Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Banyak persamaan


__ADS_3

Ingatan akan kebersamaan dirinya dengan Rasya memudar begitu saja saat suara Barkah memanggil Gayatri di dalam kamarnya.


“Mau gue suruh balik apa mau lo temuin?” itu pertanyaan kedua yang di lontarkan Barkah setelah beberapa saat Gayatri tidak juga menyahutinya.


“Astaga!” laki-laki itu langsung terhenyak saat Gayatri membuka pintu kamarnya tiba-tiba. “Mau lo temuin?” tanya laki-laki itu, masih setengah kaget.


“Iya, suruh tunggu aja dulu,” sahut Gayatri dengan lemah.


“Iyaa, udah gue suruh tunggu dulu. Nanti babeh bilangin lo lagi ganti baju dulu. Mau sekalian di bilangin lo lagi dandan juga gak?” goda Barkah yang terkekeh geli.


“Beehh…” Gayatri merengek kesal.


“Ahahahahahayy... iyaakk kagak... kangen gue denger rengekan lo. Muach!” laki-laki itu tiba-tiba mengecup pucuk kepala Gayatri dengan lembut.


Gadis itu sampai kaget melihat sikap sang ayah. Memang sudah sangat lama ia tidak merengek seperti itu. Tepatnya saat ia sadar kalau merengek hanya membuat kondisi keluarganya semakin sulit.


“Ya udah, gue samperin dulu tuh anak. Katanya namanya Shaka. Cakep sama gagah kayak orangnya,” Barkah dengan tulus memuji.


Gayatri hanya tersenyum kelu, ia segera masuk ke kamarnya untuk mengganti seragamnya.


“Anak gue udah di datengin cowok begini, mesti pasang tameng ini,” gumam Barkah yang berjalan gagah untuk menemui Shaka.


“Si Ayanya lagi ganti baju dulu. Lo tunggu aja bentaran,” ucap Barkah saat menemui Shaka.


“Iya, makasih Beh,” Shaka menyahuti dengan ringan seraya tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Barkah dibuat ikut tersenyum oleh remaja yang tadi pagi ia temui di sekolah.


Pria itu menghampiri sang istri yang sedang melayani pelanggan di kasir dan memberikan beberapa lebar uang kembalian.


“Si Aya di bawain jajan banyak bener. Tuh bocah kayaknya suka sama anak kita,” bisik Barkah setelah satu pelanggan di hadapannya pergi.


“Emang ada yang gak suka sama anak kita? Eh anak Mira maksudnya.” Mira mendelik dengan sinis, masih mengingat ejekan Barkah beberapa saat lalu. Diam-diam ia juga memperhatikan Shaka yang sedang memainkan ponselnya.


“Ah elah lo ngambeknya malah keterusan. Tiga taun kagak bakalan lupa kayaknya. Iya itu anaknya Mira. Beruntung gue nikah ama cocor bebek ini, anak gue cakep-cakep, pinter-pinter. Semua berkat lo!” Barkah mencubit bibir sang istri yang mengerucut sebal.


“Ya iya laaahhh…” Mira berujar dengan jumawa. Barkah mendelik sebal melihat kesombongan sang istri yang pari purna di atas kesombongan para tetangga.


“Eh, ngomong-ngomong besok udah jadwal kunjungan. Lo mau ikut gak?” tanya Barkah tiba-tiba.


“Bisa gak sih lo jangan ngerusak suasana kayak begitu?” Mira menjawab dengan ketus. Dengan lengannya ia menyikut perut Barkah yang menghalangi jalannya. Wanita itu berpindah ke depan panci untuk memeriksa persediaan soto.

__ADS_1


“Ya maaf, gue gak ada maksud. Tapi, dari pada kita lupa, kan mending gue yang ngingetin.” Barkah berusaha menjelaskan pada sang istri agar tidak marah.


