Benih Terlarang

Benih Terlarang
BAB 10 : Tindakan Berani


__ADS_3

Jelena membuang nafasnya setelah merasa begitu lelah karena ulah Katherine pastinya. Sudah hampir malam, Victor juga belum kembali jadi Katherine yang seharian berada di rumah hanya membuat Jelena sama sekali tidak istirahat. Bukan hanya urusan makan, bahkan mengelap tas mahal, sepatu, sampai menggantungkan baju, di kerjakan oleh Jelena. Belum lagi Katherine sengaja meminta Jelena untuk membeli makanan yang letak tempatnya cukup jauh, di tambah meminta Jelena untuk membelikan camilan yang jauhnya hampir tujuh kilo meter. Yah, untungnya jaman sekarang ada taksi online jadi Jelena tidak harus menggunakan kakinya menempuh tujuh kilo meter. Tapi sialnya sudah begitu sampai di rumah Katherine kembali membuat masalah dengan alasan makanan yang sudah dingin dan tidak enak lah, juga mencurigai Jelena yang membeli di tempat lain pula.


Memang berat menjadi Jelena, dia penurut dan mengerjakan apa yang di perintahkan seperti orang bodoh. Ini bukan soal harga diri saja yang sedang dia perjuangkan, tapi juga tentang nasib anaknya, juga nasib dirinya jika dia salah bertindak. Benar, semua orang memang memiliki harga diri, dia tentu saja merasa sakit dan terhina saat ada orang yang memperlakukannya dengan buruk. Tapi, jika mengingat posisi, surat perjanjian, juga betapa hebatnya keluarga Victor, apakah mungkin baginya untuk melawan? Bayi yang ada di dalam perutnya adalah milik Victor, jadi sejauh apapun Jelena pergi, bahkan masuk ke lubang cacing pun keluarga Victor akan tetap menemukannya dengan mudah.


" Berhentilah mengerjakan itu, Jelena! Kau tidak lihat ini sudah malam dan ini sudah waktunya untuk kau tidur? " Kesal Popi kepada Jelena yang masih saja mengelap sendok sembari menahan kantuk dan wajah lelahnya begitu terlihat.


Jelena tersenyum lalu mengangguk setuju. Apa yang sedang dia lakukan juga sudah akan selesai, jadi dia tidak perlu lagi bekerja setalah malam itu.


" Jelena! " Panggil Katherine yang kini berada di dalam kamar.


Jelena yang baru saja bangkit berdiri untuk menuju kamarnya terpaksa terdiam sebentar karena suara Katherine begitu terdengar lantang memanggil nama Jelena.


" Tetaplah disini, Jelena. Biarkan aku yang menemui dia. " Ucap Popi membuat Jelena khawatir. Tentu saja, bagaimana tidak? Popi terlihat marah dan seperti akan melawan Saat Katherine memerintah dan memaki nantinya. Jelena tidak ingin hal itu terjadi, dia tidak ingin hanya karena membela dirinya, Popi akan di pecat dari pekerjaan itu.

__ADS_1


" Tidak, biarkan aku saja. "


Popi membuang nafas kasarnya, sebenarnya dia juga sudah mulai tidak tahan dengan perlakuan Katherine yang semakin menjadi hanya karena Victor yang begitu memanjakannya. Walaupun memang pada akhirnya tempat Jelena akan di isi oleh Katherine, atau memang sebenarnya tempat Jelena adalah milik Katherine sejak awal, Popi benar-benar akan memilih untuk keluar dari pekerjaan yang cukup membuatnya terbantu selama ini.


Dari pada membuatkan Jelena pergi sendiri, tentu saja Popi memilih untuk menemui Katherine berdua dan menanyakan apa yang dia inginkan di waktu malam begini. Popi meraih lengan Jelena dan membawanya untuk berjalan menuju kamar di mana Katherine berada dan mengabaikan Jelena yang mencoba untuk menghentikannya.


