
Rasa dingin dan perih adalah dua hal yang dirasakan Shaka tepat di kepalanya. Rasa perih itu juga yang kemudian membawanya tersadar setelah pingsan beberapa saat lalu. Matanya mengerjap pelan, berusaha menyesuaikan netranya dengan cahaya terang lampu yang berada tepat di atas kepalanya.
Di benaknya masih terlintas bayangan-bayangan kejadian saat Gayatri melompat ke atas tubuhnya lalu menghajar para anggota genk motor itu dengan kedua kakinya yang kokoh. Setelah itu semuanya gelap dan tidak ada yang terlihat lagi, tidak ada yang terdengar lagi.
“AYA!” seru Shaka yang baru tersadar sepenuhnya. Ia terbangun begitu saja di tempat yang asing dengan banyak stiker dan poster binatang di sekelilingnya.
“Diam lah, aku belum selesai menjahit lukamu,” ujar sebuah suara bergetar milik seorang laki-laki di belakang Shaka.
Shaka segera menoleh dan ternyata ada seorang laki-laki yang duduk di belakangnya dengan alat jahit luka di tangannya. Matanya menatap geram pada Shaka yang tidak bisa diam.
“Berbaring lagi.” Laki-laki tua itu menarik bahu Shaka hingga laki-laki muda itu kembali terbaring di atas blankar pasien.
“Saya di mana?” tanya Shaka yang kebingungan. Ia melihat ke sekeliling tempat ini dan banyak piagam pernghargaan yang tergantung di dinding selain lemari besar yang berisi alat-alat medis.
“Jangan berdrama, pukulan botol tidak akan membuatmu amnesia,” laki-laki itu menjawab dengan dingin sambil melanjutkan menjahit luka Shaka.
“Aku tidak amnesia, hanya saja aku tidak tahu aku sedang berada di mana.” Shaka masih berusaha mengingat kejadian yang menimpanya.
“Kamu di klinik hewan, Gayatri yang bawa kamu ke sini.” Laki-laki berusia akhir enam puluhan itu menjawab dengan santai. Ia masih melanjutkan menjahit pelipis Shaka yang terluka akibat pecahan botol yang menghantam kepalanya.
“Dengan cara apa?” Shaka penasaran.
“Menggendongmu,” jawab dokter hewan itu, pendek.
__ADS_1
“Menggendongku? Aaakh…” Karena semangat menoleh pada laki-laki itu, akibatnya benang itu meregang dan membuat luka Shaka ngilu.
“Tunggu sebentar, ini simpul yang terakhir, jangan membuatku kesulitan.” Laki-laki itu menahan dahi Shaka agar diam di tempatnya, tidak terus menerus bergerak dan membuatnya sulit menjahit luka.
Shaka akhirnya diam. Ia ingat kalau saat kejadian itu memang tidak ada orang lain yang melintas. Suasana di tempat itu juga sangat sepi dan remang-remang di bawah lampu jalan yang sepertinya akan segera padam.
“Sudah,” ucap laki-laki itu seraya menggunting sisa benang. “Ada enam jahitan di dua luka yang berbeda. Bersihkan dengan teratur dan hati-hati saat memakai shampoo. Mungkin akan terasa pedih, tapi aku yakin anak nakal sepertimu bisa menahannya,” imbuh laki-laki tua itu seraya beranjak dari tempatnya untuk mencuci tangan.
Shaka menghembuskan napasnya lega, ia segera bangkit untuk duduk. Kepalanya ia pegangi karena masih terasa pusing. Di tatapnya laki-laki yang berdiri di depan wastafel itu dengan penuh perhatian. “Terima kasih, maaf merepotkan.” Shaka berujar dengan penuh kesungguhan.
“Berterima kasihlah sama Gayatri. Susah payah dia bawa kamu ke sini.” Laki-laki itu masih membahas nama Gayatri.
“Dia benar-benar menggendongku?” Shaka masih tidak percaya. Apa mungkin tubuh kurus itu mampu mengangkat bobot tubuh Shaka yang sudah pasti jauh lebih berat darinya. Samar bayang yang melintas di ingatannya,ia tersungkur jatuh di aspal sebelum semuanya gelap.
Tidak lama kemudian seperti ada orang yang mengangkat tubuhnya, berjalan pelan entah menuju ke mana yang jelas Shaka merasa tubuhnya yang lemah itu sedikit berguncang seperti di bawa berlari. Ia juga melihat cahaya yang samar-samar saat matanya sedikit terbuka melihat jalanan antara sadar dan tidak. Satu hal yang pasti, ia menyandarkan kepala peningnya di sebuah punggung yang kokoh serta tercium wangi parfum yang sama seperti saat ia berpapasan dengan seorang gadis di makam Rasya.
