
Hari-hari yang Victor lalui hanyalah mengikuti Jelena pergi, mulai dari pergi ke supermarket untuk berbelanja, survey tempat penjualan bahan pangan yang akan di butuhkan mini restauran nanti, setiap pagi juga masih mengikuti Jelena untuk joging.
Mungkin memang hanya sebatas itu yang bisa Victor lakukan, karena untuk bisa lebih dekat, apalagi mengusap perut Jelena dia masih belum memiliki keberanian sebesar itu. Jujur saja dia merasa sedih, juga merasa melas melihat Jelena mondar mandir kesana kemari dengan perutnya yang besar. Hal yang paling menyakitkan untuk Victor adalah, dia yang berada lumayan dekat dengan Jelena nyatanya tak bisa melakukan apapun untuk membantu Jelena, apalagi saat Jelena membawa beberapa barang yang sepertinya cukup berat. Seperti sekarang ini, Jelena membeli beberapa contoh teh, kopi, dan lainnya untuk keperluan mini restauran miliknya nanti.
Victor terus menjalankan kakinya, di antara di belakang Jelena masih dengan tampilan serba tertutup. Tapi, kaca mata, masker penutup mulut dan hidung, serta menggunakan jaket karena cuaca di negara itu sudah memasuki musim dingin. Victor masih saja memperhatikan Jelena, hingga dia di buat terkejut dengan seorang pria yang berjalan cepat dan menabrak bahunya. Tadinya Victor tidak ingin memperdulikan pria itu, hanya saja saat pria itu mengeluarkan pisau kecil dari saku jaketnya, dan mendekati Jelena, Victor jelas begtu terkejut dan segera berlari ingin menjauhkan pria itu.
Terlambat!
Pria itu ternyata sudah lebih cepat sampai kepada Jelena, menodongkan pisau dengan sembunyi-sembunyi di dekat perut samping Jelena.
" Berikan tas mu! " Ucap pria itu, Jelena jelas terkejut, dan begitu dia menyadari ada sebuah pisau yang di arahkan ke perut bagian samping, dia benar-benar menjadi sangat ketakutan. Merasa tidak memiliki pilihan lain karena yang paling penting adalah anaknya, Jelena berniat memberikan tasnya kepada penjahat itu, tapi tiba-tiba saja ada seorang pria yang datang menjauhkan pria itu, membuatnya jatuh terlentang, lalu memukulnya setelah berhasil merebut pisau dan membuangnya.
Segera Jelena mengambil kesempatan itu untuk menghubungi sembilan sembilan satu, dan pria yang menyelamatkannya menahan tubuh pria itu dengan membuatnya tengkurap, lalu menahan kedua lengannya.
" Terimakasih, Tuan. " Ucap Jelena kepada pria itu.
Tentu saja Victor tak menjawab dengan suara, dia hanya mengangguk mengiyakan ucapan terima kasih dari Jelena.
Bukan hanya Jelena yang merasa lega, Victor juga benar-benar merasa lega karena Jelena juga anak yang di kandungnya baik-baik saja. Kejahatan besar di negara itu memang minim, tapi untuk kasus pencopetan, penjambretan adalah hal yang sering di jumpai di sana.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
Pihak berwenang sudah datang untuk mengamankan pria itu, dan Victor juga merasa tidak bisa berada di sana, di dekat Jelena terlalu lama karena takut Jelena akan menyadari siapa dirinya, lalu mencoba menjauh dan tidak mengizinkan untuk mendekatinya.
Jelena sebenarnya sudah sejak tadi memperhatikan pria penyelamat yang begitu rapat menutup bagian tubuhnya, ada rasa seperti begitu familiar dengan sosok itu, tapi Jelena juga tidak berani banyak bertanya karena sejak tadi pria itu hanya memilih untuk terus mengindari kontak mata, juga tak bicara sama sekali.
" Tuan, sekali lagi terimakasih, dan semoga semakin hari akan semakin banyak orang yang baik seperti anda. " Ucap Jelena saat Victor hendak melangkah pergi.
