangat viral karena menyeret nama baik sekolah tempat Gayatri menimba ilmu.
Para orang tua siswa sampai datang ke sekolah untuk meminta kejelasan bagi putra-putrinya. Sudah dua hari ini sekolah di liburkan. Tepatnya setelah penangkapan kepala sekolah beberapa hari lalu.
Hingga saat ini pihak sekolah belum memberikan jawaban. Pemerintah akan turun tangan dan memanggil pemilik yayasan untuk menyelesaikan masalah ini. Bagaimana pun masa depan para siswanya tidak boleh diabaikan. Terutama siswa yang saat ini sedang duduk di bangku kelas XII dan sebentar lagi akan menghadapi ujian.
Kabar tentang meninggalnya Rasya menjadi trending kedua. Postingan yang pernah Shaka angkat dengan bantuan buzzer, ternyata mendapat perhatian serius dari netizen. Kasus kematian ini juga dihubungkan dengan kondisi sekolah saat ini.
Entah mendapat sumber berita dari mana, yang jelas netizen memang sudah pandai. Ilmu cocokologi yang mereka punya menggiring pada simpulan bahwa Rasya meninggal karena tahu adanya sindikat narkoba di sekolahnya.
“Anak baik di panggilnya cepet, husnul khotimah Rasya….”
“Gak kebayang gimana perasaan keluarganya. Dulu kasus kematiannya di tutup karena tidak alat bukti. Sekarang tuhan kirim alat bukti sebanyak itu. Keadilan ada buatmu Rasya.”
“Rasyaaa... apa kamu liat? Kematianmu sekarang menjadi perhatian banyak orang. Dulu kamu di anggap gak penting, tapi lihat, sekarang semua orang bekerja agar kamu mendapatkan keadilan. Yang tenang di alam sana. Kepergian kamu diiringi banyak do'a.”
Masih banyak lagi postingan netizen yang membuat Gayatri tersenyum haru. Ia mengusap air matanya yang tanpa sadar menetes begitu saja. Di ambilnya ponsel yang ada di dekatnya dan ia buka kembali galery yang menyimpan banyak kenangan bersama orang tersayangnya, terutama Rasya.
Mata bulat nan tajam itu menatap wajah tampan seorang remaja laki-laki yang duduk di sampingnya. Laki-laki itu tersenyum cerah, memperlihatkan deretan giginya hang putih. Sambil bersidekap, remaja ini terlihat sangat tampan. Lalu di foto itu, terlihat jelas kalau Gayatri menatap Rasya dengan penuh kekaguman. Kekaguman yang sama seperti yang ia rasakan saat ini.
“Sya, gue emang gak bisa wujudin acara ulang tahun lo di bromo. Tapi gue yakin, lo bahagia di sana. Orang-orang ngirimin banyak do'a buat lo. Yang tenang di sana ya Sya... Gue udah ikhlas ngelepas lo.”
Untaian kalimat itu di ucapkan Gayatri seraya memeluk ponselnya dengan erat. Kilatan bayangan wajah Rasya melintas di pikirannya. Suaranya yang penuh semangat juga menggaung di telinga Gayatri.
“Semangat Aya cantiikkk....” kalimat itu yang selalu Rasya ucapkan seraya mengusap kepala Gayatri dengan sayang. Tiga bulan sudah Rasya pergi dan kenangan itu masih terrekam jelas diingatan Gayatri tanpa ada satu kurang apa pun.
__ADS_1
Di tengah pikirannya yang sedang tertaut pada sosok Rasya, ada seseorang yang kini berada di pintu kamar perawatannya dan sedang memperhatikannya. Ia melihat gurat kesedihan Gayatri sekaligus kelegaan karena Rasya akhirnya mendapat keadilan.
Shaka tersenyum senang. Kelegaan itu, Shaka pun merasakannya. Lantas, ia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar itu, pelan-pelan saja agar tidak mengusik Gayatri yang sedang bermain dengan imajinasinya.
Sepasang mata bulat itu kemudian terbuka saat ia sadar ada seseorang yang sedang berdiri di hadapannya. Laki-laki itu menyembunyikan wajahnya di balik bucket bunga lili yang wanginya sangat segar.
“Shaka,” ucap Gayatri.
Shaka segera memperlihatkan wajahnya, miring ke kiri agar Gayatri bisa melihat wajah tampannya. Wajah laki-laki itu tampak lelah, tetapi ada gurat kelegaan dan kebahagiaan di wajahnya.
“Selamat pagi, tuan puteri,” sapa Shaka dengan senyumnya yang mengembang. Ia memberikan bucket bunga lili itu pada Gayatri dan sang gadis tersenyum lepas.
