Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Kang rusuh


__ADS_3

Wajah cerah Gayatri terlihat jelas saat sosoknya muncul di balik pintu. Semburat senyum terlihat samar di wajahnya yang selama ini selalu datar. Barkah yang sedang berada di sofa, menerima segelas teh dari sang istri, segera melirik sang istri. Anak gadisnya lewat begitu saja seperti tidak melihat kedua orang tuanya dan malah langsung masuk ke kamarnya.


“Badan gue kurusan ya? Si Aya sampai gak liat gue begitu,” ucap Mira dengan penuh keterkejutan.


“Kagak tau. Lo liat gak tadi mukanya berseri-seri gitu?” Barkah balik bertanya.


“Iya, makanya aneh. Bentar gue liat dulu,” Mira segera beranjak hendak pergi ke kamar putrinya.


“Eehhh, gak usah. Ngapain di samperin?” Barkah menahan lengan sang istri agar tidak pergi.


“Gue khawatir maniaknya kambuh,” meski urung melanjutkan langkahnya, perasaan wanita itu tetap saja cemas, menatap daun pintu kamar Gayatri yang tertutup rapat.


“Kalau maniaknya kambuh, itu anak jalannya gak bakalan pelan kayak siput sambil diresapi gitu. Mukanya kagak bakalan keliatan tenang dan berseri-seri, malah bakal keliatan kayak mau perang. Gue rasa itu anak bukan lagi maniak tapi….” Barkah tampak berpikir keras.


Dua orang itu saling menatap satu sama lain, lalu kompak berlari cepat menuju pintu kamar Gayatri. Sama-sama menempelkan telinganya di sana untuk mencuri dengar apa yang terjadi di dalam sana.


“Lo denger sesuatu gak?” bisik Barkah pada sang istri.


“Kagak. Sepi doang. Ini pintu ketebelan kayaknya, lebih kenceng suara napas lo,” Mira jadi ikut penasaran.


Ceklek, suara handle pintu terdengar di putar, Mira dan Barkah segera berlari kembali ke sofa dan pura-pura tidak terjadi apa-apa. Mira berakting seperti sedang mencari kutu suaminya dan Barkah berakting membaca koran dengan terbalik.


“Pendapatannya lumayan hari ini, makanya mending lo bantuin gue di kedai,” ucap Mira tiba-tiba saat melihat Gayatri keluar dari kamarnya. Ia menarik-narik rambut Barkah sebagai isyarat agar menimpali kalimatnya.


“Oh, iya.” Barkah yang bingung hanya menjawab seadanya.


“Oh iya apanya begok!” dengus Mira dengan suara pelan. Sepasang matanya memperhatikan Gayatri yang berjalan ke dapur dan mengambil gelas. Rupanya gadis itu akan minum. Dua orang ini tidak lagi berbicara dan malah memperhatikan Gayatri hingga air di gelasnya habis ia teguk.


Setelah minum, Gayatri kembali ke kamarnya dan menutup pintu itu rapat-rapat.


“Tadi gue liat dia ngambil sisa soto di panci, gak tau di bawa ke mana,” bisik Mira seraya memukul lengan Barkah, mengajak suaminya bergosip.


“Lo kagak tanya?” Barkah langsung menimpali. Ia sedikit bergeser untuk memberi Mira ruang untuk duduk di sampingnya.


“Emang dia bakal jawab?” Mira balik bertanya.


“Hooh juga ya. Di bawa ke mana itu kuah soto? Masa iya dia pergi-pergian jauh, sementara motornya di parkir di sini dari tadi?” Barkah menambah rasa penasarannya pada tingkah sang anak. Pasutri ini memang kompak saat bergosip. Mereka sama-sama memandang pintu kamar Gayatri dengan penuh selidik. Kabarnya sampai sekarang mereka masih memandangi pintu.


Gadis yang sedang digunjingkan itu saat ini sedang berada di kamarnya. Ia berdiri di depan cermin yang menyatu dengan lemari pakaiannya. Ia menatap bayangan dirinya sendiri sambil mengikat rambutnya tinggi-tinggi.


“Ra-sya… Ra-sya…” dua kata itu yang ia ucapkan dengan pelan dan suara seraknya kembali terdengar. Gadis itu tersenyum kecil karena akhirnya ia bisa menyebut nama itu lagi tanpa rasa tersedak di tenggorokannya.