Shaka menggeleng, memang tidak mungkin. “Di mana dia sekarang?” Shaka beranjak dari tempatnya dan berpindah ke sofa yang ada di samping kaca jendela.
Belum sempat lelaki tua itu menjawab, terdengar terdengar lebih dulu suara motor Shaka yang mendekat lalu berhenti di depan klinik. Dari kaca jendela itu Shaka bisa melihat motornya dikendarai oleh seseorang yang melepas helmnya dan menunjukkan wajahnya.
Rambut panjangnyaa terburai, menutupi sebagian wajahnya yang tidak asing bagi Shaka, siapa lagi kalau bukan Gayatri. “Dia bisa naik motor gede?” batin Shaka.
Untuk beberapa saat waktu seperti merambat pelan. Shaka melihat gadis itu turun dari motornya dan memeluk helm di tangan kanan untuk ia bawa masuk. Langkahnya terlihat tegas dengan sorot matanya yang dingin lagi tajam. Bibir Shaka tersenyum kecil dengan sendirinya, matanya seolah enggan berkedip melihat sosok itu mendekat ke jendela. Lihat ayunan tangan kirinya yang tegap, apa ia masih Gayatri yang dikenalnya? Kenapa keren sekali?
__ADS_1
Ting!
Suara bell klinik terdengar di pintu, tanda seseorang datang. Tidak lama berselang, sosok Gayatri masuk dan menampakkan wajahnya di pintu. Matanya membulat kaget melihat Shaka yang sudah terduduk di sofa.
“Dia udah bangun. Enam jahitan untuk masing-masing luka yang berbeda. Pelipis enam, temporal enam,” ujar sang dokter tanpa di minta.
Gayatri tidak menimpli, hanya mengangguk sopan sebagai bentuk ucapan terima kasih.
“Aku sudah mengantuk, kalau kalian mau pulang, pulanglah. Jangan lupa tutup pintunya,” imbuh laki-laki itu yang kemudian pergi dari hadapan Gayatri dan Shaka.
Shaka dan Gayatri sama-sama terdiam, saling bertatapan entah untuk alasan apa. Terlihat jelas kalau Gayatri menghembuskan napasnya lega, melihat laki-laki populer itu tampak baik-baik saja.
“Kemarilah,” Shaka menepuk tempat di sampingnya, meminta Gayatri untuk duduk.
Gadis itu menaruh godybag dan helm Shaka di atas meja, lalu menarik satu kursi lipat dan duduk di hadapan Shaka.
“Makasih, udah nyelamatin gue,” ucap Shaka dengan penuh kesungguhan. Gayatri hanya termenung, menatap Shaka beberapa saat sampai kemudian memalingkan wajahnya dari laki-laki itu. Seharusnya ia yang berterima kasih karena Shaka datang di waktu yang tepat.
Sayangnya, bibirnya masih terasa kelu. Semua yang terjadi satu setengah jam lalu terlalu mengagetkannya. Terutama saat ia melihat kepala Shaka yang berdarah-darah. Akhirnya ia memilih melihat ke luar jendela dan memandangi motor Shaka yang terparkir di tepian jalan. Ia butuh ruang yang lapang untuk meluruhkan rasa bersalahnya.
Melihat Gayatri yang terdiam, Shaka tersenyum kecil. Ia memandangi lekat wajah gadis yang masih terlihat tegang itu. Baru kali ini Shaka melihat Gayatri mengikat rambutnya walau pun dengan sembarang dan berantakan. Titik keringat masih terlihat di wajah dan dahinya, tetapi hal itu malah menjadi hal yang menarik bagi Shaka.
“Gue denger suara lo, Ya,” ujarnya tiba-tiba seraya tersenyum tipis. Gayatri menoleh Shaka saat ternyata laki-laki itu sempat mendengar suaranya yang keluar begitu saja tanpa ia duga. Semua itu seperti sebuah refleks saat Shaka akan di pukul dan saat laki-laki itu terkulai lemah di pangkuannya.
__ADS_1
“Lo gak usah ragu buat ngomong dan gue juga gak akan maksa lo buat ngomong. Tapi gue seneng denger suara lo. Tiga kali gue denger suara lo,” Shaka menunjukkan tiga jari tangan kanannya pada Gayatri.
Dahi gadis itu mengernyit. Seingatnya, hanya dua kali ia mengeluarkan suaranya.