
“Ini Shaka kemana sih? Gue chat dari tadi gak di bales juga!” kekesalan itu berasal dari bibir tipis milik pick me girl, Indah.
Gadis berbando rabbit itu masih terbaring di sofa, dengan masker warna hijau yang menutupi wajah cantiknya. Ada empat orang anak gadis yang berkumpul di rumah itu, mereka sedang menikmati waktu mereka, rehat dari kesibukan mengerjakan tugas kelompok. Tidak kelompok sebenarnya, karena yang dominan sibuk adalah Alya.
“Lagi sama si Aya kali! Gue perhatiin mereka kayaknya suka chatingan. Iya gak sih?” ucap Rima seraya menyikut sahabatnya, Winda.
“Gue gak ikutan. Gak mau urusan gue sama si Aya.” Gadis itu memilih anteng dengan ponselnya yang sedang menampilkan sebuah platform digital. Seorang pria tampan tampak sedang lipsing lagu yang saat ini sedang viral. Sosoknya yang hitam manis, membuat Winda betah berlama-lama memandangi wajah pemilik senyum gula jawa itu.
“Apa sih yang lo takutin dari si Aya sekarang? Tuh cewek kan udah gak berkutik sejak si Rasya meninggal? Ngomong aja gak bisa, apalagi ngehadapi gue?” Keberanian Indah tiba-tiba muncul mengingat kondisi Gayatri saat ini.
“Iya juga sih. Kalau dia macem-macem, lo kasih liat aja video waktu si Aya balapan sama genk motor, ke kepala sekolah. Edit waktunya, biar seolah itu kejadian baru-baru ini. Biar dia di keluarin sekalian dari sekolah kita.” Saran Rima membuat Alya cukup terhenyak. Ternyata para gadis ini bisa semanipulatif itu.
“Hahahaha.... cerdas juga lo!” Indah tertawa sinis. “Tapi, biar maen cantik, gimana kalau kita bikin akun sosmed atas nama si Aya? Terus kita up itu video di akun itu? Biar seolah dia sendiri yang main memperlihatkan kebobrokannya. Jadi tangan kita tetep bersih. Gimana?” Indah ikut menyumbangkan idenya.
“Anjir! Ide lo brilian banget! Suhu lo emang!” Rima langsung bangkit duduk dari tempatnya, begitu pun dengan Wanda.
“Ya iyaalaah... Indah di lawan. Sekalian kita share-share videonya dia, biar FYP sampe ke kepala sekolah. Kan seru tuh!” Indah pun semakin semangat.
“Aakkk gue mau ikutan... ngeliat Aya FYP dengan membanggakan tingkah bobroknya.” Rima berseru semangat, sambil memegangi tangan Indah dengan gemas.
“Gue gak mau ikutan ya. Gue gak mau salah langkah! Kalian aja berdua, gue gak mau malah kena getahnya.” Winda memilih untuk tidak ikut campur.
“Akh, gak asyik lo!" Indah mentoyor kepala Winda dengan ringan. "Awas aja kalau lo bocorin ini ke yang laen, lo yang bakal habis!” ancam Indah dengan mata yang menyalak pada sahabatnya.
“Nggak lah. Kalau gue bocorin kan gue juga yang kena.” Rupanya Winda salah satu siswa yang memilih jalur aman.
“Heh, Alya, lo ikutan kan?” Rima menarik-narik lengan baju Alya yang masih anteng terbaring sambil membaca novel roman picisan.
“Emang masih boleh punya aku sosmed? Bukannya kita juga di larang?” Gadis itu terpaksa menurunkan buku bacaannya.
“Ya lo pake akun bodong lah, jangan pake akun asli. Cerdas dikit napa sih? Begok kok di piara,” sindir Rima yang membuat Indah terkekeh geli mendengar ledekan sahabatnya.