“Lo pergi sendiri lah, gue sibuk. Kalau kita besok libur, gue gak punya duit buat bayar setoran.” Mira menjawab dengan realistis. Terlalu realistis hingga terasa menampar wajah Barkah yang seringkali merasa tidak berguna. Wanita itu mengaduk-aduk kembali sotonya yang baru matang. Ini soto panci ketiga yang siapkan untuk pembeli di sore hari, saat bubar pabrik.


“Iyaa, gue paham. Gue cuma ngingetin aja, lo kan pernah bilang keluarga itu gak cukup pake duit doang. Ada kasih sayang juga di dalamnya. Kita udah kehilangan banyak duit sampe jadi orang susah begini, masa harus kehilangan kasih sayang juga,” Kalimat Barkah terdengar menyedihkan dan itu membuat dada Mira sesak.


Wanita itu tidak menimpali. Ia tetap mengaduk-aduk kuah sotonya yang sebenarnya sudah matang.


Seorang gadis cantik terlihat masuk dari pintu belakang kedai. Gadis itu berjalan dengan santai untuk menghampiri tamunya.


“Tuh, anak mpok Mira,” Barkah menyikut istrinya saat Gayatri datang.


Mira pun menoleh dan tersenyum kecil saat melihat putrinya yang berdandan rapi. “Akh sial, anak gue udah tambah gede, udah perawan dia,” keluhnya. Tidak Rela melihat perubahan Gayatri yang di rasa begitu cepat. Perasaan baru kemarin ia menimang-nimang bayi merah yang ia sambut dengan penuh suka cita dan sekarang anak gadisnya sudah tumbuh menjadi gadis yang dewasa nan rupawan, mirip dirinya saat muda.


“Udah biarin. Biar cepet punya mantu ama cucu kita,” Barkah menyahuti dengan senang hati.


Tok!


Satu getokan di terima Barkah dari sendok sop milik sang istri. “Otak lo pikirannya ke situ mulu. Si Aya harus jadi orang sukses dulu biar masa tuanya gak susah kayak kita,” protes Mira.


“Hehehehe… iya juga ya.” Barkah tersenyum kecil sambil mengusap kepalanya yang terasa bejol karena getokan sang istri.


Puas memandangi Gayatri, mereka kembali menyibukkan dirinya dengan para pelanggan yang datang.


“Hem. Lo mau makan?” tawar gadis itu, sesuai pesannya di chat.


Shaka mengangguk dengan manja. Senyumnya tersungging manis menunjukkan deretan giginya yang rapi seraya menatap gadis di depannya dengan hangat. Wajah Gayatri sampai memerah karena dipandangi seperti itu oleh Shaka.


“Tunggu bentar,” pamit Gayatri yang menghampiri ibunya. Shaka hanya teranguk, ia memandangi sosok Gayatri yang sedang berbicara dengan ibunya.


“Kenapa? Mau keluar?” tanya Mira, dengan cepat. Ia membuka tas pinggangnya hendak mengambil uang.


“Ish, apaan. Orang gak akan keluar. Itu temen Aya mau makan katanya. Mau sotonya satu porsi.” Gayatri meminta dengan malu-malu.


“Ah elah, kirain sengaja bertamu buat lo. Tau-taunya mau makan soto doang,” sahut Mira dengan kecewa.


“Lah emang kenapa kalau dia mau makan soto doang? Orang dia emang beneran laper. Asal Enyak tau, dia itu tinggal sendiri di rumahnya, gak punya orang tua. Eh maksudnya orang tuanya gak ada di Jakarta. Makanya dia datang ke sini buat makan sore.” Gayatri menjelaskan pada ibunya. Tangannya saling memilin, terlihat sekali kalau ia gugup.


Mira memandangi beberapa saat putrinya yang tampak gelisah, “Boleh kan?” dengar, dia terlihat ragu dan takut.