" Kami datang, Nona Katherine. Malam begini apa yang anda butuhkan? " Tanya Popi dengan wajah agak dingin membuat Katherine terlihat tidak menyukainya, di tambah dia juga hanya ingin Jelena saja yang melayaninya karena menurutnya hanya Jelena yang paling menyenangkan untuk dia kerjai karena selama ini Jelena sama sekali tida pernah melawan semua yang dia katakan, atau perintahkan.


Popi ternganga tidak percaya, bukankah itu keterlaluan? Mencuci kaki? Bukankah Katherine begitu sehat dan terlihat bisa melakukan apa yang dia katakan sendiri? Popi memejamkan matanya sebentar mencoba untuk meredam emosional yang seakan mulai naik lebih tinggi. Jelena juga bisa melihat itu dari wajah Popi, sekarang dia sadar benar jika dia terus seperti itu, maka orang-orang yah menyayangi dirinya yang akan di pecat karena terus membela Jelena yang terlalu menurut seperti orang dungu.


" Nona Katherine, akan aku ingatkan ini tapi aku tidak bermaksud lancang. Pertama, tugas kami hanyalah mematuhi Tuan rumah asli, dan tidak termasuk orang yang tidak memiliki hubungan resmi seperti Nona Katherine. Kami hanya bertugas untuk mengerjakan tugas rumah, memastikan semua bersih dan makanan juga tersedia untuk Tuan rumah kami. Masalah memijat sampai dengan mencuci kaki anda, bagaimana kalau saya berikan referensi salon yang buka dua puluh empat jam? " Ucap Popi membuat Katherine terdiam menahan kesal. Bagaimanapun memang benar dia belum bisa di sebut Tuan rumah karena hubungannya dengan Victor sama sekali tidak terdaftar dalam catatan resmi negara dan keluarga. Tapi tetap saja dia tidak terima karena mau bagaimanapun dia adalah kekasih Victor yang cepat atau lambat juga akan menjadi Nyonya muda mereka bukan?


" Berani sekali kau berbicara kurang ajak padaku, akan ku hubungi Victor dan akan ku laporkan bagaimana kurang ajarnya kalian padaku! "

__ADS_1


Jelena mencengkram kepalan tangannya cukup kuat menatap Katherine dengan tatapan ragu tapi dia juga tidak ingin Popi mendapat masalah lagi karena dirinya. Popi harus membantu kehidupan Ayah dan adiknya, jadi bukankah sangat kejam kalau pada akhirnya hanya karena Jelena Popi jadi tidak bisa membantu keluarganya?


" Nona Katherine, Tuan Victor juga pasti akan merasa begitu kesal saat tahu apa alasan Nona menghubunginya. Apakah Nona ingin mengatakan jika di malam seperti ini anda meminta sana mencuci kaki anda, namun karena Popi mengingatkan akan pekerjaan kami yang sesungguhnya Nona menjadi marah? Bukankah itu berarti Nona sedang menjelaskan kepada Tuan Victor bahwa Nona Katherine adalah gadis yang arogan? " Ucap Jelena membuat Popi dan juga Katherine terkejut. Popi yang tidak menyangka kalau Jelena pintar bicara, Katherine yang terkejut karena di buat mati kutu oleh ucapan Jelena yang begitu masuk akal itu?


" Kalian, kalian berdua, keluar dari kamar ini! " Titah Katherine dengan wajah memerah sepertinya dia menahan kesal yang begitu memburu di hatinya.


Popi dan Jelena segera keluar dari kamar itu, berbeda dari Popi yang terlihat lega dan bahagia, Jelena justru memegangi dadanya yang begitu terasa debaran jantungnya. Ini adalah kali pertama dia membantah ucapan Katherine, dan ternyata dia merasa lega meskipun juga dia merasa sedikit khawatir.


" Jelena, kau barusan sangat keren sekali! " Ucap Popi dengan bangga menempuh pundak Jelena.


Jelena tersenyum begitu saja karena tidak tahu harus mengatakan apa. Sebenarnya menjadi pemberani seperti Popi memang sangat melegakan, tapi Jelena juga sulit mengatasi perasaan betapa menyesalnya dia setelah membuat kekasih dari majikannya itu terlihat begitu menahan kekesalannya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2