
Seperti yang dijanjikan, hari ini Shaka dan Gayatri pergi ke lokasi pembunuhan Rasya. Mereka tiba sekitar jam 10 pagi, saat matahari sedang bersinar dengan cerah. Mereka mengendarai motor masing-masing dan memarkirkannya di tempat saat Gayatri tiba.
Melihat ke sekitaran tempat itu membuat Gayatri tersadar kalau ia sedang berada di sebuah area berbukti dengan tepian jalan yang curam. Dulu ia tidak menyadarinya, entah karena gelap atau karena fokusnya saat itu hanya untuk mencari Rasya. Tidak ada yang berbeda dari tempat itu, baik siang atau malam, kondisinya tetap sepi, jarang orang berlalu lalang.
“Gue parkir di sini,” ucap Gayatri. Ia segera turun dan menaruh helmnya di atas spion. Begitupun dengan Shaka, ia mengekor di belakangnya.
“Gue tiba jam tujuh lewat, saat itu gue gak liat apa-apa. Gue coba hubungin Dion yang ngasih peta lokasi, tapi dia gak ada bales.” Gayatri melanjutkan kalimatnya.
Shaka mencatat semua keterangan Gayatri dalam bukunya. “Terus kapan lo dengar suara abang lo?”
“Sekitar empat atau lima menit setelah gue dateng. Gue jalan ke sini,” Gayatri menyusuri jalan setapak yang dulu ia jajaki.
“Nah di dekat pohon ini, gue liat orang lari. Gue yakin itu Rasya, tapi larinya cepet banget, sambil tergopoh-gopoh. Gue sempet nanya sama Abang gue waktu di kantor polisi, apa dia nendang atau mukul kaki Rasya atau nggak, katanya enggak. Gak ada kontak fisik sama sekali selain waktu dia mencengkram kerah baju Rasya.” Gayatri berusaha mengingat kembali perbincangannya bersama sang kakak.
“Terus menurut abang lo, kenapa Rasya lari?” Shaka mulai penasaran.
“Menurut abang gue, dia memang bilang kalau dia nunggu Rasya di Gudang, terus pas Rasya datang, abang gue langsung nyamperin dia. Mau ngajak bicara sama dia. Baru sebentar bicara, tiba-tiba Rasya lari kayak liat setan. Abang gue gak tau Rasya ngumpet di mana, sampai kemudian abang gue teriak manggil Rasya,” urai Gayatri. Ia mencoba membayangkan posisi Galih saat itu.
“Gudang yang di maksud, Gudang yang di mana? Terus posisi Dion di mana?” Kecurigaan Shaka masih terletak pada dion.
“Gue gak tau Gudang yang mana, apa mungkin bangunan tua itu?” tunjuk Gayatri pada bangunan tua yang ditutupi tumbuhan merambat di dekat pohon besar.
“Kita ke sana,” ajak Shaka tanpa ragu.
“Iya,”
Gayatri dan Shaka berjalan dengan cepat menuju bangungan tersebut. Melewati ilalang dan semak belukar yang menjeda langkah mereka.
Bangunan tua itu sudah ada di depan mata. Di lihat dari kondisinya, sepertinya bekas digunakan sebagai Gudang penyimpanan. Shaka membuka pintu Gudang yang terikat dengan sedikit garis polisi. Karena penyelidikan sudah selesai, membuat garis polisi itu tidak terpasang dengan benar.
“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Shaka dan Gayatri sampai terbatuk sesaat setelah membukan pintu Gudang itu. Aroma bau langsung menyengat dari dalam Gudang. Mereka menggunakan jaketnya untuk menutup hidung.
Di ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya matahari yang masuk melalui celah dinding itu, ada sebuah mesin penggilingan yang teronggoh di sana. Shaka memeriksanya dan sepertinya ini mesin penghancur singkong. Shaka mengambil sisa-sisa serbuk yang tersisa dan menempel di permukaan mesin yang sudah karatan, lalu menciumnya.
“Ini pabrik pembuatan tepung tapioka,” ucap Shaka saat memeriksa konsistensi serbuk yang kesat di sela jarinya.
Gayatri segera mendekat, ikut menyentuh bahan berwarna putih itu. Dari bahan yang ada di tangan Shaka, sepertinya benar kalau itu tepung singkong.
__ADS_1
“Posisi abang lo di mana waktu ngomong sama Rasya?” tanya Shaka yang semakin penasaran.
“Gue gak tau persis, soalnya abang gue cerita terpatah-patah, dia ketakutan. Yang jelas dia bilang, dia ngomong sama Rasya cuma sekitar dua atau tiga menit dan Rasya langsung lari gitu aja. Padahal awalnya biasa aja. Makanya abang gue bilang kayak habis ngeliat setan,” terang Gayatri.
Shaka memeriksa sekeliling tempat ini beberapa saat. Ruangan ini memang cukup luas, berukuran sekitar 6x8m. Pengisinya hanya mesin ini dan tumpukan karung. Shaka memeriksa tumpukan karung itu dan isinya ternyata kulit singkong yang mengering.
"Kenapa abang lo ngajak Rasya ketemuan di sini? Kalau cuma mau ngasih peringatan kan dia gak usah ngajak Rasya ke tempat kayak gini," Shaka bertanya sambil tetap berkeliling.
