Bad Boy Agent

Bad Boy Agent
DGap


__ADS_3

Kedekatan Gayatri dan Shaka semakin terjalin kuat seiring dengan berjalannya waktu. Di sekolah mereka lebih sering menghabiskan waktu bersama. Seorang Gayatri sudah mulai banyak berbincang dengan Shaka meskipun hanya ketika mereka berdua saja.


Seminggu sudah pula Galih menjalani terapi dengan psikiater. Kondisinya perlahan mulai membaik. Galih mulai bisa diajak berkomunikasi walaupun terbatas untuk hal-hal yang sederhana. Laki-laki itu mulai mengenal orang-orang yang berada di sekitarnya. Sepertinya, seorang Galih berada di tangan psikiater yang tepat sehingga kondisinya berkembang pesat.


Banyak hal yang berubah dalam waktu satu minggu ini termasuk kebiasaan Gayatri balapan. Dalam satu minggu ini, sudah empat pertandingan balapan yang Gayatri ikuti bersama Shaka.


Hampir setiap malam, dua remaja itu menyelinap keluar rumah diam-diam, tentunya setelah Barkah tidur. Balapan yang diikuti Gayatri benar-benar tanpa sepengetahuan kedua orang tua Gayatri. Hanya teman-teman Gayatri saja yang tahu kalau gadis itu semakin di kenal sebagai penakluk jalanan.


Ratusan juta uang hadiah berhasil ia kumpulkan dan pelan-pelan hutang keluarganya mulai bisa Gayatri bayar. Ada kebanggan tersendiri ketika ia bisa membantu kedua orang tuanya melunasi hutang-hutang mereka.


Seperti malam ini, di kamarnya saat ini Gayatri berada. Ia masih menghitung hutang kedua orang tuanya. Ponsel sebagai kalkulator dan buku catatan menjadi sahabat karibnya. Kalau di hitung-hitung, sekitar sembilan belas juta lagi hutang yang harus ia lunasi.


Di ceknya rekening ia saat ini, masih tersisa sekitar serratus tiga puluh juta rupiah lagi.


“Haaahhh… syukurlah masih tersisa banyak. Besok bisa gue lunasin aja semua utang Enyak sama babeh. Duit buat terapi abang juga masih cukup buat enam pertemuan lagi. Semangaatt Ayaa!!!” Gayatri berseru menyemangati dirinya sendiri.


Tanpa ia ketahui, di celah pintunya ada seseorang yang sedang memperhatikan. Sosok laki-laki tinggi yang tersenyum melihat tingkah sang gadis yang mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara. Ia mendorong pintu itu sedikit terbuka lalu mengendap-endap masuk tanpa di ketahui sang empunya.


Saat Shaka hendak menyentuh bahu Gayatri, tiba-tiba saja gadis itu berdiri dan menarik tangan laki-laki itu lalu membantingnya ke atas kasur.


“Akh!” dengus Shaka yang kaget dengan serangan tiba-tiba Gayatri. Laki-laki itu tidak menyangka akan mendapat perlawanan dari sang gadis.


“Astaga!” Gayatri kaget sendiri saat ternyata yang ia banting adalah Shaka. “Lo gak apa-apa?” Gayatri segera mendekat yang meringis kesakitan, terduduk di tepian tempat tidurnya dan memeriksa lengan Shaka untuk memastikan baik-baik saja.


“Sakit Yaa….” Shaka merengek sambil memegangi pergelangan tangannya yang dipelintir Gayatri.


“Ya sorry, gue kira lo penguntit. Lagian, kenapa juga lo ngagetin gue? Gue kan refleks ngira ada penyusup masuk ke kamar gue,” gerutu Gayatri sambil meniupi tangan Shaka yang pasti sakit.


“Gue kan mau ngasih kejutan.” Shaka masih meringis sakit.


“Gak usah pake kejutan-kejutan sama gue, hidup gue udah terlalu banyak kejutan.” Gadis itu menimpali dengan kesal. “Coba sini gue liat tangannya,” Gayatri menarik tangan Shaka untuk ia periksa dengan benar.


“Aw… aw… aw… bisa pelan-pelan gak sih neng?” rengek Shaka.


“Gak bisa!” seru Gayatri sambil melotot.


“Oh okey,” Shaka langsung pasrah. Ia membaringkan tubuhnya terlentang di Kasur, sementara Gayatri memijat-mijat pergelangan tangannya, khawatir terkilir. Sesekali gadis itu meniupinya membuat Shaka memperhatikan gadis itu diam-diam.

__ADS_1


Ada senyum yang terukir saat melihat kecemasan yang tergambar di wajah Gayatri. Gadis ini mulai menunjukkan sikap pedulinya.


“Di tekan gini, sakit gak?” tanya gadis itu seraya menoleh Shaka,


“Akh, aduhh… iyaaa, sakit banget.” Shaka pura-pura mengaduh. Padahal sebenarnya sakitnya tidak seberapa, sudah sembuh juga berkat pijatan lembut dan tiup-tiup Gayatri.


“Gue kompres aja deh. Lain kali lo jangan ngagetin gue kayak gitu dah. Untung gak gue banting ke lantai.” Gayatri mendelik kesal pada laki-laki iseng itu.


“Iyaa, iyaa… sorry… jangan diomelin dong, kan gue lagi sakit. Harusnya di sayang-sayang,” Shaka langsung memindahkan kepalanya ke atas paha Gayatri. “Kayak gini rasanya lebih nyaman, gak usah di kompres,” ucap laki-laki itu dengan senyum terkembang.


