
Dua orang itu pulang dengan hasil yang berbeda. Barkah pulang dengan tangan kosong, tanpa sempat bertemu dengan putranya. Ia mengendarai motor dua tax nya di jalanan yang ramai dengan perasaan yang sedih bukan kepalang.
Bisa terlihat dari kaca spion kiri, matanya yang merah dan basah dengan banyak kekecewaan. Mata sembab itu sesekali mengerjap pelan, membuat bulir air bening kembali menetes, membasahi kantung matanya yang mulai keriput. Ia usap dengan kasar cairan bening itu menggunakan lengannya yang kekar lagi bertato dan sesekali ia biarkan kering sendiri terbawa angin.
Kerinduannya terpaksa harus ia tahan karena sebuah kondisi yang membuat mereka tidak bisa bersua. Beruntung orang-orang di tempat itu mau menerima makanan yang ia bawa, hingga tidak mubazir. Hanya saja, ia tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa pada sang istri jika nanti bertanya.
Hembusan napas kasar dari mulut Barkah terdengar jelas, berpadu dengan semilir angin yang panas dari matahari yang terik menyengat. Baju kemeja baru yang ia kenakan pun terlihat sia-sia, tidak ada yang melihat penampilan kerennya.
Setelah beberapa bulan, baru kali ini ia berani mematut dirinya di kaca, memakai pakaian yang terbaik yang biasa ia kenakan, nyatanya tidak berguna. Tidak ada yang bisa ia lakukan hanya untuk sekedar melepas rindu.
Satu jam berlalu, Barkah baru tiba di rumahnya. Ia langsung membawa motornya masuk ke dalam gang menuju rumahnya. Sang istri yang sedang melayani pelanggan pun sempat mengintip dari jendela.
“Tumben mukanya kayak baju gak disetrika? Kusut banget dah!” gumam Mira saat melihat wajah suaminya yang sekilas melintas di depan jendela. Padahal tadi pagi sudah macam iklan pasta gigi saja, senyum terus sebelum berangkat.
Biasanya wajah Barkah cerah ceria, seperti matahari baru terbit di timur sana. Kali ini malah seperti tidak ada cahaya yang menerangi wajahnya yang kecokelatan itu.
“Mpok, mau bayar dong,” ucap seorang pelanggan yang mengalihkan perhatian Mira.
“Eh, iya….” Wanita itu terpaksa menoleh, membiarkan suaminya masuk lebih dulu. “Semuanya serratus empat puluh dua ribu. Uang pas, gue gak ada kembalian,” imbuh Mira setelah menghitung beberapa porsi soto yang dibeli pelanggannya.
“Nih dah, pas ya….” Beruntung pelanggan itu memberikan uang dalam jumlah pas.
“Iya, makasih. Mampir-mampir lagi ke mari ya. Hati-hati di jalan,” ungkap Mira seraya tersenyum kecil.
“Iya Mpok,” timpal tiga orang itu yang segera pergi meninggalkan kedai soto Mpok Mira.
__ADS_1
Setelah tiga pelanggan itu pergi, Mira segera menghampiri suaminya. Laki-laki itu tengah terduduk di sofa usang miliknya. Wajah sedihnya menengadah ke atas menahan laju air mata, tidak ada kicauan yang terdengar, padahal biasanya Barkah sangat riang setelah menemui putranya.
“Gimana? Dia makan sotonya?” Mira langsung bertanya. Ia berdiri dihadapan suaminya dan menatap laki-laki itu dengan penasaran.
Barkah mengusap wajah sedihnya, lantas menoleh untuk memandang wajah sang istri yang menunggu ceritanya. Laki-laki itu menggeleng.
“Apaan lo geleng-geleng kayak sapi mau di potong?” Mira semakin penasaran. Wajah Barkah terlalu dingin dan serius.
“Gue gak bisa nemuin dia,” sahut Barkah dengan putus asa.
Mira ikut terhenyak, wajah cerahnya berubah sendu. “Dia ngamuk lagi?” Mira bertanya dengan takut-takut.
Barkah hanya mengangguk pelan lalu tertunduk lesu. Mengusapkan telapak tangannya yang basah, satu sama lain.
