
Putus asa, satu hal yang Gayatri lihat dari seorang laki-laki tengil bernama Shaka Praditya. Saat ini mereka berada di sebuah dataran tinggi, tidak jauh dari areal pemakaman. Keduanya terduduk di rumput hijau liar, di kelilingi ilalang yang bergoyang-goyang tertiup hembusan angin yang ikut menerbangkan helaian rambut hitam Shaka dan Gayatri.
Tidak hanya itu, ada bulir air mata yang ikut diterbangkan bersamaan dengan perasaan hampa dan putus asa yang dirasakan oleh laki-laki yang terpekur di samping Gayatri.
Sebuah agenda bercover kulit imitasi berwarna cokelat, di taruh oleh Shaka di antara ia dan Gayatri. Gadis itu menoleh buku itu dan menatapnya sesaaat. Di atasnya, Shaka juga menaruh foto dirinya dan Rasya saat sedang makan bersama di sebuah warteg sebelum Shaka berangkat Pendidikan. Beberapa tahun silam, di foto itu Shaka masih sangat muda dan Rasya tampak begitu imut dengan kacamata bulat yang menutupi mata sipitnya.
Gayatri mengambil agenda dan foto itu. Ia memandanginya beberapa saat, terutama pada foto yang menyiratkan kebahagiaan dua orang yang saling menyayangi. Sepertinya Shaka tidak berbohong kalau mereka memiliki kedekatan. Benarkah sebagai kakak dan adik, karena selama ini Rasya tidak pernah bercerita kalau ia memiliki seorang kakak.
Alih-alih bertanya, Gayatri lebih memilih membaca buku agenda Rasya terlebih dahulu. Di halaman pertama, gadis itu tersenyum melihat gambar dirinya dan Rasya yang ceria. Ada banyak cerita kedekatan mereka yang menghiasi halaman-halaman berikutnya, membawa Gayatri mengingat kembali kebersamaannya dengan Rasya.
Di halaman yang cukup jauh, Gayatri melambatkan bacaannya. Tepatnya pada puisi cinta yang Rasya buat untuknya. Gayatri menoleh Shaka yang ada di sampingnya dan laki-laki itu tidak terusik, masih menatap jauh ke depan sana, entah titik mana yang menemaninya melamun.
Gayatri tersenyum kecil, ia mengusap halaman itu dengan lembut. Sepertinya benar dugaannya selama ini kalau Rasya memiliki perasaan pada dirinya selain sebagai seorang sahabat.
“Cinta, aku tidak tahu seperti apa bentuk nyatanya. Aku juga tidak tahu seperti apa rasa yang seharusnya. Apa cukup dengan gambaran debaran kencang di dadaku tang tidak bisa berhenti saat aku ada di dekatnya? Bedakah antara berbalas dengan tidak? Bedakah antara di ungkapkan dengan tidak? Bedakah jika perasaan itu untuk dia atau bukan? Bedakah jika Gayatri Sekar Ayu mengetahuinya?”
“Ya, belakangan jantungku sering berdebar sangat kencang. Terlebih saat dia ada di dekatku. Dia membuatku bangun lebih pagi dan tidur lebih malam. Waktuku lebih banyak ku habiskan untuk memikirkannya. Aya, rindu itu menyiksa dan aku merasakannya setiap hari bahkaan saat kita duduk berhadapan di kantin.”
Dua paragraph itu menyiratkan jelas perasaan Rasya untuknya. Kalau di lihat dari tanggal yang ada di sudut kanan agenda, sekitar dua bulan sebelum mereka berangkat ke Bromo. Rupanya belum cukup lama perasaan itu di miliki Rasya, padahal mereka sudah berteman lebih dari dua tahun lamanya.
