Benih Terlarang

Benih Terlarang
BAB 46 : Bergabung Bersama Keluarga


__ADS_3

" Maaf, Tuan Victor. Aku tidak akan kembali karena aku tidak ingin berpisah lagi dengan pria yang aku cintai. Aku minta maaf karena sudah mempermainkan Tuan Victor dan keluarga, saat itu aku tidak ada pilihan lain karena kedua orang tuaku yang memaksaku untuk melakukannya. "


Ucapan Jelena itu benar-benar membuat Victor sangat emosi. Sekarang dia sudah berada di rumah, kembali tanpa membawa Jelena yang kukuh memilih untuk tetap tinggal bersama pria bajingan yang katanya adalah pria yang dia cintai.


Victor membuang nafanya, mencoba tenang setelah cukup lama membiarkan dirinya larut dalam emosi. Otaknya terus berpikir sebenarnya kenapa ini bisa terjadi? Jelena, dia seperti bukan wanita yang akan melakukan hal gila semacam itu. Sekarang harus bagaimana? Haruskah dia segera memberitahu orang tuanya dan meminta orang tuanya untuk bertindak?


Tidak, dia masih harus mencerna semua ini dengan baik, biarkan otaknya tenang dan nanti akan berpikir bagaimana dia akan menjalani ini, dan menyelesaikan masalah ini.


Tidak perlu begitu khawatir tentang Jelena, di mana Jelena pergi tentu saja dia dapat menemukan Jelena, dan apa yang akan terjadi nanti maka biarkan saja terjadi seperti seharusnya.


Setelah hari itu, Victor mencoba menjalani hari seperti biasanya, tapi sial! Dia justru semakin sering memikirkan Jelena terutama tentang keadaan rumah yang seperti sangat berbeda saat tak ada Jelena. Tidak ada sup daging yang menjadi makanan favoritnya akhir-akhir ini, tidak ada yang duduk di sebelahnya dnegan kan celemek lagi.


Aneh, tapi tidak ada Jelena benar-benar membuat dia merasa ada sesuatu yang begitu hilang, dan sulit untuk Victor berhenti memikirkan tentang hal itu.


Di tempat lain.


Jelena terdiam begitu masuk ke dalam rumah yang besarya hampir sebesar rumah milik keluarga Victor. Di sana dia sudah dia sambut oleh beberapa orang yang jelas tidak Jelena kenal.


Seorang pria yang duduk di kursi roda, menatapnya dengan tatapan pilu, dia terlihat seperti ingin memeluk dan mengatakan betapa rindunya dia.

__ADS_1


" Sayang, dia itu adalah Ayahmu, cepat datang padanya untuk berikan salam. " Ibu Terra memperkenalkan Jelena kepada Ayahnya yang kini tengah duduk di kursi roda. Jelena mengangguk sembari tersenyum tipis, setelahnya Jelena berjalan mendekati Ayahnya, bersimpuh sembari menatap Ayahnya yang kini menatapnya sembari menahan air matanya.


" Halo, Ayah? Aku tidak terbiasa menyapa orang tua karena hubungan kami sangat tidak baik, jadi maafkan aku yang tidak tahu bagaimana caranya menyapa Ayah. " Ucap Jelena, sebenarnya saat itu Jelena seperti ingin menangis sedih juga bahagia. Selama ini yang dia tahu dan rasakan adalah kepedihan saat bertemu dengan Ayah dan Ibunya. Tapi kenyataan yang ternyata Ayah juga Ibu yang sesungguhnya justru sangat mencintai juga menyayanginya, Jelena benar-benar merasa begitu campur aduk. Dia sedih karena kehilangan banyak momen gang seharusnya dia habiskan bersama orang tua kandungnya, dan dia juga bahagia karena pada akhirnya dia bisa bertemu kembali dengan orang tua dan bisa menghabiskan waktu yang mereka miliki nanti.


Setelah sebentar memeluk, dan mengobrol untuk melepaskan rindu, kini Jelena di kenalkan kepada Jemima. Dia adalah gadis yang selama ini fi tukar dengannya, dia adalah anak dari Ibu Zelin dan juga Ayah Hetho. Wajahnya cukup cantik, tubuhnya agak berisi, rambutnya panjang, kulitnya juga sawo matang.