“Eemm, okey, nanti gue bikin. Akun sosmed lo apa? Biar nanti gue add...” Alya ikut beranjak dari tempatnya, mengambil buku catatan untuk menuliskan nama akun medsos ketiga teman barunya.
“Dih si begok masih nulis di buku catatan! Pake note aja napa sih? Atau lo add langsung apa susahnya? Coba sini mana hp lo!” Rima langsung menengadahkan tangannya meminta ponsel Alya.
__ADS_1
“Hp gue mati, kehabisan baterai. Gue catet ajalah, nanti gue bikin akunnya di rumah.” Alya sudah bersiap dengan buku catatan dan ballpointnya.
“Sini gue tulis!” Rima merebut buku di tangan Alya dengan kasar. Alya membiarkannya saja, lagi pula kalau melawan malah dia yang akan kalah. “Lo mau akun yang mana yang dipake?” tanya gadis itu pula pada Indah.
“Yang Queenbe aja. Itu yang paling aman.”
“Okey,” Rima mencatat akun milik Indah, miliknya dan juga Winda. “Nih, nanti lo add. Awas kalau sampe besok lo belum bikin akun fakenya!” ancam gadis itu seraya menjejalkan buku catatan itu di tangan Alya.
“Iyaa, nanti gue bikin di rumah.” Alya menyahutinya dengan santai. Ia memasukkan bukunya ke dalam tas lalu beranjak menuju wastafel. Baru kali ini ia tahu kalau teman-temannya tetap aktif bersosial media secara sembunyi-sembunyi menggunakan aku fake.
“Mau ke mana lo?” tanya Winda saat melihat Alya beranjak.
“Gue pulang dulu, udah malem ini. Belum nyiapin buku buat besok,” sahut gadis berambut pendek itu seraya membilas wajahnya, dibersihkan dari masker yang mulai mengering.
“Hah, nyiapin buku segala. Gak usah kerajinan, toh akhirnya bakal pada lulus kok. Lagian masa depan kita juga udah jelas, udah disiapin sama orang tua kita. Gak usah ribet-ribet deh!” Indah begitu santai berbicara.
“Iya, karena lo berasal dari keluarga yang hebat. Sementara gue dari keluarga biasa-biasa. Gue perintis, bukan pewaris.” Alya menyahuti tidak kalah santai.
“Oh ya, gue hampir lupa kalau kasta kita emang beda. Bagus kalau lo sadar diri.” Gadis itu memang tidak mau kalah. Saat di beri landasan, ia akan terbang sangat tinggi. Seolah yakin kalau ia akan mendarat dengan mulus sesuai cita-citanya.
“Gue balik yaa, nanti gue add.” Hanya itu yang disampaikan Alya, sebelum kemudian pergi begitu saja.
“Hush! Hush!” Indah dan Rima mengibas-ibaskan tangannya dengan bibir mengerucut layaknya mengusir gadis tersebut.
Alya tidak habis pikir. Yang ia lakukan kemudian adalah menghubungi Shaka dan mengirimkan sebuah pesan melalui aplikasi chatnya.
****
“Lo belum tidur?” suara Shaka mengagetkan Gayatri yang sedang berada di dapur.
Gadis itu terhenyak sampai hampir menumpahkan air yang sedang diminumnya. Gayatri segera menelan sisa air di mulutnya, dengan mata mendelik kesal.
“Sorry, gue ngagetin ya?” ucap laki-laki itu seraya menyodorkan selembar tisue pada Gayatri.
“Lo juga belum tidur,” Gayatri mengambil alih tisue dari tangan Shaka untuk mengelap bibirnya.
__ADS_1
Malam ini, Gayatri memutuskan untuk menginap di rumah Shaka, karena ia masih harus mengurus sang kakak. Tidak mungkin rasanya membiarkan Shaka yang mengurus kakaknya seorang diri.
