Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Berjuang untuk diri sendiri


__ADS_3

Dua orang itu kini berdiri berhadapan saling menantang. Gayatri sudah memasang kuda-kudanya, kedua tangannya mengepal di depan dada siap menangkis dan melakukan serangan. Kakinya terbuka cukup lebar ke depan dan belakang. Posisi tubuh yang pas untuk bersiap.


Sementara seorang oliver, tengah melepas kaos polosnya, mempertontonkan tubuhnya yang atletis dan memiliki banyak tato serta kalung kebanggan sebuah rganisasi perdagangaan narkoba internsional.


Kedua tangan laki-laki itu pun sama-sama mengepal, sedikit melompat-lompat kecil untuk pemanasan lalu bersiap dengan kuda-kudanya. Tatapannya terlihat tajam pada Gayatri disertai seringai mengecilkan kemampuan gadis muda itu.


“Maju lah lebih dulu, manis,” ucap laki-laki itu dengan isyarat tangannya yang memanggil Gayatri mendekat.


Meski bahasa Oliver tidak dipahami oleh Gayatri, tetapi gesturenya jelas meminta ia untuk menyerang lebih dulu. Tentu saja Gayatri tidak tinggal diam. Satu pukulan di layangkan dan Oliver berhasil menghindar.


"Oow, gagal manis." Laki-laki itu masih cengengesan melihat usaha Gayatri yang gagal hendak menjatuhkannya dengan pukulan tangan kanan. Pukulan kedua diberikan Gayatri dan Oliver menangkisnya, pandainya Gayatri, di waktu yang bersamaan ia menggunakan tangan kiri untuk memukul perut Oliver.


Otot perut yang tebal itu berguncang, Oliver merasakan nyeri yang lumayan meski ia masih bisa menahan rasa sakitnya.


“Lakukan dengan lebih baik manis, jangan ragu.” Laki-laki itu benar-benar menantang Gayatri. Adrenalinenya ikut terpacu melihat kegarangan anak kucing dihadapannya.


Gayatri kembali menyerang, layaknya bertinju, gadis itu memberikan pukulan bertubi-tubi di lengan kokoh laki-laki yang melindungi dada dan wajahnya. Oliver tidak melakukan perlawanan karena pukulan gadis ini masih bisa di tahannya.


Lemahnya pukulan Gayatri membuat laki-laki itu terkekeh, hingga ia lengah dan tiba-tiba Gayatri melompat tinggi, menjadikan kuda-kuda Oliver sebagai tolakannya, lalu memutar tubuhnya di udara dan,


BUK!


Tendangan kaki kokoh Gayatri menghantam leher Oliver.


“Akh!” Laki-laki itu sampai terhuyung sambil memegangi lehernya yang seperti akan patah. Kekuatan utama gadis itu ternyata ada di kakinya.


Beruntung satu tangannya masih bisa menopang tubuhnya yang kokoh, tidak langsung ambruk. Berganti Gayatri yang menyeringai, ia berhasil mengelabui Oliver hingga laki-laki itu menurunkan pertahanannya. Atau mungkin pertahanannya memang hanya sebatas itu.


Orang-orang Oliver sudah mendekat hendak membantu, tetapi Oliver segera mengangkat tangannya, melarang mereka. Tidak mungkin ia membiarkan Gayatri mengatakan ulang kalau ia seorang banci. Harga dirinya akan jatuh di kaki gadis muda ini.


“Bagunlah! Ban-ci,” berganti Gayatri yang menantang. Gadis itu menyeringai tipis, sebagian wajahnya tertutupi helaian rambut, namun sorot matanya yang tajam masih jelas terlihat.


Arisman yang melihat pertarungan itu pun mulai waswas, tidak mungkin kan seorang Oliver kalah dari anak ingusan macam Gayatri?


Oliver segera bangkit, hendak membalas kekalahan. “Haaaaaa….” teriak laki-laki tersebut sambil berlari untuk menyerang Gayatri.


Baku hantam pun tidak terelakkan, tangan mereka saling mengarahkan tinju dengan kuat dan cepat. Masing-masing masih bisa menangkis serangan, hingga kemudian Gayatri kembali menggunakan kakinya untuk melakukan tendangan yang sama.

__ADS_1


Sayangnya, Oliver bisa membaca Gerakan Gayatri. Ia segera memundurkan satu kakinya dan saat usaha Gayatri gagal, laki-laki itu meninju perut Gayatri hingga gadis itu terpaksa mundur beberapa langkah sambil memegangi perutnya yang ngilu.