“Kebiasaan lo!” decik Gayatri seraya mencubit hidup Shaka yang bangir. Kebiasaan menjadikan kedua paha Gayatri sebagai bantalan.


Shaka hanya terkekeh, ia mengambil tangan Gayatri untuk ia tempatkan di dadanya. Ia tautkan jarinya di sela jari Gayatri agar gadis iitu tidak beranjak.


“Aya,” panggil laki-laki itu dengan lembut.


“Hem,” hanya itu sahutan Gayatri, balas menatap Shaka sesaat lalu beralih melihat ke arah lain, untuk mengurangi debaran jantungnya yang menderu.


“Udahan ya balapannya. Udah selesai kan, urusan lo?” tanya Shaka dengan lembut.


“Gue bisa bantu. Lo gak harus balapan lagi. Gue ada kok duit. Gimana?” bujuk shaka dengan tatapan yang lekat.


Gayatri merasakan benar perhatian Shaka terhadapnya yang begitu besar.


“Gue masih bisa berusaha sendiri Shaka. Jangan terus-terusan bantuin gue. Kalau lo terus-terusan bantuin gue, terus suatu hari lo pergi, gue akan sangat kehilangan lo. Gue akan pincang dan kehilangan sandaran. Lo bisa bertanggung jawab kalau gue gak sekuat sekarang?” baru kali ini Gayatri mengakui perasaannya terhadap Shaka.


Laki-laki itu pun menggeleng. “Jangan ada hal buruk yang terjadi sama lo, nanti gue gak bisa maafin diri gue sendiri.” Shaka merajuk, ia mengenggam tangan Gayatri dengan erat.


“Ya makanya itu usaha gue supaya gue gak tergantung sama lo.” Gayatri menegaskan tekadnya. Gadis itu menaruh tangan Shaka di atas Kasur, lalu memindahkan kepala laki-laki itu ke atas bantal dan beranjak dari tempatnya.


“Kok pergi sih? Mau kemana? belum selesai loh ngobrolnya,” Shaka segera bangkit, memandangi Gayatri yang duduk di kursi belajarnya.


“Lo gak liat gue lagi belajar?” tanya gadis itu.


Shaka tidak menimpali, ia membalik tubuhnya telungkup dan menopang dagunya dengan tangan kanan. Dari tempatnya ia memandangi Gayatri yang tampak serius membuka-buka buku pelajarannya.


“Kita cari cara lain ya, buat ngatasin itu semua, jangan dengan balapan. Gue yakin abang lo dan keluarga lo juga gak akan senang kalau lo bantuin mereka dengan cara ini,” bujuk Shaka.

__ADS_1


Gayatri hanya terdiam, ia tertunduk lesu seraya memejamkan matanya. Ucapan Shaka memang benar, tetapi ia tidak memiliki cara lain.


"Cara seperti apa yang bisa ngumpulin duit ratusan juta hanya dalam semalem? Ngepet?" tanya Gayatri yang membuat Shaka terkekeh.


"Kenapa pikiran lo ke ngepet sih?" dengan satu tangannya yang panjang laki-laki itu mengusap kepala Gayatri. Ada-ada saja isi kepala gadis ini.


"Ya lagian, saran lo gak di sertai solusi. Kalau,"


“AYA! AYA!” panggil sebuah suara di luar sana. Kalimat Gayatri segera terhenti. Kedua orang muda itu sama-sama terhenyak saat sadar suara itu milik ibu Gayatri.


Cepat-cepat Shaka dan Gayatri keluar untuk menemui wanita itu.


“Kenapa Nyak? Kenapa teriak-teriak? Abang udah tidur….” sambut Gayatri yang berjalan cepat menghampiri ibunya.


Wanita itu masih menggunakan celemek dengan rambut yang terikat berantakan. Di tangannya ia membawa sebuah amplop yang sudah di buka dan ia genggam dengan erat. Matanya yang berkaca-kaca dan merah, menatap tajam lada Gayatri.


“Babeh udah bilang, tapi dasar Enyak lo, tengorokannya punya toa masjid sendiri.” Barkah yang menyusul pun rasa ingin menyentil telinga snag istri yang tidak menurut.


“Duduk lo! selagi gue ngomong baik-baik.” Dengan isyarat matanya Mira menyuruh Gayatri untuk duduk.


“Ngomong baik-baik apaan Mira, cocot lo tuh ngeselin! Inget ini rumah orang, lo jaga sikap!” Barkah berujar dengan kesal pada sang istri. Ia juga menatap malu pada Shaka.


“Gak masalah Beh, silakan di lanjutkan dulu ya. Shaka permisi,” Shaka memilik pamit, ia ingin memberikan keleluasaan pada keluarga cemara ini.


“Jangan pergi lo, gue juga mau ngomelin lo!” seru Mira pada Shaka.


Langkah Shaka pun langsung berhenti. Ia berbalik dan menunjukkan senyumnya pada Mira.


“Gak usah cengengesan dan sok ganteng! Duduk!” seru wanita itu.


“Ish Mir! Dia yang punya rumah, napa lo yang lebih galak sih?” Barkah menepuk tangan Mira yang tegas menunjuk sofa.


“Diem! Gue botakin lo!” seru Mira dengan mata mendelik.


Ada apa sebenarnya dengan wanita ini hingga begitu kesal?


****

__ADS_1


__ADS_2