Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Persaingan


__ADS_3

Menjelang tengah malam dinginnya angin terkalahkan oleh panasnya hawa jalanan. Para pembalap sudah mulai berkumpul di arena balapan untuk memperrebutkan hadiah yang tidak sedikit itu. Edric sang ketua genk motor ‘Great black Knight’ menunjukkan uang hadiah sebesar 30 juta di atas meja. Tidak ada niatan lain selain untuk menyemangati para petarungnya malam ini.


“Siapa yang udah mencium wangi duit ini?!” teriak Edric pada anggota genk motor yang mengelilinginya.


“Wuuuuuuu!!! Kasih gue Bro! Kasih gue!!!” sorakan demi sorakan terus terdengar menimpali pertanyaan Edric. Laki-laki itu tertawa puas melihat antusiasme para pembalapnya. Si jago merah di dalam tong semakin menyala-nyala, membakar semangat para pembalap yang berjumlah sekitar empat belas orang.


“Kalian semua wajib taklukin sirkuit sebanyak empat putaran aja. EMPAT PUTARAN AJA!!!!!” lagi Edric berteriak membuat para pembalap kembali bersorak.


“Siapin mental kalian, 10 menit lagi pertandingan bakal di mulai!” ini kalimat terakhir yang Edric serukan sebelum suara musik semakin terdengar berisik dan berdegub kencang. Suara desingan knalpot motor pun terdengar semakin keras, bersahutan antara satu motor dengan motor lainnya. Edric menyuruh orang kepercayaannya untuk memasukkan uang itu ke dalam sebuah koper kecil dan menulisinya sebagai hadiah.


“Dari mana lo bro?” tanya Edric saat melihat Shaka yang baru kembali dari menepi.


“Ada urusan dikitt,” Shaka masih merapikan rambutnya yang tadi sengaja di buat berantakan saat akan mengirimkan foto pada Gayatri.


“Ngabarin pacar lo?” tanya Edric. Shaka hanya tersenyum, tidak bermaksud menimpali. “Brengsek lo emang! Bawa cewek lo kemari. Biar dia tau dunia lain cowoknya. Apa cewek lo anak rumahan yang diem-diem di rumah bae?” Edric melanjutkan rasa penasarannya.


“Bukan pacar lah bro,” Shaka masih mengingkarinya.


“Halah, kagak percaya gue! Kalau bukan pacar, kagak mungkin mata lo langsung on pas liat pesan dari dia. Dah, lo menangin deh balapannya, supaya dapet duit buat traktir cewek lo.” Edric menyemangati dengan cara yang berbeda.


“Seperti yang gue bilang, gue gak butuh duit. Tapi gue butuh bantuan lo,” Shaka bersikukuh dengan permintaannya siang tadi.


Edric menatap Shaka beberapa saat, sepertinya laki-laki ini bersungguh-sungguh dengan niatnya. “Lo mau apa sih? Dah kita duduk dulu,” Edric membawa Shaka kembali duduk di atas krat botol minuman keras yang di tumpuk.


“Gambar yang gue kirim, lo belum ngasih tau itu,” Shaka kukuh mempertanyakan gambar tengkorak yang ia kirimkan pada Edric.

__ADS_1


“Oh, itu gue udah cari tau. Itu lambang anak genk motor ‘Henka Kaizen’. Genk motor elit yang di bubarin sebulan lalu.” Edric menjawab dengan santai, sekali lalu meneguk minuman di tangannya.


“Lo serius?” Shaka langsung berreaksi, cukup kaget dengan jawaban laki-laki di hadapannya.


“Ngapain gue bohong?” Edric menimpali dengan yakin. "Tadinya genk motor itu sasaran gue, tapi setelah di bubarin, gue gak minat lagi. Memang sih masih ada anggotanyaa, tapi gue udah gak ada feel. Sasaran gue ketua genknya, gue harus naklukin dia dan jadiin dia prajurit di sini. Tapi dia ngilang, gak tau ke mana, setelah genknya di bubarin." Edric melengkapi penjelasannya membuat Shaka berpikir banyak.


“Terus kenapa di bubarin?” Shaka semakin penasaran saja.


Terlihat Edric menghembuskan napasnya kasar, tatapannya serius pada Shaka. “Mereka ngebunuh orang, tanpa meninggalkan saksi dan bukti sedikit pun.”


Jawaban Edric membuat Shaka terdiam. Ia mulai mendekati benang merah yang sedang di telusurnya.


“Maksud lo pembunuhan anak SMA dari sekolah terkenal itu?” Shaka ingin mempertegas rasa penasarannya.