Menggunakan kesempatan yang ada, Oliver menambah serangannya, meluncurkan tinju dan kakinya menendang kaki lincah Gayatri. Gayatri berbalik untuk sedikit mengambil jarak, tetapi Oliver menarik jaket Gayatri untuk menahan pemiliknya.


Jaket Gayatri sempat tertarik begitu pun dengan tubuhnya. Laki-laki itu memeluk tubuh Gayatri dengan erat. Tubuhnya yang kekar, membenamkan tubuh Gayatri dalam dekapannya. “Aku tidak akan melepaskanmu, manis,” bisik Oliver.


Tubuhnya yang terkunci, tidak lantas membuat Gayatri menyerah. Ia mendongakkan kepalanya tiba-tiba hingga membentur hidung Oliver untuk kedua kalinya.


""Sh!**!!" Laki-laki itu kembali mengaduh sambil memegangi hidungnya yang berdarah lebih banyak.


Saat laki-laki itu melepaskan pelukannya Gayatri segera menggunakan kakinya untuk menendang tulang kering kaki Oliver hingga kaki kokohnya rubuh.


Tidak sampai dia sana, Gayatri memutar tubuhnya menghadap Oliver, menggunakan satu kaki Oliver lainnya untuk di jadikan tolakan, hingga tubuhnya melayang di udara.


Bukan menendang, melainkan menjatuhkan kakinya di kedua bahu Oliver lalu ia cekik leher Oliver dengan kedua kakinya dan membanting tubuh laki-laki itu hingga ambruk di lantai.


Tubuh Gayatri ikut ambruk, tetapi hanya dengan satu tangannya, ia melakukan tolakan dan bergegas bangkit. Jaket yang ia kenakan di lepas dengan cepat lalu ia bungkuskan ke kepala Oliver dan ia pukuli laki-laki itu berulang kali dengan rasa puas.


Ia tengah membayangkan bagaimana laki-laki ini membunuh sahabatnya dan membuat sang kakak nyaris gila. Laki-laki ini juga menghancurkan keluarganya, maka tidak ada balasan yang setimpal selain membuatnya menderita bukan?


Ke enam laki-laki itu kompak menyerang Gayatri. Satu orang menendang tubuh Gayatri hingga gadis itu tersungkur ke lantai. Kewaspadaannya menurun karena amarah yang menguasainya.


Laki-laki lain bergegas menginjak punggung Gayatri dan menarik tangan kanan gadis itu lalu ia tekuk di belakang punggung Gayatri.


“Kalian habisi dia, jangan meninggalkan jejak!” titah Arisman yang kemudian mengecek Oliver yang terbaring di lantai. Wajah laki-laki itu dipenuhi lebam, pukul Gayatri ternyata tidak main-main. Meski masih sadarkan diri, laki-laki itu di buat kesulitan untuk bangun.


Satu orang pengawal Arisman, kukuh menginjak punggung Gayatri dan mengunci tangannya di belakang. Gayatri sudah meronta-ronta namun injakan itu malah semakin kuat dan membuat dada Gayatri seperti akan pecah.


Tidak lantas menyerah, Gayatri menggunakan kakinya untuk menendang punggung laki-laki itu. Layaknya seekor kalajengking Gayatri menekuk tubuhnya. Semua skill bela dirinya ia keluarkan karena tidak ada yang bisa menolongnya selain dirinya sendiri.


“Akh!” tubuh laki-laki itu sampai terdorong ke depan. Teman-temannya menghampiri Gayatri dan Gayatri memutar tubuhnya, berguling dengan cepat lalu bangkit dengan segera sebelum kaki kokoh para penjahat itu menginjak dadanya.


Arisman yang kesal, segera mengambil senjata di pinggangnya, menodongkannya ke arah Gayatri, “MINGGIR!!” seru laki-laki itu pada para pengawalnya.


Sayangnya, Gayatri bergerak lebih cepat dari laki-laki yang menyingkir itu. Ia berlari menghampiri Arisman, lalu sengaja menjatuhkan tubuhnya layaknya sedang berseluncur dan melebarkan kedua kakinya hingga rata di tanah. Dua kaki itu pula yang kemudian menendang kaki kokoh pria tersebut.