Victor terdiam sebentar, menghentikan langkah kakinya dan mengangguk kembali. Setelah itu dia berjalan untuk meninggalkan tempat, tapi tak lama setelah Jelena sudah tidak lagi memperhatikan ke arahnya, Victor dengan segera mencari jalan untuk kembali dan membuat posisinya berada di belakang Jelena untuk bisa melindunginya hingga sampai di rumah nanti.
Seperti itulah yang di lakukan Victor selama beberapa waktu ini. Terakhir kali dia menyelamatkan Jelena yang hampir saja tertabrak mobil, dan Jelena sekarang benar-benar memperhatikan kecurigaannya karena Victor masih menggunakan tampilan yang serba tertutup, dan kebetulan yang seperti itu Jelena tentu saja tidak akan mempercayainya bukan?
Pagi hari.
Victor mengerti membaca pesan yang di kirimkan Ibunya. Sangat panjang sekali, tapi intinya Ibunya menginginkan anak yang ada di perut Jelena, kalau sampai bayi itu tidak bisa mereka miliki, maka mereka juga akan melakukan segala cara untuk merebutnya tidak akan perduli dengan apapun. Ibunya juga memberitahu Victor bahwa dia sedang mencoba untuk mencari kelelahan keluarga Jelena untuk bisa menekan dan menyerahkan Jelena padanya hingga anak itu lahir nanti. Tapi karena keluarga Jelena juga bukan keluarga yang mudah di tekan, maka dari itu hingga kini mereka belum bisa terang-terangan saling melawan.
Di tempat lain.
Jemima terpaksa menikmati sepiring nasi goreng buatan Ibu Terra yang sama sekali bukan seleranya. Sangat hambar, bahkan juga seperti tidak menggunakan minyak goreng sama sekali.
__ADS_1
Berbeda dengan Tomy, anak itu seperti begitu menikmati nasi goreng yang tidak enak itu. Yah, mungkin karena itu adalah masakan Ibunya, dan ini juga kali pertama Ibu Terra memasak untuk mereka.
" Ibu, nasi gorengnya sungguh enak! Tapi besok tambah sedikit garam pasti akan lebih enak. " Ujar Tomy membuat Ibu Terra tersenyum, lalu mengangguk setuju. Sebenarnya dia sengaja banyak belajar memasak karena dia ingin saya Jelena melahirkan nanti, dia bisa memasak banyak menu untuk anaknya, dan merawat putrinya dalam hal apapun seorang diri. Intinya, dia ingin benar-benar menjadi Ibu sejati untuk putrinya yaitu, Jelena.
" Besok Ibu akan membuat sup telur, besoknya Ibu akan membuat bubur apel, jadi kalian akan jadi yang pertama mencoba makanan buatan Ibu. "
Jemima membuang nafasnya tapi tak begitu terlalu dia tunjukan kepada ibu Terra. Jujur saja dia lebih menyukai makanan yang di buatkan pelayan rumah di banding buatan Ibu Terra yang benar-benar jauh dari kata enak kalau menurut seleranya.
Lagi, berbeda dengan Tomy. Anak itu justru dengan cepatnya mengangguk seolah begitu mengharapkan Ibunya memasak menu yang dia sebutkan tadi.
" Kalau begitu, aku akan tunggu besok! Jadi mulai sekarang Ibu akan sering memasak ya? " Tanya Tomy dengan begitu semangat membuat Ibu Terra tersenyum senang karena terlihat sekali bahwa putranya benar-benar mementingkan perasaan Ibunya.
" Tentu saja, Ibu akan memasak banyak menu sekalian Ibu belajar kan? Jadi jika memang tidak enak, jangan di paksakan dan katakan saja agar Ibu bisa tahu apa yang kurang menurut kalian berdua. "
Tomy mengangguk paham, sebenarnya dia juga bisa merasakan kalau masakan Ibunya memang kurang enak, tapi Tomy sudah cukup bahagia karena pada akhir nya bisa merasakan maafkan Ibunya seperti teman-teman sekelasnya yang terus menceritakan tentang makanan buatan Ibu mereka.
" Ibu belajar memasak dengan begitu giat sampai mengabaikan pekerjaan Ibu, sebenarnya untuk siapa Ibu belajar memasak? " Tanya Jemima.
Bersambung.
__ADS_1