Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Merancang masa depan


__ADS_3

Seorang gadis masih terduduk di depan meja belajarnya. Ia tengah membaca-baca materi jam pelajaran terakhir yang ia lewatkan karena beristirahat di ruang kesehatan. Ada materi pelajaran ekonomi yang tidak ia mengerti dan harus membacanya berulang. Satu halaman ia baca sekitar delapan menit.


Beberapa istilah ia tandai dengan stabilo warna hijau muda. Lalu menggunakan ponselnya untuk berselancar di dunia maya dan mencari tahu arti istilah yang terasa asing untuknya.


“Elastisitas permintaan menggambarkan bagaimana permintaan barang atau jasa meningkat atau menurun ketika harga barang atau jasa tersebut berubah. Barang yang umumnya rentan terhadap elastisitas permintaan harus menunjukkan pola peningkatan harga barang yang akan menyebabkan penurunan permintaan, sedangkan penurunan biaya barang akan menyebabkan peningkatan permintaan.”


Mulut Gayatri bergumam lirih membaca satu paragraph penting itu. Ia menulisnya di buku paket, agar memudahkan saat ia mempelajarinya.


“Lalu, kalau kebijakan fiskal itu, mengacu pada pengeluaran pemerintah dan bagaimana pengaruhnya terhadap perekonomian, terutama jika tingkat pengeluaran berubah.” Kali ini Gayatri tidak langsung mencatatnya. Ia berpikir sejenak saat membaca uraian kalimat itu, perlu pemahaman lebih.


“Rupanya hal semacam ini yang mau lo urusin nantinya,” gumam Gayatri yang tersenyum kecil saat mengigat cita-cita Rasya yang katanya ingin bekerja di Badan Kebijakan Fiskal (BKF), milik kementrian keuangan.


Kepala gadis itu mengangguk-angguk, mengakui kalau sepertinya cita-cita Rasya cukup seru. Laki-laki itu memiliki arah pandang yang maju. Ia sudah tahu kelak akan menjadi apa, sementara Gayatri masih ragu untuk menentukan mimpinya di masa depan.


Meninggalkan sejenak mimpi Rasya, gadis itu beralih pada cita-citanya.


“Bekerja di kementrian luar negeri,” sebaris kalimat itu yang ia lakukan pencarian. Pencarian Gayatri membawa gadis itu masuk ke halaman persyaratan bekerja di kementrian luar negeri. Lengkap dengan jurusan Pendidikan yang menjadi prasyarat.


“Gue harus ngambil jurusan apa ya?” Gayatri bingung sendiri. “Hubungan Internasional? Apa akuntansi? Atau hukum? Jurusan komunikasi juga bisa rupannya,” lagi gadis itu bergumam sendiri.


Wajahnya begitu serius menatap layar ponselnya sambil menggigiti ujung ballpoint di tangannya.


Tring!


Sebuah notifikasi pesan masuk membuyarkan lamunan Gayatri. Pesan itu masuk dari grup kelompok belajarnya. Gayatri segera membukanya dan ternyata Rosi yang memulai perbincangan.


“Shakaaaa, lo beneran jadian sama Indah?” tanya Rosi dengan banyak tanda tanya dan emoticon di barisan kalimatnya.


Gayatri cukup kaget dengan pertanyaan Rosi. Matanya memincing mencoba melihat screen shoot percakapan Indah di grup yang lain. Memperbesarnya agar tampak lebih jelas.


“Oh my gosh!!! Shaka nembak gue gaisss!!!!” tulis Indah di dalam grup privatenya. Tidak private juga sih, karena percakapan itu ia bagikan di grup kelasnya.


Tidak hanya itu, Indah juga menunjukkan foto sepasang tangan yag saling menggenggam. Tangan yang diyakini milik Shaka terlihat setengahnya saja, ia berjalan di depan Indah dan memegangi tangan itu sambil berjalan.


“Serius?” gumam Gayatri, mempertanyakan keaslian foto itu.


“Shakaaa, keluar dong. Kok gak jawab sih?” Lagi Rosi memanggil-manggil nama Shaka di grupnya.


“Iya nih, ke mana orangnya? Wajib pajak jadian kaliiii….” David ikut menambahkan.


