Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Tamparan


__ADS_3

Suara cuitan burung yang bertengger di pagar balkon menyadarkan Shaka dari lamunan kosongnya. Mata laki-laki itu sudah terbuka sempurna, sejak beberapa jam lalu, karena tidurnya yang tak lena.


Burung yang terus bersiul dan berloncatan dari satu tempat ke tempat lainnya, memancing kedatangan burung lainnya, menjadi satu-satunya pemandangan yang bisa Shaka nikmati di tengah pikirannya yang tidak menentu.


Hanya beberapa jam saja ia tertidur. Ia terbangun lebih dulu dari matahari yang terbit. Sayangnya, ia masih belum mau beranjak, terlalu betah memeluk guling yang ia dekap sejak semalam. Tangan kirinya sampai kebas karena tertindih tubuhnya sendiri.


Bisa dikatakan kalau laki-laki ini tengah terpuruk atas usahanya beberapa hari ini. Benang kusut yang ia urai, tidak juga menemui ujung pangkalnya. Ia nyaris putus asa dan sepertinya hanya tersisa satu langkah terakhir yang bisa ia lakukan saat ini.


Suara alarm di ponsel Shaka menjadi melodi yang membangunkan kesadaran pria ini sepenuhnya. Sudah jam tujuh pagi dan laki-laki itu baru akan beranjak. Jika saja tidak ingat apa yang akan ia lakukan hari ini, rasanya ia enggan untuk bangkit.


Shaka segera masuk ke kamar mandi, melepas satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya, mengguyurnya dengan air shower yang dingin dan menyegarkan.


Untuk beberapa saat, Shaka hanya mematung di sana. Di bawah guyuran air yang terasa seperti tusukan jarum kecil-kecil yang menghujaninya. Air itu membasahi sekujur tubuhnya. Melewati pelipis dan sampai kehidungnya lalu menetes pecah di lantai.


“Gayatri Sekar Ayu,” nama itu yang ia gumamkan dan membuat ia tersadar kalau waktunya tidak banyak.


Shaka segera beranjak dari tempatnya. Hanya menggosok gigi sebentar sebelum kemudian mengambil handuk untuk membalut tubuhnya yang basah.


Sepasang matanya begitu dingin dan tajam menatap bayangannya sendiri di cermin. Ia menyisir rambutnya hanya dengan menggunakan tangan. Berpakaian santai, mengenakan jeans, kaos oblong dan jaket kulit. Setelah itu ia turun sambil membawa kunci motor dan helm nya.


Ada satu tempat yang di tuju oleh pengendara motor yang sedang melajukan motornya di jalanan beraspal. Sebentar saja ia berpacu dalam kecepatan tinggi dengan kendaraan lain di jalanan utama. Setelah itu ia berbelok ke jalanan yang sepi, beraspal tipis dan tidak banyak orang yang berlalu lalang.


Pohon-pohon tinggi memagari jalanan yang tidak terlalu lebar menuju sebuah area pemakaman. Di depan pagar utama pemakanam itu sudah ada skuter matic yang terparkir dengan helm yang tergantung di atas spion.


Pemiliknya tidak lain adalah tuan putri dari genk motor 'Henka Kaizen', ya sesuai dugaan Shaka, gadis ini akan datang ke tempat ini untuk menemui sahabatnya yang telah menyatu dengan tanah.


Tebakan Shaka benar, kalau hari sabtu ini Gayatri akan datang ke makam sang adik. Seperti sudah menjadi kebiasaan kalau setiap dua minggu sekali gadis ini akan datang ke tempat ini dengan membawa setangkai bunga lili segar sebagai identitasnya.


Shaka memarkirkan motornya di samping motor Gayatri. Ia juga menaruh helmnya di sana. Langkah kakinya terlihat pasti menapaki jalan berbatu menuju makam yang berada di sisi kiri jalan utama. Sedikit melambat saat ia mendapati Gayatri sedang mematung di hadapan pusara.