__ADS_1


“Kapan gue pelit sama orang. Ajak masuk aja, makan di rumah. Di rumah gak cuma ada soto, ada yang lain juga. Kasian bener anak laki gak ada yang ngurusin,” timpal Mira yang menoleh Shaka dan menatapnya beberapa saat.


“Gak usah, di sini aja. Ngapain di bawa ke rumah,” protes Gayatri.


“Kenapa? Lo malu karena rumah lo butut?” Mira langsung menimpali.


“Dih, bukan begitu. Maksudnya, dia tuh temen sekolah doang, ngapain masuk-masuk ke rumah segala?” Gayatri beralasan. Ia tidak mau Shaka semakin banyak tahu tentang keluarganya.


“Apa bedanya sama si Zaidan, dia juga temen sekolah lo. Dari TK malah. Berapa ratus kali dia nginep di rumah kita? Udaah, jangan ngadi-ngadi alesan lo. Bawa masuk aja tuh temen lo. Lumayan kan kursinya buat pelanggan lain?” jawaban Mira lebih panjang dari yang di bayangkan.


“Iyaa, ya udah.” Gayatri akhirnya menyerah.


“Sotonya nanti gue anterin, sana masuk dulu aja.” Mira setengah mengusir putrinya yang tampak ragu.


“Hem,” hanya itu sahutan Gayatri. Ia menghampiri lagi Shaka dan mengajaknya masuk ke rumah.


“Tuh anak, giliran udah lancar lagi ngomong, bawaannya ngebantaaahhh mulu. Ngajak debaaatt mulu. Tapi gak apa lah, mending begini daripada mingkem mulu,” gerutu Mira sambil menyiapkan soto untuk putrinya.


Sungguh tidak menduga bagi Shaka saat ternyata orang tua Gayatri bersikap ramah padanya. Ia di persilakan masuk ke rumah sederhana itu dan menyuruhnya makan di rumah saja.


Rumah Gayatri memang sederhana. Saat masuk Shaka langsung disambut oleh ruang tamu minimalis yang sofanya sudah usang. Masuk lebih dalam, ada ruang makan yang lumayan luas dengan sebuah dapur kecil yang minimalis. Ada tiga kamar di rumah ini dan kamar Gayatri yang paling depan, terlihat dari nama yang terpajang di pintu kamarnya.


Dari ruang makan ini, Shaka bisa melihat langsung halaman belakang yang di tumbuhi rumput tipis. Sepertinya lumayan luas.


“Boleh makan di luar aja gak?” tanya Shaka.


Gayatri ikut menoleh ke halaman belakangnya. “Di luar gak ada meja,” sahutnya dingin.


“Habis makan boleh ke sana tapi kan?” Entah mengapa Shaka mendesak sekali ingin ke tempat itu.


“Hem,” hanya itu sahutan Gayatri. Ia menaruh piring dan sendok di depan Shaka. “Lo ambil sendiri nasi sama lauknya,” imbuh gadis itu. Ia duduk berhadapan dengan Shaka di meja makan yang tidak terlalu besar itu.


“Okey, waahh gue makan enak nih,” ucap lelaki muda itu. Matanya berbinar melihat banyaknya menu makanan sederhana namun menggiurkan. Sudah sangat lama ia tidak makan seperti ini.


Gayatri hanya tersenyum, ia ikut mengisi piringnya dengan nasi dan lauk. Dua orang itu mulai menikmati makananya. Kalau di perhatikan cara makan dua orang ini sangat jauh berbeda. Shaka makan dengan tegang, cara makannya pun apik. Mungkin karena ia mendapat didikan etika makan di satuannya.


Sementara Gayatri santai saja. Beberapa kali terdengar gadis itu menyeruput kuas sotonya dengan nikmat. Cara duduknya juga unik, satu kaki ia lipat di kursi.


“Minggir, abang-abang lagi makan.” Sesuai dengan tulisan Rasya di agendanya.

__ADS_1


Hah, gadis ini memang unik.


****


__ADS_2