Arisman ambruk, senjatanya terlempar. Gayatri segera beranjak, “Jangan bergerak!” ucap seorang pengawal yang menodongkan senjata laras panjang ke kepala Gayatri. Gayatri terpaksa diam. “Angkat tanganmu!” titah pengawal itu lagi.

__ADS_1


Gayatri menurut saja, ia mengangkat tangannya ke udara mengikuti perintah. Ia mendengar pengawal itu mengisi selongsong senjatanya. Gayatri memejamkan matanya, mungkin dalam beberapa saat, laki-laki ini akan menembaknya.


“Biar aku yang melakukannya,” ucap Arisman yang berusaha bangkit. Ia ingin memastikan kalau peluruhnya sendiri yang menembus tubuh Gayatri.


“Hahahahaha….” Laki-laki itu tertawa lirih, berjalan sempoyongan untuk menghampiri pengawalnya. Ia mengambil alih senjata laras panjang dari tangan pria kekar di sampingnya.


“Kamu harusnya belajar saja di kelas Aya, jangan nakal begini,” ucap Arisman. Ia berjalan mengelilingi Gayatri, memperhatikan gadis itu baik-baik dan Gayatri masih tetap memejamkan matanya.


Telinganya mendengar suara gaduh yang mendekat, suara seperti deru mesin. Setelah yakin, gadis itu membuka kembali matanya dan menatap Arisman dengan tajam. Sepertinya ia perlu mengulur waktu.


“Apa Om menikmati semua yang Om lakukan ini?” tanya Gayatri dengan berani.


“YA!” laki-laki itu menjawab dengan cepat. Ia masih berjalan di sekitaran Gayatri dengan senjata yang tertuju pada anak gadis itu. dengan isyarat matanya, ia memerintahkan anak buahnya untuk membantu Oliver bangun.


“Saya membangun rantai distribusi ini selama bertahun-tahun. Mencari partner terbaik hingga harus keluar negeri. Tapi, kamu merusaknya Aya. Kamu dan teman kamu yang bodoh itu. Karena kepolosannya juga, membuat Oliver terpaksa membunuhnya. Hah, sayang sekali. Padahal masa depannya masih panjang.” Arisman tersenyum kecil, namun bukan empati, melainkan senyum ejekan.


“Harusnya kalian gak liburan ke Bromo, jadi temen kamu gak harus liat transaksi saya. Dia juga gak harus terus-terusan memata-matai Oliver dan Dion di sekolah, hingga membuat saya terpaksa mengambil langkah tegas. Sayang sekali Aya, sayang sekali. Ckckcck….” Arisman berdecik.


Gayatri menatap Arisman dengan lekat, seluruh bola matanya seperti menghitam saat mendengar pengakuan laki-laki ini. Laki-laki biadab yang menghalalkan segar acara untuk memenuhi keinginannya.


“Apa Om juga yang nulis pesan kematian Rasya?” Gayatri merasa ini penting untuk ditanyakan.


“Tentu bukan. Saya punya anak tidak berguna yang kali ini bisa Saya manfaatkan. Hah, Saya tau, kamu pasti kecewa sama Dion. Padahal dia sayang banget sama kamu. Kamu satu-satunya orang yang dia minta agar tidak saya bunuh. Tapi Aya, saya harus menentukan pilihan. Dan pilihannya, saya tidak bisa membiarkan kamu hidup,” ungkap laki-laki itu dengan ringan.


Ia berjalan ke belakang Gayatri dan menodongkan senjata itu kembali ke kepala Gayatri. Telunjuknya hendak menarik pelatuk, namun tiba-tiba sebuah cahaya terang menyorot dari luar.


“Siapa itu?” tanya Arisman yang terkejut.


Pengawal Arisman mengintip dari pintu dan terlihat cahaya itu berasal dari lampu motor yang berbaris rapi. “Para berandal itu datang tuan!” seru seorang pengawal yang ketakutan.


“Sial!” dengus Arisman. Entah sejak kapan mereka datang hingga suaranya tidak terdengar.


Ini kesempatan yang baik untuk Gayatri, saat Arisman lengah, ia segera memutar tubuhnya dan menendang senjata di tangan Arisman hingga jatuh terpental.


Pengawal lain menodongkan pistolnya ke arah Gayatri, namun Gayatri segera bangkit dan berlari untuk bersembunyi.


DOR!

__ADS_1


__ADS_2