“Apa masih pacaran ya sama Indah? Cieee yang lagi lengket-lengketnya. Ehm! Mengiri deh!” Rosi terus-terusan menggoda Shaka.


Sayangnya tidak ada satu pun balasan pesan dari Shaka. Gayatri iseng mengecek kapan waktu terakhir Shaka online, ternyata dua jam lalu. Itu artinya laki-laki itu tidak tahu kalau gosipnya sedang menyebar.


“Besok kita jajan di kantin di traktir Shaka yaaa, di tunggu loh….” Rosi tidak berhenti menggoda walau Shaka tidak menimpalinya.

__ADS_1


“Duh, gue juga pengen dong punya pacar. Ada yang mau gak sama lelaki biasa-biasa yang hanya memiliki hati yang besar untuk memeluk hati yang merindukan kasih sayang,” tulis David dengan gaya khas anak senja.


Tidak ada yang membalas, pertanyaan David tidak di respon oleh siapa pun.


“Permisi, dua cewek di grup ini gue liat lagi online, bisa tolong jawab?” lagi David bertanya.


“Sorry ya David, agak kaget sama ketikan lo. Sorry juga karena sepertinya nggak dulu. Makasih,” balas Rosi seraya menangkupkan tangannya.


Gayatri hanya tersenyum kecil melihat jawaban Rosi. Ya tersenyum kecil saja, sampai kemudian ia termenung mengingat Shaka sudah memiliki seorang kekasih.


“Kenapa dada gue berat gini ya?” gumam Gayatri seraya memukul-mukul pelan dadanya yang mendadak terasa sesak.


“Ayaaa, masih belajar lo?” panggil sebuah suara dari luar sana.


Gadis itu pun terhenyak dan segera mematikan layar ponselnya. Tidak lama, pintu kamarnya terbuka dan muncullah sosok Mira. “Lagi belajar lo?” Wanita itu mengulang pertanyaannya.


“Hem, ada apa Nyak?” Gayatri balik bertanya. Buku-buku di hadapannya sengaja tidak ia tutup.


“Noh, ada temen lo. Temuin gih! Kayaknya sedih banget,” ucap Mira.


“Siapa?” Gayatri jadi penasaran.


“Lo liat aja sendiri,” Mira malah sengaja tidak memberitahu agar putrinya mau keluar. Ia berlalu pergi membiarkan pintu kamar Gayatri terbuka.


Gayatri terpaksa beranjak dari tempatnya. Ia melongok ke pintu dan ternyata sosok Shaka yang di suruh Mira masuk ke rumahnya. Benar yang dikatakan Mira, laki-laki itu terlihat sedih meski ia berusaha tersenyum.


“Ada apa lo ke mari?” tanya Gayatri.


“Laper,” keluh laki-laki muda itu dengan wajahnya yang sendu. Sudah seperti di rumahnya sendiri saja, laki-laki itu langsung duduk bersandar dengan lemah di sofa.


Gayatri menghembuskan napasnya kasar, ia pikir ada apa. Ternyata muka sedih Shaka itu karena sedang lapar. Lagi pula, bukannya saat ini harusnya laki-laki ini sedang berbahagia?


“Sono tunggu di teras belakang, nanti gue ambilin,” ucap Gayatri, yang menunjuk ke arah pintu belakang dengan sudut matanya.


“Iyaa, makasih Aya….” ucap laki-laki itu yang segera bangkit, sekali lalu masuk ke dalam rumah dan menuju teras belakang. “Waah, sekarang ada meja. Sengaja ya buat gue?” dengar, laki-laki itu berceloteh lagi.


“Geer! Itu tempat babeh ngopi,” sahut Gayatri. Ia mengambilkan sepiring nasi beserta beberapa lauk nasi yang ia tata di atas baki. Tidak lupa segelas air mineral untuk membantu Shaka meloloskan makanannya ke perut.


Dengan tertatih-tatih, Gayatri menghampiri Shaka di belakang sana. Laki-laki itu segera menyambut Gayatri dan mengambil alih baki di tangan gadis itu lalu menaruhnya di atas meja.


“Waaw, makasih Ayaa... Enak nih pasti,” ungkap Shaka yang menatap makanan di hadapannya dengan mata berbinar. Cepat sekali perubahan ekspresi laki-laki itu.


