Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
Kekhawatiran


__ADS_3

Langkah kaki Shaka melaju dengan cepat dan tegas sesaat setelah melihat tulisan yang Dion selipkan di bucket bunga lili yang ia berikan pada Gayatri. Ia ingin memastikan apa benar kaki Gayatri cedera seperti yang disebutkan Dion. Ia tidak terlalu yakin karena saat gadis itu datang, gadis itu tampak berjalan dengan biasa saja. Ritmenya enak untuk diikuti dan tidak tergesa-gesa atau seperti menahan sakit.


Gadis yang di kejar Shaka sudah hampir sampai di perpustakaan. Ia berjalan bersama Rosi. Entah apa yang diceritakan Rosi pada gadis yang memeluk buku di tangan kirinya, sementara tangan kanannya terkulai. Hal yang jauh berbeda yang biasa dilakukan Gayatri yang dominan otak kiri. Harusnya tangan kanannya yang memeluk buku, bukan?


“Aya!” panggil Shaka, seraya berlari.


Panggilan Shaka menghentikan langkah gadis itu. Dua gadis itu kompak menoleh dan di waktu yang bersamaan seorang siswa keluar dari perpustakaan.


Bruk!


Seorang siswa tidak sengaja menabrak Gayatri, hingga gadis itu terhuyung dan terdorong ke dinding. Ia bersandar di dinding dengan wajah yang tampak meringis menahan sakit.


"Astaga, sorry Aya. Gue gak sengaja," siswa itu kaget sendiri melihat Gayatri yang tampak kesakitan.


Gayatri hanya terdiam, merasakan sekujur tubuhnya yang sakit, terutama di bagian punggung, lengan kanan dan kaki kanannya. Sendi peluncur di kaki, yang sudah ia balut dengan elatik perban, sepertinya bergeser lagi.


“Aya, lo gak apa-apa?” tanya Rosi saat melihat Gayatrihanya terdiam sambil menahan sakit.


Gayatri menggeleng pelan, ia menolak saat siswa yang menabraknya mendekat.


“Duh sorry ya, tadi gue buru-buru. Gue pikir gak ada lo, gue main jalan aja gak liat lo sama sekali,” ucap seorang siswa yang menabrak bahu Gayatri.


Gayatri hanya mengangkat tangannya, menunjukkan kelima jarinya, tanda kalau ia baik-baik saja.


“Gak liat-liat sih lo, udah sana!” hardik Rosi pada siswa tersebut.


“Iya gue tau gue salah, sekali lagi sorry ya Aya.” Remaja laki-laki itu sampai menangkupkan tangannya di depan dada, penuh rasa sesal.


Gayatri tidak menimpali, ia hanya mengangguk kecil agar remaja itu segera pergi.


“Lo gak apa-apa?” Shaka yang melihat Gayatri kesakitan pun segera menghampiri. Ia perhatikan dengan benar kalau Gayatri memegangi lengan kanannya. Buku yang ia peluk pun berjatuhan dan segera Shaka kumpulkan sambil memperhatikan kaki kanan Gayatri yang tidak ia tapakkan.


Pria muda itu semakin yakin kalau kondisi Gayatri saat ini adalah karena kejadian semalam. Shaka memperhatikan benar postur tubuh Gayatri, terutama kakinya yang tidak menapak dengan benar. Tubuhnya lebih banyak bertumpu pada kaki kirinya.

__ADS_1


Gayatri hanya melirik Shaka tanpa berani menatapnya. Segera ia ambil buku di tangan Shaka. Saat Shaka hendak menyentuh lengan kanannya, Gayatri segera mengibaskannya. Refleksnya masih bagus untuk melindungi tangannya yang terluka.


“Lo mau ke ruang kesehatan Ya?” tawar Rosi. Ia melihat Gayatri yang sampai berkeringat dingin.


Gadis itu menggeleng, ia berusaha menegakkan tubuhnya, tetapi malah sempoyongan.


“Astaga!” seru Rosi yang kaget. Ia mengambil alih buku di tangan Gayatri, sementara Shaka segera menahan tubuh Gayatri. Memegangi kedua lengannya agar Gayatri tidak terjatuh.


“Lo ke ruang Kesehatan aja, kerja kelompoknya nanti aja,” ucap Shaka yang tiba-tiba menggendong Gayatri dengan kedua tangannya di depan tubuhnya.


Gayatri sampai terhenyak kaget, saat tubuhnya terangkat ke udara oleh dua lengan kokoh Shaka. Tangannya refleks melingkar di leher Shaka. Rosi juga ikut kaget, ia tidak menyangka kalau Shaka akan menggendong Gayatri. Untuk beberapa saat Gayatri menatap wajah Shaka yang begitu dekat dengannya, namun laki-laki itu tidak melirik sedikit pun. Tetap melihat lurus ke depan sana.


