Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Sapaan pagi


__ADS_3

“Gayatri,” satu kata itu baru di baca Gayatri pada pesan yang baru masuk di pagi hari. Entah siapa yang menghubunginya dini hari tadi, sekitar jam tiga. Waktu paling nikmat untuk terlelap.


Seperti biasa, Gayatri mengabaikan pesan dari orang iseng itu. Baginya tidak penting siapa orang itu, toh ponsel ini pun jarang ia sentuh setelah teman bertukar pesannya tidak lagi memegang ponsel. Gayatri melanjutkan sarapannya, menikmati sisa soto yang kemarin tidak habis terjual. Belum basi, karena sang ibu menghangatkannya dengan benar.


Ponsel itu kembali bergetar dan memaksa Gayatri untuk meliriknya. Pengirimnya masih tanpa nama, tidak ia kenali. Ia intip sedikit tanpa membuka pesan itu. “Lo udah baca pesan gue, kenapa gak di bales?” pesan itu dari orang yang sama, orang yang memanggil namanya di jam 3 dini hari.


Gayatri penasaran, ia membuka pesan itu untuk melihat foto profil pengirim pesannya. Gambarnya pria berhelm, terduduk di atas sepeda motornya yang berwarna hitam. Gayatri mencoba mengingat-ngingat siapa pemilik motor ini.


“Habisin dulu sarapannya, bukan malah bengang-bengong main hape!” ujar sang ibu yang memperhatikan kelakuan putrinya sambil menyiapkan bahan jualan.


Gayatri tidak menimpali, ia menaruh kembali ponselnya. Ia masih harus menghabiskan nasinya sebelum ibunya marah. Tetapi baru akan menyuap, ponselnya kembali bergetar, membuat Gayatri kembali mengintipnya.


“Gue liat lo online, kenapa gak bales?” Hah, masih nomor yang sama. Menyebalkan sekali. Siapa sebenarnya orang ini. Rasanya Gayatri ingin mengomeli orang yang mengganggu sarapannya.


Sambil mengigit sendoknya, Gayatri membalas pesan orang iseng itu. Tidak, ia urung membalasnya. Ia menghapus kembali pesan yang sudah ia ketik cukup panjang. Ia mengecek terlebih dahulu siapa pemilik nomor ini, apakah tergabung dalam grup yang sama?


Tepat, orang ini tergabung di grup yang sama dengan Gayatri, yaitu XII IPS 1. Lalu nama orang itu, Shaka Praditya. Hah, orang ini lagi. Siswa populer yang sangat berisik dan mengganggu itu.


“Habisin dulu sarapannya!” seru Mira hingga membuat Gayatri terhenyak. Hampir saja ponselnya jatuh karena kaget.


Barkah ikut tersenyum melihat kekagetan putrinya. Ia menyodorkan segelas susu yang ia buat untuk Gayatri sambil berbisik, “Kamu perlu tenaga buat menghadapi negara api yang mulai menyerang,” ucap laki-laki itu seraya melirik ponsel Gayatri dan tersenyum kecil. Entah apa maksudnya, Gayatri pun tidak mengerti.


Cepat-cepat Gayatri menaruh ponselnya dan menghabiskan sarapannya. Sampai sekarang ia tidak membalas pesan itu. Beberapa kali ponselnya bergetar dan ia abaikan begitu saja. Setelah sarapannya selesai, ia meneguk susunya sampai habis.

__ADS_1


“Mau di anter?” tawar Barkah. Laki-laki berkaus singlet dan bersarung ini bersikap sangat manis pagi ini. Seperti biasa Gayatri tidak menimpali. Gadis itu segera mengambil tas ranselnya, jaket, helm dan kunci motor. Salim pada ayah dan ibunya lalu menyalakan mesin motor yang kemudian ia lajukan menuju jalanan. Hanya punggungnya yang masih terlihat kemudian menghilang setelah berbelok di gang kecil itu.


“Kamu jangan galak-galak sama anak perempuan. Anak perempuan beda sama anak laki-laki.” Barkah mencoba mengingatkan sang istri yang tempramennya semakin keras dan kasar.


“Anak laki sama anak perempuan sama aja. Dua-duanya harus di latih jadi anak yang kuat fisik dan mental. Gertakan ku gak seberapa di banding kerasnya dunia ini. Aku gak mau anakku jadi anak yang gampang nyerah gitu aja! Aku gak mau kehilangan anakku untuk kedua kalinya. Suatu hari, dia akan berterima kasih karena udah aku bentak.” Mira menyahuti dengan ketus.


"Iya, tapi si Aya udah gede, dia tau rasanya sakit hati karena di bentak. Kamu bikin anak kita makin jauh kalau sikap kamu kasar begitu. Perempuan itu harus lemah lembut, jangan dicontohin kasar."


Lagi, Barkah mengingatkan sang istri. Ia pandangi dengan lekat, Mira yang sedang melipat selimut yang Barkah gunakan saat tidur di sofa. Laki-laki itu memang sangat suka tidur di sofa, karena menurutnya lebih nyaman. Lagi pula ada yang ia tunggu kepulangannya.


Mira hanya melirik sang suami, lantas mendelik kesal. Ia tidak lagi menimpali ucapan Barkah dan memilih pergi ke kedai sotonya yang sebentar lagi harus ia buka. Ia malas memperdebatkan sesuatu yang sudah ia yakini kebenarannya.


Di jalanan yang padat merayap itu, Gayatri masih bersaing dengan kendaraan lain. Padahal ia sudah berangkat cukup pagi, tetapi tetap saja jalanan Jakarta itu tidak pernah senggang di pagi hari. Saling mendahului sudah biasa, bahkan banyak yang saling tikung tanpa permisi, yang penting sampai di tempat tujuan tepat waktu.