__ADS_1


“Apa kabar, Sya?” suara itu terdengar jelas oleh Shaka yang berdiri tidak terlalu jauh dari Gayatri, hanya terhalang sebatang pohon besar tempat ia bersembunyi. Shaka bisa melihat wajah Gayatri yang sendu di depan nisan sang adik. Wajahnya jelas menunjukkan kesedihan walau bibirnya berusaha untuk tersenyum.


“Gue balapan lagi, Sya,” satu kalimat itu yang Gayatri ucapkan pada Rasya, seperti penuh sesal. “Gue tau, lo paling sebel kalau tau gue balapan. Gue juga udah ngelanggar janji sama lo, kalau gue bakalan jadi berhenti.”


“Sorry ya Sya, gue terpaksa ngelakuin hal itu karena ada seseorang yang harus gue tolong.” Kali ini Gayatri tertunduk lesu di hadapan nisan Rasya. Shaka sadar, orang yang di maksud gadis itu adalah dirinya.


“Sebagai permintaaan maaf, gue bawa bunga ini buat lo," Gayatri berjongkok dan menempatkan bunga lili dalam vas yang sudah ia sediakan. Bunga lili sebelumnya telah layu dan kering, terpaksa Gayatri ambil dan ia pegangi erat-erat.


“Gue udah tau tujuan gue sekarang Sya. Gue mulai belajar mencari tau apa yang gue mau. Lo bener, selama ini gue hanya memenuhi kewajiban gue aja sebagai seorang anak yang harus membanggakan orang tuanya. Tapi gue gak pernah memikirkan seperti apa hidup gue kelak di masa depan.”


“Gue nyesel Sya, gue baru menyadari itu sekarang. Harusnya sejak dulu, sejak ada lo gue mulai memikirkan apa yang akan gue lakukan di masa depan. Bukan cuma memikirkan balapan yang hanya bisa menyenangkan ego gue.” Gayatri menghentikan kalimatnya sejenak, ia mengusap nisan Rasya kemudian ia pegangi dengan erat.


“Gue jatuh Sya, badan gue membentur aspal. Lo bener, jatuh di aspal gak seindah jatuh cinta. Tapi lo gak tau kan, kalau dua-duanya sama-sama sakit?” kalimat ini membuat Shaka sedikit terhenyak. Laki-laki itu melangkahkan kakinya semakin mendekat, penasaran dengan sosok yang membuatnya merasakan jatuh cinta itu sakit.


“Dua minggu lagi lo ulang tahun Sya, gue mau ke Bromo ya, gue mau penuhin janji gue buat ngerayain ulang tahun lo di sana. Gak apa-apa sendiri, karena kayaknya gue juga lagi butuh waktu buat sendirian.” Kalimat itu kembali terdengar dari mulut Gayatri.


“Arrasya Haikal, berusia tujuh belas tahun, meninggal karena kasus pembulyan.” Tiba-tiba saja suara itu terdengar di belakang Gayatri.


Gayatri segera menoleh dan tampak kaget saat ternyata yang ada di belakangnya adalah Shaka. Laki-laki itu berjalan mendekat dan berdiri di samping Gayatri. Mengabaikan rasa penasaran sang gadis yang menatapnya penuh tanya.


“Kasus pembulyan yang berujung kematian dan di anggap bukan hal serius oleh banyak orang. Semua orang bungkam, menutupi fakta kematiannya seolah nyawanya tidak berharga. Benar?” tanya Shaka seraya menatap lekat pada sepasang mata Gayatri yang membulat karena terkejut.


“Apa maksud lo?” tanya Gayatri. Ia masih kaget karena tidak menyangka kalau Shaka akan datang ke tempat ini dan tahu ia berada di sini.