Gayatri menghela napasnya dalam, setelah satu bulan akhirnya ia bisa bersuara lagi. Ia berbalik menghadap meja belajarnya, mengambil foto sahabatnya yang terpajang di sana. Lalu menatapnya dengan lekat.


“Gue bisa manggil nama lo lagi Sya. Tapi sayangnya udah terlambat,” ucap Gayatri seraya menatap foto Rasya dan mengusap wajah ceria itu dengan ibu jarinya. Tidak gemetar seperti sebelumnya, karena ia tidak harus berusaha keras mengeluarkan sesuatu yang seperti terpenjara dalam dirinya sendiri.


“Lain kali, kalau lo datang lagi di mimpi gue, gue akan panggil nama lo sekerasnya. Sangat keras sampai orang itu takut dan ngelepasin lo,” lagi Gayatri berujar dengan penuh kesungguhan. Ia selalu berpikir, kalau saja di mimpi buruknya ia bisa menolong Rasya, mungkin suara terengah karena sesak yang dirasakan sahabatnya, tidak akan menghantui malam-malamnya.


“Minggu depan, gue akan datang lagi ke tempat lo. Gue mau bercerita banyak sama lo. Tunggu gue ya Sya,” imbuh Gayatri seraya memeluk foto Rasya dengan erat. Menumpahkan kerinduan yang hanya bisa ia sampaikan dalam khayalannya. Anggap saja ia sedang memeluk Rasya, seperti yang sahabatnya lakukan saat Gayatri merasa sendirian.


Tring!


Sebuah notifikasi pesan membawa perhatian Gayatri berpindah pada benda pipih itu. Sebuah nomor tanpa nama yang menjadi pengenal pengirim pesan yang tampil di layar ponselnya.


Gayatri menaruh foto dirinya dan Rasya dengan hati-hati, lalu beranjak ke atas tempat tidurnya sambil membawa ponselnyaa. Terduduk di atas ranjang sambil bersandar pada dua bantalnya, Gayatri mulai membuka pesan dari seseorang yang ia kenal.

__ADS_1


“Gue udah nyampe rumah.” Pesan itu dari Shaka. Laki-laki itu menyertakan foto dirinya yang terbaring di atas sofa sambil memegangi balon sisa pesta. Teman-temannya sudah pulang, entah seperti apa tadi pesta ini berakhir.


“Hem, istirahat,” balas Gayatri yang tersenyum kecil setelah mengirim pesannya pada Shaka. Laki-laki itu telah menolongnya hari ini dan malah dia yang terluka cukup parah. Gayatri merasa sangat bersalah.


Ponsel Gayatri kembali bergetar, karena satu balasan pesan masuk dari Shaka. “Gak bakalan bisa istirahat. Rumah gue berantakan banget kayak kapal pecah. Kotor, gak betah gue.” Begitu isi pesan Shaka di sertai foto beberapa sudut rumahnya yang berantakan setelah pesta. Bekas minuman dan makanan tersebar di semua tempat. Lampu-lampu disko masih menyala dan dua orang sahabatnya pun sudah pergi entah ke mana.


“Suruh siapa ngadain pesta.” Begitu balasan yang Gayatri kirim.


“Hahaha… gak ada yang nyuruh sih. Gue cuma pengen deket aja sama temen-temen. Tapi yang paling pengen gue deketin malah gak dateng,” balas Shaka. Ia berpindah ke mini bar untuk minum soda dan menunggu benar balasan pesan dari Gayatri.


Gadis itu sudah mulai mengetik, cukup lama. Shaka sengaja tidak mematikan layar ponselnya karena penasaran dengan pesan balasan Gayatri yang sepertinya akan sangat panjang. Mungkin gadis ini akan memberinya petuah.


“Sabar,” hanya itu balasan Gayatri.


“Anjiir!!” seru Shaka dengan mata terbuka lebar. “Hahahaha… harusnya gue sadar kalau yang gue ajak chatingan itu seorang Gayatri,” ujarnya yang tertawa lebar membaca kembali lima huruf yang Gayatri kirimkan.


“Minimal lo ulang serratus kali itu kata ‘sabar’ yang lo ketik. Biar gak PHP gue yang ngira lo bakal ngetik naskah undang-undang dasar,” balas Shaka dengan emoticon jari tengah di ujung kalimatnya.


