
Suara sirine mobil polisi memecah keheningan malam yang dingin. Suasana yang semula sunyi senyap, kini mendadak gaduh dan ramai setelah kedatangan orang-orang yang entah berasal dari mana. Lampu-lampu mobil polisi menyala terang, menerangi sosok Galih yang berbaring tidak berdaya setelah di hajar masa. Juga sosok Rasya yang terbaring kaku di bawah kain putih yang menutupi tubuhnya. Ada darah yang masih merembes, terlihat di permukaan kain putih penutup tubuhnya.
Ada sekitar tiga mobil polisi dan satu ambulan yang datang ke tempat kejadian. Orang-orang berkerumun mengitari lokasi yang telah dipagari garis polisi. Mereka penasaran ingin melihat jenazah korban pembunuhan yang katanya murid sebuah sekolah internasional. Beberapa foto di ambil secara diam-diam meski polisi sudah melarangnya. Tidak hanya foto Rasya melainkan juga foto Galih yang babak belur. Suara mereka tidak ubahnya suara kerumunan lebah, berdengung di telinga Gayatri yang masih bersembunyi di kegelapan.
Pengecut, apa satu kata yang tepat disematkan pada gadis yang syock setelah melihat semua kejadian itu?
Tubuh Rasya di angkat dengan tandu, di bawa masuk ke dalam ambulance. Sementara Galih di amankan polisi, di bawa masuk ke dalam salah satu mobil patroli polisi. Wajahnya babak belur karena dipukuli warga. Wajah tampannya sudah tidak terlihat lagi, tertutupi darah dan lebam membiru.
Gayatri dengan langkah kakinya yang lemah sampai merangkak hendak menghampiri dua orang itu. Tetapi lagi tangan Dion menahan lengannya. Gayatri meronta-ronta mengepal tanah bercampur rerumputan yang ia cakar lalu genggam dengan erat. Ia berteriak memanggil Galih dan Rasya dalam hatinya, tetapi suaranya jelas tidak keluar.
“Ayaaa, tenang dulu Aya. Lo gak bisa keluar sekarang! Ini bahaya buat lo! Lo mau ikut dipukulin warga?” ujar Dion yang mencengkram bahu Gayatri dengan kuat, membuat tubuh lemah Gayatri tidak bisa beranjak.
Laki-laki itu menarik tubuh Gayatri dengan satu tangannya dan membantunya untuk terduduk bersandar di bawah pohon. Tangannya yang gemetar menangkup wajahnya yang basah karena air mata dan kini bercampur dengan tanah dari tangannya. Rambutnya sudah berantakan, tidak jelas penampilannya seperti apa. Hanya engahan napasnya yang terdengar sangat kasar.
“Lo tenang dulu, gue mau hubungin pengacara gue. Lo jangan takut, ada gue di sini,” Dion mencoba menenangkan gadis yang ketakutan itu.
Ia mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan dengan seseorang. Entah seperti apa perbincangannya kemudian, Gayatri hanya sempat mendengar kalimat, “Pah, tolong. Galih di tangkap polisi,” kalimat itu yang terdengar sebelum Dion menjauh dari Gayatri dan berbincang tentang hal lainnya.
Gayatri tidak terlalu menyimaknya, ia lebih memilih menutup telinganya saat suara ambulance dan sirine mobil polisi berpadu menjadi satu melodi mengerikan saat meninggalkan TKP dan menyisakan dua orang polisi yang berjaga-jaga. Dua suara itu terdengar sama, tetapi memberi kengerian yang berbeda. Mencekam dan menakutkan.
Gayatri tidak berani mendengarnya. Ia memilih menyembunyikan kepalanya di sela kedua kakinya yang tertekuk, lalu ia peluk. Layaknya seekor kura-kura yang kehilangan nyali menghadapi dunia luar.
Samar-samar Gayatri mendengar kalau laki-laki itu juga yang menghubungi kedua orang tuanya. Gayatri tidak tahu pasti apa yang diceritakan Dion, yang jelas tidak lama dari itu ponselnya berdering keras memecah lamunan Gayatri yang kosong.
Gayatri mengabaikannya, ya ia memilih mengabaikannya. Ia begitu takut pada suara-suara asing yang memenuhi rongga telinganya. Semakin lama, semakin kuat saja ia menutupi kedua telinganya, berharap tidak ada lagi suara yang ia dengar.
Menjelang dini hari, Gayatri menyusul kedua orang tuanya bersama Dion ke kantor polisi. Tubuhnya kotor dan terlihat sangat berantakan. Ia melihat Barkah dan Mira sedang berbicara dengan seorang laki-laki yang berpakaian rapi. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas Mira langsung menoleh saat melihat kedatangan Gayatri.