Hal yang sama dilakukan oleh Gayatri. Dengan skuter maticnya ia mengarungi jalanan. Sekitar setengah jam kemudian ia baru tiba di gerbang sekolah. Siswa lain sudah berduyun-duyun masuk , bahkan beberapa ada yang berlari. Sudah pasti karena belum mengerjakan tugas dari gurunya.


Gayatri hanya mengerlingkan matanya, lalu menempatkan motornya di samping motor Shaka. Ia juga menaruh helmnya di salah satu batang kaca spion. Setelah selesai, ia berlalu begitu saja.


“Eehh, mau ke mana?” Shaka tiba-tiba menarik tas Gayatri, hingga tubuh kurus Gayatri tertarik ke belakang. Gadis itu meronta-ronta berusaha melepaskan dirinya, tetapi Shaka malah mengangkat tinggi-tinggi tas Gayatri seperti boneka marionette yang kaki dan tangannya di ikat tali dan di gerakan sesuka hati oleh Shaka.


Pria muda itu terkekeh geli melihat usaha Gayatri untuk melepaskan dirinya. Kalau saja ini bukan dilingkungan sekolah, sudah dipastikan Gayatri akan menghajar laki-laki ini.


Akhirnya, Gayatri memilih untuk tidak berontak. Ia membiarkan Shaka bertingkah semaunya. Benar saja, saat Gayatri tidak berontak, laki-laki itu tidak lagi memegangi tas ransel Gayatri. Melepaskan tasnya begitu saja hingga tas itu nyaris membuat Gayatri terjengkang. Ia memegangi tali sisi kiri dan kanannya dan mencengkramnya dengan kuat sebagai bentuk pelampiasan kekesalannya.

__ADS_1


“Kenapa gak bales pesan gue?” tanya laki-laki itu seraya mencondongkan tubuhnya pada Gayatri.


“Gayatri tidak menimpali, ia hanya mengerlingkan matanya kesal kemudian berjalan lebih dulu dari Shaka.


“Hey, lo belum jawab. Lo gak bisu kan? Bisa dong ngomong sama gue? Dikit aja.” Laki-laki itu terus memaksa.


Gayatri pun berbalik, menghadap Shaka. Laki-laki itu tersenyum sumeringah karena meyakini Gayatri akan berbicara. Tetapi nyatanya, gadis ini malah menunjukkan 5 jarinya pada Shaka yang berarti diam atau bicara dengan tangan saya. Setelah itu ia pergi begitu saja meninggalkan Shaka yang melongo tidak percaya dengan sikap gadis ini.


“Astaga! Apa dia bener-bener gak mau ngomong?” gerutu Shaka. Ia benar-benar tidak mengerti dengan sosok Gayatri. Ia sempat melihat orang lain berbicara dengan gadis itu, itu artinya gadis itu tidak bisu dan mengerti bahasanya. Lalu mengapa selalu diam?


Shaka melihat Gayatri yang sudah berjalan jauh di depannya. Terpaksa ia mempercepat langkahnya dan sedikit berlari. Ia sengaja berjalan beberapa langkah di depan Gayatri lalu berbalik menghadap gadis itu. Lihat senyum tengil pria yang berjalan mundur ini. Ia merapikan rambutnya yang berantakan karena tertutupi helm.


“Yang tadi nge-wa lo, itu nomor gue. Cowok paling ganteng di sekolah ini. Simpen ya,” Shaka sedikit berbisik di ujung kalimatnya, lalu mengedipkan matanya genit.


Gayatri tidak menimpali, ia lebih memilih melihat ke arah lain. “Banyak cewek yang chat gue, tapi cuma lo yang gue chat duluan. Bisa gak sih lo bales gue sekali aja gitu, tunjukin kalau lo bisa berinteraksi dengan orang lain?” lagi Shaka berujar. Ia sedikit berbelok saat hampir saja ia menabrak seorang gadis. Gayatri segera menoleh pada laki-laki itu, ia berpikir bagaimana bisa laki-laki ini tahu kalau ada seseorang di belakangnya? Apa dia punya mata di tengkuknya? Atau punya kaca spion?


“Kepekaan gue tinggi, lo gak usah herman.” Sepertinya Shaka paham arti kernyitan dahi Gayatri. Lantas ia berbalik dan berjalan bersisian dengan Gayatri. “Gue cuma mau berteman sama lo, bisa?” kali ini ia mengulurkan tangannya pada Gayatri. Ia mencoba menjalin kedekatan dengan gadis yang dulu pernah menjadi teman dekat adiknya. Mungkin dengan mendekati Gayatri, ia akan menemukan banyak informasi penting tentang kematian sang adik.


Takdir terkadang memang lucu, sejak pertama kali ia masuk ke sekolah ini, diamnya Gayatri sudah menarik perhatiannya. Dan sekarang garis takdir juga yang membuat ia harus lebh dekat dengan gadis ansos (anti sosial) ini.


Sayangnya, Gayatri mengabaikan begitu saja tangan Shaka yang terulur padanya. Ia berbelok masuk ke kelas dan dan duduk di tempatnya.


“Astaga, dia gadis yang keras kepala,” gumam Shaka seraya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Hanya salah tingkah saja, bingung mencari cara apalagi untuk mendekati gadis ini. “Gue ada ide,” tiba-tiba langkah kaki Shaka terhenti. Ia berbalik urung masuk ke dalam kelas dan malah pergi ke tempat parkir. Ada rencana besar yang sedang ia siapkan.

__ADS_1


“Liat aja, setelah ini gue pastikan lo akan ngomong sama gue,” batin Shaka seraya tersenyum miring.


****


__ADS_2