Tanpa sadar, Gayatri tersenyum lebar membaca pesan Shaka yang satu itu. Ia membalas kembali pesan Shaka. “Lo istirahat, malam.” Hanya tiga kata itu saja.


“Udah gue bilang, gue belum ngantuk.” Pesan ini mulai tidak di baca oleh Gayatri hanya notifikasinya saja yang muncul. Ia membaringkan tubuhnya menyamping sambil tetap membaca pesan Shaka lewat notifikasinya saja, tanpa membuka pesannya.


“Aya, lo beneran tidur duluan?”


“Woy, gue gak ada temen!”


“AYAAAA!!!!”


“Ish lo kemana anjir!”


“P"


"P"


"P"


Gayatri hanya tersenyum melihat banyaknya pesan yang Shaka kirim padanya. Ia memang tidak berniat membalasnya karena kalau ia balas, Shaka tidak akan cepat-cepat tidur padahal sudah hampir tengah malam.


“AYAAA!! BACA PESAN GUE!”


“Aya, lo beneran tidur?”


“IH si anjir, gue di kacangin!”


“GAYATRIIIII!!!”


Melihat rusuhnya Shaka, akhirnya Gayatri membaca chatnya hanya untuk sekedar memberi nama pada kontak Shaka. ‘Kang rusuh’ nama yang Gayatri sematkan beserta emoticon jari tengah di ujung nama itu. Setelah itu kontak Shaka ia blokir.


“Astagaaaaaa, gue di blokir!” dengus Shaka sambil mengusap kepalanya. “Akh sial, gue lupa,” ia meringis karena usapannya malah mengenai lukanya yang masih terbuka. Ia meringis beberapa saat sambil memandangi layar ponselnya. Gayatri tetap memblokir pesannya.


Akhirnya Shaka melakukan langkah terakhirnya. “Aya, buka blokiran gue, atau gue bakal berisik di sini,” ancam Shaka di dalam grupnya.


Mata Gayatri sampai membelalak saat melihat Shaka benar-benar membuat rusuh.


‘P’

__ADS_1


‘P’


‘P’


‘P’


‘P’


‘P’


‘P’


‘P’


“Ini ada apa? Tengah malem wooyy!!!” Rosi yang sedang tertidur pun segera terbangun melihat banyaknya pesan sampah dari Shaka.


“Kalian lagi chatingan? Terus di blokir gitu?” David ikut berkomentar di grup tersebut.


“Iyaa, gue di blokir padahal gak salah apa-apa,” timpal Shaka dengan kesal.


“LO MASIH BERISIK GUE KICK!” balas Gayatri.


“Astagaaa… iya gue diem. Tidur lo pada, jangan ada yang chat lagi!” timpal Shaka.


“Lo yang dari tadi chat mulu Shaka. Diem!” Gayatri menimpali.


“Okey, tapi buka blokiran gue, nanti baru gue berhenti. Kalau nggak, gue telponin lo bertiga.” Shaka masih memberikan ancamannya.


“Ish Shaka meresahkan. Aya, buka aja sih blokirannya….” bujuk Rosi.


Shaka tersenyum lebar karena mendapat dukungan dari Rosi.


“Iya Aya, buka dulu blokirannya, biar Shaka gak ngereog.” David ikut berkomentar.


Gayatri berdecik sebal yang dilakukannya kemudian adalah ia keluar dari grup itu.


“Astagaa, Aya leave grup. Gimana ini?” tanya Rosi pada Shaka dan David.


“Lo undang lagi Rosi lah, lo kan adminnya.” Shaka menyahuti dengan ringan.


“Okey, aku undang. Tapi kamu berhenti ganggu Aya.” Rosi memberikan syarat.


Shaka hanya bisa menghembuskan napasnya kasar seraya menulis, “Y,” itu saja.


Tidak lama, Rosi memasukkan kembali Gayatri ke dalam grup. Shaka langsung semangat mengetik.


“Diem Shaka, diem!” tulis Rosi sebelum Shaka mengirimkan pesannya.


Alhasil Shaka hanya mengirimkan emoticon jempol di grup tersebut.


“Titah Gayatri adalah titah ruan putri. Astagaaa, ngeriii… tidur kalian semua!” ucap Shaka sambil melotot pada pembaca.


“Eh, gue kicik dari novel ini, mau lo?” Othor.


"Jangan thor, gue sama Aya baru mulai,"

__ADS_1


****


__ADS_2