
Seorang laki-laki berwajah garang berjalan dengan cepat menuju sebuah kamar di lantai satu. Ia membuka pintu dengan kasar sambil berteriak, "Deby!!! DEBY!!!" teriakan laki-laki itu terdengar berulang kali.
Tidak ada sahutan dari dalam kamar. Hanya ada lampu yang menyala kekuningan, tempat tidur yang rapi dan seisi ruangan yang kosong menyambutnya dingin.
"Sial! Kemana perginya perempuan brengsek itu?" dengus Arisman dengan kesal. Ia melepas jasnya yang membuat gerah lalu dilempar sembarang. Melonggarkan dasi dan menggulung lengan kemejanya hingga ke atas.
Ia selalu tidak suka setiap kali pulang dan Deby tidak menyambutnya. Terlebih saat ia memanggilnya, Deby malah tidak menghampiri.
Tongkat baseball ia ambil, senjata kesayangan yang kerap ia gunakan untuk menyiksa anak istrinya yang sulit di atur. Ia bergegas menuju kamar Dion, tempat yang biasa di datangi Deby. Pintu kamarnya ia buka dengan kasar dan matanya semakin menyalak saat ternyata Dion pun tidak ada di tempatnya.
"Sial! Ke mana mereka?!" gerutu Arisman dengan matanya yang melotot dan mengawasi setiap sudut kamar. Tidak ada siapa pun di sini, padahal Dion jelas tidak bisa berjalan.
Tidak menunggu lama sampai kemudian Arisman turun dari lantai dua, pergi ke belakang dan masuk ke dalam sebuah ruangan yang berada di belakang rumah tersebut. Ada lift di sana yang langsung membawanya masuk ke ruang bawah tanah dan berhenti tepat di depan sebuah kamar. Ini tempat terakhir yang mungkin Deby dan Dion sambangi.
Arisman memandangi ruangan yang terbuat dari kaca dan diisi oleh banyak barang perlengkapan medis yang menyokong kehidupan seorang wanita muda. Wanita itu terbaring tidak berdaya di atas sebuah ranjang, dengan alat bantu pernapasan yang terpasang di lehernya yang telah dilubangi.
"Kamu melihat ibu dan adik brengsekmu?" tanya Arisman, pada putri pertamanya yang sudah koma selama hampir satu tahun. Ia menatap lekat wajah pemilik tubuh yang terbujur dengan kehidupan yang bergantung sepenuhnya pada alat-alat yang terpasang di tubuhnya.
Bukan tanpa sebab gadis ini berada di tempat ini. Hidupnya masih dipertahankan oleh Arisman, yang tidak mau kehilangan putrinya karena sebuah kecelakaan. Dia putri kesayangannya, kondisi kesehatannya yang buruk telah membuat hidup Arisman hancur. Segala cara ia lakukan untuk mempertahankan hidup putrinya yang dikatakan mustahil itu. Jangan tanyakan soal biaya, sudah pasti bernilai fantastis.
"Hanya kamu yang selalu menurut sama papah. Dua orang itu masih saja brengsek dan menyulitkan papah. Bangunlah Nak, papah membutuhkanmu," ucap lirih Arisman dengan penuh harap.
Sayangnya, yang diharapkan Arisman tidak akan pernah terjadi. Sehari lalu, dokter telah menyatakan kalau putrinya mengalami mati batang otak. Dokter sudah menyarankan Arisman untuk merelakan putrinya dan melepas semua alat yang terpasang di tubuhnya. Tetapi, laki-laki itu menolaknya. Sebagai pelampiasan kekecewaannya, Dionlah yang menjadi korbannya.
"Jangan khawatir, mungkin mereka hanya berjalan-jalan sayang. Papah akan bawa mereka pulang, hem?" ucap Arisman seraya mengusap kepala sang anak yang terbungkus perban. Lalu ia kecup beberapa saat sebelum kemudian pergi dengan membawa tongkat baseball yang menjadi senjata andalannya.
"Siapa yang datang ke rumah ini?" tanya Arisman pada anak buahnya. Mereka di kumpulkan di ruang tamu, jumlahnya sekitar delapan orang laki-laki bertubuh kekar dengan wajahnya yang garang.
"Teman sekolah tuan muda, tuan." Satu pengawal menimpali.
"Siapa?" tanya Arisman.