“Lo jalan duluan gih, bukain pintu ruang kesehatan,” titah Shaka pada Rosi yang masih mematung.


“I, Iya” untung gadis itu segera tersadar dan mengambil alih buku Gayatri dan berjalan lebih dulu dari Shaka. Sesekali ia menoleh pada Shaka yang berjalan di belakangnya, sambil menggendong Gayatri.


“Eehh, kalian mau ke mana?” David yang berada di belakang pun segera berlari menghampiri.


“Mau ke ruang Kesehatan, kayaknya Aya sakit,” terang Rosi, ia berjalan dengan cepat.


“Gue juga mau tau,” sahut Shaka yang baru kali ini menoleh Gayatri. Mereka bertatapan beberapa saat, tetapi Gayatri segera memalingkan wajahnya yang bersemu kemerahan.


Kali ini sepertinya ia harus menyerah karena kakinya memang sangat sakit setelah tadi tersenggol oleh seorang siswa yang membuat tubuhnya oleng.


Di ruang kesehatan, kedatangan Gayatri di sambut oleh seorang dokter yang biasa berjaga. Gadis itu dibaringkan dengan hati-hati di atas ranjang pasien. Melepaskan sepatu Gayatri dengan hati-hati lalu menaruhnya di bawah ranjang.


“Kalian tunggu di luar aja ya, biar saya periksa dulu,” ucap dokter tersebut.


“Iya dok,” Rosi segera menyahuti. Ia beranjak keluar dari ruang Kesehatan. “Ayookk,” imbuhnya seraya menarik sedikit lengan baju Shaka.


Laki-laki itu pun tersadar dari perhatiannya yang fokus pada Gayatri. Gadis itu seperti enggan melihat wajahnya dan memilih melihat ke arah lain. Terpaksa Shaka meninggalkan Gayatri bersama dokternya.


“Senggolannya tuh perasaan pelan deh, tapi kok Aya sampe kesakitan begitu ya? Apa dia emang lagi sakit?” gumam Rosi, bertanya pada dua temannya yang berdiri di pintu masuk sambil bersandar pada dinding.

__ADS_1


“Mungkin emang lagi gak enak badan aja. Tapi gue liat dari sejak datang mukanya Aya emang gak secerah biasanya sih. Tegang bangeett gitu, sama kayak sering meringis. Apa lagi dateng tamu bulanan ya?” terka David.


“Merhatiin banget lo, sampe segitunya,” ejek Rosi pada laki-laki berbulu mata lentik itu.


“Hahahaha… iya lah pasti gue perhatiin. Secara Aya tuh istimewa,” sahut David seraya mengusap rambutnya dengan salah tingkah.


Shaka yang mendengar itu hanya terdiam, pikirannya masih tertaut pada kejadian semalam dan hari ini.


Seharian ini Gayatri tidak kembali ke kelas. Saat pulang pun ia dibonceng oleh Zaidan sementara motornya ia tinggal di sekolah. Shaka rencananya akan mengantar Gayatri tetapi seseorang menahannya.


“Katanya lo mau jalan sama gue, gak lupa kan?” Rengek Indah yang sedari tadi melingkarkan tangannya di lengan Shaka.


Benar, ia punya rencana lain yang harus dilakukan.


“Iya, ayok,” Shaka terpaksa membiarkan Gayatri pergi bersama Zaidan. Matanya menatap khawatir pada gadis yang tidak sekalipun menolehnya. Tidak Shaka, dia melirikmu dari spion kanan motor Zaidan.


“Emang kita mau bertukar apa hari ini?” pertanyaan Indah kembali menyadarkan Shaka. Laki-laki itu mengusap wajahya dengan kasar untuk menyadarkan pikirannya sendiri.


“Kasih tau gue apa hubungan Aya sama Dion dan genknya.” Kalimat itu yang dilontarkan Shaka seraya menatap sepasang mata Indah.


Awalnya gadis itu tampak kaget mendengar permintaan Shaka, tetapi setelah itu ia tersenyum kecil. “Anter gue nyari buku, nanti gue kasih liat sesuatu,” tawar gadis itu.


Permintaan Indah memang tidak pernah mudah, harus selalu setimbal.


“Okey.” Shaka terpaksa mengiyakan.


“Jalannya pake mobil gue, gue gak mau ada yang liat pas gue ngasih tau lo sesuatu,” ini permintaan keduanya.


“Ya, deal!” Shaka menurut saja, karena sepertinya hal ini lebih baik.


“Okey, good! Yuk!” Indah begitu semangat mengiyakan. Ia berjalan lebih dulu menuju tempat ia memarkir mobilnya dan Shaka mengikuti dari belakang.


Kita lihat, apa yang akan Shaka dapatkan hari ini.

__ADS_1


****


__ADS_2