Homecare, adalah perawatan yang akan dilakukan Gayatri pada Galih. Gayatri bersikukuh untuk membawa Galih pulang hingga sampai harus menandatangani surat pernyataan pulang paksa. Alasan keselamatan Galih dan kelalaian perawatan selama di rumah sakit, menjadi alasan terberat yang Gayatri gunakan untuk memaksa dokter mengizinkan sang kakak pulang.
Meski demikian, gadis ini memutuskan untuk menghubungi psikiater yang akan menjadi konsulen bagi Galih. Ia juga sepakat dengan Shaka untuk memberikan perawatan terbaik untuk Galih selama laki-laki ini di rawat di rumah. Itu mengapa, Gayatri tidak mau merepotkan Shaka lebih jauh lagi.
“Gue laper. Lo mau mie instan?” tawar laki-laki itu.
“Di mana mie instannya? Biar gue masakin,” Gayatri begitu sigap, ada rasa ingin berguna bagi pemilik rumah yang begitu baik padanya.
“Gue bisa masak sendiri kok,” sahut laki-laki itu.
“Lo suka ngalangin orang buat berbuat baik ya?” tanya Gayatri kemudian.
“Gue tau lo cuma mau balas budi, padahal budi gak punya salah." Terdengar suara kekehan dari laki-laki itu. Gayatri mendelik kesal atas candaan Shaka yang dianggapnya tidak lucu.
Okey,” Shaka langsung mengangkat kedua tangannya ke udara, give up. Ia membiarkan gadis itu memasakkan mie untuknya. “Pancinya di bawah, dan mienya di atas. Gue suka pake telor setengah mateng terus di kasih susu low fat sebagai kuahnya. Pake irisan daun bawang juga boleh, cabenya jangan di aduk, di kasihnya terakhir aja, taburin di atas telor sebagai pengganti merica.” Banyak juga aturan memasak mie yang Shaka punya.
Gayatri tidak menimpali, ia berjongkok untuk mengambil panci kecil di kolong meja kompor yang tertutup pintu kecil, lalu mengisinya dengan air panas dari dispenser. Diambilnya juga satu butir telur dari rak telur yang ada di atas meja, serta daun bawang dari dalam kulkas. Tidak lupa, susu low fat yang belum di buka.
Telur yang lebih dulu di masaknya dengan hati-hati, agar tidak pecah. Ia menyalakan stopwatch di ponselnya untuk menentukan waktu yang pas agar telurnya matang setengah matang saja. Katanya lima menit waktu yang diperlukan.
Shaka sang mandor, tampak memperhatikan saja di belakang sana, sambil bersidekap dan bersandar pada meja kecil.
Tidak lama, gadis itu berjinjit untuk membuka kitchen set yang ada di atas kepalanya. Tangannya melambai-lambai berusaha meraih pintu kitchen set. Tetapi handle kitchen set itu terlalu tinggi hingga Gayatri kesulitan menggapainya.
Shaka tidak tinggal diam, ia segera menghampiri Gayatri dan berdiri di belakang gadis itu. Jarak mereka hanya beberapa senti saja saat Shaka mengambilkan mie untuknya. Gayatri terlihat cukup kaget saat sadar kalau tubuh Shaka sangat dekat dengannya. Keduanya tidak sengaja bertatapan dengan lekat membuat wajah keduanya tiba-tiba merona.
Gayatri hendak mengambil mie di tangan Shaka, perasaannya mulai tidak karuan saat laki-laki itu menatapnya lekat dengan segaris senyum tipis yang membuat jantung berdebar kencang. Sayangnya, bukannya memberikan mie itu, Shaka malah mengibaskannya.
“Kalau udah di bantu, harusnya bilang apa?” tanya laki-laki itu seraya merundukkan tubuhnya, mendekatkan telinganya ke bibir Gayatri.
Gadis itu sempat menarik tubuhnya menjauh saat jarak kepala Shaka terlalu dekat dengannya.
“Ayo, bilang apa?” Laki-laki itu masih menunggu ucapan terima kasih Gayatri.
__ADS_1