"Saya tidak tau namanya tuan. Hanya saja mereka,"
Arisman tidak menunggu anak buahnya untuk menyelesaikan jawabannya. Ia segera pergi ke ruang kontrol CCTV dan memeriksa rekaman CCTV yang ada. Matanya melotot saat ia melihat rekaman itu sebagian hilang karena telah di hapus.
"Bodoh kalian!!!!" teriak Arisman seraya mendorong tubuh anak buahnya hingga membentur pintu ruang CCTV. Ia segera keluar dari ruangan tersebut dan menghubungi seseorang.
Laki-laki yang membawa kabur putra Arisman, saat ini sedang berada di kamarnya. Laki-laki itu baru selesai mandi dan mengenakan kaos oblongnya. Rambut jigragnya masih basah meneteskan sisa air dari ujung rambut dan turun ke pelipisnya. Ia memandangi tubuhnya di depan kaca, sambil berpikir rencana selanjutnya yang akan ia lakukan selanjutnya.
Diambilnya ponsel yang tergeletak di atas kasur. Satu nama ia cari dan langsung ia hubungi.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Shaka pada lawan bicaranya.
"Kondisinya buruk bang. Dokter berrencana melakukan operasi di area perut dan dadanya malam ini. Ada perdarahan masif di sana. kepalanyapun cedera, ada retakan di tulang tengkorak bagian belakang. Kaki kanannya mengalami paralysis (kelumpuhan) namun belum bisa di pastikan apa sementara atau permanen."
Penjelasan rekanan Shaka, membuat laki-laki itu harus memijat pelipisnya yang menegang. Ternyata seburuk itu kondisi tubuh Dion. Beruntung ia membawanya kabur, hingga remaja itu masih bisa di upayakan selamat. Tentu harus diselamatkan, karena ia salah satu saksi kunci atas kematian sang adik.
__ADS_1
"Bagaimana prognosanya?" Shaka kembali bertanya.
"fifty-fifty bang. Kita harus siap dengan kondisi terburuk. Dia mengalami perdarahan yang tidak terlihat, operasi pun berresiko memperburuk keadaannya." penjelasan Farid semakin menyesakkan.
"Bagaimana dengan ibunya?"
"Korban baru selesai membuat pelaporan. Besok pagi, dia akan menjalani pemeriksaan lanjutan."
"Tolong kirimi aku hasilnya,"
"Baik bang, akan saya kirim via email."
"Farid," Shaka kembali berbicara tetapi kali ini terjeda.
"Siap Bang," laki-laki itu menyimak dengan seksama.
"Sepertinya kita harus menyiapkan kail yang besar. Tolong berlayar secepatnya, agar jaring yang aku sebar tidak terlambat untuk di angkat." Kalimat istilah dan perintah dilakukan bersamaan.
"Abang menemukan tambak ikan?" Farid terdengar begitu terkejut.
"Hem! Tolong kirimkan juga beberapa petugas untuk menjaga para nelayanku. Aku kirimkan identitas dan titik jaringnya."
"Siap bang! Saya tunggu!" laki-laki itu berujar dengan semangat.
Panggilan pun terputus. Shaka segera memilah data mana yang akan ia kirimkan pada Farid. Mata Farid sampai melotot melihat banyaknya temuan Shaka. Temuan yang tidak main-main karena Shaka telah menemukan sebuah sarang yang besar.
"Saya eksekusi malam ini Bang!"
"Siap!!" sahut Farid dengan tegas melalui pesannya.
Shaka menggenggam ponselnya dengan optimis. Harus ia yakini kalau Farid akan menyelesaikan semuanya malam ini.
Pria muda yang semula tertunduk lesu, kembali menatap cermin dihadapannya. Ia terhenyak saat melihat bayangan seseorang berdiri di belakangnya.
"Lo udah lama?" tanya Shaka pada sosok gadis yang bersandar di pintunya sambil bersidekap. Ia tidak menyadari keberadaan Gayatri yang membawa kotak obat di tangannya.
"Gue baru percaya kalau lo benar-benar agent," ucap gadis itu. Ia menghampiri Shaka, lalu duduk di tepian tempat tidur laki-laki itu. Di tepuknya tempat kosong di sampingnya, meminta Shaka agar duduk.
Seutas senyum ditunjukkan Shaka pada Gayatri. Laki-laki itu menurut untuk duduk. Tidak ada yang ia katakan, hanya memandangi tangan Gayatri yang telaten menyiapkan kasa, cairan pencuci luka lalu obat luka dan plester.