“Pagi, Mr Agent,” timpal Gayatri seraya menerima bunga yang diberikan Shaka. Ia mencium wangi bunga itu, memejamkan matanya beberapa saat dan menikmati sensasi yang menenangkan saraf di kepalanya.
Shaka mengambil tempat duduk di samping ranjang Gayatri. Ia menatap wajah cantik yang terlihat merona.
Gayatri mengangguk pelan. Ia membuka matanya lantas menoleh Shaka. “Makasih,” timpalnya dengan senyum yang lebar.
Shaka balas tersenyum sekali lalu mengusap kepala Gayatri dengan sayang. “Sama-sama,” sahutnya ringan. “Apa yang lo rasain sekarang?” tanya pria itu kemudian.
“Lebih baik. Lo udah nyelesein urusan lo?” Gayatri memperhatikan wajah Shaka yang terlihat lelah itu. Bisa dipastikan laki-laki ini tidak tidur semalaman.
“Udah. Sekua berjalan dengan baik. Berkat lo dan temen-temen. Sayangnya, gue gak bisa nyungkap itu di depan publik. Gue khawatir masih ada anggota sindikat yang berkeliaran dan mengancam keselamatan lo sama temen-temen lo.” Shaka berujar debgan sesal.
Gayatri mengangguk paham, “Makasih udah peduli sama temen-temen berandal gue,” ungkap Gayatri dengan penuh sungguh.
__ADS_1
“Gue yang seharusnya makasih. Kalian luar biasa.” Lagi Shaka mengusap kepala Gayatri dengan sayang dan kali ini mengecup pucuk kepalanya cukup lama dan dalam.
Gayatri hanya bisa memejamkan matanya, darahnya berdesiran mendapatkan perlakuan manis dari Shaka ini.
Cukup lama Shaka mengecup kepala Gayatri dan kini mereka saling bertatapan. “Lo kayanya capek banget. Istirahat gih. Nanti lo makan, Enyak lagi beli sarapan ke depan,” bujuk Gayatri.
“Hem. Gue mau istirahat di sini ya,” pinta Shaka. Laki-laki itu turun dari atas ranjang dan duduk di kursi. Lantas menelungkupkan kepalanya di atas kasur, sambil menggenggam tangan Gayatri yang terpasang infusan.
“Punggung lo bisa pegel. Mending di sofa,” Gayatri tak paham, mengapa orang-orang suka sekali duduk dan tidur di sana. Mira dan Barkah pun sama. Padahal ada sofa di ruangan ini.
“Gue gak mau jauh dari lo. Gue mau ngehabisin waktu lebih lama sama lo. Gue gak mau ngerasain cemas dan takut lagi.” Shaka berujar dengan sepenuh hati. Lihat saja sorot matanya yang menyimpan banyak kecemasan.
Gayatri tersenyum kecil. Ia menaruh bucket itu di atas pahanya, sementara tangannya mengusap kepala Shaka. Laki-laki itu memejamkan matanya beberapa saat. Merasakan usapan lembut tangan Gayatri yang memanjakannya. Sebagian bebannya seperti hilang, tidak lagi merasakan sesak.
“Lo takut karena setelah ini, lo akan pergi kan?” tanya Gayatri dengan jelas. Pertanyaan yang membuat Shaka membuka kembali matanya yang sedikit merah itu.
Laki-laki itu terdiam. Ia menatap wajah Gayatri dengan penuh perasaan. Perasaan yang sebenarnya tidak bisa Gayatri jabarkan.
Tanpa kata-kata, Shaka tiba-tiba beranjak dari tempatnya. Berdiri di samping Gayatri lalu menangkup wajah itu dengan satu tangannya yang lebar. Tanpa permisi, laki-laki itu mengecup bibir Gayatri. Kecupan yang membuat mereka merasakan kesesakan yang sama.
Tidak ada undangan, tetapi air mata itu menetes bersamaan. Pertanyaan Gayatri terlalu tepat dan Shaka belum bisa memberikan jawaban yang bisa menenangkan gadis itu.
Bukan, melainkan jawaban untuk menenangkan dirinya juga.
Mereka hanya bisa berpagutan selama beberapa saat. Mengungkapkan perasaan lewat pertukaran saliva yang terkadang diselingi isakan dan air mata.
__ADS_1
Mereka berhenti beberapa saat. Shaka menempatkan kepalanya di dahi Gayatri, membuat hidung nereka bertemu. Keduanya memejamkan mata, merasakan sisa desiran halus yang mengisi aliran darah keduanya.
Tidak ada kata-kata yang terucap, keduanya diam dalam keheningan.