Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Tamu yang tak diundang


__ADS_3

Sabtu siang, Shaka masih disibukkan dengan mengatur dekorasi rumahnya. Jam tujuh malam nanti, teman-temannya akan datang untuk berpesta. Ia menyewa jasa event organizer untuk mendekorasi rumahnya. Kendati begitu, ia tetap ikut mengatur semuanya. Beberapa CCTV ia pasang di rumahnya, untuk memudahkan memantau pergerakan teman-temannya.


Fokus acara malam ini adalah untuk melengkapi petunjuk atas kematian Rasya. Acara pesta terpusat di kolam renang. Beragam alat canggih sudah ia siapkan salah satunya alat untuk merekam sidik jari teman-temannya saat mereka masuk ke tempat ini. Meski harganya tidaklah murah, tetapi benda ini Shaka perlukan untuk memvalidasi beberapa sidik jari yang ia temukan di TKP.


Beragam persiapan sudah ia rancang sedemikian rupa, termasuk untuk mendapatkan DNA teman-temannya. Sudah bisa di pastikan kalau semua persiapan ini akan memakan biaya yang fantastis. Namun hal itu tidak menyurutkan langkah Shaka. Tidak ada artinya uang yang selama ini ia kumpulkan jika tidak bisa membantunya mengungkap siapa pembunuh sang adik.


“Tuan, ada tamu di luar,” ucap petugas keamanan yang menghampiri Shaka di tepi kolam renang.


“Siapa?” Shaka yang penasaran segera berdiri tegak. Ia rasa belum waktunya teman-temannya untuk datang.


“Saya tidak mengenalnya. Mereka hanya mengatakan kalau mereka adalah teman tuan,” terang petugas keamanan itu.


“Aku akan menemuinya,” ucap Shaka seraya berpikir siapa sebenarnya orang-orang itu. Ia memberikan obeng yang sedang ia pakai untuk mengencangkan kotak lampu di tepi kolam renang.


Sambil beranjak, Shaka mengambil senjata apinya yang ia sembunyikan di pinggangnya. “Apa CCTV sudah menyala semua?” Shaka bertanya pada teknisi yang sedang naik ke dinding rumahnya dan mengatur letak CCTV.


“Belum tuan. Ada dua lagi yang sedang kami pasang,” sahut salah satu teknisi.


“Lakukan dengan cepat, waktu kalian tidak banyak.” Kalimat perintah itu yang Shaka ucapkan sebelum kemudian pergi untuk menemui tamunya.


Di teras rumahnya, dua orang sedang terduduk di kursi tunggu sambil membelakanginya. Dari kaca setebal 5 mili itu, bisa terlihat kalau ada seorang laki-laki dan seorang perempuan yang menunggunya. Pakaiannya cukup rapi begitu pun dengan potongan rambutnya.


Shaka segera membuka pintu rumahnya dan matanya membulat saat dua orang itu berbalik menghadapnya. Berdiri dengan sikap sempurna dan langsung menghormat.


“Lapor! Kapten David menghadap!”


“Lapor! Sersan Alya menghadap!”


Seru dua orang itu nyaris bersamaan.


Shaka menatap kaget keberadaan dua orang yang tidak ia sangka kedatangannya. Ia membalas hormat dua orang tersebut agar bisa menurunkan tangannya. Setelah Shaka membalasnya, David segera berhambur untuk memeluk Shaka. Ia tidak menyangka masih bisa bertemu lagi dengan Shaka dalam keadaan baik-baik saja. Padahal saat laki-laki ini memutuskan pergi, Shaka terlihat sangat hancur.


Mereka saling berangkulan beberapa saat dan menepuk bahu satu sama lain sebagai penguat.


“Bagaimana bisa kalian ada di sini? Kalian kabur?” tanya Shaka dengan penasaran. Ia menatap penuh selidik pada David dan Alya.


“Abang mau mengintrogasi kami di sini?” tanya David dengan senyum yang tersungging.


“Oh astaga, masuklah.” Karena kaget, Shaka sampai lupa mempersilakan tamunya masuk. Pria muda itu membuka pintunya lebih lebar dan membiarkan dua orang itu masuk.

__ADS_1


“Waw, rumahnya sangat besar Bang. Abang tinggal sendiri di sini?” tanya David yang di buat terkagum-kagum oleh rumah yang Shaka tempati.


“Iyaa… ini bantuan dari orang baik,” sahut Shaka seraya tersenyum kecil.


