Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Wanita pujaan


__ADS_3

Suara tembakan itu memekakkan telinga bersamaan dengan siraman air yang di terima Gayatri tepat di sekujur tubuhnya yang tidak berdaya.


Gadis itu langsung sadarkan diri. Ia terbangun dan kesadarannya segera berkumpul. Pandangan matanya yang masih kabur coba ia fokuskan. Ia menggelengkan kepalanya untuk menghalau helaian rambutnya yang berantakan dan meneteskan butiran air.


Ia perhatikan baik-baik lingkungan asing di sekitarnya. Tidak terlihat jelas, karena penerangan disekitarnya minim, hanya ada lampu gantung yang bergerak ke kiri dan kanan terkena siraman air yang menyiram sosok Gayatri.


Tubuh yang basah kuyup itu terduduk di atas sebuah kursi kayu dengan tangan dan kaki terikat. Ia mengibas-ibaskan tangan dan kakinya, mencoba melepaskan diri tetapi ikatannya sangat kuat, tidak lepas hanya dengan ia berontak.


“Privet, pank,” sapa sebuah suara dalam bahasa Russia yang berarti, ‘Halo berandal!’.


Pelan-pelan pemilik suara yang asing itu menampakkan wajahnya di bawah lampu gantung dan terlihat jelas wajahnya yang menyeringai garang.


Gayatri tidak terlalu kaget, saat wajah yang muncul adalah milik Oliver sang wakasek umum bersama seorang laki-laki di belakangnya yang tidak lain adalah Arisman.


“Kamu sepertinya tidak terkejut anak kecil. Apa karena kamu sadar kalau kamu melakukan kesalahan, hah?” tanya Arisman yang menghampiri Gayatri yang menaikkan kaki kanannya di sisi kiri bangku yang diduduki Gayatri.


“Kesalahan? Apa menyelamatkan seorang sahabat yang sekarat itu sebuah kesalahan?” Gayatri balik bertanya dengan berani.


PLAK!


Bukannya sebuah jawaban, malah tamparan yang diterima gadis itu dari tangan Arisman. Rasanya sangat panas dan perih, leher Gayatri juga sampai sakit karena berpaling secara paksa. Sudut bibirnya mengeluarkan tetesan darah, sedikit demi sedikit kemudian berkumpul dan menetes di lantai berpasir yang terbuat dari beton.


“Mne nravyatsya neposlushnyye devushki,” ucap Oliver seraya melepas jaket tebalnya dan melemparnya jauh-jauh. Hanya tubuh sixpacknya yang terlihat jelas di hadapan Gayatri dan di balut kaos polos berwarna hitam.


Gayatri memandangi dada laki-laki itu, bukan karena bentuknya yang bidang dan seksi melainkan karena ada kalung yang tergantung di lehernya. Kalung yang pernah diperlihatkan Shaka sebagai identitas sebuah gembong narkoba.


Aris menarik tubuhnya menjauh saat mendengar pengakuan Oliver yang katanya menyukai gadis pembangkang ini. Laki-laki itu mempersilakan Oliver untuk mendekat dan ia mundur beberapa langkah. Mungkin kali ini ia akan melihat sebuah pelajaran menarik yang akan diberikan Oliver pada gadis manis yang putranya mintakan agar tidak pernah ia sentuh.


“Aku akan bantu papah menjebak Rasya, tapi jangan sentuh Gayatri,” kalimat itu kembali berdengung saat Dion memberinya penawaran. Penawaran bodoh yang tentu tidak akan dipenuhi oleh seorang Arisman.


Oliver mendekat pada Gayatri, ia menatap sepasang mata yang waspada itu dengan lekat. Ia sempat sangat takut kalau gadis ini akan mati setelah bertarung habis-habisan dengan anak buahnya. Terlebih saat salah satu anak buahnya memukul kepala belakang Gayatri hingga gadis ini jatuh tersungkur tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Hal itu memang wajar dilakukan, mengingat sulitnya melumpuhkan Gayatri padahal ia bertarung seorang diri melawan enam laki-laki dewasa yang piawai berkelahi.


“Kamu sangat kuat dan membuatku jatuh cinta,” Oliver masih berbicara dalam bahasa Rusia yang tidak Gayatri pahami. Tetapi dari kilatan matanya, Gayatri melihat niat jahat laki-laki yang menyeringai padanya.


Laki-laki itu semakin mendekat saja. Satu tangannya mencengkram dagu Gayatri dengan kuat dan satu tangan lainnya mengusap rambut Gayatri yang basah dan menutupi wajah cantiknya.


Matanya menatap tajam sepasang mata yang hanya berjarak satu jengkal saja dari matanya. Ia bahkan bisa merasakan hembusan napas Gayatri yang menderu dari mulut dan hidungnya.