Tingkah Gayatri membikin Shaka tersenyum. Gadis bertangan besi ini memang sangat perhatian. Kecemasannya masih terlihat jelas sejak siang tadi, saat Arisman menamparnya.
"Perih dikit," ucap gadis itu sebagai aba-aba agar Shaka bersiap dengan usapan cairan pembersih luka itu
"Gak masalah, gue punya pengalih rasa sakit yang mujarab," timpal Shaka seraya menatap wajah Gayatri yang begitu dekat dengan pelupuk matanya.
Gayatri hanya mengulum senyum, bisa terlihat wajahnya yang merona karena sadar Shaka sedang memandanginya. Ia masih terus membersihkan luka Shaka, sesekali menahan napasnya saat jantungnya terasa berdebar begitu kencang.
__ADS_1
"Tahi lalat lo ada tiga, menunjukkan simbol keberuntungan," ucap Shaka, entah benar atau tidak.
"Lo bisa merem kalau ngerasa terganggu," timpal Gayatri. Dirinya yang sebenarnya terganggu dengan tatapan lekat Shaka.
"Mana mungkin gue ngelewatin pemandangan seindah ini. AWH!" Shaka sedikit mengaduh saat Gayatri dengan sengaja menekan lukanya.
Gadis itu tersenyum kecil. Giginya yang putih terlihat sebagian. Shaka ikut tersenyum melihat senyuman manis itu, "Cantik," gumamnya dalam hati.
Pembersihan luka selesai, pemberian obat juga selesai dan sekarang, sambil menutup lukanya, Gayatri meniup-niup luka tersebut. Hembusan udaranya begitu sejuk menghapus rasa perih. Hembusan itu juga yang membuat Shaka tiba-tiba mendekat dan mengecup bibir merah muda yang memikatnya.
Gayatri sampai terhenyak, tetapi tidak menghindar. Shaka menggeser tubuhnya semakin rapat dengan Gayatri lalu meraih leher gadis itu untuk memperdalam kecupannya. Tidak di sangka, bibir merah muda itu membalasnya. Membuat Shaka mulai berani memperdalam pagutannya yang dibalas kaku oleh Gayatri.
Mereka bertukar saliva untuk beberapa saat. Sesekali Shaka mendengar Gayatri terengah nyaris kehabisan napas. Shaka terpaksa melepasnya. Ia ingin memberi Gayatri ruang untuk bernapas. Di tatapnya wajah cantik dan kemerahan itu dengan lekat lalu ia usap kepalanya.
"Cepet gede ya," bisik Shaka kemudian.
Gayatri hanya tersenyum kecil. Ia tidak menimpali, melainkan membereskan semua peralatan dokter-dokterannya.
"Mau ke mana?" tanya Shaka yang menahan tangan Gayatri.
"Om agent harus kerja kan?" tanya Gayatri setengah meledek.
"Hahahahha...." Shaka malah tertawa, dia di panggil om oleh anak ingusan ini.
Gayatri ikut tertawa, meski suaranya pelan, tetapi bibirnya merekah lebar.
"Makasih buat hari ini," ungkap Gayatri tiba-tiba.
"Karena gue udah nyelametin pemuja lo?" ejek Shaka.
Gayatri menggeleng. "Buat semua usaha keras lo buat gue dan temen-temen badung gue," timpal gadis itu seraya memberikan kecupan di pipi kiri Shaka.
Laki-laki itu cukup kaget, ternyata hadiah dari Gayatri sangat manis. Ia sudah mendekat untuk membalasnya, tapi kemudian Gayatri menahannya.
"Ada telepon," ucapnya seraya menunjukkan layar ponselnya yang tertulis nama Zaidan di sana.
"Okey, temen badung lo sekarang lebih penting. fine!" Shaka dengan gaya cemburunya yang unik.
Gayatri hanya menggeleng melihat tingkah Shaka. Ia sedikit beranjak untuk menjawab telepon Zaidan.
"Halo," ucap Gayatri.
Tidak ada suara yang terdengar selain suara napas yang terengah-engah.
"Halo, Zaidan! Jawab gue nyet!' Suara Gayatri terdengar tegas.
"Halo Aya! Ya, buruan balik Ya! Rumah sama kedai lo kebakaran!" seru Zaidan dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
Mata Gayatri langsung melotot. Ia benar-benar terkejut. Apa ini alasannya mengapa Barkah belum kunjung datang?
******