Gayatri membuka-buka kembali halaman berikutnya. Ada halaman di mana Rasya memajang foto candid saat ia memeluk Gayatri. Kalau tidak salah kejadiannya saat Rasya lupa menjemput Gayatri di panti tempat tinggal Rosi. Laki-laki itu meminta maaf dan memeluk Gayatri dengan erat. Katanya dia sangat menyesal.
Halaman-halaman berikutnya adalah cerita sehari-hari Rasya dengan dirinya. Laki-laki ini mencatatnya dengan rapi hingga membawa Gayatri pada sebuah halaman yang berisi pesan kematian Rasya.
Matanya melotot tidak menyangka ada tulisan ini di agenda Rasya. Semakin tidak menyangka karena rasanya tulisan ini bukan milik Rasya.
“Ini bukan tulisan Rasya,” ucap Gayatri pada Shaka.
Laki-laki itu tersenyum semu, rupanya gadis di sampingnya pun menyadarinya. Shaka menoleh pada gadis itu, membukakan halaman berikutnya. Halaman tempat Shaka menempelkan secarik kertas yang Dion tulis di bucket bunga miliknya.
“Dion?” tanya Gayatri seraya mengernyitkan dahinya.
“Hem,” sahut Shaka dengan tatapan lekat pada Gayatri. “Gue berpikir, kalau dia yang bunuh adek gue. Tapi hanya bukti ini yang mengarah ke dia, yang lainnya nihil.” Shaka melanjutkan kalimatnya dengan putus asa sambil mengguyar rambutnya dengan kasar.
Dari kalimat Shaka barusan, Gayatri menangkap makna kalau selama ini Shaka melakukan penyelidikan atas kematian sang adik. Sudah sejauh apa?
__ADS_1
“Lo gak akan nemuin bukti apa pun, karena bukan dia yang ngebunuh Rasya,” satu kalimat itu membuat Shaka terhenyak.
“Lo tau?” laki-laki itu langsung menghadap Gayatri, menunggu dengan pasti jawaban Gayatri.
Tatapan Shaka yang dalam padanya, membawa gadis itu mengingat kembali kejadian dua bulan lalu.
“Aya, lo pulang duluan aja ya. Ada yang harus gue urus dulu,” begitu sebaris pesan yang di terima Gayatri saat ia berada di toilet. Pengirimnya dalah Rasya.
“Tumben,” gumam Gayatri. “Lo masih rapat OSIS?” tanya gadis itu. Mengingat Rasya adalah ketua OSIS di sekolahnya.
“Hem. Kemungkinan pulangnya sore. Masih banyak banget yang harus di bahas.” Cepat sekali laki-laki itu membalas.
“Oh, ya gak masalah. Gue basketan dulu kok sama anak-anak. Gue bisa nungguin lo.” Sambil berjalan menuju kelas, Gayatri membalas pesan Rasya.
“Gak usah nunggguin, soalnya gue ada urusan sepulang sekolah ini. Kita ketemu besok pagi aja, gue jemput lo. Motor lo masih di bengkel kan?”
“Hem, ya udah gue pulang bareng anak-anak.”
“Okey Aya. Sampe ketemu besok,” itu pesan terakhir yang Rasya kirimkan padanya.
Benar saja, hingga jam pelajaran berakhir Rasya belum juga kembali ke kelasnya. Bangku di depan Gayatri itu masih tetap kosong dengan buku-buku berserakan. Gayatri membereskan buku dan alat tulis Rasya untuk dimasukkan ke dalam tas. Ia kirimkan foto tas Rasya yang sudah di rapikan pada sang empunya.
“Kayaknya lagi bener-bener sibuk, dia sampe gak mau ngajak gue berantem. Heem… OSIS lagiii, OSIS lagi,” Gayatri menggerutu kesal.
Sore hari jam pulang sekolah, Rasya masih belum selesai dengan acaranya. Zaidan yang saat itu berlari ke lapangan dan memberikan botol minuman, katanya dari Rasya. “Manis juga tuh bocah,” gumam Gayatri yang membuat lawan mainnya yaitu Dion melirik sinis.