Gayatri mencoba berontak, tetapi cengkraman Oliver malah semakin keras saja, hingga pipinya sampai tertarik dan bibirnya mengerucut. Laki-laki itu pun menyeringai melihat sorot mata yang mengancam dan nyala kemarahan yang begitu besar.


“Harusnya aku menemuimu sejak awal. Kamu terlalu cantik. Sangat disayangkan harus patah hati oleh anak kecil yang aku bunuh.” Aku Oliver yang hanya ditertawakan oleh Arisman. Ya, hanya laki-laki itu yang mengerti ucapan Oliver sementara Gayatri terlihat kebingungan.


“Apa maksud laki-laki sialan ini? Terjemahkan kalau memang kalian bernyali!” titah Gayatri dengan kesal. Suaranya terdengar tidak jelas karena dagunya masih di cengkram Oliver.


“Dia menaksirmu Aya,” ucap Arisman seraya terkekeh, membuat Gayatri menatapnya jijik.


Melihat tatapan Gayatri yang mengancamnya, Oliver menyeringai, ia semakin mendekatkan wajahnya pada Gayatri. Mengusap pipi gadis itu dengan jambangnya yang lebat lalu berbisik lirih. “I want you,” kata itu yang kemudian Oliver ucapkan di telinga Gayatri dengan penuh gairah. Ia yakin kalau tiga kata itu cukup Gayatri pahami.


DUK!


Tanpa di duga, Gayatri malah menanduk laki-laki itu dengan kepalanya, tepat di hidung laki-laki itu.


"AWH ****!!!” dengus Oliver yang kesakitan. Tandukan Gayatri membuat hidung bangirnya terasa seperti patah. Ia mundur beberapa langkah sambil memegangi hidungnya yang berdarah.


PLAK!!


Gayatri mendapatkan tamparan untuk kedua kalinya dan kali ini dari Oliver. Laki-laki itu segera mengambil senjata yang ada di atas meja dan menodongkannya pada Gayatri. Kemarahannya semakin menjadi.


“Aku tidak suka bermain-main denganmu anak kecil! Kamu telah membuatku tidak bisa keluar dari negara ini, maka kamu harus menemaniku bermain-main!” seru Oliver dengan logat Rusianya yang kental.


Gayatri tidak ambil peduli. Meski ia tidak mengerti kata-kata Oliver, tapi ia yakin laki-laki ini hanya mengertaknya.

__ADS_1


“Berduel denganku jika kamu berani lelaki banci!” teriak Gayatri dengan segenap keberanian.


“Hahahahahaha!!!” Arisman malah tertawa lebar mendengar tantangan duel dari Gayatri. Gadis ini pikir sehebat apa dirinya? Bukankah hanya jago di jalanan saja?


“Apa yang dia katakan?” tanya Oliver pada Arisman yang tertawa puas.


“Dia mengajakmu berduel, Hhahahahahaha….” Arisman kembali tertawa dengan nikmat.


“Hahahahha... Gadis ini memang menarik. Okey! Dia pikir aku takut?” ternyata Oliver menyanggupinya. Tidak mungkin ia membiarkan seorang anak kecil merendahkan harga dirinya.


“Kamu serius? Mau melawan anak kecil?” tanya Arisman yang terkejut.


“Kenapa tidak? Dia menghinaku, mana mungkin aku membiarkannya. Lepaskan ikatannya!” seru Oliver pada anak buahnya.


Gayatri baru tersadar kalau enam orang laki-laki yang ia buat babak belur itu bersembunyi di kegelapan. Satu orang mendekat, laki-laki bermata lebam karena tinju Gayatri.


Sambil waspada Ia melepaskan ikatan tangan Gayatri lalu kakinya. Belum sempat laki-laki itu beranjak, Gayatri sudah lebih dulu mengangkat lututnya hingga,


DUK!


Membentur rahang laki-laki itu. laki-laki itu meringis kesakitan sambil memegangi dagunya dan sedetik kemudian, Gayatri menendang dada laki-laki itu hingga terjengkang.


“Serang!” seru salah satu anak buah Arisman yang tidak terima temannya di buat jatuh terkapar dengan tendangan Gayatri.


"TAHAN BODOH! SIAPA YANG MENYURUHMU MENYERANG?!" seru Arisman pada anak buahnya.


Para lelaki yang sudah bersiap pun terpaksa menurunkan kepalan tangannya.


"Dia bagianku," ucap Oliver seraya menepas kaos polosnya dan memoertontonkan otot dadanya yang tertata rapi dengan rambut halus yang menutupinya.


Gayatri pun segera bersiap dengan kuda-kuda kokohnya. Kedua tangannya sudah mengepal di depan dada, siap menyerang. Bisakah ia menghadapi laki-laki yang memiliki ukuran tubuh jauh lebih besar darinya?

__ADS_1


****


__ADS_2