“Lo dari mana hah?!” seru wanita bermata sembab dengan wajah pucat yang tiba-tiba memukul tangan Gayatri lumayan keras. Gayatri sampai oleng hampir jatuh, untung Dion menahannya.
__ADS_1
“Enyak, jangan kasar sama Aya,” ucap laki-laki itu mengingatkan.
Mira tidak menimpali, ia menatap wajah Gayatri dengan sendu, tangisnya pecah melihat wajah putrinya yang kotor dengan sorot mata yang kosong. “Abang lo Aya, Abang lo....” ucap wanita itu seraya memeluk Gayatri dan memukuli lengan gadis itu.
Gayatri tidak menimpali, hanya air matanya saja yang menetes tanpa isakan. Andai Mira tahu kalau hari ini dunianya seperti hancur. Sahabatnya pergi dan sang kakak di tuduh sebagai satu-satunya tersangka yang melakukan pembunuhan terhadap sahabatnya.
“Udah, lo duduk. Jangan kayak gini,” Barkah menarik tangan sang istri, mencoba menenangkannya walau ia pun sama paniknya.
Sambil tersedu-sedu, Mira menurut untuk duduk. Menarik tangan Gayatri untuk ikut terduduk. Dari sudut matanya Gayatri melihat laki-laki berjas lengkap dengan kepala pelontos itu menatapnya. Sepertinya laki-laki ini adalah pengacara yang di sewa Barkah.
“Saya rasa, polisi masih harus menyelidiki lebih dalam lagi, terlebih tidak ada alat bukti. Putra ibu sepertinya akan menjalani pemeriksaan yang panjang kalau dia tidak mau bekerja sama dan menunjukkan alat buktinya. Jadi sebaiknya ibu dan bapak bujuk putra kalian agar mau bekerja sama dengan penyidik. Karena bagaimana pun, putra bapak dan ibu berada dalam posisi bersalah. Kami hanya bisa membantu meringankan hukumannya bukan membebaskannya,” terang pengacara tersebut.
“Tapi anak saya tidak merasa membunuh korban. Anak saya anak yang jujur, saya tidak pernah mengajarinya untuk berbohong. Saya sangat yakin kalau dia tidak melakukannya.” Barkah membela putranya dengan sepenuh hati. Tentu saja, ia sangat mengenal Galih, putra kebanggannya.
“Setiap orang yang terdesak, bisa menjadi seorang pembohong Pak. Kalau sekiranya bapak yakin putra bapak tidak bersalah dan mengingkari semua bukti yang ada, mohon maaf, saya tidak bisa membantu banyak. Bapak bisa mencari pengacara lain,” ucap laki-laki itu dengan penuh ketegasan.
“Eh, apa maksud lo? Lo mau pergi gitu aja? Gue masih punya duit buat bayar lo. Anak gue gak bersalah, mana mungkin gue paksa dia ngakuin sesuatu yang gak dia lakuin?” Mira yang saat ini meradang, mendengar ujaran laki-laki tersebut.
“Jangan lupa Bu, putra Anda seorang atlet. Bukan hal yang sulit untuk mematahkan tulang rusuk seseorang.” Laki-laki itu menggenapkan kalimatnya.
“EH BRENGSEK LO YA!” seru Mira yang tidak terima. Wanita itu sampai berdiri dan menendang kursi yang diduduki pengacara tersebut hingga jatuh terjengkang.”
“Mir! Lo ngapain sih?!” seru Barkah yang yang segera memegangi tangan istrinya.
“Brengsek nih orang! Gue bersedia bayar mahal buat orang ini demi membebaskan anak gue. Malah dia duluan yang nuduh anak gue pembunuh! Brengsek lo! Pergi sana! Gak butuh gue pengacara macam lo” karena marah Mira sampai menghentakan kakinya di dekat laki-laki tersebut.
Laki-laki itu segera bangkit, ia menyeringai sarkas pada Mira. “Ibunya saja macam begini, mana mungkin anaknya bukan pembunuh!” ucap laki-laki itu dengan sinis. Ia memutuskan untuk berhenti. Di ambilnya surat kontrak perjanjian mereka lalu merobeknya di hadapan Mira dan membuangnya sembarang. “Silakan cari pengacara lain, saya tidak bisa melanjutkan,” tandas laki-laki itu sebelum kemudian pergi begitu saja.
“BRENGSEK LO! BRENGSEEEEKKKK!!” teriak Mira yang hendak menyusul laki-laki itu tetapi Barkah menahannya. Kaki Mira berusaha menendang-nendang, tetapi tidak sampai pada laki-laki itu.