"Abang bilang cuma buat nakut-nakutin Rasya," Gayatri menjeda kalimatnya.
"Nakut-nakuti biar apa?" Kali ini Shaka menatap Gayatri dengan lekat.
"Biar jauhin gue," Gayatri menjawab dengan yakin.
Shaka tersenyum kecut mendengar jawaban Gayatri. "Apa karena adek gue gak kuat kayak lo sehingga dia gak boleh temenan sama lo? Atau, ada orang lain yang gunain abang lo supaya ngancam Rasya biar gak deket sama lo?" pertanyaan Shaka begitu rapat, dengan tatapannya yang tajam pada Gayatri.
Gadis itu menggeleng, ia bahkan tidak tahu alasan sang kakak sebenarnya.
Melihat Gayatri yang tidak bisa menjawab, Shaka memilih melanjutkan pemeriksaannya. Ia mendapati semua dinding bangunan ini terbuat dari kayu, ada satu bagian jendela yang terbuka dan Shaka segera memeriksanya. Ternyata itu sebuah jendela yang menghadap langsung ke luar Gudang.
“Lo berdiri di situ Aya,” ucap Shaka. Gayatri pun langsung terdiam, tidak beranjak. Ia berada dari tengah-tengah ruangan, persis di depan mesin penghancur singkong.
“Apa yang lo liat Aya?” tanya Shaka.
“Lo, jendela dan pohon di luar,” sahut Gayatri.
Shaka mengangguk paham, ia kembali mendekat ke jendela itu dan melihat keluaran sana. Mengetuk-ngetuk jendela itu dengan kepalan tangannya dan sepertinya jendela ini cukup kokoh.
“Lo bilang posisi Dion di luar kan?” tanya ulang Shaka.
“Iya, abang bilang di luar, deket pintu,”
“Itu artinya, posisi Galih, Dion dan Rasya membentuk segitiga. Kalau pun Rasya keliatan ketakutan, itu karena dia melihat sesuatu dari jendela ini.” Itu simpulan pertama yang Shaka dapatkan dan ia gambarkan di buku catatannya.
Shaka keluar sebentar dari Gudang itu, sengaja berdiri di depan jendela menghadap ke dalam. “Lo liat gue Ya?” tanya Shaka.
“Ya, gue liat.”
__ADS_1
Shaka kembali mencatatnya. Ia memperkirakan jarak penglihatan Rasya yang matanya minus. Tanpa sengaja, tutup ballpoint Shaka jatuh, laki-laki membungkuk untuk mengambilnya dan satu hal yang ia temukan. Ada jejak sepatu di tanah yang lembab itu.
“Ada jejak sepatu,” gumam Shaka.
Shaka segera berjongkok dan memperhatikan dengan seksama jejak sepatu yang hanya separuh itu. Ia menengdah ke atas, rupanya area ini terlindungi atap Gudang sehingga tidak rusak oleh hujan yang turun.
Shaka segera mempotretnya. Ini penemuan penting untuknya. “Ada orang ke empat di tempat ini dan bukan Dion,” itu simpulan kedua yang Shaka ambil.
“Shaka, lo di mana?” panggil Gayatri.
“Hadir!” seru Shaka yang kembali berdiri setelah mengambil foto-foto itu.
Gayatri segera menghampiri, “Gue liat saklar di sana. Apa boleh gue nyalain?” tanya gadis itu.
“Jangan, kita gak tau kelistrikan tempat ini. Keluar sekarang, kita baru ngelilingin tempat ini.”
“Iya,” Gayatri segera keluar dari tempat tersebut dan menghampiri Shaka. Mereka berjalan mengitari sekeliling Gudang sambil memperhatikan sekelilingnya.
“Ilalang sebelah situ kok lebih pendek ya?” tanya Gayatri tiba-tiba.
Shaka segera menoleh, melihat ke arah yang di tunjuk Gayatri. Benar saja, ada beberapa rumput ilalang yang tingginya tidak sama.
“Kita ke sana,” ajak Shaka.
Dua orang itu segera menuju tempat yang di tunjuk Gayatri. Shaka memperhatikan baik-baik area yang ilalangnya tidak terlalu tinggi. Ia coba ukur, 1,819 mm. “Ini ukuran lebar mobil jeep. Kayaknya ada mobil jeep yang di parkir di sini,” ungkap Shaka.
“Berarti ada orang lain selain Rasya, Dion dan abang gue?” tanya Gayatri.
“Ya, kemungkinan gitu.” Shaka semakin yakin saja.
Ia mempotret beberapa bagian di tempat ini dengan kamera ponselnya. Setelah selesai ia melanjutkan perjalanannya mengitari Gudang.
“Ini, jejak tangan bukan Shaka?” tanya Gayatri saat melihat noda kehitaman di dinding kayu tersebut.
“Jangan di pegang!” seru Shaka. Gayatri segera menarik kembali tangannya.
Shaka memperhatikan bentukan noda kehitaman itu, menyinarinya dengan senter ponsel, “Apa ini gambar tangan Rasya saat di tusuk?” gumam Shaka. Dua orang itu saling bertatapan dengan heran.
__ADS_1
****