Orang yang Shaka maksud adalah seorang pengusaha yang telah ia bantu ketika anaknya terancam bom mobil. Shaka masih mengingat persis saat pertama kali ia berhasil menjinakkan b0m di sebuah sekolah dasar, sebelum mereka berangkat ke luar negeri. Orang baik itu juga yang membantunya mengurus identitas barunya.


“Wah, abang sangat hebat. Abang di tolong orang yang tepat.” David mengacung-acungkan kedua jempolnya pada Shaka.


“Duduklah, aku buatkan minum,” titah Shaka seraya berlalu pergi untuk membuatkan minuman di mini barnya. Mini bar ini baru di pasang dua hari lalu saat ia memiliki rencana untuk mengadakan pesta.


“Waahh, keren sekali. Ku pikir yang seperti ini cuma ada di film-film mafia saja Bang.” David malah ikut menghampiri. Ia mengusap permukaan meja dengan lembut lalu menoleh Alya yang mengekorinya di belakang. “Keren ya? Aku sampai bisa berkaca di sini,” ujar David pada rekan wanitanya.


“Iya,” Alya menyahuti seraya tersenyum. Ia melirik Shaka yang sedang mengambilkan minuman untuknya. Ia senang melihat Shaka yang terlihat baik-baik saja.


“Keren, tapi aku tidak menyediakan minuman beralkohol. Hanya ada soda, air mineral dan jus. Silakan kalian pilih saja,” Shaka menaruh ketiga jenis minuman itu di atas meja.


“Waahh terima kasih bang. Kita berbincang di sini saja ya Bang.” David masih berkicau dengan logat timurnya yang kental.


“Hem,” Shaka ikut duduk. Tiga orang itu kini duduk berhadapan di mini bar itu sambil menikmati soda dingin yang disajikan Shaka.


“Waah segar sekali rasanya. Sudah lama tidak minum minuman berbusa seperti ini,” ungkap David sambil memandangi botol minuman bersodanya.


“Emm belum Bang. Kami masih di markas. Dua hari setelah itu, tiba-tiba komandan memanggil kami dan meminta kami pulang. Katanya, untuk menemani dan membantu Abang menyelesaikan kasus ini. Kami juga di minta membawa Abang kembali setelah semuanya selesai. Anggaplah ini sebagai misi kita bersama sekaligus mengasah kemampuan Alya menjalankan misi pertamanya. Sekali mendayung, dua tida pulau terlampaui.”


David berujar dengan bangga, ia bahkan menepuk bahu Alya dengan enteng. Ringan sekali, seolah ia memperlakukan Alya sebagai teman laki-lakinya. Alya hanya tersenyum kecil, gadis ini mendadak jadi pendiam setelah bertemu kembali dengan Shaka.


“Tapi ini masalah pribadiku, bukan misi kalian. Lagi pula, aku sudah mengatakan kalau aku mengundurkan diri. Aku sudah mengirimkan surat pengunduran diriku pada komandan,” ujar Shaka seraya meneguk minumannya dengan gelisah. Ia tidak menyangka kalau Dwi masih menaruh perhatian padanya.


“Komandan tidak menandatangani surat pengunduran diri Abang. Beliau menganggap Abang sedang cuti. Karena itu ini menjadi misi kami, agar cuti Abang cepat selesai.” Bisa saja David menimpali.


Shaka hanya tersenyum kecil, selain dirinya yang keras kepala, Dwi jauh lebih keras kepala lagi.


“Perlu abang tau, kalau kita sekarang jadi teman sekelas. Cek lah di grup wa itu, kita satu kelompok,” ungkap David dengan rasa bangga.


“Maksudmu, kalian sekolah di sekolah yang sama denganku?” Shaka menatap David dan Alya dengan tidak percaya.


“Iyalah Bang. Apa bang gak kenal aku di grup itu? Grup yang ada gadis pendiamnya. Dingin sekali gadis itu, macam es batu saja. Ngana sampai bingung mau bicara apa dengan gadis itu.” David sampai bergidik merinding mengingat dingin dan acuhnya Gayatri.


“Untung aku sudah pindah kelompok, kelompokku sekarang sangat berisik. Aku benar-benar merasa kalau aku terdampar di pulau feminis. Semuanya berbicara di waktu yang bersamaan.” Alya ikut bersuara.

__ADS_1


"Kamu bekap lah mulut mereka tuh, biar gak terlalu berisik. Ajarkan kalau ada waktunya berbicara, ada waktunya menyimak," David memberi nasihat.