“Kenapa, lo mau juga?” ledek Gayatri pada Dion.
“Gak!” sahut laki-laki itu seraya berlalu pergi.
“Dih, ngeselin!” dengus Gayatri sambil mendelik. Dion memang selalu sensi kalau melihat kedekatannya dengan Rasya.
Gayatri benar-benar pulang bersama Zaidan. Mereka mampir dulu ke bengkel untuk mengambil motor Gayatri. Cukup lama berada di sana, karena motor Gayatri belum selesai di service.
“Lo balik duluan aja gih. Gue kayaknya masih lama,” ucap Gayatri pada Zaidan.
__ADS_1
“Gak usah, gue tungguin kok.” Zaidan bersikeras. Ia memasukkan kembali ponsel yang sedari tadi ia mainkan ke dalam saku.
“Ck! Udah sono pergi. Gue tau cewek lo pasti nungguin. Gue males lah bikin cewek lo keki mulu sama gue.” Gayatri mencebik kesal. Kedekatannya dengan Zaidan selalu di artikan negatif oleh gadis kelas satu SMA yang menjadi pacar Zaidan.
“Ah elah, ia juga sih. Tapi lo gak apa-apa gue tinggal?”
“Kagak! Udah sono balik. Kalau ketemu enyak, bilangin gue belum selesai.”
“Iyaa, nanti gue bilangin. Tapi awas ya, selesai dari sini lo langsung balik, jangan bikin gue yang diomel sama enyak lo!” Layaknya pada anak kecil, Zaidan mengacungkan telunjuknya sebagai bentuk ancaman.
“Iyaaa, akh elah!” Gayatri menepuk kesal telunjuk Zaidan. Laki-laki ini bagian dari tim orang-orang over protective disekitarnya.
Zaidan pun pulang, meninggalkan Gayatri yang masih menunggu motornya. Bekas balapan kemarin membuat mesin motornya bermasalah. Gadis itu menunggu hingga malam. Ia sampai menguap karena mengantuk.
Sebuah notifikasi pesan mengalihkan perhatian Gayatri. Pesan itu dari Dion.
“Tempat apaan ini?” tanya Gayatri saat melihat sebuah lokasi yang dikirimkan Dion.
“Lo harus datang ke sini, lo harus liat sesuatu. Secepatnya Aya!” begitu isi pesan berikutnya.
“Liat apaan anjir?! Lo ngetik yang bener dong! Apaan sih?” Gayatri membalas dengan kesal. Pesan itu membuat perasaan Gayatri jadi tidak nyaman.
Tidak berselang lama, Dion mengirimkan foto Galih sedang mencengkram kerah seragam Rasya. "Akh anjir!" seru Gayatri yang langsung berdiri. Perasaannya semakin tidak nyaman, karena sang kakak memang tidak terlalu suka pada Rasya.
“Bang udah selesai belum?” tanya gadiis itu dengan tergesa-gesa.
“Tinggal pasang spakbornya,” sahut tukang bengkel.
“Besok aja dah. Gue pake dulu motornya. Gue harus pergi,” ujar Gayatri dengan tergesa-gesa. Lokasi yang dikirimkan Dion berjarak sekitar 30 puluh menit.
“Ya udah. Mesinnya udah aman kok.”
“Iya, kirim gue rekening lo sama nominalnya. Nanti gue transfer.” Gayatri segera menyambar helm yang ada di atas meja lalu memakainya. Ia juga mengambil kunci motor yang tergantung di paku dinding bengkel.
“Iyaa, nanti gue wa. Hati-hati lo di jalan, jangan ngebut!” seru teknisi yang sudah akrab dengan Gayatri.
__ADS_1
“Si Aya kagak ngebut mana bisa,” timpal temannya saat melihat Gayatri melesatkan motornya di jalanan beraspal dan hanya meninggalkan kepulan asapnya saja.
****