" Sayang, ini Jemima. Ibu tahu hubungan kalian memang pasti akan sangat canggung mengingat kesalahpahaman yang terjadi selama ini. Tapi bisakah kau berdamai dan menganggap dia sebagai saudari mu? " Tanya Ibu Terra kepada Jelena.


Tentu saja Jelena akan menganggu setuju, meskipun dia juga bisa melihat dengan jelas saja Jemima yang terlihat sedih, terkejut dan seperti tak menerima kondisi ini. Iya, bagaimanapun selama ini dia sudah terbiasa menjalani hidup sebagai anak kandung dari Ibu Terra dah suaminya. Dia bahagia dengan apa yang dia pikir adalah miliknya. Kasih sayang orang tua, materi yang selalu cukup, juga kenyamanan dan kedudukan sebagai Nona muda satu-satunya di rumah itu.


" Jemima, sapalah saudari mu, kau tidak lupa bagiamana Ibu memberitahu mu bukan? "


" Halo? Senang bertemu dengan mu. "


Ibu Terra merasa tidak senang dengan sikap Jemima, dia rasa Jemima begitu memperlihatkan kalau dia tidak tulus mengatakan itu, tapi begitu dia ingin menegur Jemima, suaminya menggelengkan kepala dan meminta Ibu Terra tidak melakukan itu. Bagiamanapun Jemima sudah hidup bersama dengannya selama sembilan belas tahun, kasih sayang untuk Jemima juga tidak menghilang begitu saja saat mereka tahu Jemima bukanlah anak kandung mereka.


" Jemima, tolong berhubungan baik lah dengan Jelena, dia pantas untuk itu. "


Jemima tak mengatakan apapun, sekarang dia bisa apa selain diam dan mengangguk setuju saja? Kenyataan bahwa dia bukan anak kandung Ibu Terra membuatnya tak bisa banyak memberontak secara berlebihan. Jujur saja dia membenci kenyataan ini, dia membenci Jelena juga karena ternyata Jelena adalah anak kandung Ibu Terra, dan dia benci Jelena yang ternyata masih hidup. Tidak masalah kalau dia bukan anak kandung dari Ibu Terra, tapi asalkan Jelena sudah tiada maka dia akan tetap menjadi kesayangan orang tuanya kan?

__ADS_1


" Sayang, yang ini adalah Tomy, kau sudah melihat photonya bukan? "


Tomy adalah anak kedua Ibu Terra dah suaminya yang kini berusia sepuluh tahun, dia juga adik kandung dari Jelena sendiri.


Jelena mengangguk, tersenyum juga tentunya.


" Hai, Tomy? Senang bertemu dengan mu. " Sapa Jelena.


Tomy menghela nafasnya, dia benar-benar menunjukkan wajah tak sukanya terhadap Jelena membuat Jelena hanya bisa terus berpura-pura tersenyum seolah tak melihat wajah Tomy juga Jemima.


" Tomy! " Kesal Ibu Terra.


" Ah, iya! Aku juga senang bertemu denganmu. "


Tomy meraih tangan Jemima, sepertinya dia ingin memberitahu kepada Jelena bahwa hanya Jemima saja yang akan dia izinkan menjadi kakaknya, dan tidak akan ada kesempatan untuk Jelena. Tentu saja Jelena hanya bisa tersenyum dan berpura-pura tidak tahu menahu apa maksud ekspresi itu. Benar, usia Jelena juga baru sembilan tahun, dia seharusnya tidak sedewasa ini, tidak begitu jeli dalam menghadapi orang lain, atau lawan bicaranya. Tapi karena perjalanan hidup yang terjal dan menyakitkan, karakter dewasa, peka, dan juga tegar menjadi satu mengontrol Jelena.


" Mulai saat ini, anak Ibu dan Ayah ada tiga, kalian sebagai anak wajib untuk saling menyayangi, melindungi satu sama lain, kalian juga wajib merundingkan semua masalah yang terjadi di antara kalian, dan jangan sampai kami mendengar kalian bertengkar, apalagi sampai ada yang menggunakan kekerasan fisik, maupun verbal.


" Kakak tidak pernah seperti itu padaku, tapi tidak tahu dengan kakak yang itu. " Ucap Tomy menunjuk tatapan metanya kepada Jelena.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2