"Mereka bertiga Bang. Abang pikir aku dewa ganesha yang tangannya enam?" Alya beralasan.


"Hahahaha.... Iya juga ya... tanganmu cuma dua, kurus-kurus lagi. Kurang di fisik kamu," David malah meledek. Alya mendelik sebal mendengar ucapan seniornya. "Ngomong-ngomong Bang, udah berapa lama Abang satu kelompok sama Gayatri? Sudah bisa ngobrol belum sama dia?" David dengan rasa penasarannya yang tinggi.


“Cukup lama dan sampai sekarang belum bisa bicara. Sejujurnya, gadis itu salah satu tantanganku. Aku harus mendekati Gayatri,” aku Shaka yang tersenyum kecil.


“Abang menyukainya?” David langsung bertanya, wajahnya tegang setengah tidak rela. Begitu pun Alya yang menunggu benar jawaban Shaka.


“Aku harus mendapatkan kepercayaanya dan membuat dia mau bicara denganku. Karena dia teman dekat adikku. Dia tidak bisu, aku rasa dia hanya trauma. Dan aku yakin traumanya gadis itu ada hubungannya dengan kematian adikku,” terang Shaka dengan lengkap.


Dua orang itu kompak menghembuskan napasnya legas mendengar jawaban Shaka.


“Kalau begitu, kami akan membantu Abang untuk mendekati gadis itu, supaya faktanya segera kita temukan. Iya kan Alya?” David berujar dengan semangat. Gadis yang duduk disampingnya pun ia sikut.


“Iya, kami akan bantu Bang.” Alya pun ikut semangat menyahuti. Baginya yang penting fakta segera terungkap dan ia bisa segera membawa senior yang ia kagumi itu untuk pulang.


HATCHU!!!


Gayatri sampai bersin karena terus di perbincangkan oleh tiga orang itu.


“Lo sakit?” tanya Barkah yang membonceng putrinya di atas sepeda motor tuanya.


Gayatri tidak menjawab, ia hanya mengusap hidungnya yang terasa gatal. “Tau gitu lo gak usah ikut. Kita balik lagi aja lah, tinggal kurang daun bawang doang, bilang aja kalau kiosnya udah tutup,” ujar Barkah yang hendak membelokkan motornya.


Tanpa di duga, Gayatri memegangi tangan sang ayah dan tetap melajukan motornya ke depan sana. Ia tidak mau mendengar ocehan sang ibu yang sudah pasti akan sangat panjang.


“Takut diomelin lo ya? Hahahay…” Barkah tertawa geli bersahutan dengan suara bising knalpot sepeda motornya, sambil menatap putrinya lewat spion. Gayatri hanya diam dan memalingkan wajahnya ke arah lain. “Emak lo itu emang bawel. Tapi orangnya baik. Pesen gue, jangan diambil hati kalau dia ngoceh kayak mesin penggilingan padi. Paham lo?” pesan Barkah.


Gayatri tidak menimpali, gadis itu hanya mengerjapkan matanya, sebagai bentuk jawaban. Ia memang tidak pernah mengambil hati ucapan sang ibu, karena itu sudah menjadi karakternya.


“Jangan cepet-cepet gede ya Ya, gue gak tau siapa temen curhat gue kalau lo udah dewasa dan hidup sama laki-laki yang lo pilih. Hah… gue tau itu pikiran yang egois, tapi gue emang belum siap harus di tinggal lagi sama anak gue,” ungkap Barkah dengan nelangsa. Matanya yang sudah keriput dan tidak lagi jernih itu, menatap nanar jalanan beraspal yang sedang dilaluinya. Garis tengah berwarna putih itu masih sambung menyambung seperti harapannya.


Gayatri tidak menimpali, ia membiarkan saja Barkah berbicara sepuasnya diantara suara bising knalpot racing miliknya. Ia hanya memeluk laki-laki itu dari belakang, entah tujuannya berpegangan dengan erat atau memang ingin memeluk ayahnya. Yang jelas Barkah menepuk-nepuk tangan Gayatri dengan lembut, memberi gadis itu ketenangan dan menghilangkan efek samping obat yang diminum Gayatri.


“Menjadi dewasa itu sulit dan berat kata orang-orang. Tapi hal itu tidak pernah bisa di hindari. Setiap orang akan bertemu masanya, termasuk aku,” batin Gayatri. Saat ini pun ia sudah berada di posisi itu. Berat dan sulit, keadaan benar-benar memaksanya untuk dewasa dalam menghadapi semua masalahnya.


****

__ADS_1


__ADS_2