“Gue yang seharusnya nanya, apa maksud lo, Aya. Lo ikut diam setelah kematian dia padahal dia orang yang berharga buat keluarganya. Lo harusnya tau itu!” kalimat Shaka terdengar tajam hingga membuat Gayatri terhenyak.


Di antara rasa terkejutnya, Gayatri juga bingung melihat apa yang terjadi pada laki-laki ini hingga begitu emosional saat berbicara dengannya.


“Apa salah anak ini sampai dia harus mati sia-sia, seolah nyawanya tidak ada artinya. APA?!!!” kali ini Shaka sampai berteriak, dengan matanya yang basah. Rahangnya mengeras dan tegang hingga Gayatri bisa mendengar suara geretakan giginya.

__ADS_1


“LO GAK USAH BERTERIAK SAMA GUE!!” Gayatri balas menyalak. Tidak suka dengan cara bicara Shaka yang menyudutkannya. Apa Shaka pikir hanya keluarganya yang kehilangan? Gayatri pun sama.


“LO PIKIR LO SIAPA SAMPAI BERANI MENEMPATKAN GUE SEOLAH GUE ORANG YANG SALAH DAN MENYEMBUNYIKAN KEMATIAN DIA? HAH, SIAPA LO?! LO gak ada urusan.” Gayatri ikut naik pitam. Ia mendorong dada Shaka dengan kuat karena tidak terima di salahkan.


“Siapa lo bilang?" Shaka menyeringai sinis. Matanya menatap Gayatri dengan tajam.


"GUE KAKAKNYA! DIA ADIK GUE! SATU-SATUNYA ORANG YANG BERARTI BUAT GUE! PAHAM LO!” seru Shaka seraya mengibaskan tangan Gayatri yang ada di dadanya.


Gayatri sampai terhenyak dan hanya bisa diam, mencoba mencerna ucapan Shaka yang terasa mendengung di rongga telinganya hingga membuatnya pusing.


Bibirnya bergetar, antara tersenyum lucu mendengar pengakuan Shaka, dengan tangis yang berusaha ia tahan karena kalimat Shaka seperti sebuah tamparan untuknya.


“Gue tau, lo ngeliat adik gue di bunuh, karena itu lo diem kan Aya?” tanya Shaka dengan suara lemah. Ia berjalan mendekat pada Gayatri, tetapi Gayatri memilih mundur menjauh karena sepertinya laki-laki ini tidak sedang bercanda.


“Gak, gue gak tau,” Gayatri terlihat begitu ketakutan, ada banyak kecemasan di balik sorot matanya yang berkaca-kaca.


“JANGAN BOHONG! GUE BUTUH JAWABAN LO!” teriak Shaka seraya memegangi kedua bahu Gayatri dan mencengkramnya dengan erat.


Gayatri hanya bisa memejamkan matanya, tubuhnya tiba-tiba terasa begitu kaku dan mulutnya hanya bisa mengatup. Semuanya mendadak hening, tidak ada yang terdengar selain engahan napas Shaka yang berbalut emosi dan amarah.


Detik ini Gayatri seperti disadarkan kalau semua kemiripan yang Rasya dan Shaka miliki bukan sebuah kebetulan. Laki-laki ini tidak mungkin bercanda dengan hal emosional seperti ini.


“Tolong gue Aya, gue harus tau siapa pembunuh Rasya. Lo tau kan? Hem?” kali ini Shaka bersuara rendah, nyaris tidak terdengar, tetapi suara itu yang membuat Gayatri membuka matanya dan menatap mata merah Shaka yang penuh rasa putus asa.


"Apa orang yang bikin lo selalu ketakutan yang bunuh adek gue?" lagi Shaka bertanya dengan serius. Cengkraman tangannya yang semakin keras di bahu Gayatri, seolah menunjukkan kalau laki-laki ini tengah menunggu jawaban Gayatri.


Gayatri hanya menggeleng, memangnya apa yang harus ia katakan pada laki-laki ini?


****

__ADS_1


__ADS_2