“Itu lo tau!” Edric langsung menimpali membuat jantung Shaka seperti terhenyak dan berhenti berdetak beberapa saat.


“Weit, santai dong! Lo kayak mau bunuh gue aja.” Edric sampai memundurkan tubuhnya melihat respon Shaka yang begitu agresif.


“Oh, sorry sorry, gue gak ada maksud,” laki-laki itu berusaha menenangkan dirinya, menangkup wajahnya dan menekan sela alisnya yang mendadak pusing. Nyaris saja ia gagal mengendalikan dirinya.


“Gue gak tau siapa ketua genknya, dia gak pernah lepas helm. Cuma kalau beberapa motornya gue hapal. Gue pikir pas beberapa kali lo ikut tanding dan menang, tanpa nunjukkin siapa lo sebenarnya, lo adalah ketua genk itu. Tapi ternyata, lo cuma bocah ingusan yang punya banyak keberuntungan,” ejek Edric seraya menepuk bahu Shaka.


Shaka hanya tersenyum kecil, ucapan Edric mirip dengan ucapan Dwi, ia memiliki banyak keberuntungan. Sayangnya mereka salah, bagi Shaka kalau ia memang seberuntung itu, maka tidak seharusnya ia kehilangan Rasya. Harusnya ia dan Rasya bisa Bersama lebih lama, saling memiliki satu sama lain.


“Lo punya foto motor anggota genknya?” Shaka semakin penasaran.

__ADS_1


“Gak usah di foto, noh mereka jadi saingan lo,” ucap Edric seraya menunjuk ke sebuah gerombolan genk motor yang berjumlah sekitar delapan orang.


Shaka memiincingkan matanya, melihat dari kejauhan siapa sosok orang-orang itu. Semakin lama penglihatannya semakin jelas.


“Apa? Jadi mereka bener-bener anggota genk motor?” batin Shaka yang di buat terkejut.


****


Para pembalap sudah menempati posisinya masing-masing termasuk Shaka yang sudah menutup kepala dan wajahnya dengan helm full face. Tidak hanya memperhatikan jalanan, ia juga memperhatikan seseorang yang berada disampingnya dengan motor mahal dan mewahnya.


Ya, benar, dia adalah Dion. Gambar tengkorak yang Shaka cari selama ini jelas menempel di jaket kulitnya yang sudah pasti mahal. Jika di perhatikan, jaket kulit itu pasti produksi salah satu rumah mode Inggris. Bahannya dari serat terbaik yang membuat mahal di tambah dengan lambang genk motor yang menutupi punggung kokoh Dion. Sudah di pastikan harganya puluhan bahkan ratusan dollar.


Shaka pikir, laki-laki ini ketua genk motor itu, tetapi menurut Edric, Dion hanya anggota genk motor yang arogan dan sulit di atur. Itu mengapa ia tidak mentargetkan laki-laki ini masuk ke genknya, karena akan merusak genknya.


“Ternyata kita malah ketemu di sini,” laki-laki di samping Shaka itu berbicara di antara dengungan suara mesin motor. Ia mengenali Shaka dari motornya yang unik.


“Hah, lo bener. Tau gitu tadi kita janjian ketemu.” Shaka menimpali dengan santai. Satu pantangan berada di hadapan Dion adalah, terlihat terintimidasi. Saat kita menunjukkan hal itu, maka laki-laki ini akan merasa unggul dan akan terus menekan. Hal itu yang Gayatri alami saat ini.


“Lo pikir lo bakal menang dari gue?” Dion menoleh Shaka. Kaca helm yang sedikit terbuka di bagian matanya, membuat Shaka bisa melihat sorot mata tajam lawannya.


“Menyerah dan kalah gak pernah ada di kamus gue,” Shaka menimpalinya tidak kalah berani. Bibirnya menyunggingkan senyum. Meski di dalam helm, tetapi Dion bisa melihat itu dari sudut mata Shaka yang ikut menyipit saat tersenyum.


“Okey, kita buktikan siapa yang menang. Gue berpesan sebaiknya lo hati-hati. Karena bukan gak mungkin, pembalap amatiran macam lo hanya akan menjadi tumbal jalanan,” ancam Dion seraya menyeringai tipis.


“Hem, kita liat, apa bener gue musuhan sama jalanan atau justru bersahabat erat bagai kempompong,” ledek Shaka yang kembali tersenyum diikuti tarikan gas motornya yang membuat motor besar itu mengaum keras layaknya singa lapar dan mengeluarkan asap knalpotnya.

__ADS_1


Dion tidak lagi menimpali, tatapannya kini tajam pada jalanan di depannya. Hitam daan gelap, karena itu harus ia lewati dengan cepat.


****


__ADS_2