__ADS_1
Suasana di kantor polisi itu begitu mencekam. Mira dan Barkah masih berusaha menghubungi orang-orang yang mungkin bisa membantunya. Namun bersentuhan dengan hukum membuat mereka diabaikan. Tidak ada yang mau memberi bantuan pada seorang Galih yang berlabel seorang pembunuh.
Pada akhirnya tiga orang itu terduduk lesu di kursi tunggu. Pikiran mereka kosong, tidak bisa membayangkan bagaimana caranya menghadapi masa depan entah akan seperti apa bentuknya. Sebuah deringan telepon menyadarkan Barkah, ia menjawabnya dengan lesu.
“Halo Bos,” sapaan itu Barkah berikan pada bosnya.
“Barkah, saya lihat di berita anak kamu membunuh remaja SMA apa benar?” tanya laki-laki itu.
“Ngg-nggak bos. Itu salah paham. Si Galih mana pernah bunuh orang. Dia anak baik-baik. Bos sendiri tau kalau,” suara Barkah semakin pelan di telinga seorang Gayatri karena ia memilih beranjak dari tempatnya dan pergi menghampiri Galih yang meringkuk tidak berdaya di balik jeruji besi.
Saat Gayatri menghampirinya, laki-laki itu segera bangkit sambil berpegangan pada tralis besi. Ia begitu senang karena akhirnya sang adik yang ia sayangi mau menemuinya.
“Aya, tolong gue Aya. Lo percaya kan sama gue? Gue gak bunuh si Rasya. Gue cuma nakut-nakutin dia aja,” ucap Galih yang berusaha menegakkan tubuhnya. Tubuhnya sempoyongan karena kepalanya sangat pusing setelah hantaman bertubi-tubi oleh orang-orang yang menghakimi dirinya bersalah.
“Gue gak mukul dia sekali pun Aya. Lo liat, tangan gue lagi sakit. Masih di gips. Tulang hasta gue retak, mana mungkin gue mukul dada si Rasya sampe rusuknya patah. Lo percaya gue kan Aya, lo percaya kan?” suara laki-laki itu terdengar bergetar, dengan tangis tertahan. Bukan ia menahan tangisnya, tapi ia merasa kalau tangisnya tidak akan membantu apa pun. Bukankah ia harus terlihat tegar dan kuat agar adiknya tidak bersedih?
Ucapan Galih membuat darah Gayatri berdesiran. Dadanya terasa sesak dengan himpitan beban yang semakin berat saja. Ia bahkan tidak berani melihat wajah sang kakak yang dipenuhi luka. Ia memilih berbalik membelakangi Galih agar tidak melihat wajahnya yang menyedihkan dan putus asa itu.
Jujur, ia sendiri tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Ia percaya kalau Galih tidak akan melukai seseorang. Tetapi seorang Rasya sudah jelas menjadi korban di tangannya.
Melihat Gayatri yang hanya terdiam, Galih berusaha menggapai kaki sang adik agar tidak meninggalkannya. “Aya, tolong percaya sama gue Ya. Gue gak bunuh temen lo. Gue udah ngomong baik-baik sama dia, minta dia jauhin lo. Tapi dia malah lari, ngeliat gue kayak ngeliat setan. Gue harus apa biar lo percaya Ya. Gue juga nyesel nyuruh anak itu datang ke gudang. Gue nyesel ya. Gue nyesel!!!” seru Galih yang mengacak rambutnya dengan frustasi.
Laki-laki itu tidak bisa lagi menahan air matanya, ia menangis terisak-isak, membuat Gayatri sendiri pun ikut menangis dalam hatinya. Lagi, air matanya berderai tetapi tidak ada suara yang keluar.
“Aya, plis tolongin gue. Gue gak mau di sini!! Gue gak seharusnya di sini! AARRRGGHHH!!!!” teriak Galih seraya memukul-mukulkan gips di tangannya pada tralis besi itu.
Gayatri segera berbalik, ia berjongkok untuk merangkul sang kakak. Keduanya menangis berangkulan dengan banyak rasa takut. Banyak hal yang ingin Gayatri katakan, sayangnya bibirnya begitu kelu. Ia hanya bisa memeluk Galih dari luar, terhalang oleh tralis besi yang memisahkan mereka.
"Gue gak bersalah Aya, gue gak bersalah. Tolong percaya sama gue," lirih Galih di antara tangisnya yang pecah.
__ADS_1
Apa yang harus Gayatri lakukan sekarang? Apa dengan mengatakannya semuanya akan membaik? Apa Galih akan di bebaskan?
*****