Gayatri hanya tersenyum kecil, ia ikut duduk di bangku panjang samping Shaka.


“Lo gak makan?” lagi remaja laki-laki itu bertanya.

__ADS_1


Gayatri hanya menggeleng. Ia sudah selesai makan malam setengah jam lalu.


“Gue makan ya,”


“Hem,”


Shaka pun memejamkan matanya beberapa saat sepertinya sedang berdo’a. Setelah bibirnya bergumam lirih mengucap amin, laki-laki itu pun segera menyantap makanannya. Gayatri jadi memandangi Shaka yang seperti sangat kelaparan.


“Kenapa?” tanya Shaka dengan mulut penuh makanan. Ia sadar kalau Gayatri sedang memandanginya.


Gadis itu segera memalingkan wajahnya dan memandangi langit malam yang dihiasi bintang-bintang yang saling berkerlipan.


“Lo gak makan malam sama pacar lo?” tanya Gayatri tiba-tiba. Agak sedikit sesak menanyakan hal itu.


“Lo tau?” Shaka malah balik bertanya.


Gayatri tidak menjawab. Toh dari pertanyaannya saja harusnya Shaka sadar kalau Gayatri sudah tahu.


“Si Indah anak yang seru, gak ada salahnya kan kalau gue lebih deket sama dia?” ucap Shaka yang masih melahap makannya. Sesekali ia melirik gayatri yang menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


“Lo harus belajar menghargai perasaan dia. Jangan datang ke rumah orang sembarangan.” Gayatri mencoba mengingatkan.


“Lo takut di kira selingkuhan gue?” Shaka bertanya dengan lugas. Bibirnya tersenyum meledek.


“Ish anjir yaa pertanyaan lo,” Gayatri mencebik kesal dengan pertanyaan Shaka.


“Ya iya, lo baru boleh was-was kalau lo ngerasa sebagai selingkuhan gue. Kalau gak ada hubungan apa-apa, kenapa mesti was-was? Kecuali lo juga suka sama gue,” tantang Shaka dengan jumawa.


“Dih Najis! Lo red flag,” ejek Gayatri.


“Gak apa-apa, paling nggak kita masih bisa ketemu. Dari pada yellow flag, gimana kalau kita pengen ketemu? Cuma lewat do'a doang, gak berasa kan?”


Pertanyaan Shaka membuat Gayatri menolehnya. Mereka saling bertatapan beberapa saat. Kunyahan Shaka juga terhenti, terlihat sekali gurat kesedihan di wajah Gayatri saat ia mengatakan hal itu. Apa gadis ini benar-benar merasa kehilangan adiknya? Jika iya, mengapa ia bungkam? Tidakkah ia tahu kalau kematian Rasya itu tidak adil?


“Gimana kaki lo?” Shaka mengalihkan pembicaraan dengan membahas kaki Gayatri.


“Aman, udah gak terlalu bengkak.” Hanya itu jawaban Gayatri. Ia tidak lagi berbicara, memilih membiarkan Shaka menikmati makanannya.


“Lo punya obat sakit kepala?” tanya Shaka tiba-tiba.


“Ada, bentar,” Gayatri segera beranjak, untuk mengambil obat di kamarnya.


Kepergian Gayatri ia jadikan kesempatan untuk memeriksa banyak hal. Di mulai dari memeriksa motor yang ditutupi terpal, Shaka membukanya dan ternyata benar, ini motor yang malam lalu menyelamatkannya. Bekas gesekan motor dengan aspal pun masih terlihat jelas. Shaka mempotretnya, juga mengambil sisa cat yang mengelupas. Kalau di lihat-lihat warna catnya sebagian sama dengan cat motor Rasya, jika jenisnya juga sama, berarti motor ini ada di lokasi kejadian.


Shaka mulai berpikir, apa mungkin cat yang ia temukan di lokasi kejadian adalah cat motor ini?

__ADS_1


Hanya beberapa saat Shaka memeriksa motor itu sebelum kemudian ia segera kembali ke kursinya karena suara langkah kaki Gayatri terdengar mendekat. Ia tidak boleh mencurigakan, semuanya harus kembali seperti biasan tanpa mengundang rasa curiga gayatri dan keluarganya.


****


__ADS_2