Di tempat berbeda Shaka berjalan dengan tergesa-gesa masuk ke rumahnya. Ia meninggalkan motornya begitu saja di basement. Sesekali ia berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamarnya untuk memeriksa apa yang ia cari.
Tiba di dalam kamar, ia langsung membuka laci meja. Mengambil buku harian Rasya dan membuka setiap halaman dengan tergesa-gesa. Matanya membulat melihat satu-per satu halaman agar tidak terlewat.
Nah, halaman ini yang ia cari. Tulisan Rasya yang terkesan putus asa tentang pembulyan yang dialaminya. Shaka segera mengeluarkan kertas yang ia simpan dalam sakunya. Kertas yang ia temukan dalam bucket bunga Gayatri lalu mencocokkannya.
“Akh, sial!” dengus Shaka saat melihat ternyata tulisan itu sama. Tarikan tangannya, karakter huruf yang digunakan juga sama. Walau pun tulisan di bucket list itu singkat, tetapi bisa mewakili karakter huruf yang sedang Shaka padankan.
Tubuh membungkuk Shaka itu kini terhuyung. Ia jatuh terduduk di lantai sambil bersandar pada ranjangnya. Ia memandangi buku harian Rasya dan secarik kertas yang ia genggam di tangan kanannya yang gemetar.
Pada detik ini, ia baru sadar kalau pesan kematian Rasya di tulis oleh orang yang sama. Keduanya ia yakini tulisan Dion. Bagaimana bisa?
__ADS_1
“AAARRGGHHH!!!!!” teriak Shaka dengan keras sambil memegangi kepalanya. Suaranya menggema di seisi kamarnya yang luas.
“Brengsek! Brengsek! Brengsek!!” teriak Shaka sambil memukuli lantai kamarnya dengan kepalan tangannya yang besar. Pria emosional itu semakin yakin kalau Dion lah yang membunuh sang adik. Shaka termenung beberapa saat, ia menaruh buku harian itu di samping kakinya, bersama tulisan Dion di secarik kertas. Lelaki muda itu memeluk kakinya yang tertekuk sambil memandangi tulisan milik Dion.
Air matanya mengalir, membayangkan Rasya mati di tangan laki-laki itu. Matanya semakin membulat menyimpan banyak kemarahan, ia harus segera mengumpulkan bukti yang menunjukkan keterlibatan Dion dalam kematian sang adik. Tangannya mengepal keras saat wajah Dion muncul di pelupuk matanya. Tiga hal yang harus Shaka cari tahu sekarang, bukti jejak sepatu, motif dan cara Dion mengeksekusi sang adik.
Ya, tiga hal itu yang harus dicarinya sekarang.
di tengah kesedihannya, Shaka mengambil benda pipih yang sedari tadi ia simpan di sakunya. Ia mencari satu nama yang kemudian ia hubungi.
"Haloooo, pacarku yang ganteng," suara Indah yang kemudian mengisi telinga Shaka. Laki-laki itu memejamkan matanya sesaat dan mengatur napasnya yang menggebu.
"Kapan lo bawa gue masuk ke rumah Dion?" tanya Shaka dengan tergesa-gesa.
"Rileks dong, kok buru-buru banget sih? Gue kan harus nyari cara dulu. Lagi pula gue belum publish status pacaran kita. Sabar ya Shakaa... pasti gue penuhin kok janji gue buat nganter lo masuk ke rumah Dion," Indah berujar dengan sungguh.
Shaka menghembuskan napasnya kasar, tangan kirinya menekan-nekan sela alisnya yang terasa pusing.
"Gue tunggu Indah, atau perjanjian kita akan batal," kali ini Shaka beranikan untuk mengancam Indah.
"I-iyaa Shaka. Secepatnya gue anter lo ke rumah Dion. Sabar yaa, gue kan harus nyari waktu yang pas," suara Indah terdengar ketar-ketir, sepertinya ia sadar kalau Shaka tidak sedang bermain-main.
Shaka tidak menimpali, ia memilih mengakhiri panggilannya dan menaruh ponsel itu tergeletak di dekat kakinya. Dipelukanya kembali kedua kaki yang tidak lelah menemaninya melewati waktu yang dipenuhi rasa gundah.
*****
__ADS_1